bc

TERLARANG

book_age18+
169
IKUTI
1K
BACA
dark
love-triangle
family
HE
age gap
opposites attract
friends to lovers
dominant
boss
blue collar
drama
tragedy
sweet
bxg
campus
love at the first sight
assistant
like
intro-logo
Uraian

"Jadi p.e.l.a.c.u.r.k.u dan aku beri apa yang kamu mau!"

"Kamu gila, Mas! Aku nggak percaya pernah cinta sama kamu!"

"Tidak ada pilihan, Arini! Memohon dan mendesahlah atau orang tuamu akan mati!"

*

Tiga hari berlalu sejak kejadian itu, Arini bekerja seperti umumnya. Hingga akhirnya fokusnya teralih pada ponselnya yang berdering.

Bude Darmi, orang yang biasa menghubungi melakukan panggilan video. ["Lihat kondisi ayah kamu, Rin! Kondisinya benar-benar kritis."]

Terlihat bagaimana lemahnya kondisi ayah Arini pada layar itu. Napas Arini terengah-engah, dadanya sesak. Setelah panggilan itu berakhir, ia kalut dengan pikirannya sendiri.

Arini berlari ke ruang kerja Arka. Ia mengetuknya sopan dan langsung masuk saat mendapatkan sahutan. "Tu–an ... saya butuh uang itu sekarang."

***

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Prolog
“Ma—ashhh ...!” T u b u h Arini spontan melengking. Pinggul ramping itu serasa dipelintir dalam irama yang tidak manusiawi. Napasnya tersendat. Matanya menatap nanar ke langit-langit kamar luar yang diterangi cahaya lampu gantung. Pergerakan itu menimbulkan bunyi derit ranjang yang nyaring. Benda-benda di sana seperti jadi saksi bisu atas k.l.i.m.a.ks terlarang yang berulang. “Kamu masih saja s e m.pit, Rin. Arghhh ... you’e my naughty girl.” Dua t u b uh itu sudah m e n .y a t u beberapa menit lalu. Arka melakukan pergerakan sambil me n d e s ah keras di telinga Arini. “Mas ... please, ah ....” Ucapan Arini terpotong ketika Arka menggigit lembut daun telinga berhias anting emas itu. Arka berganti m e n c u.m bu bibir Arini sambil meledakkan sesuatu di dalam sang wanita. “T u b u h kamu candu, Rin.” Bisikan itu terdengar berat dan menekan, seakan mengoyak sisi waras yang tersisa pada Arini. Arini tidak merespon. Sulit untuk ia ungkapkan kali ini. Tatapan nanarnya terlihat hampa. Tubuhnya sudah terlalu sering dipakai oleh Arka. Sentuhan dan permainan menggebu membuat tubuhnya seperti dikuasai olehnya. Arini adalah hak mutlak bagi Arka. Semua yang pria itu minta harus dituruti tanpa peduli apa yang ia rasakan. Entah sudah berapa kali pria itu m e. n y e t u b u h inya. Bahkan, Arini sudah tidak mampu mengingatnya lagi. Hampir setiap kali ada kesempatan, Arka menggunakan dirinya untuk menuntaskan hasrat. Dan malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, Arini hanya bisa menggigit bibir. Ia menahan suara di tengah sensasi aneh kala tubuhnya menerima serangan n a f su. Setelah sama-sama mendapat pelepasan, Arka menarik tubuh polosnya menjauh. Ia terjatuh ke sisi ranjang dengan napas terengah, bibirnya membentuk senyuman miring. Ada kepuasan yang tidak bisa diungkapkan. Sementara Arini, ia tetap diam. Tubuh lelahnya basah oleh keringat. Tapi, bukan masalah lelah yang membuatnya menangis. Sama sekali bukan. Hal menyakitkan yang paling ia sesali adalah tiap kali Arka menyentuhnya, luka lama Kembali terkoyak. Dan Arini tidak mampu menolaknya. “Kenapa kamu tidak pernah bicara, Rin?” Arini meneguk ludahnya kasar. Ia menahan gemetar yang bukan karena sebab kedinginan. “Apa yang harus saya katakan, Tuan?” Panggilan serta nada formal itu membuat Arka menoleh cepat. Alisnya bertaut kesal. Bibirnya menyeringai sinis. “Berhenti memanggilku seperti itu, Rin!” Sadar sesadar-sadarnya, Arini memalingkan wajah. Belum sempat Arini menjawab, suara deru mesin mobil dari arah carport terdengar. Arka segera beranjak dari sana. Ia memungut pakaian yang betserakan di lantai. Masuk ke kamar mandi sebentar, kemudian keluar dalam keadaan tubuh lengkap dengan pakaian. “Cepat pakai baju kamu atau semuanya akan selesai!” Usai mengatakan itu, Arka keluar, meninggalkan Arini tanpa belas kasihan. Menjijikkan? Memang! Setelah tubuhnya dinikmati, tanpa perasaan Arka pergi begitu saja. Wanita itu kemudian mulai beranjak dari ranjang. Ia membersihkan diri dan mengenakan daster selutut. Tok-tok-tok! “Arini, kamu udah tidur?” Ketukan pintu itu membuat Arini berlari kecil ke arah pintu. Ia tarik kenopnya hingga daun pintunya terbuka lebar. “Mbak Nita udah pulang?" tanya Arini. "Maaf, tadi Arin di kamar mandi.” "Iya, nih, Rin." Anita, majikan alias istri dari Arka itu meniti baik-baik penampilan Arini. “Kamu sakit, Rin? Wajah kamu keliatan capek. Mata juga bengkak gitu.” Anita mencoba untuk menerka. Otaknya memikirkan sesuatu. “Atau ... kamu ada masalah?” Arini menunduk segan, ia menggeleng beberapa kali, tanpa berani menatap mata biru majikannya. “Yakin?” Mengangguk, Arini lantas memasang wajah seyakin mungkin. “Yakin, Mbak. Mbak butuh sesuatu?” “Em, iya, tolong buatin Mbak jus jambu, ya. Mbak mau berendam air hangat dulu. Nanti tolong antar ke kamar Mbak, ya.” “Baik, Mbak.” Maka setelahnya, Arini masuk ke area dapur. Ia menatap langkah majikannya yang sedang hamil muda. Bodoh! Bahkan, Arka sudah punya istri secantik dan sebaik Anita. Mengapa ia masih saja mengejarnya? Anita jelas lebih berkelas. Mantan model internasional, dengan aset kekayaan keluarganya yang tidak main-main. Pas dan setara jika disandingkan dengan Arka. Sedangkan dirinya ... apalah artinya yang hanya anak orang miskin dan tamatan SMA. Ditemani lamunan, Arini mengupas lalu memotong buah jambu biji untuk dibuat jus. “Aku suka aroma tubuh kamu. Wangi vanilla yang manis.” Deg! Jantung Arini seperti berhenti berdetak saat sebuah tangan melingkar dari belakang. “Tolong jaga batasan, Tuan. Sa—hmmpptt.” Arka meraup habis bibir Arini setelah membalikkan tubuhnya. Badan ramping yang menonjolkan sisi menggoda di bagian tertentu itu Arka angkat dan didudukkan pada pantri tanpa melepas pagutan bibirnya. Tangan pria itu dengan lancang singgah ke d a d a Arini, memijitnya pelan, dan bermain p u n c a k nya yang merah muda. “Engghhh, Tu–an ....” Bibir Arini tiba-tiba digigit dan tubuhnya disentak ketika Arka mendengar panggilan itu. “Berhenti pura-pura, Rin! Berapa kali aku peringatkan, panggilan ‘Tuan’ hanya berlaku saat di depan orang lain!” Arini terdiam lagi sambil menetralkan bibirnya yang terasa sakit. Ia berbalik badan, menyibukkan diri dengan buah jambu itu. “Tidak ada yang pura-pura. Memang jalannya begini. Aku hanya pembantu di rumah ini. Sebaiknya, Tuan jaga batasan. Takutnya Mbak Nita tahu dan bisa berimbas pada saya.” Memuakkan! Arka ingin sekali menumpahkan amarahnya yang meledak-ledak karena cara bicara Arini. Tapi, mustahil! Anita bisa saja tahu saat ini juga andai Arka melakukan itu. Buah jambu itu mulai Arini haluskan di blender. Ia tidak memedulikan tatapan intimidasi Arka terhadapnya. Arka menyandarkan tubuhnya di pantry dapur. Ia menarik paksa dagu Arini, membuat mata mereka saling bertemu. Jujur, Arka rindu tatapan Arini yang dulu. Yang penuh cinta dan kehangatan ketika menyempatkan waktu untuk bertemu. “Kamu masih seperti Arini yang dulu. Cantik dan ... membuatku gila.” Arini menepis tangan Arka dan berjalan mengambil satu buah gelas. Ia masukkan jus itu lalu diletakkan di atas nampan. “Dan kamu juga masih Arka yang sama. Egois dan pemaksa!” Wanita itu mengatakannya dengan penuh tekad. Tatapannya tajam dan menusuk. “Ya, itu aku. Nyatanya kamu selalu men.d.e.sah kenikmatan di bawahku, 'kan?” Menggeleng, Arini tidak habis pikir bahwa kali ini ia yang akan kalah telak. Apa yang dikatakan Arka memang benar dan tidak sepenuhnya bohong. Ia tidak mampu menahan gejolak asing yang menjalar ke seluruh tubuh saat melakukan p e r s e t u b u h a n dengan Arka. "Terserah apapun yang Tuan katakan. Saya tidak peduli!" “CK! Bawa jus itu ke kamarku. Ingat, jangan sekali pun membuat Anita curiga atau kamu akan tahu akibatnya!” Arka melangkah pergi ke kamar setelah memberi peringatan. Arini tidak memedulikan ancaman itu. Dengan langkah pelan, ia menaiki satu per satu tangga, menuju kamar majikannya yang berada di lantai dua. Pintu yang tingginya lebih dari 2,5 meter itu ia ketuk. Setelah mendapat sahutan dari dalam, Arini masuk dan menghampiri Anita yang duduk di pinggiran ranjang. “Taruh aja di meja dekat sofa, Rin. Nanti aku minum. Makasih, ya.” “Sama-sama, Mbak.” Belum sampai di tempat, Arini tiba-tiba hilang keseimbangan, diam-diam Arka menjegal kakinya dan jatuh tepat di pangkuan lelaki yang seolah sedang duduk sambil membaca majalah tersebut. Sementara jus jambunya pun mengenai kaki Arka dan sebagian jatuh tercecer di lantai. “Apa-apaan kamu, Arini?!” Anita berteriak ketika melihat adegan yang membuat hatinya panas. Perasaannya tidak nyaman. Teguran itu sontak membuat Arini beranjak dari tubuh Arka, sedangkan si pria hanya memasang wajah datar. “Ma–maaf, Mbak, saya tidak sengaja. Maaf, Tuan.” Arini membungkuk, meraih beberapa lembar tisu dan mengelap bagian kaki Arka yang terkena jus jambu. Arka tiba-tiba meremas tangannya, badannya sedikit membungkuk. Kepalanya mendekat ke telinga Arini. “Kamu selamanya akan jadi milikku, Rin. Jadi b***k n a f s.u ku sampai kapan pun aku mau.” ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.4K
bc

TERNODA

read
199.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
71.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook