Bagian 8

740 Kata
Jika ada hal berharga yang bisa aku korbankan untuk kebahagiaan putriku maka aku akan korbankan saat ini. *** Hani baru saja memakai sepatu milik Arya yang terasa aneh ketika dia pakai. Maklum, dirinya belum terbiasa memakai sepatu ini. Sedangkan Arya sibuk menalikan sepatu Hani ke kakinya. “Jangan buat masalah di sekolah. Dan Ayah jangan buat hal aneh-aneh. Berlaku normal. Ayah ingat yang kemarin aku katakan, kan?” peringat gadis itu kepada sang ayah yang tengah berada di dalam tubuh gadis tujuh belas tahun ini. Arya mengangguk mengerti. Dia mengambil tas sekolah milik Hani dan dia sampirkan di pundaknya. “Ayo, Ayah akan antar kamu bekerja,” seloroh Arya yang langsung dicegah oleh Hani. “Tidak. Aku akan berangkat sendiri. Jarak tempat Ayah bekerja dan sekolahku jauh. Nanti Ayah akan terlambat, dan berakibat ke absenku yang buruk,” sahutnya. Arya pun mengangguk mengerti, sungguh sulit menjalani kehidupan aneh seperti ini. “Ingat, jika kamu merasa lelah ataupun tidak mau lanjut bekerja, segera berhenti. Di sana ada Om Beni, kamu pasti sudah mengenalnya. Dia akan membantu kamu.” “Ayah tidak cerita apa-apa kepada Om Beni, kan?” tanya Hani dengan tampang menyelidik. Arya menggeleng penuh. Akan aneh jika Beni tahu tentang mereka saat ini. Dan pastinya pria itu tidak akan percaya. “Om Beni adalah orang baik, dia yang selalu membantu Ayah jika membutuhkan bantuan. Oh iya, ketika makan siang nanti, kamu belilah makanan. Di dekat tempat Ayah bekerja ada penjual nasi padang, kamu bisa mampir ke sana untuk makan,” jelas Arya yang tahu jika putrinya menyukai makanan pedas itu. Hani mengangguk mengerti. Keduanya berjalan menuju ke halte dekat jalan besar. Bus Arya yang pertama kali datang membuatnya mau tidak mau harus meninggalkan Hani di sana. Sesekali dia mengecek sang putri ketika bus melaju ke jalanan, rasanya berat ketika harus melihat putrinya bekerja. Namun, inilah yang mereka sepakati kemarin. Dan itu semua adalah keputusan dari Hani. Arya menatap jalanan yang selalu dilalui oleh Hani ketika pergi ke sekolah. Kali ini Arya tidak memakai bus sekolah, dia memakai bus umum. Arya sendiri tertawa ketika mendapati dirinya memakai seragam sekolah dan rok. Apalagi dia harus menjalani hidup seperti gadis berumur tujuh belas tahun. Aneh. Benar-benar aneh. “Hai.” Lamunan Arya terhenti ketika disapa oleh seorang pemuda yang memakai seragam sama seperti yang ia kenakan saat ini. Dia berpendapat jika pemuda ini mungkin teman dari sang anak. “Ha-i,” sapanya balik. Kemudian Arya menggeser duduknya, mungkin saja pemuda ini tidak mendapat tempat duduk. “Kita bertemu lagi. Tapi, kenapa kamu tidak naik bus sekolah?” Pemuda ini berbicara sangat lancar seperti sudah mengenal Hani dengan dekat. Arya sendiri cukup terkejut ketika ada sosok pemuda yang berani mendekati putrinya. Baiklah, mungkin inilah saatnya bagi Arya untuk menseleksi setiap pemuda yang akan mendekati putrinya. “Ah, iya, aku bangun sedikit terlambat,” jawab Arya gugup. Dirinya masih mengingat perkataan Hani untuk bersikap normal di sekolah. “Oh iya, apakah kamu sudah mendapat kelompok untuk tugas IPS minggu lalu?” tanya pemuda ini lagi. Kelompok? Bahkan Arya tidak mengerti dengan yang pemuda ini katakan, dan jangan lupakan dia juga tidak tahu siapa nama pemuda yang sejak tadi mengajukan pertanyaan kepadanya. Melihat Hani yang diam membuat Dean paham jika gadis itu belum mendapat kelompok. Ya, pemuda itu adalah Dean. Tanpa sengaja dia melihat sosok Hani berada di bus yang sama dengannya. Sungguh kebetulan sekali, untuk itulah dia tidak canggung untuk menyapa gadis pendiam itu. “Jika kamu tidak ada kelompok, kamu bisa masuk kelompokku,” tawar Dean. “Dan kamu juga bisa mengajak Rara juga,” lanjutnya. Kelompoknya memang kurang dua orang lagi, menurutnya tidak masalah jika dia mengajak dua gadis itu. Arya memaksakan senyumnya, dia pun mengangguk setuju. Ah, sepertinya dia harus bertanya banyak hal kepada putrinya nanti di rumah. Dean yang melihat sikap Hani terlihat aneh hari ini pun mencoba mengenyahkan pikirannya. Seperti biasa dia akan membaca beberapa buku yang berisi materi tentang tes masuk perguruan tinggi. Hal itu tidak luput dari penglihatan Arya. “Kamu membaca buku apa?” tanya Arya yang yang membuat Dean menoleh kepadanya. “Oh, ini materi tes untuk masuk perguruan tinggi.” “Perguruan tinggi?” tanya Arya lagi. “Ya, kamu sendiri sudah tau jika aku akan kuliah. Oh iya, apakah kamu sudah berbicara dengan orang tuamu mengenai pilihanmu setelah lulus nanti?” tanya Dean membuat Arya terdiam di tempatnya. “Sepertinya kamu belum bebicara kepada mereka, ya?” tebak Dean yang tepat sasaran. Arya pun menampilkan senyum canggungnya. Dia masih mengingat pilihan putrinya, yakni ingin hidup mandiri di luar kota. Dan Arya lupa untuk membahas hal ini kemarin. "Tidak apa-apa. Nanti sepulang sekolah, kamu bisa berbicara kepada mereka," lanjut Dean.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN