"Ger, kamu masih mau di sini?" tanya Diary pada Gerrald yang ia lihat sedang fokus memainkan ponsel.
Selepas bel istirahat berbunyi, mereka memang langsung meninggalkan kelas demi menyatroni kantin guna mengenyahkan suara keroncongan yang bersumber dari dalam perut masing-masing. Lalu kini, setelah keduanya sama-sama menghabiskan makanan yang dipesan sebelumnya, Gerrald pun mengajak Diary untuk mengisi waktu luangnya di dalam perpustakaan. Namun mendadak, si gadis merasa ingin ke toilet disebabkan dengan kantung kemihnya yang mendadak penuh ingin segera dikosongkan.
Mengangkat wajah, cowok yang sesaat lalu dilontari pertanyaan oleh Diary pun lantas balas bertanya sambil menatap, "Kenapa emang? Bosen?"
"Enggak, aku kebelet. Pengin ke toilet. Kalo aku duluan, gak apa-apa kan?" izin Diary nyengir.
"Ooh, ya lo kalo kebelet ke toilet aja dulu ... tapi nanti ke sini lagi ya, gue tungguin kok," ujar Gerrald balas tersenyum lebar. Rupanya, cowok itu masih betah berdiam diri di perpustakaan daripada buru-buru kembali memasuki kelas. Lagipula, waktu istirahat masih ada beberapa menit lagi. Maka wajar bukan jika Gerrald belum mau beranjak dan meminta Diary untuk kembali ke perpustakaan setelah urusan toiletnya selesai nanti.
Gadis itu lantas mengangguk. Kemudian, ia pun langsung melenggang meninggalkan Gerrald yang kembali memilih untuk memainkan ponsel di kursi pojokan yang tersedia di ruang perpustakaan tersebut.
Kini, Diary sedang berjalan ke arah toilet. Akan tetapi, saat ia melewati g**g kecil yang berada di sebelah kiri, tak sengaja Diary pun mendengar sebuah percakapan kecil yang tertangkap oleh telinganya yang cukup tajam. Kontan, hal itu pun membuat Diary menghentikan langkahnya terlebih dahulu.
Sambil menggaruk dagu, ia pun menengok ke kiri dan ke kanan. Berniat untuk sekadar mencari sumber suara yang samar-samar merayapi indra pendengarnya. Tapi suasana begitu sepi, seakan hanya desauan angin saja yang saat ini menimbulkan suara di sekitarnya. Kemudian, seolah lupa dengan niat awalnya, Diary pun kembali berjalan dengan cara mengendap-endap mendekati arah suara yang sempat didengarnya sesaat lalu. Semakin dekat, semakin terdengar jelas pula suara itu di telinga Diary.
Rupanya, saat Diary telusuri, suara tersebut berasal dari belakang gedung sekolah. Tepatnya, di tempat saat Diary pernah dibully oleh Prita dan Keyna sewaktu kali pertama ia memasuki bangku kelas tiga beberapa bulan ke belakang.
Diary melongokkan kepalanya sedikit, ia berniat mengintip untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di belakang sana. Siapa tahu ada sesuatu yang tidak etis terjadi di tempat itu. Sampai akhirnya, saat kedua matanya berhasil melihat sesuatu di balik tembok tersebut, Diary pun spontan menutup mulut dengan kedua mata terbelalak lebar penuh keterkejutan.
Bukan hanya terkejut, Diary bahkan sedikit syok kala melihat Keyna yang sedang ditampar oleh Prita. Apa yang terjadi? Bagaimana bisa Prita setega itu menampar teman dekatnya. Dan juga, kenapa Keyna hanya diam saja setelah ditampar Prita? Tidakkah ia bisa membalasnya atau sedikit memarahinya saja?
Namun setelah ditilik lebih dalam, dilihatnya, wajah Keyna juga sudah dibasahi oleh air mata. Gadis itu menangis. Diary yakin, sebuah masalah pasti telah terjadi di antara dua manusia tersebut.
"Kenapa Prita tega banget ngelakuin itu sama Keyna, bukannya mereka itu bersahabat?" gumam Diary tak menyangka. Ya, ia merasa aneh saja ketika melihat dua manusia yang awalnya begitu dekat tapi justru sekarang malah tampak seperti dua orang yang tengah saling membenci. Terlebih, Prita dengan lancang menampar Keyna tanpa dibalas lebih lanjut. Jika hal itu terjadi pada Diary, mungkin masih wajar seandainya Diary hanya duduk diam dan menerima tamparan tersebut. Tapi Keyna? Dia masih memiliki kemampuan untuk melawan Prita bukan?
Perhatian Diary kembali tertarik ke arah suara yang kini tengah berteriak lantang, "Mulai sekarang, kita gak usah temenan lagi! Gue gak sudi punya temen pecundang macem lo,"
Lagi-lagi, Keyna menangis sesenggukan. Tampaknya, gadis itu terlampau sakit hati oleh perlakuan Prita yang begitu kejam terhadapnya. Diary jadi iba, seandainya dia punya cukup nyali untuk sekadar menghampiri mereka. Mungkin, Diary akan datang membela Keyna. Tapi sayang, meski penampilannya sudah tidak secupu dulu, tetap saja Diary belum punya keberanian dalam menghadapi manusia semacam Prita.
"Prit, lo gak bisa campakin gue gitu aja. Hanya karena gue nolak ide lo, bukan berarti pertemanan kita harus selesai juga kan?" lontar Keyna berusaha membela diri. Suaranya pun setengah parau.
Diary yakin kejadian ini pasti sudah terjadi dalam beberapa menit ke belakang. Keyna pun menangis bukan baru di menit-menit yang baru terlewati. Apa mungkin, mereka sudah berseteru jauh sebelum Diary dan Gerrald memutuskan untuk menghabiskan sisa waktu istirahat mereka di perpustakaan?
"Lo lupa? Dari dulu gue gak suka sama yang namanya penolakan. Sementara elo, dengan lancangnya lo malah sok-sok-an menolak semua ide yang gue cetuskan? Lo pikir lo siapa? Lo cuma manusia gak berguna yang gak akan dilirik siapapun tanpa adanya gue di dekat lo. Bukannya berterima kasih karena udah gue angkat dari kubangan lumpur, lo justru malah coba-coba buat khianatin gue. Gak tau diuntung banget sih lo jadi orang!" cerca Prita tak tanggung-tanggung. Auranya tidak enak sekali saat Diary coba perhatikan.
Sementara itu, tangis Keyna kian mengencang. Diary pikir, Keyna sangat terluka setelah dicaci maki Prita. Memang jahat wanita itu. Jika hal yang dilakukannya menimpa pada Diary, mungkin itu wajar. Tapi Keyna? Kenapa Prita juga sampai tega hati pada sahabat sendiri? Bukankah seharusnya sahabat itu harus setia dan saling melindungi? Sekalipun ada masalah yang terjadi, tidak seharusnya juga ada aksi tampar menampar antara satu pihak ke pihak lainnya seperti yang sudah Diary lihat sesaat lalu.
"Perlu lo tau, kalo bukan karena lo anak orang kaya yang setara sama gue ... sejujurnya, gue udah ogah tuh temenan sama lo. Sayang, lo masih sangat bermanfaat buat gue. Jadi, selama lo berguna ... selama itu pula gue pertahanin lo. Tapi sori, Key. Kayaknya, mulai sekarang gue udah gak butuhin lo deh. So, daripada lo gue usir secara tidak hormat dalam pertemanan omong kosong ini ... lebih baik, lo mulai angkat kaki sendiri aja deh sebelum gue bener-bener depak lo," papar Prita teramat menyakitkan. Bahkan, Diary yang hanya mendengarkan dari kejauhan pun merasa terluka oleh perkataan tak beretikanya itu. Apalagi Keyna? Wajar jika ia menangis sesenggukan seperti itu.
Keyna tidak tahan lagi dengan semua perkataan yang terlontar dari mulut Prita. Lantas, ia pun bergegas untuk pergi dari hadapan teman dekat yang tak lama lagi akan menyandang status 'bekas teman'nya itu. Menyadari Keyna yang akan melewati g**g kecil satu-satunya ini, Diary pun buru-buru berlari menjauhi g**g tersebut. Gawat kalau misalkan ia tertangkap basah habis mengintip perseteruan yang terjadi. Bisa bernasib nahas dia di tangan Prita. Ujung-ujungnya, dia pasti menjadi korban perundungan Prita lagi seperti yang sudah beberapa kali terjadi sebelum ini.
Beruntung, Diary pun sudah berhasil menyelamatkan diri. Kini, dia tengah berdiri di tengah koridor panjang sambil sedikit membungkuk mengatur napas. Tak lama kemudian, Keyna pun muncul dari dalam g**g kecil yang Diary pakai untuk mengintip tadi. Seakan tak menyangka kalau ia akan bertemu dengan Diary, Keyna pun buru-buru menghapus jejak air mata di kedua pipinya. Lantas, tanpa berkata apa-apa, gadis itu pun segera melengos melewati Diary yang menyorotkan tatapan iba di tengah langkah Keyna yang terus berjalan menjauhinya.
¤¤¤
Diary baru selesai menuntaskan hasrat ingin pipisnya. Ya, setelah Keyna pergi, ia pun baru ingat dengan niat awalnya meninggalkan Gerrald di perpustakaan. Buru-buru, gadis itu pun bergegas menyusuri lorong koridor untuk sampai di toilet dan membuang cairan yang mendesak di dalam kantung kemihnya sejak tadi.
Kemudian, sekeluarnya ia dari salah satu bilik toilet, tanpa sengaja ia pun mendengar lagi suara tangisan dari bilik paling ujung. Sambil melangkah mendekat, Diary pun terus memasang telinga agar suara yang didengarnya tetap terjangkau. Hingga akhirnya, ketika langkahnya tiba di depan pintu bilik yang tertutup rapat, Diary pun semakin yakin kalau di dalamnya ada sosok manusia yang sedang menangis tersedu-sedu.
Tok tok tok,
Diary mengetuk pintu itu sebagai rasa sopan yang dimilikinya. Hanya saja, tidak ada sahutan dari dalam. Meski begitu, Diary tidak putus asa. Dia kembali mengetuk sampai orang yang ada di dalam bilik pun pada akhirnya beranjak guna membuka pintu tersebut.
Diary terkesiap kala mendapati sepasang mata sembab serta hidung yang memerah yang menghias kentara di wajah Keyna. Menelan ludah, ia pun memberanikan diri untuk menegur teman sekelasnya itu.
"Key, kamu kenapa?" tanya Diary meski dia sendiri sudah tahu penyebabnya karena apa. Namun, demi mencari lebih tahu penyebab intinya Keyna bisa sampai bertengkar dengan Prita seperti tadi, Diary pun harus sedikit berakting dengan pura-pura belum mengetahui apapun.
Keyna hanya menoleh sekilas, lalu ia memilih untuk melengos mengabaikan Diary sambil menyeka air mata yang masih berjatuhan. Tak ingin menyerah begitu saja, Diary pun menyusul langkah Keyna hingga di depan cermin raksasa berwastafel.
Sekali lagi, Diary mencoba bertanya pada Keyna, "Ada apa? Kalo mau cerita, aku siap kok jadi pendengar yang setia," ujarnya menawarkan diri.
Tapi ternyata, hal itu malah membuat Keyna menoleh dan memelotot berang seraya membentak, "JANGAN SOK CARE! GUE GAK BUTUH RASA PEDULI LO. PERGI SANA! LO CUMA GANGGU GUE AJA IBARAT LALAT YANG PERLU DIUSIR!!" makinya sarkastik. Sontak, membuat Diary langsung terdiam seribu bahasa.
Diary mengelus d**a dan menghela napas pelan-pelan. Walau dirinya sudah diteriaki sebegitu kasarnya oleh Keyna, tapi tidak etis rasanya kalau Diary meninggalkan orang yang sedang nyaris putus asa seperti Keyna di toilet sendirian. Bagaimana kalau Keyna nekat untuk melukai diri sendiri? Bukankah itu bisa saja terjadi? Pikir Diary kritis.
"Key, aku tau kamu lagi sedih. Tapi menurutku, kalau kamu gak mampu menahannya sendiri ... kamu bisa kok mengeluarkan segala keluh kesah kamu sama aku. Paling enggak, aku--"
"Banyak bacot lo!" potong Keyna mengumpat. Kemudian ia pun memilih pergi meninggalkan toilet ketimbang berada terus di dekat orang yang selama ini tak disukainya.
Melihat kepergian Keyna yang mengabaikannya begitu saja, Diary kembali menghela napas panjang. Setidaknya, ia mempunyai niat baik terhadap orang yang selama ini menjahatinya. Lagipula, bukannya bagus ya kalau kejahatan dibalas dengan tindakan sebaliknya?
Diary rasa, ia perlu menanyakan kembali perihal yang serupa seandainya Keyna sudah jauh lebih tenang nanti.