Setelah berhasil mengabaikan Gerrald dan sejumlah pertanyaannya, akhirnya kini Diary pun telah sampai di beranda rumahnya. Lalu, ia pun segera masuk ke dalam dengan langkah yang tergesa-gesa. Sepertinya, gadis itu sedang berupaya untuk menemukan sesuatu di satu tempat yang hendak ditujunya sekarang. Bersamaan dengan melintasnya gadis itu ke ruang tengah, Jenny pun ikut muncul dari arah dapur sambil membawa sapu dan pengki berniat untuk bersih-bersih di ruangan yang sama. Mendapati nonanya sudah berada di rumah di jam segini, Jenny pun tak dapat menahan rasa penasarannya hingga ia bertanya.
“Loh, Non, kok tumben jam segini sudah pulang?“ sapa Jenny santun, menatap nonanya yang justru malah tetap melangkah tanpa mau repot berhenti apalagi menyahut sapaan wanita lanjut usia tersebut seperti biasa.
Merasa tak digubris, Jenny pun sempat menatap gadis itu dengan sorot pandang aneh bercampur heran. Pasalnya, tidak biasanya Diary mengabaikan sapaan dirinya atau ART yang lainnya. Tapi siang ini, Diary justru seakan tidak menganggap keberadaan Jenny yang terang-terangan sudah menyapanya seperti barusan.
“What happened with Non Diary? Kok tumben-tumbenan Simbok dicuekin begitu,“ gumam Jenny merasa ganjil sembari menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal sama sekali.
Sementara itu, Diary sudah berlalu melewati ruang tengah yang berlanjut mengambil jalan menuju ruang kerja kedua orang tuanya yang masih berada di lantai utama. Sesampainya di depan pintu, gadis itu berdiam diri sejenak. Sambil menggigiti kuku, ia pun menimbang-nimbang apa harus dirinya masuk ke ruang kerja papinya atau ia urungkan saja? Tapi, sekeras apapun ia berusaha untuk tidak terlalu cemas, tetap saja ia mencoba mencari cara agar ia bisa menemukan setidaknya tentang satu bukti yang mengarah pada fakta mengenai meninggalnya ibu Keyna.
Jika dirinya masih bersaudara dengan Keyna, maka itu artinya ibu Keyna adalah adik atau kakak dari mami atau papinya bukan? Mungkin, selama ini Diary tahu tentang ia yang masih bersaudara dengan Keyna. Tapi tentang orangtua gadis itu, Diary bahkan belum pernah sama sekali bertatap muka secara langsung dengan ayah atau ibu Keyna sejauh ia mengetahui Keyna merupakan kerabat terdekatnya. Maka, tugasnya saat ini hanyalah mencari sebuah bukti. Jika ia menemukannya, maka ia sendiri yang akan memutuskan apakah cerita Prita itu benar adanya atau hanya karangan semata.
Sebelum itu, Diary pun mencoba untuk sejenak menghela napas. Kemudian, dengan penuh keyakinan yang matang, ia pun lantas mulai menyentuh pegangan pintu untuk didorongnya serta dilanjut dengan melangkah masuk ke dalam ruang kerja orangtuanya meski masih rasa ragu masih sedikit menggandrungi. Sejujurnya, ia tahu kalau ini bukanlah tindakan yang benar. Menerobos masuk ke dalam ruangan orangtuanya tanpa meminta izin lebih dulu merupakan tindakan yang kurang terpuji bagi Diary yang hanya berperan sebagai anak. Tapi apa boleh buat? Toh Diary pun hanya ingin mencari tahu kebenarannya saja.
Ketika pintu sudah ia buka, Diary pun mengayunkan satu langkah kakinya memasuki ruangan tersebut. Gadis itu tampak gugup sekarang, bahkan jantungnya berdebar sangat kencang melebihi debaran jantung ketika Diary harus berhadapan dengan Gerrald pada saat momen yang romantis tengah berlangsung.
“Pokoknya, aku harus bisa temuin paling enggak satu bukti tentang Tante Liana dan suaminya. Jika benar Tante Liana dan ibu Keyna merupakan orang yang sama, mama apa yang Prita katakan kemungkinan besar adalah benar. Dan sekarang, sudah menjadi tugasku untuk mencari sebuah bukti. Aku yakin, Mami dan Papi pasti menyimpannya di salah satu laci atau lemari yang ada di ruangan ini....” gumam Diary bertekad.
Selepas itu, ia pun memulai pencariannya dengan cara memeriksa ke setiap laci hingga ke rak buku dan rak arsip yang ada di sana. Tapi sangat disayangkan, hampir semua tempat sudah Diary geledah tapi tidak ada satu pun bukti yang ia temukan mengenai dua orang tersebut.
Lantas, ada di mana bukti yang ia cari sekarang?
Diary sudah mulai kelelahan karena selama hampir setengah jam lamanya ia bahkan belum bisa menemukan sesuatu yang mengarah pada masa lalu kedua orangtuanya dulu. Hingga akhirnya, sebelum Diary menyerah untuk berhenti mencari, ia pun melihat ke sebelah kanan kakinya. Satu laci berderet ke bawah belum dia geledah. Maka, apa mungkin di sana Diary akan menemukan buktinya?
Tanpa berpikir panjang, Diary segera melangkah ke arah deretan laci tersebut dan membuka satu persatu dari ketiga lacinya. Laci pertama tidak ada, laci kedua tidak ada juga, dan saat Diary membuka laci terakhir, kedua matanya pun sontak membelalak kala melihat sebuah map yang lumayan mencolok.
Buru-buru, ia pun meraihnya. Lalu membuka isi map tersebut dengan tangan yang sedikit gemetaran. Lalu, ketika map itu dibuka, seketika Diary pun mengernyit bingung saat mendapati satu lembar foto yang tersimpan di dalam map tersebut.
“Ini kan foto Mami sama Papi. Tapi, satu pasangan ini siapa?” gumam Diary menerka-nerka.
Sejenak, gadis itu pun berpikir mengenai dua wajah asing yang ia lihat dalam satu bingkai foto bersama kedua orangtuanya sewaktu masih sama-sama muda dulu. Hingga tanpa diduga, di tengah kebingungannya pun sebuah suara sontak berhasil mengejutkannya.
“Diary ... sedang apa kamu di sana?”
Diary pun menoleh spontan. Lalu sedikit membelalak kala melihat sosok Danu yang entah sejak kapan papinya itu berdiri di ambang pintu sana. “Papi ...” pekik Diary tertahan.
Lalu, Danu pun segera menggiring anaknya agar segera keluar dari ruang kerjanya. Tak jauh dari ambang pintu, Diary pun melihat maminya juga yang kini tengah menjulurkan satu tangannya guna menyambut hangat anak sematawayangnya itu agar berkenan menghampiri. Seakan mengerti, Diary pun sigap berlari ke pelukan maminya yang langsung dibalas hangat oleh dekapan wanita paruh baya tersebut.
"Mami kangen banget sama kamu, Nak...." gumam Diana tanpa diduga. Sontak, Diary pun mendongak sejenak guna menatap wajah maminya. Tak menyangka, pada akhirnya ia pun bisa mendapatkan pelukan rindu dari mami yang sangat dicintainya itu.
Melihat ibu dan anak sedang berpelukan, Danu pun turut mendekat. Tanpa ragu, ia pun ikut memeluk keduanya dan sesekali mengecup kening Diana dan Diary silih berganti.
"Maafkan kami, Diary. Selama ini, kami sudah terlalu mengabaikanmu...." ucap Danu tulus. Dia pun menciumi ubun-ubun anak gadisnya sebanyak yang ia mau.
"Mami juga minta maaf ya, Sayang. Semenjak menjadi wanita karir, Mami bahkan sampai lupa dan gak pernah ada waktu buat kamu. Tapi percayalah, terlepas dari kesibukan yang Mami geluti ... rasa sayang Mami sama kamu gak pernah pudar sedikit pun," tutur Diana ikut terharu.
Entah ini hanya mimpi atau Diary memang sedang merasakan kebahagiaan yang sempurna saat ini. Pasalnya, momen ini terjadi tanpa perencanaan. Kedua orangtuanya kembali menganggap keberadaannya. Setelah sekian lama, akhirnya ia pun bisa merasakan lagi pelukan hangat dari kedua orangtuanya secara langsung dan nyata.
Sementara itu, dari kejauhan, Jenny, Minah dan Rahman pun serempak tersenyum haru menyaksikan apa yang tengah terjadi saat ini. Mereka bersyukur, akhirnya Diary pun bisa mendapatkan kembali apa yang ia inginkan selama ini.
***
Sore hari telah tiba. Diary dan kedua orangtuanya sedang bercengkerama di ruangan tengah dengan menonton acara televisi bersama-sama. Setelah sekian purnama, akhirnya keinginan sederhana Diary pun terwujud. Sambil bersenda gurau, mereka berkumpul sempurna tanpa harus diganggu oleh sekelumit pekerjaan yang menyita waktu.
"Oh iya, gimana sekolahmu? Apa selama ini, kamu menemukan kendala?" tegur Danu yang duduk di sudut sofa dengan santai. Dia terlihat jauh lebih segar setelah sebelumnya sempat membersihkan diri lebih dulu.
Untuk sesaat, Diary terdiam. Entah ia harus mengatakan yang sebenarnya atau membiarkan semuanya ia simpan rapat-rapat saja tanpa orangtuanya ketahui. Meski semua masa sulitnya di sekolah sudah berlalu beberapa pekan, tapi tetap saja hal itu tak mudah Diary lupakan. Apalagi soal Prita yang seakan tak pernah mau membiarkan Diary bernapas dengan tenang. Rasanya, Diary ingin sekali mengutarakan segala hal tentang itu pada kedua orangtuanya. Tapi, jika Diary bercerita, apa mungkin mereka akan menyikapinya dengan bijak?
"Ada apa, Sayang? Kok malah melamun?" tanya Diana membelai kepala anaknya begitu lembut.
Melirik, Diary pun lantas menggeleng dan memasang senyuman termanisnya. "Siapa yang melamun? Mami sok tau deh," dengkusnya sejenak mengerling.
"Mamimu memang seperti itu, Di. Jangankan sama kamu ... sama Papi aja kadang suka sotoy!" seru Danu ikut menimpal. Kontan membuat Diana mendelik dan ditertawakan geli oleh Diary juga Danu secara kompak.
"Kalian ini, dari dulu emang klop banget jadi sekutu. Kayaknya, Mami harus cari kawan baru nih biar ada temen satu kubu...." cetus Diana tak serius.
"Lihat, Di. Mami kamu baperan ya? Padahal usianya udah gak muda lagi, tapi masih aja bawa-bawa perasaan...." seloroh Danu terkekeh. Kemudian, Diary pun turut terkikik dan diteruskan dengan beringsut memeluk maminya dari samping.
"Gak apa-apa Mami baperan. Yang penting kan Diary tetep sayang," ujar gadis itu tersenyum girang. Kontan Diana pun terkekeh juga sambil balas memeluk anak sematawayangnya.
Canda dan tawa kini menghiasi ruang tengah rumah mewah yang biasanya hanya diramaikan oleh suara yang berasal dari televisi saja. Jenny dan Minah yang berada di dapur pun saling menatap haru karena sekarang nona mudanya sudah meraih impiannya yang ingin bercengkerama lagi dengan kedua orangtuanya.
"Semoga saja, Non Diary bisa terus merasakan kehangatan yang diciptakan oleh keharmonisan Nyonya dan Tuan ya, Min. Jangan sampai Non Diary merasakan kesedihan lagi seperti yang sudah dialaminya selama ini...."
"Iya, Jen. Kita berdoa saja pokoknya. Mudah-mudahan, Gusti Allah selalu melimpahkan kebahagiaan buat Non Diary. Dengan begitu, kita pun akan ikut bahagia seperti halnya yang Non Diary rasakan. Betul?"
Jenny mengangguk. Kedua wanita lanjut usia itu pun kini memilih untuk kembali melanjutkan pekerjaannya yang menanti.
***
Malam hari seusai makan malam selesai. Diary berjalan menghampiri mami dan papinya yang sedang duduk berdua menonton tv. Lalu, meski sedikit ragu ia pun terus melangkah sampai akhirnya ia tiba di sofa yang kedua orangtuanya sejak tadi duduki.
"Mi, Pi...." gumam Diary memanggil.
Serempak, sepasang suami istri itu pun menoleh dan menatap Diary hangat.
"Ada apa, Sayang?" tanya Diana tersenyum.
Sejenak, Diary menggigit bibir. Namun selanjutnya, ia pun mencoba untuk memantapkan diri guna menanyakan sesuatu yang sedari siang tadi mengganjal hati.
"Diary boleh tanya sesuatu gak?" lontar gadis itu meminta izin.
"Tentu. Kamu mau tanya apa emangnya?" sahut Diana lagi sedikit mengernyit.
"Ini," ucap Diary seraya menyodorkan selembar foto di tangan, "Diary ambil ini dari dalam map yang Diary temukan di laci ruang kerja Papi. Kalo boleh tau, pasangan yang ada di sebelah Mami dan Papi ini siapa? Apa mereka--"
"Lancang sekali kamu!" Tiba-tiba, Danu berseru lantang sembari merebut selembar foto di tangan Diary. Kemudian, ia pun menatap anaknya dengan sorot marah bercampur kesal.
"Ma-maafin Diary, Pi. Di-Diary cuma--"
"Sayang, coba sini duduk dulu!" titah Diana memotong. Lalu, sambil mengkerut takut, Diary pun mengempaskan diri di sebelah maminya.
"Nak, sebenarnya ... apa yang ingin kamu cari dari ruang kerja Papi, hem?" Diana berusaha menyelidiki kegundahan yang mendera anaknya. Walau ia sudah tahu tujuan Diary apa, tapi Diana pun ingin tahu lebih lanjut perihal yang ingin Diary ketahui dari dirinya dan juga Danu.
Diary menunduk diam. Sejujurnya dia masih ragu untuk menanyakan hal ini. Tapi, tidak ditanyakan pun rasanya akan semakin berat untuk Diary pikirkan. Ia tidak mau kalau sampai semuanya berantakan dengan hanya menduga-duga. Maka, wajar bukan jika Diary ingin mencari tahu kejelasan yang sesungguhnya?
"Bicara saja, Sayang. Kalau pun ada yang mengganggu pikiranmu, mungkin ini saatnya untuk kamu tanyakan sama kami. Setidaknya, jika kami tahu ... kami tidak akan menutup-nutupinya lagi dari kamu, Diary...." tukas Diana sedikit memancing.
Lalu, tak lama kemudian, Diary pun menengakkan kepalanya seraya melirik pada sang mami yang sekarang sedang menatapnya teduh.
"Sebenarnya, apa yang terjadi sama ibu Keyna di masa lalu? Terus, apa benar Diary yang menyebabkan kematian ibunya Keyna saat itu?"
Bagaikan disambar petir, mendengar pertanyaan yang Diary ajukan, Diana dan Danu pun tercenung bersamaan. Kini, keduanya saling bertatapan dan diiringi rasa was-was yang seketika mendera.