Bab 4

1148 Kata
“Tuan, bagaimana kalau Nyonya dibawa ke rumah sakit aja?” Darmi berusaha memberi usulan. Sejenak, Arka tampak berpikir. Namun, begitu melihat darah mengalir di sela kedua kakinya, lelaki itu pun mengangguk. Dengan cepat ia angkat tubuh sang istri untuk dibawa ke mobil. Darmi mengikuti dari belakang. Sementara Arini, perempuan itu masih menegang di tempat. Sudah jelas ia melihat bekas cairan merah itu di lantai, tapi perasaannya masih menyangkal jika Anita memang hamil. Arini memegangi dadanya yang sakit. Ia belum ikhlas. Sama sekali belum. Arka masih mendominasi perasaannya. Pria itu ... masih senantiasa mengisi hatinya. Tidak tergantikan siapa pun. Entah Arini yang keras kepala tidak mau merelakan atau memang tidak bisa. “Rin!” Darmi memanggil sang keponakan dengan setengah berteriak. “Kamu itu gimana to? Malah enak-enakan ngelamun begitu. Ayo, ikut ke rumah sakit!” Lamunan Arini buyar. “I–iya, Bude.” Ia tergagap di tengah rasa gugupnya. “Biar Arini saja yang ikut, Mbok.” Di tengah rasa sakitnya, Anita berusaha berbicara, meskipun sangat lirih. Ia meremas perutnya yang masih rata. “Baik, Nyonya.” Permintaan langsung dari Anita membuat Darmi sedikit mendorong tubuh Arini. “Ikut dan turuti semua perintah Nyonya, Rin.” “Iya, Bude.” Arini tidak bisa membantah. Padahal, andai bisa ... ia ingin tetap di rumah itu. Diberi pekerjaan rumah yang banyak pun tidak masalah. Akan tetapi, sepertinya takdir baik tidak berpihak padanya kali ini. Ia harus masuk ke mobil mewah itu dan duduk di belakang kursi kemudi, menyaksikan bagaimana sepanjang perjalanan ke rumah sakit, tangan kiri Arka menggenggam tangan Anita begitu erat. Sesampainya di rumah sakit .... Arini tidak tahu harus bagaimana. Ia hanya duduk di kursi tunggu depan ruang IGD. Beberapa menit berlalu, pintu terbuka. Anita dibawa keluar dengan brankar untuk dipindah ke ruang rawat VIP. Perempuan tersebut setengah berlari untuk mengikuti Anita yang dibawa oleh tenaga medis. Begitu sampai di kamar, Arini masih berdiri di pojok ruang, menunggu beberapa tenaga medis itu menyelesaikan tugasnya lalu keluar dari sana. “Mba.” Arini melangkah mendekati ranjang rawat itu. “Gimana, Mba? Masih ada yang sakit?” Anita mengangguk lemah, tetapi langsung mengukir senyum tipis di bibirnya. “Udah agak mendingan, Rin. Beruntung Mba punya suami kayak Mas Arka, ya, Rin. Dia peka dan peduli banget sama Mba.” Arini tidak bisa berkata-kata. Lelaki yang pernah diklaim sebagai miliknya ternyata sudah menjadi milik orang lain. Dan, ya ... pujian ringan sang majikan membuat perasaan Arini yang sempat kembali normal kini mulai perih untuk yang kedua kali. “Iya, Mba. Syukur saja suami Mba cepat ambil tindakan.” Arini berusaha bersikap biasa saja dan menjawab seramah mungkin. Sesaat kemudian, Arka masuk. Ia baru saja mengurus administrasi dan membawa sebotol air mineral. “Mas.” “Iya, Nit. Dokter bilang, kamu harus dirawat sekitar dua atau tiga hari.” “Ya, udah, Mas, aku nurut gimana baiknya. Lalu calon anak kita ....” “Dia baik-baik aja. Yang penting kamu banyak istirahat.” Arka mengusap kepala Anita lalu berpindah ke perut. Ia tarik selimut itu sampai ke bagian d**a. “Iya, Mas. Makasih banyak, ya.” “Anytime, Nita.” ** Tiga hari kemudian .... Karena insiden Anita yang mengharuskan dirawat di rumah sakit, Darmi akhirnya baru bisa pulang hari ini. Arini mulai membantu budenya untuk mengemasi semua barangnya. “Rin,” panggil Darmi dari ambang pintu. “Ke sini sebentar.” Arini menarik resleting tas besar milik Darmi lalu bergegas mendekat ke arah budenya. “Iya, Bude?” Darmi menghela napas dan memaku tatapan datarnya pada Arini. “Bude mau pulang. Jangan sampai Bude denger kamu macam-macam selama kerja di sini. Nyonya itu lagi hamil muda, Nduk. Tolong jaga dia baik-baik.” “Baik, Bude.” “Jangan cuma iya-iya aja, Rin. Ingat bapak-ibu kamu! Cuma kamu yang mereka andelin.” Mendengar peringatan Darmi, Arini seketika terbayang wajah kedua orang tuanya yang renta dan penyakitan. Jika bukan dirinya yang berkorban, siapa lagi? Lelah rasanya menjalani hidup seperti ini. Namun, pantang baginya untuk menyerah. Sekali lagi, demi ibu dan bapaknya. “Arin minta tolong, ya, Bude. Tolong jaga Bapak sama Ibu selama Arin kerja di sini.” Darmi mengangguk. “Tenang aja, mereka tanggung jawab Bude, selagi kamu juga kirim uangnya lancar buat pengobatan mereka.” “Bakal Arin usahain, Bude.” Arini mengangguk lagi sambil menatap harap ke arah sang bude. “Ya, sudah, Bude pulang dulu, Rin. Semua daftar kerjaan sama beberapa catatan penting ada di buku itu.” Darmi menunjuk sebuah notebook kecil yang tergeletak di atas meja. “Iya, nanti Arin baca-baca lagi. Makasih banyak, Bude. Bude hati-hati di jalan.” “Iya, Rin.” Arini menyalami tangan Darmi lalu mengantarkannya sampai ke depan sambil menenteng tas besar milik sang bude. “Mbok, ini pesangon terakhir dari istri saya. Makasih sudah mengabdi lama di rumah saya.” Arka yang ternyata sudah berada di depan memberikan amplop cokelat tebal pada Darmi. Darmi menerima pemberian itu dan mengangguk segan. “Makasih banyak, Tuan. Semoga Arin bisa gantiin saya di sini.” “Iya, Mbok.” Wanita paruh baya itu masuk ke mobil yang sudah disediakan oleh Arka. Sang tuan meminta sopir rumahnya untuk mengantar Darmi sampai ke kampung halaman. Seperginya Darmi, Arini kembali ke dalam untuk menyelesaikan semua pekerjaan. Sampai pada lantai atas saat ia hendak mengepel, panggilan dari sebuah kamar terdengar. “Arini ....” Anita, suara nyonyanya itu masih terdengar lirih. Arini dengan sigap membukanya lebar. “Iya, Mba? Ada yang bisa Arin bantu?” “Tolong bikinin Mbak s**u hangat, Rin.” “Baik, Mba.” Arini segera berbalik dan melangkah turun ke arah dapur. Tangannya mulai sibuk membuatkan s**u hangat khusus untuk ibu hamil. Saat ia tengah fokus pada kegiatannya, langkah kaki yang terdengar dari lorong membuatnya menoleh. Arka. Melihat lelaki itu mendekat, tubuh Arini seketika menegang. Apalagi penampilan Arka pun terlihat tampan saat memakai baju santai seperti sekarang. Rambutnya masih sedikit basah pun menyugar secara alami. Kaus abu-abu yang melekat pun membungkus ketat tubuhnya yang kekar. Arka berhenti di depan dispenser setelah meraih gelas dan mengisinya dengan air putih. Begitu lelaki itu berbalik, matanya tidak sengaja bertemu dengan mata Arini. Tatapan lelaki itu datar, malah terkesan dingin hingga membuat Arini menunduk cepat. “Masih berani kamu muncul di depanku, Rin?” Arini tidak menjawab. Ia tetap menunduk. Bahkan, tangannya yang memegang s**u hangat pun gemetar sebagai respons alami rasa gugupnya. “Apa yang kamu harapkan ketika datang lagi di kehidupanku, Rin?” Dicecar dengan pertanyaan demikian, Arini tidak tahan. Ia mana tahu jika tempat yang akan digunakan untuknya bekerja adalah milik Arka. Andai dari awal Arini tahu jika rumah itu adalah milik Arka, ia tidak akan pernah mau mengambil tawaran budenya. “Saya ... saya hanya berniat kerja di sini, Tuan.” “Kerja?” Arka mendengus. Ia tertawa penuh cemoohan saat menatap wajah lugu Arini yang tertunduk. “Kamu kerja karena butuh, atau ... untuk kembali menarik perhatianku? Hm?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN