"Sayang, sebenarnya ... Mami sudah menduga kamu akan menanyakan soal ini. Mengingat saat kemarin kamu menelepon untuk menanyakan hal yang sejauh ini kami sembunyikan. Sekarang, mungkin sudah saatnya kami ceritakan segalanya sama kamu, Nak...." tutur Diana mengelus lembut kepala anak gadisnya.
Sementara itu, Danu masih tak berkoar dan hanya memilih untuk diam saja di tempatnya. Setidaknya, ia memutuskan untuk tidak ikut bicara dan membiarkan istrinya saja yang menangani.
"Sebelum Mami ceritakan yang sebenarnya. Apa boleh Mami bertanya dulu sama kamu, hem?" lanjut Diana menatap lembut.
"Maksud Mami?" tanya Diary tidak mengerti.
"Sebelum kamu ingin mencari tahu soal ini, siapa yang sudah memberitahumu tentang Liana? Apakah, Keyna yang berbicara sendiri padamu atau--"
"Diary memimpikan hal yang sama beberapa kali, Mi. Mungkin, kalo mimpinya cuma sekali saja ... Diary masih bisa menganggap itu hanya bunga tidur. Tapi ini beda, Mi. Diary mimpiin hal serupa sampai berkali-kali. Maka wajar kan kalo Diary harus mempertanyakan perihal ini?" terang Diary balas menatap gusar.
Setidaknya, Diary sudah mengatakan alasannya yang jauh lebih masuk akal ketimbang ia harus membeberkan bahwa dirinya mengetahui hal tersebut dari Prita yang tentu saja tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan kisah yang tertuang di masa lalunya.
Untuk sesaat, Diana terdiam. Sesekali, dia hanya melirik pada suaminya yang memilih tak berkutik. Diana memaklumi jika Danu tidak ingin ikut berbicara. Mungkin, suaminya masih merasa bersalah sampai sekarang mengingat dirinyalah yang memiliki andil penuh dalam hal yang terjadi di peristiwa belasan tahun yang lalu.
Lantas, apa Diana harus menjelaskannya seorang diri? Tidak adakah satu bantuan pun yang akan suaminya berikan?
"Ya sudah kalau begitu, biar Mami ceritakan kejadian selengkapnya. Jadi begini, Sayang...." ucap Diana menghela napas panjang sembari menerawang ke masa silam yang pada akhirnya harus ia ingat lagi setelah sekian lama disimpan rapat dalam memori.
***
Hari itu adalah hari yang sangat membahagiakan untuk pasangan Danu dan Diana. Berkat usaha dan kerja kerasnya, akhirnya doa mereka selama ini pun akan segera terkabulkan.
Katakanlah mereka adalah pasangan pekerja keras, dan tidak mudah menyerah. Bagi mereka, kehadiran Diary anak tunggalnya seakan sekaligus membawa kebahagiaan dan peruntungan yang berlipat-lipat untuk pasangan suami istri itu. Dimulai dari diangkatnya Danu di perusahaan ternama di Jakarta sebagai seorang direktur, hingga ia pun kini mendapatkan keuntungan dari hasil kerja kerasnya selama beberapa bulan menjabat.
Danu pun mendapatkan saham yang lumayan besar dari pihak yang sama-sama diuntungkan. Kemudian, pria itu pun merundingkan niat usahanya bersama Diana istri tercintanya. Mereka pun sepakat untuk menggunakan seluruh sahamnya dalam mengembangkan bisnis batu bara di luar negeri dan juga di beberapa tempat lainnya.
Hal itu tentu saja langsung mereka setujui. Atas keyakinan serta do'a juga usahanya, kini pasangan itu akhirnya sukses dalam menjalankan seluruh bisnisnya. Semuanya terasa berjalan dengan lancar, dan mereka yakin semua itu berkat hadirnya anak tercinta mereka yang tak lain adalah Diary Clarista.
Lalu, demi merayakan kesuksesan bisnisnya, mereka pun memiliki keinginan dalam berbagi kebahagiaan juga dengan adik sepupu Diana yang bernama Liana. Ia pun sudah berkeluarga dan seperti halnya Diana, Liana pun mempunyai satu orang anak perempuan dengan usia yang sama percis dengan anak Diary.
Setelah menyusun acara apa saja yang akan dibuat, lantas mereka pun berencana akan mengadakan syukuran kecil di villa Danu yang bertempatkan di kota Bogor dengan lokasi yang lumayan dekat dengan puncak.
Untuk memeriahkan acara syukuran kecil-kecilannya, bukan hanya adik sepupu Diana saja yang diundang. Melainkan keluarga dari pihak Danu dan Diana yang lainnya pun diikut sertakan ke dalam acara syukuran mereka di villa tersebut. Setelah semua pihak setuju, mereka pun segera berangkat ke villa yang dituju.
Namun sayang, kebahagiaan mereka tidak bisa diikuti oleh suami dan anak Liana, karena mendadak suami Liana katanya harus menghadap panggilan ibunda tercintanya yang sedang sakit keras saat itu.
Keputusan suami Liana untuk membawa anaknya bersamanya disetujui oleh Liana, karena Liana tahu anaknya akan sangat rewel apabila tidak ada ayahnya di sampingnya. Pada akhirnya, Liana pun pergi seorang diri guna menghadiri acara syukuran Diana dan Danu sekaligus mewakili suami dan anaknya yang tidak bisa hadir dalam acara yang kakak sepupunya adakan.
"Loh, kok kamu sendirian, Li? Suami sama anakmu ke mana, hem?" tanya Diana setelah menyambut kedatangan Liana.
"Iya, Mbak. Maaf ya ... Mas Eko sama Keyna gak bisa ikut. Mendadak, mertuaku pengin ketemu sama anak dan cucunya. Maka demi kenyamanan bersama, akhirnya kita memutuskan untuk pergi masing-masing saja. Lagipula, aku pun sudah janji untuk datang ke sini. Jadi, daripada membuat Mbak dan suami kecewa ... akan lebih baik jika aku datang sendiri sekaligus mewakili suami dan anakku yang tidak bisa ikut hadir," tutur Liana menjelaskan.
Mendengarnya, Diana pun mengangguk paham. "Ya sudah kalau begitu. Pikirku, tadinya aku juga kepengin ketemu sama anakmu. Pasti sudah seusia Diary, ya?" tukas Diana dengan senyum yang mengembang.
"Wah iya loh, Mbak. Bulan kelahiran Keyna kan tidak jauh beda juga sama Diary. Oh iya, omong-omong ... Diary di mana, Mbak? Aku udah lama gak ketemu dia. Terakhir kali, aku lihat dia kan saat sebulan aku belum melahirkan ya dulu...." ujar Liana sambil celingukan ke sana kemari mencari sosok mungil anak gadisnya Diana dan Danu.
"Hoalah ... ada kok ada. Paling Diary lagi sama Mas Danu di dalam. Ya udah, yuk kita masuk saja kalau gitu!" ajak Diana sembari menggandeng akrab Liana.
Keduanya pun kini berjalan kompak guna menemui Diary yang pada saat itu sedang diajak main oleh Danu di tengah rumah. Mengingat kerabat yang lain belum pada datang, suasana rumah pun masih terasa sepi. Alhasil, Danu pun hanya bisa bermain-main dengan Diary saja selagi menunggu keluarganya yang sedang dalam perjalanan. Lantas, saat melihat kedatangan Liana yang digandeng Diana, sontak Danu pun terkesiap. Untuk sesaat, pria itu hanya tertegun ketika Liana sudah berada di hadapannya yang kini sedang tersenyum kepadanya.
"Mas, gimana sih ... diajak salaman sama Liana kok malah bengong kayak gitu!" tegur Diana mendengkus.
Secepat kilat, Danu pun tersadar dari keterbengongannya. Lalu, ia pun segera memasang senyum kaku dan tak lupa menjabat tangan lembut wanita di hadapannya. Walau jabatan tangan di antara mereka hanya berlangsung sebentar, tapi Danu justru masih belum bisa melupakan memori indahnya dulu bersama wanita yang kini sudah menjadi istri dari pria lain tersebut.
"Apa kabar, Mas ??" tanya Liana lebih ke bersikap biasa.
Sementara Danu, dia malah terlihat sedikit salah tingkah di saat seharusnya ia biasa saja. "Ba-baik ... kamu sendiri, apa kabarnya?" sahut Danu setengah gugup. Jantungnya bahkan ikut berpacu seakan semua perasaan yang telah lama ia kubur kini malah muncul kembali tanpa diminta.
Liana mengangguk tersenyum. Lalu perhatiannya pun teralihkan kepada sosok kecil nan imut yang kini sedang duduk menyandar di atas sofa.
"Ya Tuhan ... ini Diary?" lirik Liana pada Diana. "Cantik sekali, Mbak. Gak beda jauh ini sama Mbak Diana waktu kecil...." tukas Liana memuji, ia pun beringsut untuk mencoba menggendong Diary yang hanya bisa menunjukkan kepolosannya di usianya yang masih di bawah lima tahun itu.
Terkekeh, Diana pun menjawab. "Kamu bisa aja, Li. Kamu kan lahir di saat usiaku sudah menginjak angka 7. Mana bisa kamu tahu soal aku yang baru seusia Diary. Dasar kamu, ada-ada saja...." tutur Diana geleng-geleng.
"Loh, jangan salah! Aku kan sering intip-intip dari atas sana, Mbak. Jadi, aku pasti tahulah seperti apa Mbak Diana di usia yang sama dengan Diary saat ini...." seloroh Liana mencoba bergurau.
Tawa renyah pun pecah di antara dua wanita itu. Sementara Liana dan Diana sedang tertawa kompak sambil bermain-main dengan Diary, Danu justru terlihat lebih fokus memerhatikan Liana yang terlihat semakin cantik di usianya kini. Sayang, Liana lebih memilih memenuhi keinginan orangtuanya yang menjodohkannya dengan Eko dibanding menikah dengan Danu yang pada saat itu belum mapan seperti sekarang. Seandainya Liana memutuskan hidup bersama dengan Danu, mungkin saat ini Liana adalah ibu dari Diary yang tentu saja akan sangat ia kasihi.
"Li, sebentar ya. Aku ke belakang dulu. Kalo perlu apa-apa, kamu bisa minta sama Mas Danu, kok." Diana beranjak dan siap melenggang, "Mas, tolong temani dulu Liana, ya!" seru Diana beralih sebelum akhirnya ia melangkah pergi meninggalkan Danu dan Liana yang masih mengajak Diary bermain-main.
Sepeninggal Diana, kini di ruang tengah hanya ada Danu dan Liana yang seketika merasa sedikit canggung ketika harus berada berdekatan seperti itu.
"Liana ... cantikmu itu awet, ya! Baik dulu atau pun sekarang, kamu tetap saja mempesona." Tiba-tiba saja, Danu berucap seakan-akan dia adalah pria bujang yang belum beristri.
"Tidak usah berlebihan dalam memujiku, Mas. Bagaimana pun, Mas Danu ini kan sudah memiliki istri yang jauh lebih cantik dari aku. Tidak enak jika nanti didengar sama Mbak Diana," hardik Liana merasa tak enak hati. Ia lantas memilih beranjak dan bersiap untuk membawa Diary bermain diluar selagi Diana belum kembali.
"Apa sih kelebihan si Eko itu dibanding aku, Li? Sampai-sampai, kamu lebih memilih buat terima dijodohin sama dia dibanding hidup bersama dengan aku yang lebih dulu mengisi hati kamu!" tutur Danu spontan, membuat Liana lantas menoleh dan tidak jadi melangkah.
"Mas Danu, jaga batasanmu!" seru Liana memelotot. "Kamu gak pantas berkata seperti itu, Mas. Ingat, kamu itu sudah punya keluarga sendiri dan aku pun begitu. Tidak baik jika kamu masih terjebak di masa lalu, Mas. Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membahas ini lagi?" tatap Liana tak habis pikir.
"Kamu yang membuat kesepakatan sendiri. Aku bahkan gak merasa menyetujuinya," geleng Danu mendengkus. Lalu, ia pun memajukan langkahnya guna mendekati Liana. "Apa kamu tau, Li? Selama ini, aku bahkan gak pernah bisa benar-benar melupakanmu. Aku--"
"Mas Danu!" sentak Liana tak bisa bersabar lagi.
Sejurus kemudian, tanpa mereka sadari, Diana justru sudah menyaksikan semuanya dari tempatnya sekarang berdiri. Melihat dan mendengar semua yang suaminya ungkapkan tentu saja membuat amarah seketika membuncah dalam d**a.
"Liana, Mas Danu!" teriak Diana begitu lantang.
Terkesiap kaget, baik Liana maupun Danu, kini perhatian mereka sama-sama terpusat pada Diana. Wanita itu lantas melangkah lebar guna menghampiri Liana untuk merebut Diary yang masih berada dalam gendongan Liana.
Diana bahkan tidak menyangka. Ternyata, Danu dan Liana pernah memiliki hubungan spesial di masa lalu. Lantas, kenapa tidak ada satu orang pun di antara keduanya yang berani mengatakan kebenaran itu pada Diana? Apa mungkin mereka sudah berkonspirasi dalam hal ini?
"Sepupu macam apa kamu, Li?" damprat Diana menyalang.
Menatap terkejut, Liana pun berusaha untuk tetap tenang dalam menyikapi kakak sepupunya. Memang selama ini, Diana tidak tahu soal hubungan istimewa yang sempat ia dan Danu miliki di masa lalu. Pasalnya, Liana berpikir itu bukanlah hal penting lagi untuk digembar gemborkan bukan? Toh hubungan mereka pun sudah kandas sejak lama bahkan jauh sebelum Danu dan Diana menikah hingga memiliki anak seperti sekarang.
Lantas, apakah salah jika Liana berupaya untuk tidak mengungkitnya kembali?