23. Sesuatu yang terungkap

1814 Kata
Diary sedang berjalan seorang diri di koridor sekolah. Sesekali, ia menguap dengan mata yang terasa ngantuk sekali akibat semalaman tidak bisa tidur. Ya, baru ketika menjelang subuh ia baru bisa terlelap. Setelah memikirkan perihal mimpinya dan batre ponsel yang tak penuh-penuh, Diary jadi sulit tidur dan ujung-ujungnya menonton drama korea hingga menjelanh subuh. Akan tetapi, saat baru saja tidurnya terasa nyenyak, sekitar pukul 6 pagi ia pun sudah dibangunkan lagi oleh Jenny yang menginfokan bahwa sudah waktunya nonanya itu mandi dan bersiap ke sekolah. Alhasil, saat Diary sampai di sekolah pun, rasa ngantuk seakan tak mau enyah dan terus menggandrungi kedua matanya yang tidak bisa ia pelototkan sama sekali. Pagi ini koridor tampak sepi. Belum terlihat banyak murid yang berjalan hilir mudik kesana kemari seperti pagi-pagi biasanya. Mungkin, sekarang masih pagi dan karena ini hari jum’at, maka kebanyakan murid seolah sengaja datang agak siangan disebabkan oleh rutinitas sekolah di hari jum’at lebih dominan diisi oleh acara kerohanian di aula yang besar dibanding aktifitas pembelajaran seperti hari-hari selain Jumat. Lalu, di tengah langkah Diary yang hendak menuju ke kelas sebelum menyatroni aula besar khusus acara kerohanian, tiba-tiba saja seseorang menarik lengannya cukup kasar. Seketika, Diary pun terkejut. Terlebih, saat Diary mendapati  Prita yang ternyata telah menarik lengannya dengan kasar seperti barusan. Tidak hanya itu, Prita bahkan sekarang sudah menyeret Diary dan membawanya ke tempat sepi agar ia leluasa memaki Diary tanpa ada yang memergokinya.             “Prita, apa-apaan sih kamu?” teriak Diary meronta. Ia pun mencoba untuk melepaskan diri dari seretan yang tengah Prita lakukan.             “Gak usah banyak bacot lo! Gue perlu bicara 4 mata sama cewek model kayak lo ini,” tukas Prita tanpa mau menghentikan perlakuannya. Tak lama kemudian, mereka pun sampai di belakang gedung sekolah yang sangat sepi tak berpenghuni. Di sana, Prita pun melepaskan cekalan tangannya terhadap Diary dan mengempaskan tubuh gadis itu hingga ia nyaris tersungkur.             “Kamu kenapa lagi sih, Prit? Salah aku apa?” tanya Diary sembari memegang pergelangan tangannya yang sedikit memerah. Prita mendengkus kecut, “Lo masih nanya salah lo apa? Apa bahkan lo gak sadar kalo setiap hari lo selalu bikin salah, hah?” sentak Prita mencak-mencak. Matanya pun memelotot nyalang berapi-api. Diary mengerutkan dahi, ia benar-benar tidak mengerti apa maksud dari perkataan Prita barusan.             “Jangan mentang-mentang lo udah cantik dan terkenal, terus lo bisa lakuin hal apa aja termasuk rebut Gerrald dari gue. Perlu lo tau ya! Apapun caranya, secara alami atau enggak ... gue pasti bisa dapetin Gerrald sekaligus bikin dia jauhin lo. Dan lo! Lo bahkan gak akan bisa banyak berkutik saat hari itu tiba. Paham?” urai Prita sambil tak lepas dari jari telunjuk yang menunjuk-nunjuk Diary tanpa bosan. Diary mengerjap. Lalu ia pun berusaha untuk tidak terpengaruh apalagi terbawa suasana yang tengah Prita ciptakan. “Hanya gara-gara masalah cowok. Dan kamu gak pernah bosan buat sakitin aku? Ayolah, Prit. Semua bisa kita bicarakan tanpa perlu menciptakan permusuhan. Bahkan--”             “Gue gak butuh bacotan lo!" teriak Prita menyalang. "Lo kira gue sudi ngelakuin apa yang lo bilang barusan, hah? Jangan harap! Seujung kuku pun gue gak akan pernah mau bicara baik-baik sama lo. Apa perlu gue tekanin lagi kalo gue itu semakin benci sama diri lo yang sekarang, hah?” bentak Prita seraya mendorong bahu Diary kasar. Gadis itu hanya terdiam. Melawan orang yang sedang emosi seperti Prita tidak akan membuahkan hasil apapun. Maka, daripada ia sama-sama terlihat tidak waras, Diary pun mencoba untuk tetap berbicara lembut walau kenyataannya Diary pun ingin sekali balas mendamprat Prita.             “Terus mau lo sekarang apa?” tanya Diary menatap Prita sendu. Namun berbanding terbalik dengan apa yang Prita balas, “Masih nanya?" Dia memelotot garang di saat Diary sendiri sudah bersikap selembut itu. "Lo gak usah deketin Gerrald lagi deh! Dan lo mesti pindah duduk supaya lo gak satu bangku lagi sama Gerrald. Sampai sini, paham?” lontar Prita bersedekap. Mendengar itu, Diary pun tersenyum kecut. “Paham. Tapi maaf, Prit. Aku gak bisa ngelakuin itu....” geleng Diary menolak mentah-mentah.             “Apa?” pekik Prita kembali memelotot.             “Pertama, aku gak bisa pindah duduk karena hanya Bu Ineu yang punya wewenang untuk tentuin siapa yang bisa duduk satu bangku dengan siapa. Kedua, aku pun gak bisa jauhin Gerrald gitu aja hanya karena kamu yang nyuruh. Sampai sini, jelas?“ terang Diary lugas. Bersamaan dengan itu, bel pertanda semua murid kelas tiga harus berkumpul di aula kerohanian pun berbunyi dengan sangat nyaring.             “Sori, Prit ... bel udah bunyi,” ucap Diary memberitahu, lalu ia pun segera melangkah melewati Prita guna meninggalkannya. Akan tetapi, baru tiga langkah jalan, Diary terpaksa harus berhenti ketika Prita berseru.             “Ternyata, selain lo pembunuh nyokap Keyna. Lo juga tipe-tipe pembangkang ya! Gue gak nyangka, manusia gak tau diri kayak lo ini,  kenapa harus sekolah di sini sih?“ kecam Prita teramat lantang. Sontak, membuat Diary lantas membeku di tempatnya setelah mendengar satu pernyataan yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sama sekali di dalam kehidupannya selama ini.                                                                                       ***             Diary baru saja memasuki aula besar khusus acara kerohanian di hari jum’at. Lumayan, sudah banyak murid yang duduk berjajar sampai hampir memenuhi ruangan tersebut. Tak ingin terusik, Diary pun memilih untuk duduk di barisan sebelah kanan yang merapat ke dinding. Kebetulan, tanpa diduga Gerrald pun ternyata duduk juga di sebelah di sana. Melihat Diary yang baru muncul, Gerrald pun langsung bertanya. “Diary, lo ke mana aja? Gue cariin lo ke kelas tapi gak ada. Lo telat dateng, ya?” Namun rupanya, gadis itu tidak mendengarkan sama sekali apa yang Gerrald lontarkan. Ia terlalu kaget dengan fakta yang baru diketahuinya. Mengenai Keyna dan masa lalunya. Apa benar Diary menjadi penyebab meninggalnya ibu Keyna? Lalu, apakah ibu Keyna adalah sosok yang bernama Liana yang hadir di mimpinya beberapa kali itu? Gerrald menatap gadis di sampingnya. Dia pun merasa ada yang aneh pada Diary. Pasalnya, tidak biasanya Diary hanya diam dan tak menyahut saat ia tanyai seperti sesaat lalu. Bahkan, Diary pun terlihat seperti sedang melamun. Gerrald yakin, tidak ada satu kalimat pun yang Diary tangkap dari cuap-cuap yang disampaikan si pembawa acara di depan sana. Padahal, biasanya juga Diary selalu semangat jika mengikuti apalagi menyimak materi kerohanian yang diutarakan seorang mentor di depan sana. Diary sendiri masih bergeming. Kehadirannya di tengah murid yang mengikuti acara kerohanian di aula tersebut bahkan seakan tak mempengaruhi dirinya sama sekali. Diary malah merasa kalau sekarang ia sedang berada di tempat paling gelap hanya seorang diri. Sejumlah pertanyaan telah muncul mengisi kepalanya. Apa benar yang dikatakan Prita, Diary seorang pembunuh?  Apa benar ibunya Keyna telah menjadi korban? Lalu, apakah Liana itu adalah ibu Keyna yang sempat hadir di dalam mimpinya berkali-kali? Artinya, apakah mimpi itu merupakan sebuah kilas balik?  Pertanyaan demi pertanyaan kini seakan tak mau enyah dari benak dan pikiran Diary. Setiap ucapan yang terlontar dari mulut Prita bahkan seakan  masih terngiang di telinga hingga berhasil membuat pikirannya dipenuhi oleh rasa takut seandainya itu memang benar.             “Emang sih, waktu itu kejadiannya lo masih kecil dan gak tau apa-apa. Tapi, apapun itu alasannya lo tetep aja pembunuh! Sebab udah jelas kan kalo Tante Liana menjadi korbannya. Parahnya, Tante Liana itu nyokap Keyna. Dan itu gue dengar sendiri dari mulut Keyna saat cerita ke gue betapa ia membenci lo karena hal itu.... “ papar Prita saat Diary memutuskan untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai satu fakta yang baru ia ketahui tersebut.             “Syok banget kan lo? Itu sih gak seberapa, Diary. Sekarang lo coba bayangin deh gimana syoknya bokap Keyna saat tau istrinya meninggal dan lebih parahnya lagi, istrinya harus tiada gara-gara nyelametin anak orang yang gak tau terimakasih dan gak penting kayak lo ini!“ lanjut Prita semakin gencar menyudutkan Diary. Entah apa yang ia inginkan. Yang jelas, Prita sangat puas saat melihat sepucat apa wajah Diary sekarang. Dia tersenyum pongah kala mendapati raut wajah Diary yang teramat syok mendengar cerita yang Prita sendiri pun dengar secara langsung dari Keyna saat kali pertama cewek itu ingin diakui sebagai teman dekatnya.             “Kamu gak lagi mengarang cerita kan, Prit? Semua yang kamu katakan ini cuma buat bikin aku ketakutan aja kan? Kamu--”              “Terserah sih apa yang lo pikirin. Mau bilang gue bohong kek, mau bilang gue nakut-nakutin lo kek, yang jelas ... itu semua emang nyata dan benar adanya. Lo bahkan gak bisa ngelak, Diary. Lo gak akan bisa ngerasain gimana menderitanya Keyna ketika harus menjalani masa kecil hingga masa remajanya sekarang tanpa seorang nyokap. Lo pun gak pernah tau kan gimana susah dan ribetnya bokap Keyna ngurusin dia tanpa seorang istri? Terus yang jadi pertanyaannya, di mana keluarga lo saat itu Diary? Kenapa mereka gak tanggung jawab? Seegois itu perlakuan keluarga lo terhadap nasib malang yang menimpa Keyna sama bokapnya, hah?” ungkap Prita panjang lebar.  Sebenarnya, Prita hanya mendengar sepenggal cerita saja dari Keyna. Tapi selebihnya, dia pun hanya menambah-nambahkannya saja hanya demi ingin melihat seberapa kalutnya Diary setelah ia tahu tentang masa lalunya dulu yang sudah menyebabkan ibu Keyna meninggal. Terlepas dari keadaan Diary yang masih kecil, tapi tetap saja Prita mendoktrin bahwa itu mutlak kesalahannya. Air mata sudah jatuh menetes membasahi pipi. Perasaan Diary kini sangat tidak keruan saat mengingat kembali setiap perkataan yang terlontar dari mulut Prita. Diary memang belum percaya sepenuhnya. Tapi ketika ia mencari kebohongan dari dalam mata Prita saat menatapnya kala itu, Diary pun tidak menemukan sedikit tanda pun bahwa Prita sedang hanya membual saja.  Itu artinya, apakah semua yang Prita katakan memang benar adanya?             “Diary,“ tegur Gerrald menyentuh bahu sang gadis. Kontan, lamunan Diary pun buyar. Gadis itu lantas menoleh dan menatap datar ketika Gerrald justru sedang menatapnya penuh penasaran. Tidak lama kemudian, acara kerohanian pun selesai. Setelah dua jam berlalu, akhirnya semua siswa pun diperbolehkan untuk bubar dan kembali ke kelasnya masing-masing. Sementara itu, pikiran dan hati Diary masih begitu kalut. Akibatnya, ia pun tidak memiliki waktu untuk sekadar berbicara dengan Gerrald yang justru sudah menanti sejak tadi.             “Diary, tunggu!” seru Gerrald mengejar Diary. Kini, Gerrald sudah bisa menyamai langkah Diary. Meskipun gadis itu tidak mau repot menoleh dan menunjukkan sikap seperti biasanya. Namun Gerrald tak ingin menyerah. Ia masih tetap ingin mengetahui apa yang sudah menimpa Diary hingga sikapnya menjadi kaku dan dingin seperti itu.             “Diary, lo kenapa sih? Dari tadi gue liat lo kebanyakan ngelamun dibanding fokusnya. Lo juga kelihatan murung. Bahkan, gue perhatiin selama acara kerohanian berlangsung lo sama sekali gak menyimak si pembicara kayak biasanya. Sebenarnya, apa sih yang lagi lo pikirin, hah?“ desak Gerrald meminta penjelasan. Diary lantas menghentikan langkahnya, membuat Gerrald ikut berhenti juga dan menunggu satu kalimat yang keluar dari mulut Diary.             “Maaf, Ger. Aku minta kamu jangan ganggu aku dulu. Aku butuh waktu sendiri....” gumam Diary menatap melas.  Gerrald tertegun, “Tapi kenapa? Lo ada masalah? Cerita dong sama gue. Bukannya selama ini pun lo selalu terbuka sama gue. Kenapa sekarang malah sebaliknya?” bujuk Gerrald sembari memegang tangan Diary. Namun gadis itu menggeleng pelan dan melepas pegangan tangan Gerrald. Sebelum ia mendapatkan info lebih jelasnya lagi, Diary tidak akan bercerita apapun pada Gerrald. Kecuali dia sudah mengetahui kebenarannya seperti apa, baik atau pun buruk, Diary akan berbagi segalanya pada cowok tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN