“Udah, kamu ke kota aja. Kamu harus gantiin bude kerja di rumah majikan Bude. Soalnya Bude udah terlanjur ambil pinjaman buat pengobatan ayah-ibu kamu sebanyak 500 juta.”
Ucapan Bude Darmi membuat Arini kaget bukan main. Lima ratus juta? Itu bukan nominal yang kecil.
“Lima ratus juta, Bude? Terus gimana cara Arin ngembaliinnya?”
Bude Darmi bersedekap d.a.da sambil memasang wajah sinis.
“Ya, kamu yang ngangsurlah! Kerja di kota itu duitnya cepet banyak, Rin. Paling-paling berapa tahun juga utangmu lunas. Kebetulan banget majikan Bude itu lagi cari orang. Kalau kamu mau, nanti Bude rekomendasiin.”
Gadis polos itu masih berpikir panjang. Hidup di kota orang bukanlah hal yang mudah. Ke kota sendiri aja belum pernah pergi sendiri, apalagi ke kota orang.
“Bu–Bude, tapi pengobatan Ayah sama Ibuk kan, nggak sampai segitu.”
Keadaan dua orang tuanya yang sudah renta dan memiliki penyakit kronis membuat keadaan serba sulit.
Yudi, ayahnya mengidap strok akut dan gagal ginjal yang mengharuskan cuci darah dua kali dalam seminggu.
Dan Narsih, ibunya lumpuh karena penyakit saraf kejepit yang sudah parah dan mengharuskan terapi setiap minggu.
Arini sering kali bekerja bantu-bantu pekerjaan rumah para tetangga yang ada di sana. Namun, hasil uangnya sering kali kurang untuk pengobatan ayah dan ibunya.
“La mbok pikir pas kamu kerja nanti yang urus ayah-ibumu itu siapa? Aku to? Biaya transport, obat, terapi, dan lain-lain itu banyak, Rin!” desak Bude Darmi sedikit kesal. “Apalagi kita tinggal di tempat terpencil seperti ini. Mau ke rumah sakit kota paling enggak transpornya satu juta lebih dalam satu kali perjalanan.”
Benar, tinggal di Gunung Kidul dan di sebuah desa terpencil membuat semuanya serba sulit. Arini hanya bisa menghela napas.
Ingin ia menangis sejadi-jadinya, tapi tidak mungkin. Kalau Arini menyerah, bagaimana dengan kedua orang tuanya?
“Udah, kamu nurut aja dan tinggal kerja. Sisanya biar Bude yang urus.”
Bude Darmi kembali buka suara saat kesal dengan sikap diam Arini.
“I–iya, Bude. Nanti Arini kemas-kemas dulu.”
“Nah, gitu, dong! Dari tadi, kek. Besok atau lusa Bude ke sini lagi sekalian jemput kamu.”
Arini mengangguk. Ia masuk ke dalam rumah setelah budenya pergi. Tidak disangka, ibunya yang lumpuh berada di balik pintu, seperti menguping.
“Arini, pikir-pikir lagi, Nak. Hidup di kota itu enggak mudah.”
“Iya, Buk, Arin tahu, tapi kalau Arin nggak ambil jalan begini, Ibuk sama Ayah enggak bisa menjalani pengobatan.”
Arini mendorong kursi roda itu dan berhenti di samping ranjang. Ia meraih kedua tangan orang tuanya lalu disalami bergantian.
Ayahnya yang sudah kehilangan kemampuan bicaranya hanya mengangguk dan keluar air mata dari sudut matanya.
“Ibuk sama Ayah enggak apa-apa, kan, kalau dirawat Bude Darmi? Cuma Bude Darmi satu-satunya keluarga yang kita punya, Buk.”
“Selagi kamu yakin, Ibuk enggak apa-apa. Kamu di kota ikut orang, jangan sembrono. Semoga niat baik kamu dilancarkan, ya, Ndok.”
Beberapa hari kemudian ....
Di sinilah Arini dan Bude Darmi berada. Berdiri di sebuah halaman rumah megah tiga lantai.
Bude Darmi melangkah lebih dulu, menekan bel yang ada di pintu utama.
Sementara Arini masih berdiri di halaman sebab masih menunggu tuan rumah. Pandangannya mengeliling, menatap takjub beberapa jenis tanaman hias yang ada di samping rumah.
“Eh, Mbok Darmi!” ucap seorang wanita muda setelah membuka daun pintunya lebar. “Duh. Maaf baru bukain pintu. Maaf banget. Saya repot lagi bikinin Mas Arka sarapan. Untung banget Mbok datang.”
“Oh, iya, Non. Pasti repot, ya, Non.”
“Iya, Mbok. Repot banget. Ayo, masuk.”
Bude Darmi langsung menarik tangan Arini untuk ikut masuk ke dalam. Keduanya kini dipersilakan oleh sang majikan perempuan untuk duduk di sana.
“Begini, Non, ini Arini, ponakan Mbok yang kemarin udah Mbok ceritain.” Bude Darmi mulai memperkenalkan Arini.
Melihat Arini yang hanya diam sambil menunduk, Bude Darmi menyenggol sikunya.
Arini menoleh dan menangkap kode dari Bude Darmi untuk memperkenalkan diri.
“S-saya Arini, Nyonya, keponakan Bude Darmi.”
“Nama saya Anita. Oh, jadi, kamu yang mau gantiin Mbok Darmi, ya? Umur kamu berapa?”
“Saya 22 tahun, Nyonya.” Arini menjawabnya dengan begitu segan.
“Owh, masih muda, ya. Jangan panggil ‘Nyonya’, panggil ‘Mbak’ aja, Rin,” pinta Anita lalu menoleh ke arah Bude Darmi. “Mbok, boleh minta tolong buatkan sarapan dulu? Saya mau ngobrol-ngobrol sama Arini sebentar.”
“Njeh, Nyonya. Saya permisi ke belakang dulu.”
Selepas kepergian Bude Darmi, suasana menjadi hening. Arini duduk dengan gelisah, jantungnya berdebar cepat.
“Arini, nggak usah sungkan gitu. Bebas aja. Hari ini biar Mbok Darmi jelasin apa tugas kamu. Jadi, besok kalau Mbok Darmi sudah pulang kampung, kamu sudah tahu apa-apa saja yang menjadi tugasmu. Paham?”
Arini mengangguk lagi. “Paham, Nyo–eh, Mbak. Maaf, belum terbiasa soalnya, hehe.”
“Dibiasain. Biar kita bisa akrab. Ya, sudah, kamu boleh bantu-bantu si Mbok dulu di dapur. Saya harus ngurus yang lain.”
“Iya, Mbak.”
Gadis itu melangkah sopan untuk menyusul Bude Darmi di dapur. Ia mulai membantu mengiris wortel dan menggoreng ikan nila.
“Kerja di sini harus cekatan, Rin. Begitu dipanggil, langsung datang, tanya apa yang dibutuhin sama Tuan dan Nyonya.”
“I–iya, Bude.”
“Jangan iya-iya saja. Sikap kamu juga harus dijaga. Jangan kurang ajar. Apalagi sama Tuan Arka, kamu harus paham sama kemauannya.”
Deg!
Mendengar nama itu disebut, Arini menegang. Ia sampai menghentikan aktivitasnya untuk mengiris beberapa bahan masakan lainnya.
Arka, nama seorang lelaki yang pernah Arini idam-idamkan menjadi suami. Lelaki yang sekarang entah di mana dan bagaimana kabarnya.
“Arini! Heh!”
Panggilan itu membuat Arini terkejut. Rupanya, ia melamun dalam beberapa saat setelah nama satu-satunya mantan kekasih disebut.
“I-iya, Bude? Ada apa?”
“Kamu ngelamunin apa to? Kalau kerjamu begini, kapan beresnya?
“Maaf, Bude, Arin cuma keinget Ayah sama Ibuk. Oh, iya, tadi nama Tuan siapa, Bude?”
“Tuan Arka. Orangnya memang pendiem, Rin, tapi baik. Kenapa emangnya?”
Arini menggeleng. Ia berusaha berpikir positif. Tidak! Tidak mungkin Arka yang dimaksud adalah orang yang sama. Tapi, kenapa perasaannya jadi tidak enak begini?
“Mbok, Arin, sarapannya udah siap belum?”
Anita yang datang dari arah belakang langsung meneliti pekerjaan keduanya.
"Kebetulan sudah, Nyonya."
“Nice, cepet juga kerja Mbok sama Arini,” puji Anita lalu membuat secangkir kopi. “Arini, sekarang tolong anterin kopi ini ke Mas Arka, ya. Mas Arka lagi ada di halaman belakang.”
“Siap, Mbak.”
Dengan hati-hati, Arini membawa secangkir kopi itu ke halaman belakang.
Dari ambang pintu, ia dapat melihat punggung kokoh seorang pria yang tinggi dan tegap.
“Permisi, Tuan, saya diminta Nyonya Anita untuk mengantar kopi.”
Suara itu membuat si pria mengakhiri teleponnya dengan seseorang. Ia menoleh dan melihat perempuan yang sedang menunduk sambil menyajikan kopi.
Arka hafal betul siapa pemilik suara tersebut. Menyadari siapa perempuan itu, ia tersenyum miring.
“Lama tidak bertemu, Rin.”
Arini mendongak, bertemu tatap dengan pria yang wajahnya begitu dingin dan mendominasi suasana hatinya.
Deg!
***