bc

Melawan Arus

book_age16+
1.4K
IKUTI
6.1K
BACA
fated
self-improved
student
sweet
bxg
lighthearted
campus
city
lecturer
naive
like
intro-logo
Uraian

Hariz menatap perempuan yang sedang menggandeng seorang anak kecil. Angin yang bertiup ringan menyapu hijabnya membuat semuanya berjalan lebih lambat dari seharusnya. Gadis itu tersenyum lembut, jari-jarinya yang lentik merapihkan anak-anak rambut bocah kecil disampingnya, tas berkarakter transformers yang tersampir di bahunya membuat perempuan itu terlihat begitu…dewasa?. Hariz seperti melihat masa depannya pada perempuan itu.

“Saya duluan, papanya Cetta”

Buk! Satu tonjokan tak kasat mata berhasil menyadarkan Hariz.

Tunggu sebentar, Papa? Apakah perempuan itu baru saja memanggilnya Papa Cetta? Ia bukan papa Cetta. Bagaimana Hariz bisa membersihkan kesalahpahaman yang terjadi pada otak perempuan itu? Hariz bahkan belum mengetahui namanya dan bahkan tidak yakin bisa bertemu lagi dengan perempuan itu. Tapi dalam benaknya, ia sudah menanamkan wajah perempuan itu untuk menjadi miliknya. Semoga kali ini Tuhan mau memberikan sedikit kemurahanNya agar ia bisa menjadikan perempuan itu miliknya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Part 1-Pertemuan Pertama
Chandara tersemyum manis didepan kaca, gadis itu memperbaiki garis kerudung berwarna biru muda yang menghiasi kepalanya sebelum mengangguk puas dengan kerudungnya yang telah rapi. Hari ini adalah hari pertama semsnter baru dan Dara sudah siap menyambut hari ini. Perempuan cantik itu kemudian menuruni tangga sambil memasukkan binder berwarna pink kedalam tas punggung kecilnya. "Selamat pagi!" Sapanya sambil mengambil kursi kosong disebelah kakak lelakinya, Abbas yang telah lebih dulu menyantap nasi kuning buatan ibu. "Mbak Dara jadi kan antar dek Danish ke sekolah dulu?" Ibu bertanya dengan tangan yang masih sibuk menyuapi anak kecil berusia 6 tahun yang sedang sibuk mengunyah makanannya dalam diam. Dara melirik adiknya, tolong jangan bertanya kenapa bisa Dara yang sudah berusia 22 tahun bisa memiliki adik kecil. Dara terlalu lelah menjelaskan bagaimana ia yang saat itu berusia 16 tahun nangis sesunggukan saat mengetahui ibunya hamil. lagi. Dara tak mau kehilangan semua kasih sayang yang diberikan kedua orang tua dan kakak-kakaknya. Mungkin Dara saat itu masih bisa menerima, tapi bagaimana dengan Mas Abbas? Atau mbak Tari? Seingat Dara sewaktu Danish lahir Mas Abbas telah selesai kuliah sementara mbak Tari ada di tahun kedua perkuliahan. Mereka berdua lebih meradang saat itu. Bayangkan saja, mereka berdua sudah masuk kepala 2 dan akan memiliki adik lagi? Tapi hal positif dari lahirnya Danish adalah, kasta terendah dalam keluarga Bapak Hartanto dan Ibu Dewi akan beralih ke Danish. Hahaha. "Gak mau ah" tolak Dara dengan tatapan mengejek kearah Danish, iya dia memang sangat senang mengganggu adiknya itu karena menurut Dara ekspresi kesal Danish terlihat begitu imut di matanya. Bibir Danish mencebik tak suka membuat Dara terkikik geli sambil mengunyah makanannya. "Mbak Dara" tegur ibunya dengan gelengan kepala. "Iya iya, gitu aja ngambek" ucap Dara. Mas Abbas yang sedari tadi diam hanya terkekeh kecil sedangkan ayahnya tersenyum tipis. "Tari jadi ke Jogja Yah?" Tanya Abbas. Saudari perempuan mereka itu memang tidak menetap bersama mereka di jogja, ia menetap di pulau kalimantan mengikuti suaminya yang bekerja di salah satu perusahaan tambang. Tari memang lebih dulu menikah dari Abbas, meski "dilangkahi" adiknya Abbas tidak keberatan akan hal itu. Adiknya sudah lebih dulu menemukan jodoh. Kenapa harus ditunda? "Jadi, minggu depan mungkin, tolong dijemput yah? Dia bakal lama disini, suaminya kan mau ke arab. Dia ga mau ditinggal sendiri disana" Ucap ayahnya. Abbas mengangguk. "Ayo kecil kita berangkat entar kamu telat" Dara telah menghabiskan makanannya dan siap berangkat. Setelah berpamitan ia menggandeng adik laki-lakinya itu keluar rumah. "Selamat pagi mas kecil" Pak Yusuf yang baru saja selesai mencuci mobil Dara menyapa Danish dan membantu anak itu untuk duduk dikursi penumpang. Tas transformers berwarna merah yang ukurannya mungkin bisa setengah ukuran tubuh Danish diletakkan dibawah. "Selamat pagi pak Yucup" Danish balik menyapa dengan senyum lebar. "Di sekolah belajar yang rajin ya mas kecil" Pak Yusuf membelai rambut Danish dengan sayang. "Iya dong, Danish kan anak pinter" sahut Dara. "Kalau gitu kita berangkat dulu yah Pak" **** Dara memarkirkan mobilnya dibawah pohon rindang. Matanya menyapu ke arah gerbang berwarna putih yang ramai dengan anak-anak kecil seumuran Danish yang mengantri untuk masuk. Pasti mereka tak kalah bersemangatnya untuk bermain dan bertemu teman-teman mereka setelah libur. "Mbak Dala, ayok" ajak Danish. Dara mengangguk. "Tunggu, mbak yang bukain pintunya" Danish duduk diam dan menurut menunggu Dara untuk membukakan pintu untuknya. Dara kemudian menggandeng adiknya itu dan menyampirkan tas Danish di punggungnya lalu berjalan lambat-lambat menuju gerbang. "Cetta! Cetta!" Danish berseru senang sambil melambaikan tangannya kearah anak perempuan yang sedang memakai tas punggung dibantu oleh seorang lelaki yang Dara yakin adalah ayah dari anak itu. Merasa dipanggil, anak itu menoleh lalu tersenyum senang saat melihat Danish melambai kearahnya. "Danish!" Anak perempuan itu berlari menghampiri Danish. "Cetta jangan lari-lari" tegur lelaki dibelakang. Tapi sepertinya Cetta terlalu bersemangat melihat temannya itu. "Danish punya tas balu dong!" Ucap Danish bersemangat lalu menarik-narik cullotes hitam yang dikenakan Dara. Meminta untuk memakai tasnya. "Cetta juga pakai tas balu" ucap Cetta menunjukkan tas berwarna pink bergambar karakter barbie. "Wah sama dong, tasnya dedek sama-sama baru yah sama temennya" lelaki tadi ikut berjongkok, menyejajarkan tingginya dengan kedua anak yang terlihat sangat excited untuk hari pertamanya bersekolah setelah libur semester. Dara melirik lelaki itu, masih cukup muda. Kulitnya tidak terang, tapi tidak juga gelap. Hidungnya mancung, rambutnya hitam gelap dan tebal, sama seperti alis dan bulu matanya, sedangkan netra matanya berwarna coklat muda. Sepertinya lelaki itu berketurunan arab, seperti melihat Zayn Malik namun lebih lokal. Mata Dara melirik anak kecil yang dipanggil adiknya dengan nama Cetta. berparas cantik, mirip boneka dari arab. Kalau disandingkan dengan lelaki itu, mereka cukup mirip. Jadi Dara berkesimpulan kalau mereka adalah ayah dan anak. Okay. "Danish, Cetta ayo masuk!" Suara Miss yang melambai kearah mereka membuyarkan lamunan Dara. Dara berjalan mengikuti Danish yang menariknya untuk berjalan lebih dekat kearah gerbang. Lalu ia melirik lelaki yang berjalan disampinya itu, kemudian tersenyum ramah sambil menganggukkan kepalanya saat lelaki itu juga menatapnya dengan senyum menghiasa bibirnya yang baru Dara sadari berwarna pink. Menambah kegantengannya. Dara ingat! Bapak ini adalah orang tuanya Cetta. "Danish jangan nakal yah pas belajar. Harus jadi anak yang baik. Oke?" Danish mengangguk. "Iya mbak dala, Danish janji gak bakal nakal" Dara mencium pipi Danish saat anak kecil itu memajukan bibirnya untuk salam perpisahan, lalu ia menggandeng tangan Cetta untuk masuk kedalam sekolah. Dara kemudian menatap kembali lelaki itu. Entah kenapa Dara jadi salah tingkah karena ditatap lekat oleh lelaki itu. Or should Dara say Bapak? "Saya duluan, papanya Cetta" Dara kembali tersenyum ramah dan mengangguk kecil sebelum merubah haluannya dan berjalan cepat kearah mobilnya bahkan sebelum lelaki itu membuka mulutnya. Dara menghela nafas saat ia sudah duduk dibelakang kemudi, matanya melirik kearah gerbang, lelaki itu atau papanya Cetta masih berdiri disana menatap kearah mobilnya dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku celananya. Dara yakin kaca mobilnya cukup gelap untuk papanya Cetta untuk tidak dapat melihat ekspresi kebingungannya saat ini. "Ngapain dia masih berdiri disitu?" Gumam Dara. Tak lama kemudian, lelaki itu memutar tubuhnya lalu berjalan menjauh menuju salah satu mobil yang berjejer di pinggir jalan. Dara menghembuskan nafas lega, lalu kemudian melajukan mobilnya menuju kampus tercintanya untuk menimba ilmu.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Happier Then Ever

read
95.5K
bc

23 VS 38

read
305.2K
bc

Pernikahan Wasiat

read
243.9K
bc

Nikah Lagi Aja, Yuk!

read
11.7K
bc

Stuck With You

read
76.7K
bc

Hidden Love

read
141.2K
bc

Bukan Cinta Pertama

read
59.9K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook