Menjelang tengah malam. Gerrald dan Diary sepertinya belum ada kemauan untuk saling berpisah. Setelah dua sejoli itu baikan, kini suasana malam pun terasa hangat di tengah embusan angin yang dingin pasca hujan mengguyur bumi sedari sore hingga beberapa jam yang lalu sebelum Gerrald datang membawa peralatan kemping dadakan ke halaman rumah Diary.
Awalnya, cowok itu memang kesulitan untuk melaksanakan idenya. Namun setelah membujuk berkali-kali Pak Rahman yang memiliki dukungan penuh dari kedua ART Diary, akhirnya Gerrald pun berhasil juga melancarkan aksinya.
"Ger," Cowok itu lantas menoleh ketika dipanggil. Senyumnya mengembang kala mendapati Diary yang datang sambil membawa nampan berisi dua mangkuk mi instan hangat untuk disantapnya di malam yang dingin seperti sekarang.
"Yuk makan dulu!" ajak Diary yang langsung diangguki cowok itu. Kemudian, mereka pun memilih untuk memakan mi instannya di depan tenda. Walaupun hanya duduk di atas alas karpet yang digelar setelah acara peluk memeluk, tapi mereka terlihat menikmati sekali setiap momen yang dilewati.
"Ini siapa yang bikin?" tanya Gerrald sambil menghirup aroma khas mi instan kesukaannya.
"Bik Minah," jawab Diary jujur.
"Kirain kamu," dengkus Gerrald pelan.
"Aku mana bisa masak sih, Ger...." ucap Diary meringis.
Gerrald pun terkekeh, "Belajar dong! Kalo kita nikah nanti, kamu wajib banget loh buat masak tiap hari."
"Uhuk, uhuk...." Tiba-tiba Diary batuk. Sigap, Gerrald pun menyodorkan air mineral yang tersedia agar diminum sang gadis. Setelah meneguk sedikit air yang Gerrald berikan, sontak Diary pun memukul gemas lengan atas sang pacar.
"Aduh!" Gerrald mengaduh. "Kenapa sih? Kok malah pukul aku?" protesnya menatap heran.
"Omongan kamu gak jelas!"
"Omongan yang mana?"
"Tau ah. Pikir aja sendiri!!" delik Diary. Lalu, ia pun lebih memilih menyantap mi instannya lagi daripada meladeni ocehan ngawur yang pacarnya lontarkan.
"Emangnya kamu gak mau nikah sama aku?" cetus Gerrald kembali mengejutkan. Beruntung, Diary tidak terbatuk-batuk lagi seperti sebelumnya.
"Apaan sih, Ger? Topiknya serius banget. Gak ada pembahasan lain apa?" tukas Diary sensitif. Dia memang tidak ingin terlalu berkhayal tinggi. Bisa berpacaran dengan Gerrald secara nyata saja sudah lebih dari cukup. Lantas, apa masih boleh jika dia berangan-angan pada suatu hal yang bahkan masih sangat jauh untuk sekadar mereka bahas di kesempatan ini.
"Diary," ucap Gerrald meraih tangan sang gadis. "Bagi aku, kamu itu yang terakhir. Meskipun kita pacaran masih berusia hitungan hari. Tapi tekad aku udah bulat sepenuhnya. Aku mau, di masa depan nanti ... cuma kamu yang jadi istri aku. Bukan sekadar angan-angan semata. Tapi aku mau hal itu terjadi secara nyata. Kamu paham?" tuturnya sungguh-sungguh. Sementara itu, Diary hanya mampu diam tanpa bisa membalas.
Bukannya tidak suka dengan ucapan Gerrald yang terkesan penuh khayal. Hanya saja, Diary tidak mau berekspetasi terlalu tinggi di saat semuanya masih abu-abu. Jangankan membayangkan perihal pernikahan, untuk ke depannya saja hubungan mereka belum tentu awet. Bukan maksud berpikiran pesimis. Namun Diary mencoba berpikiran realistis saja di zaman sekarang. Ketimbang berangan-angan tinggi tapi nyatanya tak seindah yang dibayangkan. Rasanya, itu hanya akan membuat hidup Diary terombang-ambing dalam khayalan demi khayalan semata.
"Diary," panggil Gerrald lagi.
"Ger, bukannya aku gak mau bahas soal pernikahan. Tapi kayaknya itu masih belum pantas buat kita bicarain deh. Perjalanan cinta kita masih panjang. Aku gak mau terhanyut dalam angan-angan yang kita buat bersama, Ger. Sementara kita sendiri gak tau ke depannya akan seperti apa. Daripada membahas perihal masa depan yang belum tentu sama dengan prediksi kita saat ini, alangkah lebih baiknya kalau kita jalani aja dengan enjoy. Mungkin kalo kita berjodoh, nanti pun ada saatnya kita membicarakan hal itu. Bener kan?" papar Diary mencoba menjelaskan.
Baginya, terlalu sulit untuk membicarakan topik sesensitif itu. Bukan hanya Gerrald yang menginginkan hal tersebut, tapi jauh dari lubuk hati yang terdalam, Diary pun sama. Namun apa boleh buat? Usia mereka bahkan masih belia. Terasa sedikit risi jika di usia sedini ini mereka harus membicarakan pembahasan yang begitu serius.
"Ya udah kalo itu mau kamu. Tapi apapun alasannya, aku tetap pada pendirianku kok. Aku cuma mau kamu yang jadi pendamping hidup aku di masa depan nanti. Paham?" tukas Gerrald tegas. Namun hanya diangguki sekilas oleh Diary diiringi dengan senyuman lembutnya.
"Makan dulu tuh, nanti keburu dingin mi instannya...." ucap Diary mengingatkan. Lalu, Gerrald pun segera mematuhi perkataan sang gadis dan langsung melahap mi instan campur telur kesukaannya.
***
Menjelang subuh, Gerrald menguap. Sepanjang malam dia berjaga sambil memainkan game online di ponselnya. Sementara itu, Diary malah sudah terlelap nyenyak setelah beberapa menit menghabiskan mi instannya tadi malam. Gerrald menyudahi game onlinenya. Dia pun memasukkan ponselnya ke dalam saku celana kargo yang dikenakannya. Lalu, ia mengintip ke dalam tenda. Dilihatnya, Diary masih tidur nyenyak tanpa terusik sedikit pun. Hanya saja, gadis itu terlihat seperti kedinginan. Selimut tipis yang menutupi tubuhnya tidak berpengaruh banyak dalam hal mengusir rasa dingin yang ditimbulkan oleh desauan angin dini hari.
"Diary ... Diary, kecantikan kamu emang alami. Lagi tidur pun wajah kamu tetap aja cantik," gumam Gerrald memuji. Lantas, ia pun merogoh kembali ponselnya dan membuka aplikasi kamera. Mengarahkan kameranya ke hadapan Diary, Gerrald pun mengambil foto sang gadis ketika sedang tidur guna diabadikannya di dalam galeri.
"Sudah cukup kempingnya, Di. Sekarang, aku mau pindahin kamu ke tempat tidur milikmu yang seharusnya...." ujar Gerrald tersenyum. Kemudian, setelah memasukkan kembali ponsel ke dalam saku, ia pun mulai membopong Diary dengan hati-hati.
Beruntung gadis itu terlalu nyenyak dalam tidurnya. Maka, saat Gerrald sudah memasuki rumah dengan bantuan Pak Rahman yang selalu siaga di setiap waktu pun Diary masih saja tak terusik. Sampai ketika Gerrald sudah tiba di dalam kamar Diary, ia pun lekas menurunkan tubuh ramping Diary ke atas ranjang. Sejenak, gadis itu menggeliat. Namun selebihnya, ia kembali tidur sambil sedikit mengigau di tengah kelelapannya.
"Sleep tight, Baby. Semoga besok kamu bisa mengawali hari barumu dengan perasaan bahagia. Aku mencintaimu, Diary Clarista...." gumam Gerrald lembut. Tak lupa, ia pun menyelimuti tubuh Diary hingga mencapai d**a. Kemudian, Gerrald sedikit membungkuk dan cup, satu kecupan mendarat sempurna di bibir Diary.
***
"Gerrald, tungguin!" Diary berseru memanggil pacarnya yang sudah lebih dulu berlari kecil meninggalkannya.
Sementara itu, Diary terengah-engah setelah mendaki bukit yang lumayan tinggi sejak beberapa jam yang lalu.
"Ayo dong, masa segitu aja udah nyerah?" ujar Gerrald berbalik. Dia pun melambaikan sebelah tangannya sambil berjalan mundur.
"Curang! Kamu kan udah sering mendaki bukit kayak gini. Apa kabar sama aku? Jangankan naik bukit, main ke mall aja bisa dihitung jari!" protes Diary mencebik.
"Makanya, mumpung ada aku. Kamu harus terbiasa buat ikut aku main-main ke bukit. Lumayan, sekalian bakar lemak...." tukas Gerrald terkekeh.
Mendengar itu, Diary malah mendengkus. "Bakar lemak apaan? Badan udah kurus begini apa yang mau dibakar lagi sih?"
"Gemukin dong kalo gitu,"
"Gak mau!"
"Kenapa?"
"Kalo aku gemuk, nanti kamu berpaling. Kalo kamu berpaling nanti aku sama siapa?" lontar Diary berkacak pinggang.
Tiba-tiba, sesuatu yang besar muncul dari belakangnya. Diiringi suara tawa yang membahana, sosok tinggi besar itu pun mencoba meraih Diary yang kebetulan keburu menyadari akan kehadirannya.
"Gerrald!!" teriak Diary ketakutan.
"Diary, lari sini!" seru cowok itu menggapai. Akan tetapi, alih-alih bisa berlari, tubuh Diary malah sudah lebih dulu ditangkap oleh satu tangan raksasa yang memelotot lebar.
"Kamu tidak boleh pergi, Diary!" ucapnya dengan suara yang besar.
"Lepasin, lepasin aku!!!" jerit gadis itu meronta.
"Woy, lepasin cewek gue! Belum pernah ngerasain sledingan gue lo, hah?" teriak Gerrald menantang.
"Sleding aja kalo bisa! Hahaha," sahut si raksasa malah ngeyel.
Sejurus kemudian, tahu-tahu Gerrald pun berubah menjadi seorang superhero yang memiliki sayap. Membelalak lebar, Diary pun setengah menganga saking tak menyangkanya dengan apa yang tengah dilihatnya saat ini.
"Diary, aku datang menyelamatkanmu!" lontar Gerrald sembari mengacungkan sebelah tangannya ke atas. Lalu, ia pun mulai terbang guna menghampiri Diary yang masih berada di dalam genggaman tangan kiri si raksasa.
"Gerrald, kamu bisa terbang?" pekik Diary terkejut.
"Iya, Diary. Maaf gak kasih tau kamu. Selama ini, sebenarnya aku keturunan superman. Nama panggilanku adalah, Super Gerrald!!" seloroh cowok itu menepuk d**a.
"Jangan banyak bicara kamu! Ayo, hadapi aku!!" sambar si raksasa berkacamata. Sebelum itu, dia pun memindahkan posisi Diary dari genggaman tangannya menjadi ke dalam saku celana belakangnya supaya aman terkendali.
"Maju kamu!" tantang raksasa tersebut memasang kuda-kuda.
"Rasakan ini!!!" teriak Gerrald bersiap meninju. Akan tetapi, si raksasa jauh lebih tangkas dari perkiraan.
"Kamu meleset, b**o!" lontar raksasa itu terkekeh. Sontak membuat Gerrald tak terima dan bersiap kembali untuk menyerangnya.
"Gerrald, walaupun aku ada di belakang si raksasa s****n ini. Tapi aku tetap mendukungmu, Sayang!!" seru Diary tak mau kalah. Menyebabkan si raksasa menggeram dan tiba-tiba menyemburkan uap yang besar dari dalam mulutnya.
"Raksasa kurang tatakrama! Uap mulut lo bau bangke!!!" protes Gerrald mencoba bertahan untuk tidak tumbang.
Di tengah pertarungan yang masih berlanjut, Diary malah berupaya untuk melepaskan diri dari jeratan si raksasa tanpa menunggu siapa yang akan memenangkan perkelahian sengit tersebut. Selagi mereka masih bertarung, gadis itu pun bertekad untuk melompat dari dalam saku celana si raksasa yang ia pikir tidak terlalu tinggi.
"Baru kali ini aku nemuin raksasa pake jeans," gumamnya sejenak. Lalu, bersiap diri untuk melompat turun dengan ancang-ancang yang sudah direncanakan. Hanya saja, ketika ia baru akan melompat cantik agar pendaratannya sempurna dan tidak menimbulkan rasa sakit, tiba-tiba saja, tubuh si raksasa itu malah terguncang dan menyebabkan tubuh Diary juga ikut terusik hingga akhirnya dia jatuh terjun tanpa aba-aba.
"Kyaaa, Gerrald!!!" teriaknya panik. Namun nahas, super Gerrald bahkan tidak keburu menangkap tubuh Diary yang sudah jatuh mendarat ke tanah meskipun ia sigap terbang dengan begitu cepat.
"Diary!!" seru Gerrald membelalak.
"Bangun, Non! Bangun...." Tanpa diduga, suara Gerrald berubah drastis menjadi suara seorang wanita tua yang sudah sering didengarnya.
"Non, bangun ayo! Ini sudah siang. Kalau tidak bangun sekarang, Non Diary bisa terlambat masuk sekolah...." ujar suara itu lagi yang cukup berhasil membuat Diary terjaga hingga akhirnya kedua matanya terbuka kompak.
Untuk sesaat, gadis itu tercenung. Namun tak berlangsung lama, karena di detik berikutnya, ia malah mengerjap beberapa kali sambil memerhatikan sosok yang ada di depan matanya lamat-lamat.
"Mbok Jen?" pekik gadis itu kaget.
"Iya, Non. Lantas siapa lagi kalo bukan Simbok? Non Diary tidak sedang mengigau toh?" ujar Mbok Jenny memastikan.
Gadis itu mengucek pelan matanya. Mencoba mengumpulkan nyawanya sejenak sambil mengingat-ingat tentang apa yang sudah ia alami beberapa saat lalu.
"Non, Non Diary baik-baik saja kan?" tegur Mbok Jenny menatap.
Sejurus kemudian, sang gadis pun menepuk dahinya cukup keras. "Astaga! Ternyata tadi itu cuma mimpi." Diary menggumam. Namun selanjutnya, ia pun kembali melirik Mbok Jenny sambil bertanya, "Ini pukul berapa, Mbok?"
"Pukul 7 kurang seperempat, Non...."
"APA??" teriak Diary melengking. Sigap, ia pun langsung berlari terburu-buru guna memasuki kamar mandi dan mempercepat segalanya untuk meminimalisasikan waktu yang tersisa.