16. Dia, Si Pelipur Lara

1629 Kata
Diary melompat turun dari motor Gerrald. Sambil melepas helm yang membungkus kepala, pandangannya terfokus pada apa yang berada di depan matanya saat ini.  "Ger, kita di mana?" tanya gadis itu melirik Gerrald sebentar. Lalu kembali memokuskan matanya menatap takjub danau cantik yang terhampar luas sejauh mata memandang. "Lo suka?" tegur Gerrald turut serta menuruni motornya. Diary mengangguk. Senyumnya tersungging kala melihat pemandangan yang sebegitu memukaunya. Diam-diam, Gerrald ikut tersenyum ketika melihat gadis itu terpana. Tidak sia-sia dia mengajaknya ke sini, dengan begitu gurat kesedihan yang Gerrald temukan tadi di taman komplek sudah tergantikan oleh ulasan senyum lebarnya. Tanpa disadari, Diary bahkan sudah berlari menjauhi Gerrald. Cowok itu baru sadar ketika mendengar suara sang gadis yang mengutarakan kegembiraannya. "Tempat ini indah banget, Gerrald ... aku suka banget sama suasananya," ujar Diary sambil memutar-mutar gerak tubuhnya. Kedua tangannya terentang bebas seakan hendak terbang. Gerrald melihat senyuman bahagia terpancar dari wajah cantik Diary. Gadis itu pun tak henti bergerak lincah sambil menghirup udara segar yang terasa dan menikmati embusan angin yang menyejukkan pikiran. Danau yang begitu luas dengan setiap deretan bunga anggrek di tepinya membuat Diary terkagum-kagum. Begitupun dengan beberapa pohon-pohon rindang yang berdiri tegak di sekeliling taman itu. Tidak ada kesan menakutkan seperti di sinema layar lebar bergenre semi horor. Ini mutlak pohon rindang yang mampu membuat siapapun merasa tenang kala berada di sana. Termasuk Diary. Kegundahan yang semula ia rasakan di dalam diri pun kini sudah terganti dengan perasaan yang gembira tak keruan. Bahkan, selain terdapat pohon rindang yang menyejukkan suasana, di sana pun terbentuk beberapa tanaman kecil lainnya yang juga ikut membuat pemandangan semakin asri. "Gerrald, aku baru tahu kalau ternyata ada tempat seindah dan sesejuk ini juga di kota yang terkenal dengan kepadatan lalu lintas setiap harinya.... " ujar Diary berdecak salut. "Kukira, hanya di desa-desa pedalaman aja yang menyuguhkan pemandangan seperti ini. Tapi nyatanya, di ibu kota yang sudah terkenal dengan padatnya kendaraan pun ada juga tempat seindah ini...." sambung Diary yang kini lebih fokus menatap jauh ke tengah danau. Sementara Gerrald terkekeh geli setelah mendengar ujaran sang gadis, "Makanya, sering-sering dong main ke luar komplek, bukan taman komplek melulu yang lo singgahi. Hehehe," ejek Gerrald setengah bergurau. Mendengar itu Diary pun melirik lantas mendengkus, "Iya deh yang sering main, gak kayak aku ... udah jarang main keluar, gak punya banyak pengalaman pula," akui Diary sedikit ketus. Namun meski diketusi oleh Diary, Gerrald malah tertawa geli. Kemudian, ia pun turut menatap lurus ke arah danau, "Lo tau gak kenapa gue ajak lo ke sini?" tegur cowok itu. Kini, giliran dirinya yang melirik sekilas pada Diary. Mengangkat bahu, Diary pun menjawab, "Mungkin kamu pengin bikin aku gak sedih lagi. Jadi, kamu ajakin aku ke tempat ini deh biar aku gak keterusan nangis kayak di taman tadi," tukas sang gadis menerka. Gerrald tersenyum, lalu pandangannya kembali ia fokuskan ke arah danau yang sesekali dilempari kerikil kecil olehnya, "Dulu, pas gue masih kecil ... gue sering banget main ke sini. Entah itu bareng teman sebaya atau bahkan diajak sama Bunda. Lo tau?" jeda Gerrald kembali melirik, "Bagi gue, tempat ini udah jadi tempat favorit sejak saat itu. Jadi, kalo gue lagi bete, selain taman komplek yang gue kunjungi ... kadang gue juga ke sini demi mencari ketenangan. Seperti yang lo tau, di sini udaranya sejuk kan? Cocok buat hilangin rasa jenuh dan juga penat yang berkeliaran di kepala," papar Gerrald menjabarkan. Diary manggut-manggut. Ia pun langsung sependapat setelah mendengarkan cerita Gerrald sewaktu kecil yang dituturkannya dengan serius. Cowok itu benar, tempat ini memang sangat cocok digunakan untuk melepas penat dan membuang sedikit beban yang memberatkan. Meski tidak sepenuhnya, tapi seenggaknya, hati gadis itu sekarang sudah terasa jauh lebih tenang dari sebelumnya. Melupakan masalah yang sempat menggandrung, Diary akhirnya bisa tertawa lepas. Dalam sekejap, cowok itu bisa membuat Diary terhibur. Meski bukan dengan cara yang mewah, tapi Diary sangat bersyukur ketika saat ia butuh, Gerrald akan selalu ada di sampingnya. Mereka berdua saling bercanda tawa di tepi danau. Tak jarang, mereka juga saling berlomba melempar kerikil hingga sampai ke tengah danau. Keduanya tampak saling menikmati suasana di sana. Bahkan ketika senja menjelang, mereka pun seakan enggan untuk pulang. "Masih betah?" tegur Gerrald menatap Diary dari samping. Melirik, gadis itu pun tersenyum tipis. "Sebentar lagi ya, Ger. Aku masih pengin di sini...." gumamnya menatap teduh. Gerrald menghela napas. Namun, demi menyempurnakan niatnya dalam membuat Diary bahagia, Gerrald pun akhirnya mengangguk tersenyum. Ia pun memberikan sedikit waktu lagi untuk Diary. "Seandainya aja kita dipertemukan sejak dulu. Mungkin, tiap kali aku kesepian saat ditinggal Mami sama Papi dinas ke luar kota... aku gak akan terlalu sedih," ucap Diary mengembuskan napas panjang. Sementara itu, Gerrald hanya memilih diam dan mendengarkan saja. Bukan tidak mau menyahut, tapi cowok itu hanya takut salah berbicara lagi seperti beberapa kali yang sudah ia lakukan sebelumnya. "Ger, makasih ya...." ujar Diary kembali menatap cowok di sampingnya. Senyumnya pun mengembang hingga sampai ke lekukan matanya. Tak lama kemudian, matahari sudah mulai turun. Langit akan menggelap tak lama lagi. Tak ingin keasyikan sampai lupa pulang, Gerrald pun mengajak Diary beranjak. "Ayo pulang!" seru Gerrald mengomando. Lantas, ia pun lekas berdiri sambil menepuk-nepuk pantatnya yang sedikit kotor akibat duduk di tanah sejak tadi. Turut bangkit, Diary pun mendesah pelan, "Sebenarnya, aku masih betah di sini ... tapi, sebentar lagi malam tiba. Mana mungkin kan kita terus berdiam diri di sini," cicit sang gadis mencebik sedih. Gerrald menatap Diary, sorot matanya menunjukkan bahwa ia sangat ingin juga berlama-lama dengan gadis itu di danau. Hanya saja, Gerrald tahu batasan. Tidak baik rasanya jika membuat anak orang pulang hingga larut malam hanya demi mengikuti ego sendiri. Walaupun kenyataannya Diary sendiri masih betah, tapi Gerrald tidak akan setuju sekalipun gadis itu meminta untuk tidak pulang sekarang. "Lain kali, gue ajakin lo ke sini lagi kalo lo mau. Kalo perlu, kita berangkat dari pagi ... biar lo puas menikmati suasana tenang di danau ini," janji Gerrald sungguh-sungguh. Diary melirik, tersenyum simpul menatap Gerrald yang kini sedang memandangnya juga. "Kamu kenapa baik banget sama aku sih, Ger? Padahal kita belum lama kenal, tapi rasanya ... aku udah nyaman banget kalo lagi berduaan sama kamu kayak gini," ungkap Diary berterus terang. Gerrald tak menjawab. Tapi hatinya membenarkan seluruh kalimat yang Diary lontarkan. Ia pun merasakan hal serupa, hanya saja Gerrald belum berani mengatakannya. Tidak untuk saat ini. Tapi Gerrald yakin, suatu saat nanti, ia pasti akan menyatakan perasaannya pada gadis itu. Tunggu saja!                                                                                      ¤¤¤ Dear Diary, Rasa sedihku hilang. Jenuhku pun musnah. Begitupun dengan penat yang seketika beterbangan. Semua itu karena Gerrald, berkat dia semuanya mampu berubah. Semenjak ia hadir, rasanya aku seperti menemukan keceriaanku kembali. Meski masih ada sedikit beban yang belum hilang, tapi setidaknya, aku sudah merasa jauh lebih baik. Entah kenapa, di saat Gerrald bersamaku, hati pun terasa tenang dan nyaman. Bahkan jantungku pun berdegup gak karuan, apa pantas aku merasakan hal itu?? Namun, hingga saat ini aku masih merasa tidak yakin kalau Gerrald pun merasakan hal yang serupa. Iya, aku takut jika Gerrald hanya menganggapku sebatas sahabat saja. Tidak lebih. Lalu bagaimana dengan aku? Sudah terlanjur aku menyukainya. Bahkan rasanya, sekarang aku sudah didera ketakutan akan kehilangan dirinya....                                                                                     *** Diary baru saja melangkahkan kedua kakinya memasuki gerbang sekolah, wajahnya terlihat cerah. Mungkin efek dari kemarin saat dia sudah bermain bersama Gerrald hingga petang tiba. Di sepanjang koridor, senyumnya selalu mengembang. Terlebih, ketika murid lainnya menyapa dan juga melempar senyum hangat menyambutnya pagi itu. Ya, semenjak ia mengubah penampilannya. Hampir seluruh murid SMA Pelita memang tak pernah lagi mengabaikan dirinya. Maka, ketika ia melewati koridor pasti akan selalu ada yang mencoba menyapanya. Entah itu teman seangkatannya atau bahkan adik kelasnya. Tak lama kemudian, Diary sampai juga di depan kelas. Seperti biasa, Diary masuk ke dalam kelas dengan langkah yang tenang. Melihat beberapa temannya yang sedang asyik dengan urusannya masing-masing. Seperti halnya dengan Restu. Kebetulan, pagi itu Restu datang lebih awal, dan dia sepertinya sedang serius membaca buku paket pelajarannya. Berhubung Gerrald belum datang, Diary pun sigap menghampiri Restu yang tengah duduk anteng di bangkunya. "Hai, Res? Serius banget bacanya," tegur Diary turut duduk di bangku depan Restu. Cowok berkacamata itu tidak menggubris, pandangannya justru masih terfokus pada buku yang dipegangnya. Diary jadi bingung dengan sikap Restu, entah kenapa, Restu seakan tak mengacuhkannya. Padahal Diary yakin, temannya itu mendengar suaranya saat barusan ia menyapa bukan? Namun meski begitu, Diary pun tidak putus asa. Mungkin, Restu tidak mendengar saking fokusnya ia membaca. Pikir Diary. "Res, baca bab mana sih? Aku sampe dikacangin begini saking antengnya kamu baca," ujar Diary mencolek tangan Restu sekali. Tapi rupanya, cowok itu masih juga mengabaikannya. Hingga karena merasa kesal ia terus menerus tak diacuhkan, Diary pun mencoba menjahili Restu dengan cara ia yang menutupkan buku yang sedang dibaca cowok itu. Membuat Restu lantas memelotot kemudian membentak gadis di hadapannya, "Kamu apa-apaan sih, Diary!" Sontak, Diary terkesiap. Menatap Restu dengan sorot tak percaya dan tidak menyangka bahwa temannya akan bersikap sekasar itu. Alih-alih menyesal atau bahkan meminta maaf. Restu malah langsung beranjak sambil membawa bukunya guna meninggalkan Diary yang masih tertegun kaget atas sikap Restu yang berbeda dari biasanya. Sejurus kemudian, Diary pun sedikit dibuat terperanjat ketika seseorang menepuk bahunya. Diary lekas menoleh, mendapati Gerrald yang ternyata baru datang. "Lagi ngapain?" tanya Gerrald mengernyit. Diary mengerjap, lantas menggeleng sembari tersenyum kaku, "Enggak ngapa-ngapain kok. Eh, tumben kamu baru datang?" lontar Diary mengalihkan topik pembicaraan. "Iya nih, tadi motor gue sempat mogok. Ternyata abis bensin, ya udah ... gue cari-cari bensin dulu deh sambil dorong motor. Eh, nemu-nemu di perempatan jalan yang mau ke sekolah. Kan k*****t," curhat Gerrald lalu mengembuskan napas panjang. Diary terkekeh geli. Baginya, raut wajah Gerrald akan berubah lucu ketika sedang mengeluh seperti itu. Maka, wajar jika Diary merasa gemas ingin sekali mencubit pipi si cowok. Hanya saja, Diary menyimpan hal itu dalam angan-angannya. Melakukannya, tentu saja akan membuat suasana berubah canggung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN