Aku tidak mengerti apa yang salah dengan yang kulakukan. Segala hal yang kuperbuat selalu salah di matanya. Aku tidak tahan ketika dia bersedih. Ketika aku mencoba menghapus kesedihan itu, dia semakin membenci diriku. Apa yang salah denganku?
***
Hani melangkahkan kakinya menuju ke minimarket yang kebetulan dia lewati. Gadis ini menuju ke mesin pendingin dan mengambil minuman sebagai pelepas dahaganya. Dia membayar di kasir yang kebetulan dijaga oleh seorang wanita. Untung saja masih ada uang sepuluh ribu di sakunya, jadi Hani bisa membeli minuman dingin.
Dia membuka tutup botolnya dan duduk tepat di kursi yang tersedia di depan halaman minimarket. Matahari sudah tergantikan dengan bulan. Di tengah keheningan malam, gadis itu menatap bulan yang bertengger angkuh di angkasa. Betapa bahagianya menjadi bulan yang memiliki takdir menakjubkan yakni menyinari seluruh dunia ini.
“Bu, aku rindu,” ucapnya seperti sebuah bisikan kecil. Hari ulang tahunnya masih beberapa hari lagi, tetapi dia sudah ingin cepat-cepat bertemu dengan sang ibu. Andai waktu bisa berputar ke belakang, Hani berharap bisa menatap wajah sang ibu untuk sekali saja.
“Lemah.”
Suara berat yang tepat berada di belakang gadis itu membuat Hani terkejut. Refleks dia menegakkan tubuhnya dan melihat sosok pemuda yang dia kenali tengah berdiri di dekat pintu minimarket. Seketika tubuhnya menegang apalagi ketika menyadari pemuda itu mendekat ke arahnya. Kali ini dia hanya sendirian tanpa kedua temannya.
“Payah.” Sekali lagi pemuda itu merendahkan harga diri gadis yang tidak sengaja ia temui. Pantaslah jika gadis ini sering dijadikan bahan perundungan di sekolah. Hani menundukkan kepalanya lebih dalam, enggan untuk menatap pemuda yang dengan tidak ijin sudah duduk tepat di kursi depannya.
“Hei!” panggilnya dengan menendang bagian bawah meja membuat Hani terkejut dibuatnya, tetapi dia tidak menunjukkan reaksi apa pun. Sungguh dia menyesal karena tidak langsung berjalan pulang setelah membeli minuman tadi.
Timbul suara decakan kesal yang keluar dari bibir pemuda itu karena tidak mendapat respons dari Hani. “Hei! Apa lo tuli?” tanyanya dengan sarkas.
Hani mendongakkan kepalanya, menatap penuh mata tajam yang selalu ada di wajah pemuda itu. “A-ada a-apa?” tanyanya dengan suara kecil dan nada yang terbata-bata karena terlalu gugup.
“Ck. Sekali saja lo bersikap normal bisa, nggak? Lemah!” balasnya. Hani sendiri sudah takut dan gugup dalam satu keadaan yang sama dan pemuda ini memintanya untuk bersikap normal? Karena tidak ada yang asyik dari gadis itu, si pemuda pun memilih pergi dari sana, meninggalkan Hani yang bisa bernapas lega.
“Huft, kenapa dia bisa ada di sini? s**l! Aku tidak akan ke minimarket ini lagi,” ucapnya. Karena minimarket inilah dia hampir jantungan karena bertemu Jo, si perundung sekolah. Dan entah kenapa pemuda itu malah berkeliaran di daerah sini.
“Beni, aku berhenti di sini saja,” ujar Arya membuat laju motor milik Beni pun terhenti. Temannya itu menoleh menatap Arya dengan pandangan mengernyit bingung.
“Ada apa? Sebentar lagi kita sampai di rumahmu,” kata Beni.
“Ada Hani di sana,” terang pria itu sambil menunjuk ke sosok gadis yang sedang duduk di depan mnimarket. Beni mengangguk mengerti, keduanya pun berpisah di sana. Dengan rasa lelah yang ada pada sekujur tubuhnya, pria itu menuju ke tempat putrinya berada. Sepertinya gadis itu sengaja ke minimarket untuk menenangkan diri. Beberapa kali Arya melihat perilaku anaknya ini sejak lama.
Kedatangan Arya membuat Hani terkejut, apalagi ayahnya itu masih lengkap dengan pakaian kerja miliknya. Arya mengambil duduk di depan putrinya, di mana tadinya itu adalah tempat Jo berada. Hani hanya diam, enggan untuk mengeluarkan suaranya.
“Kamu belum pulang, Nak?” tanya Arya penuh perhatian. Dia melihat botol minuman dingin yang ada di atas meja. “Jangan terlalu sering meminumnya, tidak baik bagi tubuh,” tuturnya. Hani memandang pria itu tidak minat. Kemudian, dia mengambil botol minumnya, dan beranjak dari sana meninggalkan sang ayah pulang lebih dulu.
Melihat tingkah sang putrinya membuat Arya menggelengan kepala, dia pun mengikuti langkah kecil putrinya itu menuju ke rumah. Dengan langkah besarnya, Arya mencoba menyamakan laju kakinya agar bisa menyusul putrinya itu. Hani yang selalu memiliki mood yang buruk ketika berhadapan dengan Arya pun memilih diam.
“Sebentar lagi ulang tahunmu. Apa yang kamu minta dari Ayah?” tanya pria ini tiba-tiba. Hani pun terdiam, namun masih meneruskan langkahnya menuju ke rumah. “Nak, apakah kamu ingin kuliah setelah lulus SMA nanti?” tanya Arya. “Jika kamu ingin kuliah, lakukan dan berusahalah. Ayah akan mendukung pilihanmu,” lanjutnya.
Hani menghentikan langkahnya, membuat Arya sama-sama berhenti sambil memandang sang putri dengan senyum hangat. Melihat gadis ini selalu mengingatkan Arya dengan Andin. Meskipun wanita yang ia cintai itu telah tiada di dunia ini, namun dia melihat sosok yang sama dalam diri putrinya ini.
“Apa yang aku minta? Aku minta Ayah untuk berhenti mengurusi hidupku. Apakah aku ingin kuliah setelah kuliah? Aku tidak tahu, yang jelas aku ingin hidup mandiri dengan tinggal di luar kota,” ucap Hani dengan wajah datarnya. Senyum di wajah sang ayah pun seketika luntur.
“Nak, untuk apa kamu tinggal di luar kota? Tinggallah di sini, bersama Ayah,” kata Arya. Dia belum bisa melepaskan putri kecilnya untuk tinggal sendirian di tempat yang tidak ia kenali.
Mendengarnya membuat gadis itu seketika tertawa. “Aku tidak butuh persetujuan Ayah tentang hal ini,” tuturnya. Arya pun menjadi sedih mendengar perkataan putrinya itu. Setelah mengatakan hal yang menyakitkan barusan, Hani pun melangkah pergi menuju ke rumahnya, meninggalkan Arya yang masih terdiam di tempatnya.
Apakah dengan jauh darinya membuat sang putri bahagia? Jika iya, maka mau tidak mau Arya harus menyetujui keinginan gadis itu. Ya, Arya akan selalu mendukung pilihan putrinya. Karena waktu yang mereka miliki mungkin tinggal sedikit, maka Arya harus lebih ekstra menunjukkan perhatiannya, meskipun terkadang sang anak menolak segala perhatian pria itu. Tidak ada orang tua yang ingin melihat anaknya bersedih, begitu juga dengan Arya yang akan melakukan apa pun demi kebahagiaan Hani.
Tidak ada orang tua yang ingin melihat anaknya bersedih. Setiap orang tua akan mengerahkan kekuatan mereka untuk bisa melihat anaknya tersenyum bahagia.
Tetapi, ada yang aneh. Aku menemukan beberapa kasus (cerita dari beberapa teman) yang selalu memiliki konflik dengan orang tua, terutama tentang banyaknya aturan yang mereka buat. Menurutmu bagaimana? Apakah peraturan yang dibuat oleh orang tua itu benar? Atau semua hanya akan membuat si anak terkekang?