Bagian 9

1044 Kata
Ada yang mengatakan jika anak perempuan akan terlihat sangat dekat dengan ayahnya. Aku benci mengatakan ini, dan apa yang mereka katakan itu tidaklah benar. Dekat? Tentu saja aku tidak ingin dekat dan berharap dekat dengannya. Hidupku sangat sulit ketika dirinya ada di dalam hidupku ini. *** Berbeda dengan Arya, sang putri—Hani terlihat kesusahan sejak di bus. Bus yang didominasi oleh pekerja membuat ruang sempit dan penuh. Bahkan sang supir sepertinya enggan untuk mengatakan kepada para penumpang yang masuk bahwa keadaan telah penuh. Jika terus-terusan begini bisa-bisa dirinya akan terkena penyakit sesak napas. Berkali-kali Hani mengembuskan napanya keras ketika beberapa orang menyenggol tubuhnya. Tentu saja orang akan beranggapan Hani hanyalah pria pekerja yang sudah berumur, bukan gadis SMA. Bus berhenti tepat di halte dekat tempat kerja Arya. Tentu saja Hani tahu tempat ini karena pernah sekali dia ke sini mencari Arya. “Arya!” Panggilan dari arah kafe membuat Hani sedikit menyipitkan kedua bola matanya. Seorang pria berdiri di depan sebuah motor yang terparkir. Hani mengenal pria itu sebagai teman dekat Arya yakni Beni. Dengan cepat gadis ini pun berlari menuju ke sana. “Ha-i,” sapa Hani yang langsung dihadiahi kernyitan bingung di dahi pria itu. Tentu saja aneh bagi Beni karena Arya menyapanya dengan cara seperti ini. Segera saja Beni menggelengkan kepala besarnya itu. “Ayo kita masuk,” ajak pria bertubuh gempal ini yang diangguki oleh Hani. Gadis itu mengekori Beni yang berjalan menuju ke kafe bagian belakang. Mereka menyimpan tas masing-masing dan memakai sesuatu seperti celemek di depan badan mereka. Hani hanya mengikuti pergerakan yang Beni lakukan. “Bagaimana dengan ulang tahun putrimu kemarin?” tanya Beni tiba-tiba. “Mmm, berjalan lancar,” jawab Hani setenang mungkin. “Dan putrimu ... apakah kamu sudah berbicara dengannya?” tanya pria itu lagi membuat kernyitan di dahi Hani muncul. “Bicara?” “Ya, apa kamu lupa? Aku memintamu untuk berbicara tentang pilihan Hani yang akan keluar kota ketika lulus nanti.” Hani tertegun ketika Beni mengetahui hal ini. Itu artinya Arya seringkali membicarakan dirinya ketika bekerja. Menyebalkan. “Ah, iya, itu aku lupa,” balas gadis ini kemudian. Beni menggeleng penuh, kemudian menepuk pundak Hani dengan tangan besarnya yang sedikit membuat gadis ini terguncang. “Segeralah bicara sebelum dia benar-benar pergi,” peringat pria itu yang kemudian berlalu ke kafe bagian depan. Hani pun mendengkus kesal. Dia, kan, memang akan benar-benar pergi. Arya benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Dia memandang pelataran sekolah sang putri dengan bingung. Bukan tanpa alasan dirinya begini, dirinya benar-benar tidak tahu di mana kelas Hani berada. Tamatlah. Tidak mungkin juga dia bertanya kepada salah satu siswa dengan pertanyaan bodoh, ‘Hai, bolehkah kau tunjukkan kelasku di mana? Aku lupa dengan hal itu’, sungguh akan sangat memalukan dan dirinya akan dipandang aneh. “CUPU!” Sebuah teriakan membuat gerakan kepala Arya refleks menoleh. Dia menemukan beberapa gadis menuju ke arahnya dengan memandang sengit. Ada apa ini? Apakah gadis-gadis di sana adalah teman sekelas Hani, jika iya berarti Arya bisa mengikuti mereka ke kelas. Senyum di wajah Arya pun terbit. “Kenapa lo senyum-senyum? Sudah mulai gila?” kata salah satu siswi yang berada di barisan paling depan. Seketika senyum Arya pun memudar, merutuki ketidaksopanan yang dilakukan anak muda ini. “Bawa tas gue ke kelas,” perintah gadis di depannya dengan angkuh, dan jangan lupakan sebuah tas mendarat tepat di tubuh Arya yang langsung refleks dia tangkap. “Ingat! Kalau sampai tas gue rusak, lo akan tau akibatnya,” kata gadis itu lagi seperti sebuah ancaman di telinga Arya. Sekelompok siswi tadi pun berjalan menuju ke lorong sekolah, sedangkan Arya hanya terdiam di tempatnya. Apa itu tadi? Sungguh tidak mencerminkan sikap anak sekolahan. Dan untuk apa gadis tadi meminta Arya membawakan tasnya? Arya rasa gadis itu masih memiliki kedua tangan utuh yang masih bisa digunakan. Arya mengembuskan napasnya dengan lelah, mau tidak mau dia pun membawa tas itu dan secepat kilat dia mengikuti sekelompok siswi tadi agar tidak tertinggal jauh. Arya mulai memasuki kelas Hani yang mendapat tatapan tajam dari sekelompok gadis tadi. Arya pun segera menuju ke sana dan memberikan tas siswi tadi. “Hani!” Sebuah panggilan membuat Hani dan beberapa siswa di dalam kelas pun menoleh. Di ambang pintu berdiri seorang gadis yang Arya kenal sebagai teman dekat dari sang putri. Arya pernah melihatnya beberapa kali ketika gadis itu menginap di rumahnya dan mengerjakan tugas bersama Hani. “Ikut aku,” kata Rara dengan cepat sambil menarik Arya. Pria yang belum siap itu mau tidak mau pun mnegikuti langkah kaki gadis ini. Keduanya menuju ke area yang Arya yakini sebagai kantin. Oke, sepertinya dia harus mulai berkeliling dan menghapal tempat-tempat di sekolah ini. “Ini, minumlah,” ujar Rara yang menyodorkan minuman kaleng bersoda yang Arya yakini tidak begitu baik jika diminum di pagi hari seperti ini. Arya hanya diam, dan enggan minum, sedangkan Rara sudah meminum kepunyaannya. “Kenapa?” tanya gadis itu yang membuat Arya langsung tersadar dari lamunannya. “Ah, tidak. Hanya saja aku tidak haus sekarang,” jelas Arya. “Oh, kalau begitu simpanlah minuman ini. Anggap saja aku sedang mentraktirmu,” ucap Rara dengan senyum di wajahnya. Pria ini pun mengangguk dan memasukkan benda cair itu ke dalam tasnya. Rara membuat pergerakan di tempatnya, entah apa yang gadis itu cari di dalam tasnya sendiri. Kemudian dia pun tersenyum kecil ketika mendapatkan benda itu. “Selamat ulang tahun, Hani,” ujarnya sambil mengangsurkan sebuah kotak kecil berbungkus kertas kado yang entah apa isinya. “Sebenarnya aku mau berikan ini ke kamu kemarin ketika kita akan pergi ke kebun binatang. Sayangnya kamu membatlkan rencana itu dan mengatakan jika ada  kepentingan. Tapi, tidak apa-apa. Aku bisa memberikan hadiah ini sekarang,” jelasnya. Arya memandang hadiah itu ragu, namun dia pun mengangguk dan menerima kado itu yang segera dia masukkan ke dalam tasnya. “Terima kasih, Ra,” kata Arya. “Sama-sama. Oh iya, kemarin kamu ada kepentingan apa? Jangan bilang kamu menghabiskan waktu dengan ayahmu? Woah, sungguh kabar yang bagus. Apa yang kalian lakukan seharian? Pasti hal-hal menyenangkan sudah terjadi, kan?” tanya Rara dengan antusias membuat Arya sendiri meringis dibuatnya. Teman putrinya ini memang sungguh cerewet sekali. “Ah, itu ... kita hanya di rumah saja,” jawabnya. Tentu saja baik Hani dan Arya tidak seperti yang Arya katakan. Hubungan keduanya memang tidak baik sejak lama, jadi tidak mungkin jika mereka menghabiskan waktu berdua seharian dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan. Sungguh mustahil. "Ah, sungguh tidak menyenangkan. Sekali-kali kamu dan ayahmu harus menghabiskan wakti berdua dengan hal-hal yang menyenangkan," usul Rara. Arya pun kembali mengangguk ragu. Tentu saja hal itu tidak akan pernah terjadi. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN