19. Terkuaknya Satu Fakta

1811 Kata
"Apa? Lo serius?" "Iya. Malahan, gue denger sendiri kalo Diary itu mencoba buat lindungin lo pas ditanyain sama Bu Ineu...." Keyna tercenung saat mendengar sepenggal kabar dari salah satu teman sekelasnya. Kemarin, dia memang tidak masuk dikarenakan suatu hal. Gara-gara terlalu fokus pada satu masalah, ia sampai lupa tidak mengirim surat keterangan untuk disampaikan ke ketua kelas. Keyna pun tidak ingat jika hari kemarin ada mata pelajaran Bu Ineu yang sangat sensitif terhadap murid yang absen tanpa keterangan apapun. Tapi, ketika pagi ini ia tiba di sekolah, ia pun mendapat berita dari Femi tentang sikap Diary dan Prita yang berbeda 180 derajat. Sebenarnya, awalnya Keyna tidak sengaja mendengar percakapan antara Femi dan Mita yang sedang berbincang di depan kelas saat ia melewat. Saat tanpa sengaja dia mendengar namanya disebut, barulah Keyna spontan bertanya. Wajar jika ia langsung mengajukan pertanyaan pada mereka, toh namanya pun disebut-sebut. Siapapun akan melakukan hal serupa jika tahu-tahu namanya terseret dalam sebuah percakapan. Lalu ketika Femi mengatakan bahwa sikap yang Diary tunjukkan jauh lebih peduli ketimbang Prita yang selama ini dianggap Keyna sebagai teman dekatnya, Keyna pun refleks termangu untuk beberapa saat. Pasalnya, dia tidak mengira saja kalau Prita akan setega itu dalam menyikapi keadaan yang terjadi di hari kemarin. Sebagai seorang teman sebangku apalagi sudah lama menjadi teman dekat, bukankah seharusnya ia lebih memiliki kewajiban dalam membela atau melindungi temannya. Lantas, kenapa yang Prita lakukan malah berbanding terbalik? "Saran gue, mending lo coba buka diri deh buat ajak si Diary ngobrol. Gue paham, gak semua orang bisa dengan mudah mendekati sesuatu yang awalnya gak dia suka. Tapi percaya deh, Diary itu care nya tulus. Sikapnya pun jauh lebih murni sepenglihatan gue. Intinya, tindakan yang Diary lakukan terlihat sangat nyata. Gak kaleng-kaleng kayak si Prita...." tutur Mita turut menimbrung. Mendengar itu Keyna pun terdiam. Diamnya Keyna mengandung makna. Di dalam benaknya ia memikirkan segala perkataan yang teman satu kelasnya utarakan. Femi dan Mita memang tidak salah, Keyna pun setuju akan hal itu. Tapi, meninggalkan Prita demi memperbaiki hubungannya dengan Diary, apa itu tidak terlalu seperti m******t ludah sendiri? Bukankah selama ini Keyna tidak bisa bersikap baik pada Diary hanya karena sebuah alasan di masa lampau? Lantas, masih ada harapankah untuk Keyna memperbaiki segalanya?                                                                                        ¤¤¤ Diary baru saja keluar dari toilet. Rencananya, dia hendak melanjutkan langkahnya menuju kantin. Di sana, Gerrald pasti sudah menunggu. Entah cowok itu sudah pesan atau belum, yang jelas Diary harus segera datang sebelum Gerrald memberondonginya dengan sejumlah pertanyaan yang dikirimkannya lewat w******p. Mengingat belakangan ini Gerrald sering menunjukkan sikap tak sabar, maka Diary pun harus lebih gesit jika tidak ingin kena omel cowok itu. Namun, sebelum gadis itu benar-benar melangkahkan kakinya meninggalkan areal toilet, tiba-tiba ia pun melihat teman berkacamatanya yang sedang berjalan mengarah ke toilet juga. Senyum Diary mengembang, dia bertekad untuk menyapa Restu seperti biasa. Akan tetapi, saat Diary baru saja mau membuka mulut untuk menegur, tahu-tahu Restu malah melangkah begitu saja melalui Diary seperti angin yang berembus. Tak disangka, Restu mendadak seperti menganggap Diary bak makhluk tak kasat mata yang pantas dilalui begitu saja. "Restu," gumam Diary tak percaya. Alih-alih menyahut, cowok itu pun malah sudah memasuki toilet khusus laki-laki tanpa sedikit pun menoleh. Memang benar kenyataannya, Restu beranggapan demikian terhadap Diary. Gadis itu terperangah semakin tak menyangka. Merasa heran dengan gelagat Restu yang semenjak Diary mengubah penampilannya, sikapnya menjadi ikut berubah juga. Ada apa dengan temannya itu? Kenapa Diary merasa kalau Restu tidak suka pada perubahannya? Padahal, bukankah ini suatu kemajuan? Dengan begitu, Restu tidak harus terus menerus merasa bersalah bukan hanya karena tidak bisa melindungi Diary yang sering mendapatkan penindasan. Drrt drrt, Diary terkesiap kala ponsel di saku seragamnya bergetar. Merogoh benda pipih tersebut, Diary pun menemukan nama Gerrald di layar ponselnya yang berkerlap-kerlip. "Ya, Ger?" sambut Diary setelah menggeser tanda hijau di layar. "Lo di mana? Ke toilet kok lama banget. Baik-baik aja kan di sana?" tanya Gerrald sedikit khawatir. Kentara sekali dari cara ia berbicara. Diary mengulum senyum. Entah kenapa, tiba-tiba saja hatinya merasa berbunga-bunga kala mendengar Gerrald mengkhawatirkannya. "Iya, aku baik-baik aja, kok. Sebentar lagi aku ke sana, kamu kalau mau pesan duluan pesan aja. Nanti aku nyusul," ujar gadis itu mempersilakan. "Ya udah, gue mesen duluan kalo gitu. Apa, lo mau sekalian gue pesenin? Jadi, pas nanti lo dateng ... makanannya udah ada di meja," tawar Gerrald baik hati. Senyum semringah kembali terukir di bibir gadis itu. Gerrald memang selalu bersikap baik padanya, Diary jadi makin baper kan kalau Gerrald begitu terus. Alangkah lebih bahagianya ia seandainya saja Gerrald menaruh rasa yang sama. "Halo, Diary! Lo dengerin gue ngomong kan?" seru Gerrald memastikan. Sedikit gelagapan, Diary pun menyahut, "I-iya, Ger ... aku denger. Kalau gitu, tolong pesenin bakso aja ya. Jangan pake seledri kayak biasa!" pesan gadis itu ujung-ujungnya. "Oke. Jangan lama-lama, nanti gue kesepian kalo kelamaan ditinggal lo. Hehe," kekeh Gerrald gombal. Fix, Diary ingin menjerit girang sekarang. Hanya saja, ia tidak bisa melakukannya begitu saja. Diary tidak mau terlalu hanyut dalam perasaannya. Meski selama ini Gerrald suka sekali membuat hati Diary melambung bahagia, tapi kalau dia tidak inisiatif mengungkapkan perasaan yang sebenarnya, Diary bisa apa? Bahkan untuk sekadar mengutarakan duluan saja rasanya Diary tidak berani. Pikir Gerrald nanti, gadis macam apa dia? Selancang itu ia mengungkapkan isi hatinya yang bahkan Gerrald sendiri belum tentu merasakan perihal serupa. Selepas percakapan via telepon dengan Gerrald disudahi, Diary pun berniat untuk kembali melangkah sambil mengantongi lagi ponselnya. Akan tetapi, bersamaan dengan itu, Restu pun turut keluar dari toilet khusus cowok. Membuat Diary tak jadi melangkah karena dia ingin kembali bertanya pada teman berkacamatanya itu. "Res!" panggil Diary mencoba menghentikan Restu yang sudah hendak melangkah. Cowok itu memang tak jadi mengayunkan kakinya, hanya saja, alih-alih menyahut panggilan Diary, dia justru malah mendelik jutek pada gadis itu. Kontan, hati Diary pun terluka didelik sebegitunya oleh Restu. Entah apa yang terjadi pada temannya itu, yang jelas Diary masih bertanya-tanya akan sikap anehnya tersebut. Ada apa dengan Restu?                                                                                           ¤¤¤ Saat ini, Diary dan Gerrald sedang makan di kantin. Ya, sekembalinya dari toilet, Diary memang sudah bisa langsung menyantap semangkuk bakso yang dipesankan Gerrald sebelumnya. Sambil mengobrol ringan, mereka pun mulai melahap masing-masing pesanannya. "Oh iya, nanti pulang sekolah lo dijemput Pak Rahman gak?" tanya Gerrald di tengah kegiatan mengunyah siomaynya. Sambil menyeruput kuah bakso yang sudah dicampur satu sendok cabai merah sebelumnya, Diary lantas menjawab, "Kayaknya dijemput deh, soalnya tadi pas Pak Rahman nanya ... aku jawabnya kayak biasa. Emang kenapa, Ger?" lirik Diary setelah memasukkan satu bulatan kecil bakso daging ke mulut guna dikunyahnya. "Gak apa-apa, tadinya ... kalo gak dijemput Pak Rahman, gue mau minta antar buat nyari sepatu sport original ke mall," ujar Gerrald nyengir. Satu siomay kembali ia lahap yang langsung dikunyahnya dengan khidmat. Diary mengerjap untuk sesaat, kemudian sambil menelan hasil kunyahannya, ia lantas kembali bersuara. "Boleh aja sih kalo kamu mau minta antar ke aku. Soal Pak Rahman, aku bisa suruh dia gak jadi jemput kok lewat telepon...." tukas Diary senang hati. Bagi Diary, itu merupakan kesempatan emas. Berada di dekat Gerrald dalam waktu yang sedikit lebih lama, rasanya akan sangat membuat perasaan Diary kian gembira. Sementara itu, Gerrald tersenyum lebar di tengah kepalanya yang manggut-manggut. Kemudian, mereka pun kembali melanjutkan kegiatan makannya tanpa obrolan apapun lagi. Namun tiba-tiba, di sela Gerrald dan Diary yang sedang sibuk dengan kunyahannya masing-masing, seseorang lantas muncul menghampiri mereka. Saking terkejutnya dengan kehadiran sosok di hadapannya, Diary pun sampai menghentikan dulu suapannya ketika melihat Keyna berdiri di meja yang dihuninya.             “Keyna,” gumam Diary terperangah. Mengikuti arah pandang Diary, Gerrald pun sama-sama melongo saat mendapati Keyna datang mendekat. "Gue, boleh ngomong sebentar gak sama lo...." cicit Keyna pelan. Seketika, menyebabkan Diary dan Gerrald saling melirik kompak untuk beberapa saat. Melihat itu, Keyna pun menggigit bibir bawahnya sekilas. "Tapi kalo gak bisa juga, gak apa-apa sih. Mungkin lain waktu gue--" "Eh, kata siapa gak bisa? Bisa kok bisa," selak Diary cepat, "Mau ngobrol di mana? Di sini, apa di meja kosong lain aja?" tawar gadis itu kemudian. "Gue--" "Ya udah, kalo gitu ... gue duluan ke kelas aja ya, Di. Mungkin, kalian butuh privasi...." sanggah Gerrald yang langsung paham bahwa Keyna merasa tidak nyaman jika mengobrol dengan keadaan Gerrald yang tak beranjak. "Gak apa-apa, Ger?" tanya Diary sedikit tak enak hati. "Its okay, lagian ... siomay gue juga udah abis," ujar Gerrald seraya menunjukkan piring siomaynya yang hanya tinggal menyisakan bumbunya saja. Lantas, setelah diangguki Diary, ia pun bergegas melenggang meninggalkan meja sambil menenteng piring bekas siomaynya untuk dikembalikan ke kios Pak Abdul si pedagang siomay lezat khas SMA Pelita. "Duduk, Key!" titah Diary mempersilakan. Seperginya Gerrald, Keyna pun terlihat jauh lebih rileks dibanding sebelumnya. Menghela napas, Keyna pun langsung duduk dengan perasaan yang tak keruan. "Ada apa?" tanya Diary setelah melihat Keyna duduk di kursi bekas Gerrald sebelumnya. Keyna tak langsung menjawab. Dia hanya terdiam sembari meremas kedua tangannya yang terkulai di atas meja. Beberapa kalimat sebenarnya sudah terangkai di dalam kepala, hanya saja ia terlalu segan untuk melontarkannya. "Bicara aja, Key. Gak usah takut," ucap Diary menyentuh tangan Keyna dan meremasnya pelan. Keyna berdeham, “Gue cuman mau ucapin terimakasih sama lo, Diary." Keyna memulai kalimatnya dengan tatapan tertunduk. Sementara Diary spontan mengernyit karena tak mengerti dengan maksud perkataan yang Keyna lontarkan barusan. "Terima kasih untuk apa?" Sekali lagi Keyna berdeham, lantas ia pun memberanikan diri untuk mengangkat tatapannya dan menatap langsung wajah cantik nan polos di hadapannya. "Gue gak nyangka kalau lo bakal sepeduli itu sama gue, Diary. Meski selama ini gue udah terlalu jahat sama lo, tapi ternyata lo membalas semua perlakuan gue dengan cara yang gak pernah gue bayangkan sama sekali. Lo berhasil, Di. Lo sukses buka pikiran dan ketuk pintu hati gue yang selama ini cuma mikirin soal popularitas doang. Padahal, tanpa semua itu pun gue masih bisa berteman dengan banyak orang baik seperti lo. Sekali lagi, makasih, Diary. Makasih karena udah mau buka mata hati gue yang selama ini buta akan kebaikan...." tutur Keyna bergetar. Satu tetes air mata jatuh membasahi pipi. Membuat Diary lantas ikut terenyuh dan berangsur mendekati Keyna guna memeluknya. "Aku akan selalu peduli sama kamu, Key. Di samping perlakuan kamu yang pernah jahat ke aku, aku gak akan masalahin itu. Bagi aku, kamu adalah satu-satunya kerabat yang aku punya. Jadi, melindungi kamu dari secuil masalah pun udah termasuk dari kewajiban aku sebagai sepupu satu-satunya yang kamu punya...." ungkap Diary di tengah ia yang memeluk Keyna cukup erat. Bersamaan dengan itu, sebuah fakta yang selama ini disembunyikan rapat-rapat pun terkuak sudah. Perihal Diary dan Keyna yang ternyata masih ada hubungan persaudaraan dari pihak masing-masing orangtuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN