AFTER WAR 13
Memori Bree.
Mereka kembali dengan mengendap melalui asrama, Abraxas melihat keadaan sekitar “Kita bahas besok, sekarang kita perlu kembali ke asrama.” Putus Abraxas, Sera mengangguk mengerti, keduanya berbalik ke asrama masing-masing.
Ketika Sera berjalan menuju asramanya beberapa orang melakukan hal yang sama, Oprah berada di atas kasurnya ketika Sera membuka pintu asrama, menatapnya heran “Kau kemana saja?”
Sera tersenyum, menggeleng pelan “Aku akan mandi dulu.”
Abraxas tau Magmus sedang mengawasi Sera karena beberapa alasan “Kau mengenal Sera?” Abraxas yakin kedatangan kedua pria itu kesini ada hubungannya dengan Sera.
Magmus menatap pria itu lamat “Ya, kami satu klan.”
Abraxas menelisik “Bagaimana kau bisa kabur?”
Magmus melirik sekitar “Panjang ceritanya.”
“Tapi kau tidak perlu khawatir, kami bukan datang karena alasan yang buruk.”
Abraxas mendengus “Kau yang memberitahunya tentang barang peninggalan itu kan?”
Magmus mengangguk “Eliminasi di akadami ini jauh lebih kejam dari yang kau bayangkan, mereka benar-benar akan membuang mereka yang tidak berguna bagi mereka, jadi kau harus memastikan dia lolos disetiap babaknya.”
Sera berdiri dalam rasa ragu didepan kelas Profesor Grilson, dia belum menemukan cara memanggil bulan, dia bahkan masih membawa ramuan dan buku peninggalan ibunya itu didalam tas.
Sera menatap satu pesatu dari mereka yang diteriaki, termasuk Oprah yang gagal dalam tesnya. Sera menggengam ramuan biru itu dengan lamat, membuka tutup botolnya lalu meneguknya dalam sekali tarikan, ia menghitung mundur, menatap Profesor Grilson yang berjalan didepannyya pada hitungan ke sepuluh, lalu tubuhnya bergetar, kepalanya berputar hebat dan berkunang-kunang, kemerlap biru membawanya dalam ketidak sadaran.
“Bree, larilah! Larilah Bree!” Gadis bernama Bree dengan rambut ginger itu menatap pada kedua orangtuanya yang saling menggengngam, dalam keterdiaman ada cahaya bulan yang menyeretnya dalam dimensi lain, bersama seorang pria kecil yang Sera ketahui adalah Magmus.
Mereka masih berada di tempat itu, namun seolah tak terlihat dalam kegelapan. Bree bersembunyi, Magmus memeluknya dalam diam, menatap gerombolan makhluk dengan garis mata biru dingin yang mendobrak istana, berteriak bunuh dan serahkan di segala penjuru. Sera melihat alat penyedot cahaya dikerahkan kesemua penduduk membuat mereka lemas tak bertenaga, kini seorang pria bemahkota biru berhadapan dengan ibu dan ayah Bree, sang Raja dan Ratu.
“Serahkan anak kalian!” Sang Raja dengan mata biru berteriak.
Sang Raja dan atu saling menatap, kemudian meminum sebuah ramuan hitam dalam sekali tegak, mereka memilih mati malam itu.
“Sial! Sial! Dimana anak itu? Temukan dia!” Kemurkaan sang Raja menggetarkan seluruh istana, dia benar-benar nampak murka, segera ia kerahkan seluruh bawahannya.
“Ayo.” Magmus kecil mengenggam tangan Bree, ia mengantarnya keperbatasan, membuka portal untuknya “Kau akan tinggal disana.” Magmus menunjuk sebuah panti asuhan yang kumuh.
“Magmus, jangan pergi.”
“Aku makhluk abadi, temui aku nanti.” Ujarnya yakin “Selamat tinggal putrid Moonbow.” Magmus menyerahkan buku dengan ukiran keemasan itu pada Bree.
Begitulah Bree hidup dipanti asuhan sepanjang hidupnya sampai ia bertemu dengan Jassper.
Malam itu setelah melahirkan Sera, Bree menatap cahaya bulan “Kau akan menjadi penerusku satu-satunya Sera, panggilah bulan kapanpun kau meminta, hanya katakana pada bulan kalau Putri Moonbow memanggil atas perintahmu.”
Sera tersentak, ia bangun tiba-tiba dengan tarikan nafas panjang, ia menatap sekitar, Abraxas, Magmus, Horison, Oprah dan Fleur ada disana memandangnya.
“Magmus.” Pandangan Sera berfokus pada pria itu, ia tidak mengira usianya seumuran ibunya yang sudah meninggal, wajahnya terlihat seperti seusianya.
Sera segera memeluk pria itu erat, begitu berterimakasih karena telah menyelamatkan ibunya “Kau menyelamatkan Mom Bree.” Sera tersenyum tulus “Tapi bagaimana kau bisa berwajah lebih muda dari Mom?”
Magmus berdehem “Aku bukan ayahku, aku hanya meneruskan tugasnya, ah inilah sebabnya aku tidak ingin di panggil Magmus.”
Sera berusaha mencernanya, lalu ketika ia sadar Magmus yang ia lihat di memori Bree adalah Magmus yang lain, gadis itu melepaskan pelukannya “Maafkan aku.”
Magmus mengangguk canggung “Jadi kau meminum ramuannya?”
Sera mengangguk canggung “Kenapa kau melakukannya di tengah kelas?” Abraxas bersuara, pria itu bersedekap.
“Aku tidak ingin menunda lagi, lagipula aku tidak tau harus menjawab Profesor Grilson seperti apa.”
Abraxas mendengus “Lalu, sekarang kau tau.”
Sera tersenyum dengan bangga lalu mengangguk “Tentu saja.”
Mau kutunjukan, Sera berdiri membuka jendela kamar rawatnya, masih siang hari, Sera menutup matanya menyentuh Matahari dari tempatnya berdiri kemudian berujar “Putri Moonbow telah datang, wahai bulan maukah kau datang.”
Dalam sekejap cahaya matahari yang begitu terang berganti menjadi bulan, membuat kehebohan bagi semua orang, Sera tersenyum melihatnya kemudian ia melakukan hal yang sama untuk mengembalikan cahaya matahari “Terimakasih pada bulan, Putri Moonbow meminta kau kembali.”
Matahari kembali ke tempat semula, dan semuanya kembali pada tempatnya, Sera menatap Abraxas dengan sombong “Nah.”
“Jangan terlalu belagak, kau harus menghadapi Profesor Grilson.” Ketusnya.
Sera mendengus, lalu menghentakan kakinya dengan sebal, gadis itu akhirnya mencari keberadaan Profesor Grilson, beberapa orang menatapnya aneh ketika ia membuka pintu perawatannya, ia menemukan Pofesor Grilson baru saja kembali dari lapangan “Profesor, kau lihat apa yang aku lakukann tadi?”
Profesor Grilson berdehem “Ya, aku melihatnya, kau diijinkan untuk kelas selanjutnya.”
Sera mengangguk semangat.
“Bagaimanan dia mendapat kekuatannya yang itu?” Fleur mengikuti langkah Abraxas.
“Mudah saja, dia kan memang memilikinya.”
Fleur mangut-mangut “Kau membantunya kan?”
Abraxas mengangkat bahu acuh “Abraxas, kau tau itu terlarang, jika ketahuan, kau dalam masalah.” Ujar Fleur khawatir.
“Aku tau Fleur, tapi dikeluarkan atau tidak dari akademi, kau tau disini bukan tujuanku. Aku bisa melakukannya sendiri.”
Fleur terdiam, Abraxas memang benar, pria itu tidak terlalu membutuhkan akademi ini, ia bisa melakukanya dengan ayahnya, atau paman-pamannya, tapi sudah pasti ia bertanggung jawab terhadap beberapa hal seperti Asteria ataupun Sera.
“Tapi kau tetap akan diberi pelajaran dari akademi.”
“Aku tau.”
“Tolong berhati-hatilah.” Tegas Fleur.
Abraxas mengangguk “Terimakasih Fleur.
Oprah berdecak ketika tau Sera berhasil melewati kelas Profesor Grilson “Kita tidak akan sekelas lagi!”
“Kau gagal, cobalah lagi.” Ujar Sera, ia juga jadi kasihan pada Oprah.
“Sudah Sera, tapi akan kucoba lagi sekuat mungkin.
Sera mengangguk, gadis itu mengeluarkan buku peninggalan Ibunya, meletakanya diatas pangkuannya, membaca bagian depannya, ada coretan-coretan tangan sang ibu disana, sudah pasti ibunya sering membaca buku itu.
“Aku sangat beharap kita betemu lagi Mom.”