"Mbak Diana, aku bisa jelasin--"
"Gak perlu, Li. Aku bahkan udah dengar semuanya saat kalian beradu mulut tadi," potong Diana datar. Lalu tatapannya pun beralih pada Danu yang kini hanya bisa terdiam tanpa tahu harus berbuat apa di tengah istrinya yang sedang meradang.
"Jadi selama ini ... kalian diam-diam sembunyiin hal ini dari aku? Agar apa, Li? Agar apa, Mas? Agar kalian bisa tenang dan leluasa dalam bernostalgia seperti tadi. Iya???" seru Diana menatap kedua manusia di hadapannya silih berganti. Meskipun ia sudah melihat secara langsung betapa Liana mencoba untuk menghentikan Danu yang terlihat jauh lebih agresif dalam membicarakan perihal masa lalunya, tapi tetap saja Diana tidak terima karena Liana sudah ikut menyembunyikan hal tersebut dari dirinya.
Seandainya Liana atau suaminya memiliki itikad baik untuk menceritakan soal hubungan masa lalu yang keduanya jalani meski itu terjadi jauh sebelum Diana menikah dengan Danu, mungkin amarah tidak akan secepat ini menguasai diri Diana.
"Mbak, percayalah ... aku sama sekali gak bermaksud buat menyembunyikan hal ini dari Mbak. Hanya saja, menurutku ... hubungan itu bahkan sudah kandas sangat lama. Lalu, untuk apa kembali digembar-gembor lagi? Toh kami pun sudah sama-sama bahagia dengan keluarga kecil masing-masing. Bukankah seperti itu saja sudah cukup membuktikan kalau di antara kami sudah tidak terjalin ikatan apa-apa?" tutur Liana mencoba menjelaskan. Namun tampaknya tidak akan berpengaruh besar pada Diana. Buktinya, garis wajahnya saja tetap keras diiringi tatapan sinis yang tak henti menyorot.
"Entah aku bisa percaya atau enggak sama kalian. Bagiku, kalian berdua sudah seakan menikam aku secara kompak dari belakang. DAN TERUTAMA KAMU, MAS!" jerit Diana di akhir kalimatnya.
Air matanya berlinang ketika tatapannya tertuju pada Danu. Hal itu pun kontan membuat Diary yang sedang sempat ia turunkan dari gendongannya menangis karena terkejut dengan jeritan yang berasal dari suara maminya.
"Mbak, kumohon ... jangan menganggap bahwa kami ada main di belakangmu. Tentu saja itu semua tidak benar. Aku bahkan baru bertemu lagi dengan Mas Danu di sini." Liana berusaha untuk terus meyakinkan kakak sepupunya tentang hal itu. Akan tetapi, Diana sudah lebih dulu berpikiran buruk pada mereka. Maka sekeras apapun usaha Liana dalam menjelaskan, itu bahkan tidak akan mudah untuk Diana menerimanya.
"Dari tadi aku gak merasa kamu ikut berusaha untuk menjelaskan, Mas. Apa kamu gak akan mengakui kesalahanmu, hem? Atau, apa kamu memang masih terjebak dalam kisah asmara lama yang kembali tergugah di masa kini? Sebesar itu rasa cinta kamu sama Liana, hah?" Diana kembali mempertanyakan persoalan yang sangat sensitif ini pada suaminya. Tapi alih-alih menjawab, Danu justru malah menunduk diam seolah apa yang Diana tanyakan itu mengandung makna terselubung yang menimbulkan anggapan persetujuan dari dalam dirinya.
"Mas, tolong berikan jawaban yang bijak pada Mbak Diana. Katakan bahwa sesungguhnya kamu sudah hidup bahagia dengannya dan tidak ada secuil perasaan pun yang masih tersisa buat aku. Jangan mencoba memperkeruh keadaan dengan cara diam seperti ini, Mas! Apa bahkan kamu rela jika Mbak Diana--"
"Cukup, Liana!" seru Diana memotong. Ia menatap benci pada Danu.
"Anggap saja kalau Mas Danu memang masih menyimpan rasa padamu hingga sekarang. Maka tanpa perlu bertanya lagi, aku akan pergi saja bersama Diary agar kalian bisa bersatu kembali...." tukas Diana yang kembali menggendong Diary dan bergegas pergi meninggalkan dua orang tersebut.
Melihat kepergian Diana yang dirundung dengan perasaan dan pikiran negatif, ia pun menyesal karena sudah membuat hal ini terjadi. Seandainya ia memilih untuk ikut suami dan anaknya saja dan tidak hadir ke acara syukuran yang diadakan oleh Diana, mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi hingga membuat rumah tangga Diana dan Danu nyaris berada di ujung tanduk.
"Suami macam apa kamu ini, Mas?" lontar Liana tak habis pikir. Lalu, merasa tak enak hati terhadap Diana, ia pun lekas berlari guna mengejar kakak sepupunya yang bisa saja melakukan tindakan di luar dugaan di saat emosinya membuncah.
Tepat di pekarangan villa, Diana tampak sedang berdiri dengan Diary yang ia turunkan dalam gendongannya. Hatinya teriris pedih ketika mengingat sebesar apa cinta Danu pada Liana jika dilihat dari caranya yang tidak berkutik sama sekali apalagi turut meyakinkan dirinya.
Diana tidak mengerti, bagaimana bisa Danu bersikap seperti pria yang mencintai istri dan anaknya sejauh ini sedangkan di hatinya masih tersimpan satu nama seorang wanita yang sempat mengisi hatinya di masa lalu. Bukankah seharusnya Danu melupakannya saja atau bisa saja ia mengejar cintanya saja dibanding menikahi wanita lain hanya demi pelampiasan semata. Jika sudah begini, siapa yang jauh lebih sakit hati? Sudah tentu jawabannya Diana. Toh dia terpukul sekali setelah mendengar dan melihat secara langsung percakapan yang terjadi di antara mereka.
"Tega sekali kamu, Mas. Jika di hatimu masih ada Liana, kenapa justru kamu malah memilihku untuk menjadi istri dan ibu dari anakmu. Bukankah lebih baik kamu mengejar cintamu saja sampai titik akhir usahamu? Dibanding seperti ini. Kamu sudah berhasil menorehkan luka di hati ini, Mas...." racau Diana sesenggukan. Air matanya bahkan sudah terlalu membanjiri wajahnya sejak pertama kali tahu tentang fakta yang ia dengar.
Selagi Diana sibuk dengan rasa sakitnya, Diary si gadis kecil yang belum tahu apa-apa pun malah dengan riangnya berlari ke sana kemari di sekitar pekarangan. Namun yang tak terduga, gadis kecil itu malahan berjalan dengan polosnya menjauhi Diana. Ia terus melangkah hingga melewati pintu pagar yang terbuka. Sambil berceloteh khasnya seorang anak kecil, Diary terus berjalan tanpa bisa mengerti keadaan di sekitarnya. Sampai tiba-tiba, saat Liana muncul dari dalam rumah, dialah yang pertama kali melihat Diary sudah berjalan melewati pintu pagar.
"Astaga, Diary!" teriaknya seraya membelalak.
Seakan dikejutkan oleh petir yang menyambar, Diana pun langsung tersadar dari kesakitan hatinya yang semula lebih mendominasi. Menyadari anaknya tak ada di dekatnya, ia pun seketika mengedarkan pandang seraya berteriak-teriak mencari keberadaan sang anak.
Hingga saat Diary sudah berada di zona jalanan yang cukup sering dilalui kendaraan bermotor di sekitar sana, Liana yang pertama kali melihat sosok mungil itu pun bergegas melenggang hendak menghampiri Diary sekaligus melewati Diana yang malah baru menyadari. Akan tetapi, di tengah Liana yang sudah berlari kecil guna mendekati Diary, dari arah kanan sebuah mobil sedang melaju dalam kecepatan di atas rata-rata. Bunyi klakson sudah menggema, hal itu pun membuat Liana spontan mempercepat larinya agar bisa dengan tepat menyelamatkan gadis kecil itu dari bahaya yang mengancam.
Sementara itu, Diana yang baru melihat anaknya ada di sekitar jalanan pun mendadak tidak bisa bergerak dan hanya mampu berteriak saat mobil pick up tersebut sudah hampir mendekat dan nyaris menyentuh tubuh mungil Diary.
"Diary awas!!" teriak Diana spontan.
Bersamaan dengan itu, Liana pun datang menyelamatkan Diary sekaligus menggantikan posisi anak kecil itu hingga tubuhnya terhantam mobil yang sedang melaju hingga terpental sekitar 1 meter dari tempatnya semula berdiri. Sembari meraih Diary yang berhasil Liana amankan, Diana pun membelalak lebar seraya menjerit tragis ketika melihat secara langsung tubuh Liana yang sudah tergeletak tak berdaya bersimbah darah.
"Lianaaa!!" teriak Diana bersamaan munculnya Danu yang datang menghampiri.
***
"Sejak saat itu, Mami pun menyesali tindakan gegabah Mami yang kekanakan. Seandainya Mami bisa lebih bersikap dewasa dan berpikiran bijak, mungkin saat ini Tante Liana masih ada di dunia ini bersama suami dan anaknya hidup dengan tenang. Sayang sekali, Di. Mami bahkan gak bisa mengubah takdir itu. Tante Liana harus tiada di tengah Mami yang merasa kecewa kala itu. Mami benar-benar gak nyangka kalau hari itu adalah kali terakhir Mami bisa meluk dia sebelum insiden dengan Papimu terjadi...." isak Diana kembali teringat.
Diary yang sejak tadi mendengarkan sepenggal kisah yang Maminya ceritakan di masa lalu pun turut terharu hingga air mata mengalir tanpa bisa dicegah. Kematian Liana memang tragis. Dia tertabrak mobil saat hendak menyelamatkan dirinya yang saat itu masih belum tahu apa-apa dan dengan sok tahunya malah berjalan ke jalanan yang sering dilalui kendaraan.
Andai kata Liana tidak menariknya kala itu, mungkin sekarang Diary tidak akan berada di tengah-tengah orangtuanya seperti ini. Mungkin Diary yang akan tewas pada hari itu. Bukan Liana yang bahkan masih memiliki tugas untuk mengurus dan membesarkan Keyna hingga tumbuh menjadi seorang gadis periang nan baik hati. Demi Tuhan, Diary merasa sangat sedih sekarang. Setelah mendengar cerita selengkapnya dari Diana, kini Diary pun tak bisa berucap satu patah kata pun karena masih disibukkan dengan emosinya yang tak stabil.
Di tengah Diary dan Diana yang meratapi takdir buruk Liana di masa silam, Danu pun tahu-tahu beringsut dan bersimpuh di kaki istrinya. Tak dapat terelakan, dia pun menangis sesenggukan sambil merebahkan kepalanya di paha sang istri.
"Maafkan aku, Di. Seharusnya, aku tidak mengungkit kisah asmaraku dengan Liana saat itu. Seharusnya aku menahan diri untuk tidak membahas tentang semua itu. Seandainya waktu bisa kuulang, mungkin hari itu akan menjadi hari bahagia untuk kita. Bukan hari tragis di mana Liana meninggal karena tertabrak setelah menyelamatkan anak kita." Danu merasa dirinyalah yang menjadi akar masalah tersebut. Maka, wajar jika ia kembali terenyuh di tengah ingatannya yang kembali melambung ke masa lalu.
Diana terisak. Ia pun membelai lembut kepala suaminya. "Anggaplah itu sebagai pelajaran hidup, Pi. Yang lalu biarlah berlalu, terpenting ... ke depannya tidak boleh terulang lagi. Meskipun Liana sudah tenang di alam sana, tapi kita masih punya kewajiban untuk bertanggung jawab dalam mengurus Keyna. Walaupun selama ini Eko menolak, tapi setidaknya kita sudah membantu Eko tanpa sepengetahuannya bukan? Semoga ke depannya, Eko bisa mendapatkan pengganti Liana yang bisa menyayangi Keyna layaknya anak sendiri. Jika perlu, kita mungkin bisa mencarikan sosok istri sekaligus ibu yang baik bagi mereka. Bukankah itu akan membuat keluarga mereka kembali utuh?" papar Diana panjang lebar. Sementara itu, Diary masih diam tak berkutik di posisinya.
***
Malam yang kian larut, Diary justru tidak bisa memejamkan mata dengan mudah. Beruntung, besok ia tidak perlu ke sekolah. Maka, Diary pun akan memutuskan untuk tidur jika rasa kantuk datang dengan sendirinya.
"Halo, Di? Lo masih dengerin gue kan?" Tersadar dari lamunan kecilnya, Diary pun terkesiap saat kembali mendengar suara Gerrald yang sejak tadi sudah meluangkan waktu guna mendengarkan curahan hatinya.
"So-sori, Ger. Aku malah keasikan melamun. Sampai mana tadi?" tukas Diary malah kelupaan menyimak saking terlalu sibuknya ia dengan sekelumit persoalan yang berkeliaran di kepala.
Dari seberang, Gerrald pun menghela napas. "Lo butuh refreshing kayaknya, Di. Besok, gue jemput lo pukul 8 pagi ya!" ujar cowok itu tanpa diduga.
Mendengar itu, Diary pun sontak membelalak seraya mengubah posisi berbaringnya menjadi sedikit memiring. "Apa? Emangnya kamu mau apa sepagi itu jemput aku?"
"Udah, pokoknya ... pukul 8 teng gue bakalan udah stand by di depan rumah lo. Terlepas lo udah bangun atau belum, yang penting gue bakal tepatin janji gue dan tetap nungguin lo sampe kita ketemu dan pergi berdua ke suatu tempat...." terang Gerrald sedikit membuat Diary penasaran.
"Tapi, kamu mau ajak aku ke mana?"
"Rahasia dong. Lihat aja besok," sahut Gerrald terkekeh. "Ya udah, lo istirahat ya. Jangan begadang! Ingat kata Bang Haji? Begadang itu dilarang kalau tiada artinya...." ungkapnya disusul dengan tawa yang renyah.
Diary mendengkus, tapi ikut tertawa juga saat mendengar Gerrald tertawa sebegitu membahananya.
"Oke, Diary. See you tomorow!" seru Gerrald sebelum akhirnya memutuskan sambungan. Kemudian, keheningan pun kembali melanda kala Gerrald sudah lebih dulu mengakhiri percakapannya.