Mobil mewah yang menjemput Alma berhenti tepat di depan gedung pencakar langit Lion Group. Alma merapikan blusnya, mencoba menyembunyikan rasa lelah, dan memar samar di lehernya, setelah malam panjang bersama Marcel. Begitu ia turun, asisten pribadinya, Siska, sudah menunggu dengan wajah cemas sambil memegang tablet.
"Mbak Alma! Akhirnya sampai juga. Mereka sudah di dalam, suasana di sana ... panas," bisik Siska cepat.
Alma menarik napas panjang.
"Siapa saja yang sudah datang?" tanya Alma dengan rasa penasaran.
"Semuanya, semuanya sudah hadir dari tadi. Mr. Lion Senior, para pemegang saham, dan tentu saja ... Ibu Metia," jawab Siska dengan penekanan pada nama terakhir.
"Marcel?" tanya Alma kembali.
"Sudah di sana dan tuan bos itu duduk paling pojok, terlihat sangat tidak bersahabat. Sepertinya Tuan Marcel sedang dalam badmood," ungkap asisten Alma.
Alma mengangguk dengan tatapan sayu. "Ayo ... jangan biarkan mereka menunggu lebih lama."
_
Di dalam ruang meeting utama, pintu ruang rapat terbuka. Bau parfum mahal dan aroma cerutu langsung menyambut Alma. Di meja oval panjang itu, keluarga besar Lion berkumpul. Di ujung meja, Marcel duduk dengan setelan jas abu-abu, matanya yang tajam langsung mengunci pandangan Alma. Dingin, seolah mereka tidak baru saja berbagi ranjang beberapa jam lalu.
"Selamat siang, semuanya. Mohon maaf atas keterlambatan saya," ucap Alma tenang. dan tetap berusaha anggun didepan semuanya.
"Waktu adalah uang, Alma. Terutama untuk perayaan ulang tahun ke-50 perusahaan," suara tajam itu datang dari Metia, ibu sambung Marcel yang selalu tampil elegan namun berbisa.
"Saya mengerti, Bu Metia. Saya sudah membawa sketsa final untuk seragam keluarga besar," jawab Alma sambil memberikan isyarat pada Siska untuk menyalakan proyektor dan membagikan kertas sketsa fisik.
Marcel meraih kertas yang diletakkan di depannya. Matanya menyusuri garis-garis tegas yang dibuat Alma. Itu adalah desain tuksedo modern dengan sentuhan motif Geografis Multimedia yang samar pada kerah, sebuah penghormatan untuk jurusan kuliah Marcel.
"Bagaimana menurutmu, Marcel?" tanya Mr. Lion Senior.
"Ini desain khusus untukmu sebagai wajah baru perusahaan," lanjut Dady Marcel penuh selidik.
Marcel masih diam, jemarinya menyentuh permukaan kertas.
"Garis bahunya terlalu kaku," ucapnya singkat tanpa melihat Alma.
"Kaku?" Alma mengerutkan kening.
"Itu untuk menonjolkan postur tubuhmu, Marcel. Sesuai dengan permintaan asisten mu."
"Aku tidak suka merasa terkekang di dalam bajuku sendiri," balas Marcel dingin. Mata mereka bertemu. Ada pesan tersembunyi di sana. Aku lebih suka tidak memakai apa-apa saat bersamamu, begitu kira-kira arti tatapannya, namun mulutnya berkata lain.
"Saya bisa menyesuaikan pemotongannya, Sir," jawab Alma profesional, meski hatinya berdegup kencang.
Metia berdiri, berjalan mengitari meja dengan sepatu hak tingginya yang berbunyi tuk-tuk-tuk di lantai marmer. Ia mengambil sketsa milik Marcel dan memperhatikannya dengan mata menyipit.
"Ini tidak boleh hanya sekadar bagus, Alma," ucap Metia sambil mengetuk meja dengan kuku panjangnya yang dicat merah.
"Ini harus sempurna. Aku ingin bahan tuksedo Marcel menggunakan wol terbaik dari Italia, dan sulamannya harus menggunakan benang emas murni. Tidak ada toleransi untuk kesalahan sekecil apa pun."
"Saya sudah menyiapkan bahan-bahan terbaik, Bu Metia," sahut Alma.
"Dan untukku," Metia memotong pembicaraan.
"Gaun yang kau gambar ini ... bagian dadanya terlalu rendah. Aku ingin kau menaikkannya lima senti. Tapi ingat, jangan sampai terlihat kuno. Aku ingin terlihat paling bersinar di antara semua tamu."
"Tapi Bu, jika dinaikkan lima senti, siluet gaun ini akan berubah," jelas Alma mencoba memberi masukan teknis.
"Aku tidak membayar perusahaanmu untuk mendengar alasan, Alma!" suara Metia meninggi.
"Kau teman kuliah Marcel, bukan? Seharusnya kau tahu standar keluarga kami. Marcel adalah aset dunia. Jangan sampai bajumu mempermalukannya di depan media internasional dua minggu lagi."
Marcel berdehem keras, memutus omelan Metia.
"Dia desainer, bukan penjahit pasar. Biarkan dia bekerja dengan logikanya sendiri," ucap Marcel dengan tatapan tajam.
Metia menoleh ke arah anak tirinya, tersenyum sinis.
"Oh, kau membelanya, Marcel? Tumben sekali kau peduli pada detail pakaian."
"Aku peduli pada efisiensi waktu," jawab Marcel datar namun tetap berwibawa.
"Jika Dady ingin acara ini sukses, biarkan Alma menyelesaikan pekerjaannya tanpa didikte seperti anak kecil."
"Cukup, cukup," Mr. Lion Senior menengahi.
"Alma, lakukan yang terbaik. Metia hanya ingin semuanya tanpa cela. Kita punya dua minggu. Apa itu cukup?" tanya Tuan Lion ramah.
Alma melirik Marcel, lalu kembali ke Mr. Lion.
"Cukup, Sir. Saya akan melakukan revisi pada bagian bahu Marcel dan penyesuaian untuk Bu Metia."
_
Setelah rapat bubar, ruangan mulai kosong. Siska sudah keluar lebih dulu untuk menyiapkan kendaraan. Alma sedang merapikan kertas-kertasnya saat ia merasa seseorang berdiri di belakangnya. Aroma parfum musk yang familiar menyeruak.
"Kau berani sekali membantah Ibuku," bisik Marcel tepat di telinga Alma.
Alma tidak berbalik. "Aku bicara sebagai profesional, Marcel. Bukan sebagai ... orang yang kau kenal."
"Tapi kau memang orang yang kukenal sangat dalam, bukan?" Marcel mengulurkan tangan, ujung jarinya menyentuh tengkuk Alma, tepat di bawah rambutnya.
Alma berjinjit. "Jangan di sini. Ada kamera CCTV."
"Aku pemilik gedung ini. Aku bisa menghapusnya dalam sekejap," ucap Marcel tenang. Ia menarik napas dalam di ceruk leher Alma.
"Sketsa itu ... bagian dalamnya harus kau buat lembut. Kulitku sensitif setelah malam tadi."
Pipi Alma merona merah namun jiwa protesnya tetap membara.
"Kau gila. Pergilah, Metia bisa kembali kapan saja."
"Biarkan dia melihat," tantang Marcel. Namun ia melepaskan tangannya saat mendengar langkah kaki mendekat.
"Dua minggu lagi, Alma. Pastikan jas itu membuatku nyaman saat aku harus berdiri di atas panggung ... dan pastikan kau ada di sana, memakai gaun yang serasi denganku."
"Aku datang sebagai vendor, Marcel. Bukan pasanganmu," tegas Alma sambil berjalan menuju pintu.
Marcel hanya tersenyum tipis, senyuman yang penuh arti kepemilikan.
"Kita lihat saja nanti, desainerku."
_
"Mbak, wajah Mbak pucat sekali," kata Siska saat Alma masuk ke dalam mobil.
"Aku hanya lelah, Sis. Metia benar-benar menguras energi."
"Tapi tadi Mr. Marcel membela Mbak, kan? Wah, jarang-jarang dia peduli pada orang lain. Kabarnya dia itu aktor paling dingin sedunia. Bahkan aktris lawan mainnya saja tidak pernah dia ajak bicara kalau tidak sedang take."
Alma menyandarkan kepalanya ke kursi mobil.
"Dia hanya ingin pekerjaanku cepat selesai, Sis. Jangan berpikir yang macam-macam."
"Tapi cara dia menatap Mbak tadi ... seperti singa yang sedang menjaga mangsanya. Seram tapi keren!" Siska terkikik.
Alma terdiam, menatap keluar jendela. Mangsa. Ya, itulah dia selama empat tahun ini. Mangsa yang dengan sukarela menyerahkan diri pada sang singa demi keselamatan keluarganya. Dan sekarang, di tengah proyek besar ini, ia harus berhati-hati agar hatinya tidak ikut terlahap dalam sandiwara kemewahan keluarga Lion.
_
Apartemen penthouse Marcel Lion di jantung kota terlihat seperti perpanjangan dari kepribadiannya. Apartemen yang luas, dingin, didominasi warna monokrom, dan sangat privat. Alma berdiri di tengah ruangan dengan tas berisi perlengkapan fitting dan manekin portabel.
"Kau terlambat sepuluh menit," suara bariton Marcel menggema dari arah balkon. Ia masuk hanya dengan mengenakan celana kain hitam dan kemeja putih yang tidak dikancingkan.
Alma berusaha tetap profesional meski jantungnya berpacu.
"Macet Jakarta tidak peduli pada siapa aku bekerja, Marcel. Bisa kita mulai? Aku punya janji dengan klien lain setelah ini."
Marcel mendekat, aura dominannya memenuhi ruangan.
"Batalkan klien lain itu. Kau milikku untuk sisa hari ini!" tegas sang aktor kondang itu.
"Aku bekerja untuk perusahaan keluargamu, bukan hanya untukmu," balas Alma sambil mengeluarkan pita ukur.
"Berdiri tegak, kini!" Aku perlu memastikan revisi pada bagian bahu dan d**a jasmu."