27. Teka-Teki Gerrald

1631 Kata
Seperti janjinya tadi malam, tepat pada pukul 8 pagi tanpa kurang apalagi lebih, Gerrald dan motor merahnya sudah nangkring anteng di depan pagar rumah Diary. Tanpa berniat untuk mengganggu pagi hari cewek itu, dia malah lebih asyik mengobrol dengan Pak Rahman yang kebetulan saat ia datang sedang asyik mencuci mobil sambil bersenandung. "Padahal masuk aja, Den. Tunggunya di dalam saja daripada di sini. Gak enak rasanya. Dikiranya saya gak mempersilakan Aden masuk nanti," ujar Pak Rahman untuk ke sekian kalinya. "Gak apa-apa, Pak. Saya lebih suka di sini sambil temenin Bapak ngobrol ketimbang nunggu di dalam bengong sendirian. Rata-rata, cewek kan kalo abis mandi suka lama lagi pilih-pilih bajunya. Nanti yang ada, saya malah lumutan gara-gara nunggu Diary datang nemuin saya...." seloroh Gerrald tertawa geli. Mendengar sedikit guyonan yang Gerrald lontarkan, Pak Rahman pun turut terkekeh. "Si Aden kalo ngomong suka bener. Mungkin memang hakikatnya kaum perempuan seperti itu ya, Den? Jangankan Non Diary yang masih muda dan energik, malahan nih ya ... si Mbok Jenny sama Bik Minah pun seperti itu. Sudah usia lanjut pun masih saja doyan dandan kalau mau pergi ke pasar," urai Pak Rahman membocorkan sedikit rahasia tentang dua partner kerjanya yang saat ini sedang sibuk dengan hiruk pikuk rutinitas di dapur. "Maklumi ajalah, Pak. Kalo gak gitu, bukan kaum perempuan namanya. Toh, mereka berdandan juga demi menjaga nama baiknya. Mereka pun berhak mempunyai nilai lebih dari yang melihatnya dimana pun. Kan gak etis kalo misalkan seorang perempuan dihujat orang cuma karena keluar rumah hanya pake daster rumahan tanpa mandi apalagi berpakaian bagus. Itu bakal sangat mengusik tingkat kepercayaan diri mereka, Pak. Ya, walaupun gak semua kaum perempuan seperti itu sih. Tapi kan yang namanya penampilan mah memang mesti dijaga biar bisa dapat penghargaan dari yang memandang," papar Gerrald mengambil sebuah kesimpulan. Pasalnya, di era milenial ini, seseorang akan dianggap tidak penting keberadaannya jika dia tidak pandai menjaga penampilan. Maka, meskipun hanya berdandan biasa seperti misalkan dengan cara memilih pakaian yang cocok dan tidak mempermalukan diri sendiri saat dipakai ke suatu tempat, hal itu sangat perlu dilakukan. Jika tidak begitu, pastikanlah dia hanya akan dipandang sebelah mata sekalipun ia memiliki kecantikan yang alamiah. "Oh iya, Pak. Omong-omong, Diary kalo hari libur begini suka bangun jam berapa ya?" tanya Gerrald setelah tidak ada topik pembicaraan lagi yang bisa dibahasnya. Sambil menggosok bagian kaca mobil, Pak Rahman pun menjawab, "Wah saya tidak tahu kalo soal itu, Den. Biasanya, kalo gak Mbok Jenny ... palingan si Bik Minah yang tau soal jadwal bangun Non Diary di hari libur kayak begini. Lagipula, kenapa gak coba ditelepon aja atuh, Den? Kan siapa tau Non Diary lupa kalo pagi ini ada janji sama Aden...." usul Pak Rahman sembari menyemprotkan air dari selang ke bagian permukaan kaca mobil yang sudah digosok sebelumnya. Gerrald menghela napas. Ia memang belum mengabari lagi Diary pagi ini. Pikirnya, cewek itu akan ingat sendiri kalau Gerrald tak akan pernah ingkar dengan janji yang dibuatnya sendiri. Tapi nyatanya, Diary justru malah belum menampakkan diri sama sekali setelah sudah hampir 20 menit Gerrald menunggu.                                                                                     *** Sudah lewat 10 menit, waktu berharga Diary seakan terbuang sia-sia. Sedari selesai mandi, sampai sekarang ia masih berdiri di depan lemari raksasanya guna mencari pakaian yang serasi untuk dikenakannya. Maklum, pagi ini gadis itu akan pergi berdua bersama Gerrald. Walau belum tahu cowok itu akan membawanya kemana, tapi untuk jaga-jaga, Diary pun harus memilih setelan yang serasi bukan agar tidak mempermalukan Gerrald yang sudah meluangkan waktu. "Duh, kenapa mendadak gak ada pakaian yang cocok gini sih? Padahal sebelum hari ini, pakaianku terasa bagus semua. Tapi kenapa pagi ini tiba-tiba jadi terlihat biasa aja," gerutu Diary menggaruk kepala. Lalu, ia pun mengeluarkan tiga setel pakaian yang akan ia coba lebih dulu satu persatu. Tok tok tok, Di tengah kesibukannya, suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar. Mengingat pintu tidak dikunci, Diary pun langsung berseru agar si pengetuk segera masuk. "Non, di bawah ada temennya tuh...." tukas Bik Minah sesaat setelah pintu terbuka setengahnya. "Duh, siapa? Gerrald bukan?" tanya Diary melirik sejenak. "Kalo gak salah sih iya, Non. Katanya, dia udah nungguin Non Diary dari setengah jam yang lalu di luar rumah. Tapi, si Non gak muncul-muncul...." ujar Bik Minah menyampaikan keluhan cowok yang saat ini sedang menunggu di ruang tamu sana. Spontan, Diary pun menepuk dahinya. Tidak menyangka kalau Gerrald akan setepat itu dalam menepati janjinya semalam. "Tolong bilangin ke dia ya, Bik. Sebentar lagi aku turun kok. Kalau bisa, tawarin dia minuman dulu kek atau apa gitu biar dia gak bosen nunggu selagi aku siap-siap," pesan Diary meringis. Lalu, setelah mengiyakan perkataan nonanya, Bik Minah pun segera undur diri guna melaksanakan perintah dari majikan mudanya tersebut. "Aduh, apa aku pake yang ini aja ya?" gumamnya sembari meraih dress selutut berlengan pendek yang dipadukan dengan jaket jeans biru belel yang akan dikenakannya juga nanti. Setelah Bik Minah melengos beberapa saat yang lalu, tak lama kemudian Mbok Jenny pun muncul sambil membawa nampan berisi segelas s**u hangat dan sehelai roti bermentega yang tergeletak di atas piring. "Good morning, Non Diary...." sapa Mbok Jenny melongokkan kepala. Kebetulan, Bik Minah tidak menutup lagi pintunya sebelum ia pergi. Jadi, tanpa harus mengetuk Mbok Jenny pun hanya tinggal mengucap selamat pagi saja sambil memasang senyuman hangatnya. "Mbok Jen...." gumam Diary yang sudah memakai dress berwarna biru telur asinnya. "Ada apa, Mbok?" tanyanya berlanjut. "Ini, Non. Simbok bawakan menu breakfast for you...." sahut wanita lanjut usia itu mengangkat nampan yang dipegangnya sejenak. "Ooh, taro aja di sana, Mbok. Aku lagi siap-siap dulu nih. Kasian Gerrald, dia pasti udah nunggu lama dari setengah jam yang lalu," ujar Diary begitu gesit dalam memoles sedikit riasan tipis ke wajahnya. "Ciee, mau jalan-jalan ya?" lontar Mbok Jenny bernada menggoda. "Apaan sih, Mbok? Kepo deh Mbok Jen...." dengkus Diary geleng-geleng. "Oh ya, Non. Tadi subuh, Nyonya sama Tuan berangkat lagi. Mereka titip pesan sama Mbok, katanya ... setelah pekerjaan mereka selesai, akhir pekan ini mau ajakin Non Diary sama sepupu si Non liburan bersama," cetus Mbok Jenny mengejutkan. Sontak, Diary pun menoleh langsung seusai ia memoleskan lipbalm di permukaan bibirnya. "Sepupu Diary, Mbok?" pekik gadis itu mengangkat alis. "Iya. Tapi, Simbok gak dikasih tahu siapa namanya. Lagipula, sejauh ini ... kayaknya, Mbok belum pernah ketemu juga deh sama sepupunya si Non itu...." tutur Mbok Jenny balas menatap bingung. Akan tetapi, dibanding kembali menyahut perkataan ART-nya, Diary justru lebih memilih untuk diam dan tidak banyak bicara.                                                                                      *** "Hai, Ger?" sapa Diary yang baru saja memasuki ruang tamu. Saat itu, Gerrald sedang duduk santai di sofa single sambil memainkan ponselnya. Namun, ketika mendengar suara lembut dari gadis yang sudah hampir satu jam ini ditunggunya, cowok itu pun lantas mengangkat wajahnya dan mendapati seorang gadis cantik yang kini sedang tersenyum tak enak padanya. "Sori, udah nunggu lama ya?" cicit Diary sembari menggaruk tengkuk. Untuk sesaat, Gerrald tak berbicara apapun. Dia justru malah menatap Diary dengan mata yang tak berkedip. Entah apa alasannya, yang jelas Diary merasa risi ketika dirinya ditatap seperti itu oleh Gerrald. "Ke-kenapa, Ger? Apa ada yang salah?" lontar gadis itu sedikit gelagapan. Pasalnya, Gerrald memandangnya nyaris tak berkedip selama hampir beberapa detik lamanya. Akan tetapi, setelah ditegur barusan oleh Diary, cowok itu pun langsung melengoskan mukanya ke arah lain dengan sikap yang setengah aneh. "Ka-kamu kenapa, Ger?" tanya Diary lagi. "Lo udah siap kan?" balas Gerrald balik bertanya. Saat melihat Diary mengangguk, cowok itu pun lantas beranjak dan melangkah duluan meninggalkan ruang tamu berikut Diary yang spontan menggaruk pipinya sendiri. Namun meski begitu, ia pun tetap turut melangkah menyusul Gerrald yang bahkan sudah berjalan menuruni teras guna menghampiri motor merahnya. "Oh iya, Ger. Sebelum pergi, gue boleh tau dulu gak lo mau ajak gue kemana?" tanya Diary kembali walau sedikit takut. Sembari menaiki motornya, Gerrald melirik seraya bertanya, "Emangnya kenapa? Kan gue udah bilang, tar juga lo tau sendiri kalo kita udah sampai di tempat yang dituju...." Diary mendesah pelan, "Gue cuma takut salah kostum aja, Ger...." cicitnya sembari menunduk. "Gak saltum, kok. Apapun yang lo pake, gak mengubah kenyataan kalo lo emang cantik secara natural...." cetus Gerrald lugas. Sejurus kemudian, ia pun memakai helm fullfacenya bersamaan dengan munculnya semburat merah merona di kedua pipi sang gadis.                                                                                     *** "Ger, kamu yakin gak mau kasih tau aku tentang tempat yang kita tuju ini dimana letaknya?" teriak Diary di tengah bisingnya suara mesin motor yang menderu saat di perjalanan. Seakan sudah tak sungkan lagi, ia pun melingkarkan kedua tangannya di pinggang Gerrald. "Lihat aja nanti. Gue gak mau spoiler!" balas Gerrald tertawa. Lalu, ia pun malah semakin mempercepat lajuannya hingga Diary harus memeluk pinggang cowok itu dengan erat jika dia tidak mau tiba-tiba jatuh terjengkang saking cepatnya lajuan Gerrald sekarang. Selama di perjalanan, perasaan Diary merasa tak keruan. Di satu sisi, ia begitu bahagia karena bisa bepergian lagi dengan Gerrald di hari libur seperti sekarang. Tapi di sisi lain, Diary malah merasa deg-degan ketika cowok itu tak mau sama sekali mengatakan perihal tempat yang akan mereka datangi. Meski Diary tahu bahwa lokasi yang Gerrald pilih tak akan pernah mengecewakan, tapi tetap saja, jantungnya berdetak kencang seperti genderang yang ditabuh. Lalu, ketika Diary tahu bahwa perjalanan mereka sudah memasuki tol. Barulah ia sadar kalau ternyata Gerrald akan membawanya ke suatu tempat yang letaknya lumayan jauh dari pusat kota yang mereka tinggali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN