Part 2-Kampus

1020 Kata
Dara turun dari mobil menuju gedung menjulang dihadapannya. Hari ini akan menjadi hari pertama semester 7nya dimulai. Dara hanya berharap hari ini berjalan dengan baik. "Chandaraaaa!" Dara menoleh lalu melambai menatap Amadea yang tengah berlari-lari kecil kearahnya. Rambut sepunggungnya itu berayun indah mengikuti langkah kaki Dea yang cepat-cepat. Begitu sampai Dea langsung menubruk tubuh Dara dengan pelukan erat. "Dea pelan-pelan" tegur Dara. Dea tertawa lalu semakin mengeratkan pelukannya. "Gila aku kangen puoolll" ucapnya bersemangat. Dara tertawa, maklum selama liburan semester kemarin Dea menghabiskan waktunya di Bali, di rumah kakaknya. Jadilah mereka tidak bisa bertatap muka selama 2 bulan. Dan sepertinya Dea terlalu kangen Dara. "Bali pasti asik deh" ucap Dara. "Iya dong. Aku bawa oleh-oleh tapi nanti aja aku kasihnya kalau kita udah pulang" ucap Dea. "Oke siap!!" "Btw semester ini semester terakhir kamu yah?" Dara mengangguk. Semester ini dia hanya mengambil mata kuliah skripsi. Seminar Proposal telah dilaksanakan semester kemarin, semester ini Dara tinggal mengolah data, pengambilan datanya sudah ia lakukan saat libur semester dibantu mas Abbas. Dara meyakinkan dirinya kalo dia mampu lulus semester ini. Untuk lebih lanjutnya kita serahkan saja ke maha kuasa. :) Dea menggerutu tentang 2 mata kuliah yang harus diulangnya semester ini karena tidak lulus semester sebelumnya. Tapi dilihat dari raut wajah Dea, sepertinya gadis itu tidak terlalu keberatan mengulang. Dea memang anak yang cuek. "Gapapa lah, nanti kalo kamu ada tugas sebisa mungkin aku bantu!" Wajah Dea berubah cerah "gak rugi aku punya temen pinter macam kamu" "Yaudah ah, aku ke ruang dosen dulu, udah janjian sama Prof. Annisa" "Oke sayangku, aku masuk kelas dulu yah! I love you!" Dea kemudian berjalan menjauhi Dara yang masih tersenyum melihat kelakuan sahabatnya yang terlalu hyperactive itu. Dara duduk di kursi kayu depan ruang pembimbingnya. Ia disuruh menunggu karena ternyata masih ada mahasiswa lain yang juga sedang berkonsultasi di dalam. Tak lama pintu kaca itu terbuka, memperlihatkan wajah yang familiar. "Mas Farhan" sapa Dara ramah. Dara mengenal Farhan dari beberapa kepanitiaan kampus yang diikutinya. Lelaki itu masuk jajaran pengurus tertinggi BEM tingkat universitas saat ia masih aktif berkuliah. Itu juga yang menjadikan Farhan one of the most-popular man. Farhan benar-benar dikejar banyak mahasiswi, dan yang mendekati laki-laki itu juga bukan kaleng-kaleng. Ada si cantik dari fakultasnya yang sering wara-wiri katalog brand terkenal, Dara tau gadis itu. Sering lihat, dan memang bukan main-main cantiknya, Dara jadi ciut kalau tidak sengaja papasan. Atau si selebgram dari fakultas hukum yang followersnya sudah ratusan ribu. Yang bikin rahang Dara rasanya ingin jatuh ke lantai adalah si cantik-pintar-populer yang jadi finalis ajang kecantikan nasional. Perempuan itu juga pernah dekat dengan Mas Farhan, rumornya sih begitu. Tapi menurut Dara, Farhan memang patut diperebutkan. Sudah tampan, baik, santun, pintar, Dara dengar juga dia punya usaha kuliner yang sudah punya beberapa cabang. Sepertinya masa depannya cerah sekali. Siapa yang tidak mau? Okay, back to the topic. Farhan tersenyum lalu menempatkan dirinya untuk duduk disebelah Dara. "Mau bimbingan juga dek?" Dara mengangguk. "Iya mas. Mau bimbingan data penelitian" "Sudah dianalisis?" Tanya Farhan. Dara menggeleng. "Belum mas, kemarin prof. Annisa bilang, konsul dulu baru di analisis" Farhan mengangguk mengerti. "Mas udah mau sidang yah?" Goda Dara. Farhan terkekeh, menampilkan deretan giginya yang tersusun rapih. Dara jadi insecure dengan giginya, giginya memang rapih, tapi ia punya gigi gingsul disebelah kanan. Dara suka merasa senyumnya jadi aneh karena gingsul itu. "Tau aja sih." Ucap Farhan. Dara terkekeh kecil. "Keliatan mukanya jadi cerah gitu" Farhan ikut tertawa. "Keliatan yah muka lega sebentar lagi bebas dari penderitaan?" Dara mengangguk. "Cerah banget seperti matahari baru terbit" "Mbak Dara, ayo kita bimbingan" kepala Prof. Annisa muncul dari balik pintu. "Iya Prof" Dara mengangguk. "Mas Farhan, aku duluan yah" Farhan tersenyum lalu mengangguk, mengantar kepergian Dara dengan kekehan kecil. **** Dara duduk di kursi kayu yang berada di seberang kelas Dea. Gadis itu meminta Dara untuk menunggunya supaya mereka bisa pergi makan siang bersama-sama. Dari dalam kelas Dara dapat mendengar sayup-sayup suara bariton yang sedang berbicara, menjelaskan materi dengan bahasa inggris yang sangat fasih. Sepertinya itu adalah dosen Dea. Tak lama pintu kayu itu terbuka, Dara mendongak, lalu matanya membulat ketika melihat sosok yang tadi pagi dilihatnya berdiri disana sambil memegang kenop pintu. Sama terkejutnya dengan Dara. Loh, papanya Cetta. Batin Dara. Seingatnya dia tidak pernah melihat dosen ini mengajar kelasnya. Apakah dosen baru? Dara entah kenapa berdiri lalu membungkuk kecil, menyapa kembali lelaki yang masih diam disana. Menyebabkan antrian kecil dibelakang tubuh lelaki itu. "Eh bapak, ketemu lagi" sapa Dara sopan. "Kamu.... kuliah disini?" Lelaki itu akhirnya berjalan mendekat, membiarkan para mahasiswa untuk keluar dari ruangan kelas yang menatap dosennya dan Dara bergantian seakan ingin tahu. Dara mengangguk. "Iya pak" Dara baru sadar kalau lelaki itu sangat tinggi ketika dia berjalan mendekat. Dara harus mendongak untuk menatap wajah papanya Cetta. "Kok ga ambil kelas saya?" Tanyanya. Kening Dara berkerut bingung. Memangnya kenapa dia harus mengambil mata kuliah yang diampu papanya Cetta? "Memangnya bapak ngajar apa?" "Bahasa Inggris II" ucapnya. Mata Dara berpindah pada Dea yang baru saja keluar dari ruangan. Ingin mencubit pipi sahabatnya itu dan memberikan sedikit kata-kata nasihat dengan cacian yang tersirat. Bagaimana bisa dia tidak lulus mata kuliah dasar seperti ini? Apa saja yang ia lakukan saat semester 2 kemarin? "Oh, saya sudah lulus mata kuliahnya pak dari semester dua kemarin" jawab Dara sopan. "Memangnya kamu semester berapa sekarang?" "Semester 7 pak" jawab Dara. Lelaki itu mengangguk. "Baik kalau begitu. Saya duluan" kemudian lelaki berkemeja biru muda itu berjalan menjauh dari Dara. "Kok kamu bisa ngobrol sama Pak Hariz?" Tanya Dea. Dara masih memperhatikan punggung lelaki itu kemudian bergumam. "Oh, jadi namanya Pak Hariz" "Pak Hariz dosen departemen kita? Kok aku ga pernah lihat yah? Dosen baru?" Tanya Dara. "Bukan. Dia dosen departemen Manajemen. Dia bilang baru setahun jadi dosen disini. Ganteng yah Ra? Mukanya mirip Zayn Malik. Tapi dilihat dari namanya kayaknya dia memang keturunan arab deh" jelas Dea. Dara dipenuhi rasa ingin tahu. "Emang namanya siapa?" "Hariz Aditya Al-Haddad, keren banget ga sih" Dea menjadi excited ketika menceritakan dosen barunya itu sementara Dara dibuat terkekeh. "Jangan ngimpi De, dia udah punya buntut" ucap Dara setengah tertawa, mengingat pertemuannya dengan si cantik boneka arab tadi pagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN