Pagi ini suasana sekolah diributkan oleh kabar yang sedikit membuat hampir seluruh angkatan kelas 3 mengeluh. Pasalnya, rencana berpetualang ke alam bebas yang sempat diumumkan oleh guru sains mereka katanya akan ditunda. Entah itu sampai kapan, yang jelas, mereka yang mulanya sudah bersemangat untuk ikut justru berubah kecewa karena acara tersebut tak jadi terlaksana. Padahal, kegiatan seperti itu akan sangat membantu bagi anak-anak kelas 3 demi menyegarkan kembali otak di tengah padatnya jadwal belajar yang kian membuat masing-masing pihak sudah terlalu lelah dalam berpikir. Sayang, Satria si guru sains menyatakan bahwa acaranya akan ditunda hingga waktu yang akan kembali disusun beserta ditentukannya nanti.
Diary memasuki kelas, seperti biasa, banyak orang yang menyapa dirinya. Membuat Diary perlahan terbiasa dan sedikit tidaknya dia mulai mengakrabkan diri dengan teman-teman lainnya yang kini sudah berubah ramah juga bersahabat semenjak dirinya terlihat jauh lebih modis. Ironis memang, tapi kenyataannya memang seperti itu. Manusia akan jauh lebih menghargai keberadaan seseorang jika dilihat dari ketenarannya. Dan hal itu Diary alami secara bertahap sejak perubahan yang ia lakukan. Bukan hanya murid seangkatannya saja yang mulai mengakui kehadirannya, melainkan, adik-adik tingkatnya pun perlahan mulai mengenal dirinya dari mulut ke mulut.
Seperti halnya yang terjadi beberapa waktu lalu. Diary mendapat pesan singkat dari nomor yang tak dikenal. Ketika ia mencoba untuk membalas pesan tersebut guna bertanya siapakah gerangan yang menyapanya lewat w******p, barulah ia tahu kalau seorang adik tingkat memiliki tekad untuk berkomunikasi dengannya. Diary sendiri bingung, entah bagaimana caranya adik kelasnya itu sampai bisa memiliki nomor kontaknya. Padahal, sejauh ini dia tidak suka menggembar-gemborkan perihal nomor kontak pribadinya pada siapapun yang dianggapnya sebagai orang asing.
Memasuki kelas, Diary pun menemukan Prita yang sedang duduk di bangkunya. Tapi yang membuatnya aneh ialah, Prita duduk hanya sendiri. Jika biasanya Keyna selalu berada di sampingnya, maka sekarang Diary tidak menemukan hal itu.
"Apa lo lihat-lihat?" sentak Prita yang menyadari bahwa sejak tadi Diary memerhatikannya.
Diary terkesiap. Buru-buru, ia pun mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Diary, ngapain? Gak duduk?" tegur sebuah suara yang baru saja muncul dari ambang pintu.
Menengok, Diary pun mendapati sosok Gerrald yang sedang menatapnya aneh, "Gerrald...." gumam gadis itu pelan. Kemudian, Gerrald pun mengajak Diary untuk segera menduduki bangkunya seperti biasa. Otomatis, mereka pun melewati bangku Prita dengan ekspresi yang tidak menunjukkan ingin bertegur sapa dengan gadis itu sama sekali.
Tentu saja hal itu membuat Prita mendadak gerah. Mengetahui dari hari ke hari Diary dan Gerrald semakin dekat, Prita hanya bisa memendam rasa geramnya tanpa tahu akan ia lampiaskan kapan dan kepada siapa. Dia selalu tidak suka jika sudah melihat Gerrald dan Diary sebegitu akrabnya. Alhasil, karena ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk dua manusia tersebut di kesempatan ini, Prita pun memilih pergi dengan langkah kaki yang dientak kasar.
"Kenapa dia?" tanya Gerrald mengangkat sebelah alis. Sesaat, cowok itu pun mengikuti arah pergi Prita dengan pandangan herannya.
Sementara itu, Diary memilih untuk tidak menjawab. Dia pun melakukan hal serupa seperti Gerrald, ia hanya mengikuti langkah Prita yang kemudian menghilang saat melewati ambang pintu menggunakan sorot pandangnya. Selebihnya, ia terdiam lagi. Membuat Gerrald lantas melirik, lalu melontarkan kembali sebuah pertanyaan pada gadis di sebelahnya.
"Apa sebelumnya kalian terlibat sebuah percakapan?"
Diary menggeleng. Meski sebenarnya dia memang sempat kena bentak Prita, tapi dia memilih untuk tidak banyak bicara dan lebih baik diam. "Gak tau, kayaknya dia lagi pms...." celetuk Diary asal.
Kontan Gerrald pun kembali melirik sambil bertanya, "Pms apaan deh?" Keningnya berkerut bingung. Sedangkan Diary hanya meringis kaku sambil garuk-garuk tengkuk dibanding menjawab pertanyaan yang Gerrald ajukan sebelumnya.
¤¤¤
Seorang wanita berjilbab hitam memasuki kelas. Seketika, kelas yang mulanya sedikit gaduh pun menjadi senyap dalam sekejap. Dia adalah Ineu, guru biologi yang dikhususkan untuk mengajar tingkatan kelas 3 saja. Ineu masuk dengan setumpuk kertas panjang di tangan. Selepas menaruh tas yang dijinjing tangan kirinya di atas meja, wanita berjilbab itu kembali melangkah ke tengah-tengah kelas dan berdiri tegak.
"Anak-anak, hari ini kita ulangan...." ungkapnya memberi pengumuman yang sontak membuat setiap siswa terperangah lebar hingga berbagai protesan serta keluhan keluar dari mulut hampir seluruh murid yang mengisi bangku masing-masing. Namun apa daya, Ineu adalah salah satu di antara para guru yang mempunyai watak kepala batu. Jadi, ketika ia sudah memutuskan sesuatu, maka tidak akan ada yang bisa ditarik kembali apalagi diganggu gugat.
"Tapi sebelum itu, saya akan absen dulu. Ada yang tidak masuk?" tanya Ineu mengedarkan pandangan ke setiap bangku.
Semuanya terdiam, saling melihat ke sebelah bangkunya. Ternyata, bangku yang kosong ada di sebelah Prita. Itu artinya, teman sebangku Prita yang tak lain adalah Keynalah yang tidak hadir hari ini.
"Prita, ke mana teman sebangku kamu?" lontar Ineu menuntut jawaban.
Alih-alih memberitahu, yang ada Prita malah menunjukkan sikap tak acuhnya, "Bolos kali, Bu...." jawab Prita asal.
"Bolos?" pekik Ineu, "Apa dia tidak tahu kalau bolos di mata pelajaran saya akan mendapat sanksi?" lanjut Ineu mulai emosi.
Sebelum Ineu marah besar, Diary pun segera mengangkat tangan. Membuat Ineu mengalihkan pandangannya dan merespon acungan tangan muridnya itu, "Ya ... kenapa Diary?"
"Keyna gak bolos, Bu ... saya baru ingat kalau tadi malam Keyna bilang sama saya, katanya Keyna ada urusan keluarga. Jadi, dia tidak bisa masuk sekolah hari ini," tutur Diary berbohong.
Gerrald melirik gadis yang duduk di sebelahnya, dia pun menatap Diary aneh. Sementara itu, Diary berusaha untuk menunjukkan raut meyakinkan supaya guru beserta teman-temannya tidak meragukan perkataannya. Paling tidak, dia hanya harus memastikan kalau Keyna tidak akan mendapatkan hukuman dari guru biologinya itu. Bagaimana pun juga, dia memiliki kewajiban untuk melindungi sesama temannya yang berada di satu atap kelas yang sama.
Merasa Diary mengatakan yang sebenarnya, Ineu pun terlihat percaya. Setelah keraguan dalam hatinya hilang, ia pun mencatat ketidakhadiran Keyna sebagai alasan izin. Meski tidak ada surat, yang penting muridnya memberitahu salah satu teman sekelasnya untuk disampaikan kembali pada guru yang mengajar. Sesederhana itu peraturan yang wajib ditaati oleh seluruh murid SMA Pelita.
"Oke kalau begitu, jika tidak ada lagi yang akan dibicarakan ... saya akan mulai membagikan kertas soal ulangan untuk kalian. Seperti biasa, kalau ada yang berani menyontek ... saya tidak akan segan-segan untuk merobek kertas ulangannya tanpa pengecualian. Paham?"
"Paham, Bu...." sahut semua murid serempak.
¤¤¤
Gerrald melenguh panjang saat akhirnya ia bisa keluar juga dari kelas. Beruntung, semalam dia sempat buka-buka buku paket biologinya. Jadi, dia masih mampu menjawab tiga perempat dari soal yang tersedia. Misalkan tidak buka buku sama sekali, Gerrald yakin kalau kertas soalnya akan ia isi asal-asalan.
“Bu Ineu emang paling jago dalam bikin soal. Gue sampe geleng-geleng sendiri tiap baca soal demi soal yang ada, ” keluh Gerrald membuang napas.
Diary terkekeh. Dia adalah murid pertama yang berhasil menyelesaikan 30 soal yang Ineu buat. Selang 10 menit, baru Gerrald menyusul.
"Diary, lo diisi semuanya kan pasti?" tanya Gerrald menatap.
"Diisi dong, masa dikosongin. Kan sayang kalo gak diisi gak bakal dapat poin. Lagipula, Bu Ineu itu lebih mengapresiasi jawaban yang salah dibanding kosong melompong, karena ... walaupun isinya salah, tapi si pengisi masih ada usaha buat menjawab soal. Maka dikasihlah setengah poin. Bijak banget kan guru biologi kita itu?" celoteh Diary panjang lebar. Sementara Gerrald hanya manggut-manggut saja di tengah mulutnya yang membulat.
Untung saja semua soal ia isi walau gak yakin semuanya akan benar. Setidaknya, guru biologinya itu akan memberi penghargaan bagi jawaban salah yang Gerrald torehkan. Seperti kata Diary barusan, Ineu akan lebih menghargai jawaban salah dibanding yang dikosongkan begitu saja.
"Oh iya, gue boleh nanya sesuatu gak?" tegur Gerrald kembali membuka percakapan setelah beberapa menit saling terdiam.
"Nanya aja, kan gak bayar. Hehehe," sahut Diary terkekeh. Gerrald mendelik, rupanya teman sebangkunya itu sudah mempunyai banyak perubahan sejauh mereka saling mengenal.
"Nanya apa, Ger?" tanya Diary saat tak kunjung mendapat pertanyaan dari cowok itu.
"Soal Keyna," gumam Gerrald, "Jadi, tadi malam dia beneran kasih tau lo? Maksud gue, kok bisa gitu ... bukannya selama ini dia--"
"Aku sengaja bohong, Ger...." celetuk Diary memotong kalimat si cowok. Refleks, Gerrald pun membelalak tak percaya kala mendengar ucapan Diary yang tak disangkanya.
Diary mengembuskan napas, lalu ia beranjak dari duduknya. Berjalan sebentar untuk menciptakan sedikit jarak dengan Gerrald sambil membelakangi lelaki itu.
"Lo kenapa sampe rela berbohong sih, Di? Apa yang bikin lo sampe segitunya, huh?" seru Gerrald tak habis pikir. Bukannya selama ini Keyna juga memiliki andil dalam menindas dirinya.
Lantas, kenapa Diary harus repot-repot berbohong demi cewek itu? Setidaknya, jika membalas kejahatan dengan hal serupa bukan solusi terbaik, minimal biarkan saja karma datang menimpa dengan sendirinya. Tapi yang Diary lakukan sangatlah jauh dari perkiraan Gerrald sebelumnya.
"Aku juga gak ngerti, Ger. Tapi yang jelas, aku merasa kalau sesuatu telah terjadi di antara Prita dan Keyna...." tukas Diary berprasangka.
"Maksud lo?"
"Aku ngerasa kalau Keyna akan segera dicampakkan sama Prita, Ger. Itu sebabnya aku berinisiatif buat bikin alasan palsu sama Bu Ineu," jelas Diary masih dengan posisi membelakangi Gerrald.
"Tapi atas dasar apa lo punya pemikiran kayak gitu? Emang lo punya bukti kalau Prita sama Keyna terlibat pertengkaran? Enggak, kan?"
"Justru karena aku punya buktinya, Ger. Makanya aku berpikir seperti itu...." sanggah Diary membuat Gerrald spontan membalikkan tubuh sang gadis supaya berhadapan lagi dengannya.
"Maksudnya, lo pernah lihat mereka berseteru?" tatap Gerrald lamat-lamat. Sementara Diary membalasnya dengan anggukan yang bermakna iya. Kontan, Gerrald pun terperangah tak menyangka. Pasalnya, bagaimana dan di mana Diary melihat mereka bertengkar? Lantas, kenapa Gerrald baru tahu sekarang? Apa Diary sengaja ingin menyembunyikan hal itu darinya?
Sejumlah pertanyaan pun kini berkecamuk di kepala Gerrald. Sedangkan Diary perlahan-lahan mencoba mengutarakan segala hal yang sempat ia lihat saat di g**g kecil yang hendak mengarah ke gudang di belakang gedung sekolah.