Sejak sore, hujan belum juga reda. Saat malam hari tiba, tampaknya tim pembasah bumi belum lelah untuk melaksanakan tugasnya. Seorang pemuda tengah duduk termenung di depan jendela. Di bawah lampu yang sengaja tak dinyalakan, ia melamun sambil sesekali melepas kaca matanya dan memandanginya beberapa saat.
"Tanpa benda ini, apa aku bisa ya jadi diri sendiri?" tanyanya seorang diri. Dia lantas menghela napas panjang bersamaan dengan terbukanya pintu kamar yang didorong seseorang dari luar.
"Astaga! Ngapain lo gelap-gelapan kayak gini?" teriak suara melengking. Tak habis pikir dengan cara saudaranya yang memilih untuk berdiam diri di tengah kegelapan.
"Jangan belagak susah deh! Apa kata tetangga kalo lihat lampu kamar lo gelap gulita kayak gini sementara ruangan lain terang benderang? Mau dihujat sama tuduhan tanpa fakta, huh? Masa iya rumah segede-gede gak mampu bayar listrik. Apa kata dunia?" cerocos suara yang sama seraya menekan sakelar yang sudah ia ketahui letaknya ada di mana.
Lampu pun menyala. Sontak, pemuda yang duduk di dekat jendela itu memejamkan mata dan menghalanginya dengan satu tangan demi menghindari silau yang melanda. Kemudian, si pemilik suara tadi pun berjalan santai mendekati pemuda tersebut.
"Ngapain sih lo pake acara matiin lampu segala?" omel cewek berambut kucir kuda itu berkacak pinggang. Sementara yang diomelinya hanya tetap duduk santai tanpa berniat untuk menoleh sedikit pun.
"Heh, gue nanya masa iya dikacangin? Lo pikir gue suka?" semburnya lagi sembari menempeleng kepala pemuda itu dengan lancang.
Merasa tak dihargai sebagai orang yang terlahir lebih dulu meski hanya berbeda 5 menit, pemuda itu pun melirik dan menatap saudara kembarnya dengan sinis. Kemudian, tanpa banyak bicara, ia pun bangkit dan memilih untuk melengos pergi mengabaikan cewek berambut kucir kuda tersebut.
"Heh, lo mau ke mana?" lontar cewek itu lagi melengking. Namun yang diteriaki justru malah terus berjalan meninggalkan kamarnya yang masih dihuni oleh saudara kembarnya itu.
"Dasar kembaran gak guna!" umpatnya mendengkus.
Kemudian, saat ia hendak mengambil buku PR milik saudara kembarnya yang ia pikir ada di atas meja belajar, tiba-tiba matanya tertuju pada sesuatu yang membuat perhatiannya tertarik spontan. Bukan sejenis berlian yang membuat matanya kini melebar, tapi hanya secarik kertas yang berisi tulisan tangan saudaranya sendiri. Didera perasaan ingin tahu, ia lantas meraihnya. Satu hal yang membuat matanya kian membelalak, nama seseorang yang sangat ia kenal sekaligus dibencinya selama ini justru tertera di antara tulisan tersebut yang kontan membuatnya langsung menyadari bahwa ternyata, saudara kembarnya telah menaruh rasa suka terhadap sosok yang selalu dipanggilnya si cupu.
"Jadi, si Petra suka sama si Diary? Itu artinya, dia--"
"Prita, lagi ngapain kamu di meja belajarku?" teriak suara saudara kembarnya. Membuat cewek berambut kucir kuda yang tak lain adalah Prita sontak terkesiap kaget kala mendapati saudara kembarnya kembali lagi.
***
"Hatcii,"
Sudah beberapa kali, Diary bersin-bersin. Hidungnya tampak merah saking seringnya ia mengeluarkan ingus akibat dari flu yang mendera. Gara-gara nekat hujan-hujanan, gadis itu akhirnya sedikit menggigil. Namun meski begitu, ia tetap berupaya menyelesaikan pekerjaan rumahnya yang harus ia kumpulkan besok di jam pertama.
Tok tok tok,
"Masuk!" seru suara parau Diary. Tak lama kemudian, si pengetuk pun muncul membawakan nampan berisi segelas s**u rasa stroberi hangat yang akan disuguhkan pada gadis pemilik kamar tersebut.
"Ini susunya, Non. Biar badannya anget, jadi Simbok sengaja bikinkan tanpa diminta. Hehehe," kekeh Mbok Jenny sesaat.
Diary tersenyum samar. Lalu sambil terus membuang ingus yang seakan tak bosan mengalir dari dalam lubang hidungnya, ia pun berucap. "Makasih, Mbok. Tapi, simpan aja dulu, Mbok. Nanti Diary minum setelah PR Diary selesai dikerjakan...."
"Siap, Non!" seru Mbok Jenny patuh. Kemudian, ditaruhlah gelas tersebut di atas nakas. Sementara itu, Mbok Jenny undur diri lagi guna menyiapkan menu makan malam yang tak lama lagi akan tiba.
"Oh ya, Mbok. Hari ini, Mami atau Papi telepon ke rumah gak?" tegur Diary sebelum Mbok Jenny melangkah lebih jauh.
"Ndak ada, Non. Mungkin belum...." ujar Mbok Jenny memprediksi.
Diary pun mengangguk. Lalu, Mbok Jenny sendiri lekas bergegas meninggalkan kamar nonanya sembari kembali menutup pintunya rapat-rapat.
"Hatcii." Gadis itu kembali bersin. Bersamaan dengan tuntasnya 10 soal tugas matematika yang akan dikumpulkannya besok.
Seusai mengelap ingus di bawah hidung, Diary pun menutup buku PRnya dan memasukkannya ke dalam tas. Dia tidak mau mengambil risiko kelupaan membawa PRnya. Maka, setelah selesai, ia pun harus selalu memasukkannya ke dalam tas demi menghindari keteledorannya yang bisa saja membuat dirinya kerepotan.
Setelah merapikan meja belajar, Diary pun beranjak. Dia melangkah lunglai menghampiri tempat tidurnya. Sambil terus menyentuh hidung yang terasa berat, ia lantas menaiki ranjang tidurnya dan bersiap menarik selimut. Akan tetapi, sebelum ia berhasil melakukannya dengan baik, tahu-tahu ponselnya berdenting. Sepertinya, ada pesan masuk yang baru datang. Meraih benda pipih yang tergeletak di atas nakas dekat gelas s**u stroberinya, Diary pun buru-buru memeriksa layar ponselnya yang menyala.
Dilihatnya, satu pesan w******p telah masuk. Dan itu ia dapat dari kontak bernamakan 'Gerrald Pacar'. Melihat itu, hati Diary mendadak pedih lagi.
Malam, Di? Udah tidur?
Kira-kira, seperti itulah isi pesan yang cowok itu kirimkan.
Untuk sesaat, Diary hanya termenung sambil memandangi ponselnya dengan tatapan kosong. Tanpa diduga, ingatannya kembali ke kejadian sore hari tadi saat tiba-tiba ia dipeluk Gerrald sewaktu duduk di bangku taman.
"Maafin aku, Diary. Maafin aku...."
Tubuh Diary menegang. Di samping rasa terkejutnya yang tak menyangka akan didatangi Gerrald dalam keadaan hujan seperti ini, dia pun dibuat kaget oleh pelukan yang cowok itu berikan.
"Aku tau, kamu pasti ada di sini...." ucap Gerrald masih memeluk. Seperti halnya Diary, cowok itu pun masih setia mengenakan seragam sekolahnya. Bedanya, kemejanya sudah tergantikan oleh kaus oblong putih saja. Sementara celananya masih celana seragamnya yang menunjukkan khas SMA Pelita.
"Diary, kamu tau kan perasaanku seperti apa? Aku gak mungkin main-main sama kamu. Aku tulus cinta dan sayang sama kamu. Gak ada sedikit pun niat buat melukai kamu, Di. Percayalah...." ujar Gerrald sesudah melepas peluk. Saat itu, Diary masih terdiam tanpa mengucap apapun. Dia justru hanya menatap kosong ke arah depan dengan guyuran air hujan yang terus membasahi seluruh tubuh.
Melihat gadis di hadapannya yang belum bereaksi sedikit pun, Gerrald pun memutuskan untuk duduk berlutut. Menyejajarkan diri dengan Diary yang posisinya duduk di bangku taman.
"Diary, bicara dong! Aku rela kamu marahi. Aku siap juga kamu maki-maki. Tapi, plis ... jangan diamin aku kayak gini. Aku lebih seneng kalo kamu ngeluarin unek-unek kamu dibanding kamu yang cuma membisu doang kayak gini. Kumohon, Diary. Katakanlah sesuatu...." bujuk Gerrald di tengah guyuran air hujan yang semakin deras.
Diary mendengar apa yang Gerrald ucapkan. Namun entah kenapa, dia bahkan masih belum bisa menggerakkan lidah dan mulutnya untuk sekadar mengucap satu kata. Lidahnya mendadak kelu. Entah itu bawaan karena pengaruh terkena air hujan atau justru Diary memang sedang tidak selera berbicara pada cowok di hadapannya.
I'm sorry but,
Don't wanna talk, I need a moment before I go,
It's nothing personal,
I draw the blinds,
They don't need to see me cry,
'Cause even if they understand,
They don't understand,
Tiba-tiba saja suara Alan walker menggema memecah sunyi sekaligus membuyarkan lamunan Diary yang masih setia pada posisinya. Dilihatnya, nama kontak 'Gerrald Pacar' kini tertera di layar ponsel berkedipnya.
Mulanya Diary hanya membiarkannya saja. Tidak menjawab atau pun me-reject panggilan tersebut. Akan tetapi, Gerrald seakan tidak ingin menyerah sebelum panggilannya berhasil membuat Diary yang pada akhirnya menggeser tanda hijau juga dan menyalakan tombol pengeras suara karena malas menempelkan ponselnya ke telinga.
"Diary, kamu masih bangun?" tanya suara yang muncul dari seberang sana.
Mendengar pertanyaan basa-basi yang Gerrald ajukan, Diary pun kontan memutar bola mata jengah. "Gimana bisa aku tidur kalo kamu terus menerus teleponin aku berulang kali," lontar gadis itu ketus. Namun yang diketusi justru malah terkekeh geli seakan baru saja mendengar Diary sedang mengungkap sebuah lelucon.
"Oh ya, kamu tau gak aku lagi di mana?" tanyanya kembali berusaha menghangatkan suasana.
"Gak!" jawab Diary singkat. Sepertinya, dia menekan keras egonya agar tidak terhanyut dengan sikap Gerrald yang sedang berusaha keras untuk mengajaknya berbincang santai.
"Kamu gak mau tau?" lontarnya ngeyel.
"Gak!"
"Ya udah kalo gitu. Aku bisikin aja biar kamu tau," ujar Gerrald pantang menyerah. Sejurus kemudian, cowok itu benar-benar mengubah suaranya menjadi sebuah bisikan. "Coba jalan ke balkon. Terus lihat ke bawah!"
"Maksudnya?" Gadis itu setengah memekik.
"Lakuin aja apa yang aku suruh barusan. Ayolah! Aku tau kamu gak akan bisa tidur sepanjang malam ini. Jadi, daripada bengong sendirian dan ngelamunin hal-hal yang gak berfaedah ... mending temenin aku buat masang tenda di halaman rumah kamu, yuk!
"Apa? Pasang tenda?" seru Diary yang sungguhan memekik kali ini. Kemudian, ia pun segera beranjak dari tempat tidurnya dan berlari spontan menuju balkon guna memastikan soal perkataan Gerrald sesaat lalu.
Dan kejutaaan!
Gerrald memang sedang memasang tenda mini di halaman rumah Diary. Bahkan, sudah ada api unggun yang tercipta di dekat ayunan yang tersedia di halaman depan rumahnya. Memelotot terkejut, Diary pun refleks berteriak memanggil.
"Gerrald!"
Kontan, yang dipanggil pun segera mendongak dan sigap melambaikan tangan sekaligus berbicara kembali melalui ponselnya yang masih tersambung.
"Berminat buat temanin aku di sini? Ayo turun! Aku bawa banyak camilan loh buat memperlengkap kemping dadakan ini."
Entah mengapa, melihat secara langsung kegigihan cowok tersebut. Mendadak, hati Diary luluh lantak. Tak peduli jika sebelumnya ia sedang berantisipasi untuk menjaga jarak dengan cowok itu. Yang ia tahu saat ini, Gerrald sedang berusaha untuk membuktikan betapa benar-benar ia menyayangi dirinya. Lantas, tanpa berpikir panjang, Diary pun lekas berlari keluar kamar dan menuruni tangga. Seakan tak ingin banyak menengok ke sana kemari, ia pun terus saja berlari menuju keluar rumahnya hingga ia melewatkan ketiga pembantunya yang kini sedang bertos kompak karena tak sia-sia sudah membantu Gerrald untuk melunakkan hati nona mudanya.
Kemudian, saat Diary tiba di beranda rumahnya. Ia pun berhenti sejenak. Dilihatnya, Gerrald sedang berdiri santai di dekat tenda mini yang sudah selesai dipasangnya. Lantas, tak ingin menyia-nyiakan usaha yang sudah cowok itu lakukan. Diary pun langsung berlari lagi guna menghampiri sang pacar yang pada akhirnya ia peluk erat sesampainya Diary berada di hadapannya. Seperti halnya sang gadis, Gerrald pun balas memeluk tak kalah erat sembari meluapkan rasa bahagianya yang tak terkira.
"Terima kasih udah mau datang, Diary. Perlu kamu tau, aku gak pernah main-main sama hubungan ini. Semarah dan sekesal apapun kamu sama aku, demi cinta kita ... aku gak akan pernah menyerah buat balikin lagi keadaan sampai normal kembali seperti sedia kala," tutur Gerrald di tengah dekapan hangatnya. Sedangkan Diary, dia hanya mampu mengangguk saja tanpa mau banyak bicara apalagi melepaskan pelukannya.