Arka menarik tangannya dari lipatan kaki Arini. Sudut mata elangnya melirik ke wajah gadis tersebut.
Rautnya terlihat menahan sakit. Bahkan, Arini sampai berdesis dan menggigit bibir bawahnya sendiri.
Hal itu cukup membuat Arka paham. Arini memang kesakitan saat satu ja.ri-nya masuk ke bagian i.n.t.i gadis itu.
Tidak! Arka tidak akan merenggutnya dengan jari. Ia bangkit dan mengungkung tubuh ramping Arini.
Begitu sepasang mata Arka bertemu tatap dengan mata Arini, terlihat bagaimana sorotnya yang nanar.
Sialnya, Arka terlalu lemah ketika sudah menatap mata itu. Mata bulat yang dahulu selalu menyambutnya dengan hangat.
Benci. Arka membenci setiap detik yang selalu mengingatkan kenangan indahnya bersama Arini.
Kedua pasang mata itu tidak berkedip, seolah saling bercerita melakukan tatapan yang sama-sama dalam.
Sakit sekali rasanya ketika Arini harus terjebak dalam rasa yang tidak bisa terbalas.
Jujur di lubuk hatinya yang paling dalam, lelaki tersebut masih ia harapkan.
Tapi, tidak! Bukan dengan cara merebut atau bahkan dengan hal hina seperti sekarang.
Andai hidupnya tidak terlibat dalam tekanan, mungkin Arini telah bahagia, membangun rumah tangganya bersama Arka.
Bagai dua hal yang terikat dan tidak bisa dilepas, mereka sama-sama larut dalam perasaan masing-masing yang berkecamuk.
Tersadar, mata cantik itu berkedip. Pandangannya mulai turun, tertuju ke jakun Arka yang bergerak naik-turun secara teratur.
Tanpa bisa dikontrol, jari-jemari lentik milik Arini menyapu lembut bagian tersebut.
Tidak banyak kata, Arka langsung memberi tanda kepemilikan di leher jenjang milik sang gadis.
M e n g i s a p-nya dalam seperti vampir kehausan, menggigit pelan, hingga meninggalkan bekas merah tua yang menantang.
“Pelan sedikit, Mas.”
Permintaan Arini justru membuat Arka makin gencar melakukan aksinya. Ia s.e.s.ap kulit putih yang sudah sedikit lecet itu.
Begitu tangan kokoh lelaki tersebut hendak menyentuh bagian d**a, Arini langsung menyilangkan kedua tangannya di sana.
“Kamu akan menyukainya, Rin.”
Senyum setan yang membingkai wajah maskulin Arka terlihat mengerikan bagi Arini. Gadis tersebut tahu jika tuannya sudah pasti merencanakan sesuatu.
“Mas,” panggil Arini sambil menahan pergerakan tangan Arka yang membelai wajahnya. “K-kita mau apa?”
Tangan Arka sontak menyingkir dan mengepal kuat. Satu hal lagi yang ia benci dari gadis itu ialah sifat polosnya.
Entah benci atau rindu, Arka tidak bisa membedakannya. Ia bimbang dengan perasaan yang tengah sibuk membuat berantakan ketenangannya.
“Aku yakin kamu bukan gadis bodoh. Kamu tau pekerjaan p e l a c.u.r seperti apa? Dan sekarang, aku klien-mu. Aku adalah orang yang harus kamu puaskan.”
Frekuensi sakit hati Arini sudah tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Hati yang sudah retak itu kini luluh lantak menjadi kepingan tidak berarti.
Tidak ada alasan untuknya bertahan selain kedua orang tuanya. Andai bukan demi mereka, ia akan menyerah sejak tahu jika majikannya adalah mantannya sendiri.
“Sehina itukah saya di matamu, Mas?”
Logat bicara yang kaku dan terkesan mendramatisir, membuat Arka muak. Ia ingin Arini yang ceria dan terbuka seperti dulu.
“Ya, kamu sendiri yang memilih jalan untuk jadi perempuan murahan.”
“Apa yang sebenarnya kamu inginkan dari aku, Mas? Kenapa kamu menjebakku di situasi seperti ini?”
Nada lirih itu terdengar menyakitkan di telinga Arka. Namun, lelaki tersebut segera menepis rasa belas kasihan yang sempat muncul.
Sampai kapan pun, ia akan memastikan kekecewaan dan rasa marahnya terbalas dengan setimpal dengan caranya sendiri.
Gadis tersebut tidak akan ia biarkan lepas. Sekali masuk, jangan harap bisa keluar dengan bebas.
Arini yang memulai. Arka tidak salah jika tidak diusik ketenangannya oleh keputusan bodoh sang gadis yang meninggalkannya tanpa sebab.
Geram dengan pertanyaan Arini, jari Arka tergerak untuk menggamit dagu gadis itu.
“Masih pantas kamu bertanya begitu, Arini?”
Kepala Arini menggeleng pelan. Kedua netranya telah basah oleh air mata. Ia berusaha meraup oksigen dengan rakus.
Jantung yang berdegup kencang sedari tadi seperti tidak punya penetralisir yang pasti. Satu-satunya yang ia harapkan hanya sebuah kebebasan.
Tapi, sialnya, Arini tidak akan pernah mendapat hal itu. Sekali lagi, tidak pernah. Ia tahu siapa Arka.
Sosok lelaki yang ambisius dan menggenggam apa pun yang sudah menjadi miliknya.
Dan masalah utamanya, Arini pernah dimiliki oleh lelaki tersebut. Sekarang, hal tersebut terulang.
Akan tetapi, jika dahulu dimiliki untuk dibahagiakan, sekarang kenyataannya adalah bertolak belakang.
Arini digenggam kembali untuk diberi rasa sakit dan hidup dalam bayang kekejaman Arka.
Ia tahu, Arka sudah membuat siasat untuk melampiaskan dendam yang sudah lama terpendam.
“Mas, saya punya alasan kenapa dulu pergi gitu aja. Semua itu demi Ayah dan Ibuk.”
“Alasan klise. Kapan kamu nggak jadiin mereka sebagai alasan atas sikap busuk kamu?”
Hanya dengan kalimat itu saja, Arini tidak bisa menjawabnya. Napasnya tersengal-sengal seiring dengan dadanya yang sesak.
“Tapi, saya bicara jujur. Ada alasan yang nggak bisa saya jelasin, Mas.”
Arka bangkit dari tubuh Arini. Ia pukul tangannya ke udara sebagai pelampiasan.
“Aku nggak butuh alasan. Apa yang aku lihat sudah cukup jelas.”
Sesaat kemudian, pandangannya mengarah ke laci meja kerjanya yang berada di urutan paling bawah.
Lelaki tersebut berjalan ke sana, kemudian membungkukkan badan untuk menarik laci tersebut.
Sebuah map berwarna cokelat ia keluarkan, kemudian membukanya hingga terlihat beberapa lembar tumpukan foto yang masih tersimpan.
Semua yang menjadi sebab patah hatinya masih ia abadikan. Arka ingat bagaimana mata kepalanya menyaksikan jika Arini tengah berdua dengan pria asing saat itu.
“Mas, tolong beri saya kesempatan untuk bicara. Saya nggak melakukan apa yang Mas tuduhkan.”
Pembelaan diri Arini membuat lelaki tersebut maju dan melempar lembaran foto tersebut ke wajah si perempuan.
“Pakai matamu, Arini! Lihat itu baik-baik!”
Tangan gemetarnya memungut satu per satu foto yang bercecer di lantai. Ia menatap nanar ke sebuah gambar yang memperlihatkan dirinya tengah dipeluk oleh seseorang.
Bibir yang semula gencar memberi pembelaan, kini diam seribu bahasa. Tapi, tatapannya tidak bisa bohong.
Tatapan yang penuh penyesalan, takut, merasa bersalah, dan lain sebagainya. Logika dan hatinya pun tengah berperang hebat.
“Masih mau membela diri kamu?!” Arka kembali mencercanya. “Setidaknya, itu menjadi bukti bahwa kamu memang perempuan murahan dan pengkhianat!”
Tubuh Arini lunglai. Ia tidak berdaya untuk kembali menyangkal pernyataan Arka. Perempuan tersebut bahkan merasa jantungnya seperti diremas berkali-kali.
Nyalinya menciut. Kilat kemarahan yang menyala-nyala tidak lagi ia perlihatkan. Matanya turun, redup segala tekad dan percaya dirinya.
“Andai kamu tau kenyataannya, Mas.”
Arini bergumam, tetapi masih bisa didengar oleh Arka. Lelaki itu mendengus, napasnya memburu. Ia maju dan mncengkram kuat leher sang perempuan.
Ia menggunakan tenaga penuh hingga kepala Arini mendongak dan menengadah ke atas. Pipinya teru-menerus basah saat air matanya turun.
“Le-lepas, Mas.”
“Kamu nggak berhak memberiku perintah, Arini!”
Kedua tangan Arini berusaha menggenggam pergelangan tangan Arka lalu menariknya agar melepas cengkeramannya.
Tapi, usaha tersebut sia-sia. Arini malah makin tersiksa dengan tindakan yang membuat l.e.h.e.r-nya serasa hendak putus.
“Lakukan saja tugasmu. Layani aku jika kamu menginginkan uang itu!”
***