AFTER WAR 14
Mempercepat
Sera masih mengikuti kelas malam dan sedang mempelajari tentang kelas ramuan, kelas strategi, dan kelas bertarung menggunakan senjata maupun tanngan kosong.
Gadis itu mendapat kesulitan di kelas bertempur menggunakan senjata, Sera diuntungkan ketika kelas ramuan karena sang Mom, atau Bree mencatat dengan jelas ramuan-ramuan yang pernah ia buat, termasuk Sera juga diuntungkan untuk kelas pertarungan, ayahnya selalu mengajarinya cara bertarung dan ia juga ikut kelas karate ketika di dunia manusia.
Profesornya selalu bilang ia akan mudah untuk naik tingkatan jika ia dengan cepat menguasai beberapa hal.
“Kau cepat belajar,” Komentar Profesor Puf, Profesor ramuan.
Sera berterimakasih, gadis itu menatap teman-teman kelas barunya yang juga menatapnya, ada beberapa yang menyambutnya dengan tangan terbuka, ada juga yang menatap risih padanya, termasuk seorang gadis dengan rambut berwarna biru terang yang terlihat jelas tidak menyukainya.
Sera membaca buku ramuan yang dibagikan dengan teliti, Profesor Puf begitu puas dengan ramuan penghilang ingatan sementara yang Sera buat, dia juga mengatakan akan mengundang Sera untuk jamuan makan malam bersama kelas atas.
Kini Sera berada di kelas menengah, oleh sebab itu dia tidak berada satu kelas dengann Oprah lagi, sejujurnya Sera tidak menyangka akan mendapat progress secepat ini, ia kira akan berhenti di tengah jalan dalam waktu yang cukup lama dan mengalami kesulitan tanpa bantuan Abraxas, ya memang benar Abraxas begitu banyak membantu untuknya, tapii belakangan Sera sadar akan larangan itu, oleh sebab itu dirinya meminimalisir bantuan pada Abraxas.
Ia tidak mau pria itu mendapat banyak masalah karenanya.
Ketika Sera berniat menuju taman belakang yang ditumbuhi pohon oak yang tua dan daun berguguran, gadis itu bertemu Magmus dan menjadi canggung, untung keduanya memilih saling menyapa, dan berbagi makan siang di bawah pohon oak.
“Maaf soal beberapa hari lalu.” Sera berdehem, masih merasa tak enak hati karena memeluk Magmus didepan banyak orang seperti itu.
Magmus berdehem “Ya, tidak masalah, aku juga akan mengira hal yang sama jika jadi dirimu.”
Sera terkekeh “Bagaimana mungkin kau begitu mirip seperti ayahmu?”
Magmus mengangkat bahu acuh “Dia sengaja menamaiku Magmus karena tugas kami menjaga klanmu belum selesai.”
Sera mangut-mangut “Jadi, dimana ayahmu, Magmus?”
“Di suatu tempat, bersembunyi untuk sementara waktu.”
“Kami bertemu keluarga Horison dan menemukan adiknya, nona Avyanna membawamu kembali ke negeri immortal, jadi aku diminta ke akademi ini bersama Horison.”
“Kenapa ya mereka repot membantuku?”
Magmus menghela nafas pelan “Karena akan semakin buruk kekuatanmu jika diberikan pada klan lain.”
Sera mengangguk mengerti “Bagaimana dengan kau, pernahkah kau melihat tempat tinggal kita?”
Magmus menggeleng “Kita belum terlalu kuat untuk melawan mereka, kita masih terlalu lemah.”
“Memang ada berapa banyak musuh yang kita punya?”
“Satu yang jelas, tapi ketahuilah itu lebih dari bayanganmu.” Ujar Magmus penuh penekanan.
“Kau yakin aku bisa menyelematkan klan?” Sera memeluk lututnya, meneerawang jauh kedepan “Kau tau, aku lemah, masih jauh dari kata untuk melawan mereka.”
“Aku mengerti kekhawatiranmu, tapi dengann adanya kau, kami memiliki pembangkit cahaya bulan terbesar. Jadi fokuslah untuk jadi lebih kuat, sampai waktunya tiba.”
Magmus menepuk bahu Sera kuat “Dan jangan pernah percaya siapapun, mengerti. Akademi ini mungkin bisa menjadi tidak aman.”
“Kemarilah, ayo kita berkeliling.” Magmus mengulurkan tangannya, mengajak Sera menuju hutan belakang, mereka melihat kesekitar, Sera jarang kesini untuk menghabiskan waktu, ia lebh sering berada diperpustakaan atau taman belakang.
“Banyak hal yang tersembunyi di akademi ini.” Magmus melempar batu kedanau, membuat sesuatu muncul dari dalam secara perlaha, seekor naga air berwarna galaxy muncul, Magmus mengeluarkan manisan dari dalam kantungnya, memberikannya pada naga air itu hingga ia mendekat “Eluslaah.”
Sera dengan ragu mengulurkan tangannya, mengelus naga air itu dengan takjub”Kau bisa menemukan apapun.” Sera menoleh, menatap Magmus lamat, seperti pria itu telah banyak tau tentang akademi ini padahal Sera lebih dulu datang kemari.
“Kau sering melanggar jam malam kan?” Tebak Sera, ia tau Magmus sering bolos dan melanggar aturan akademi.
“Rahasia, lagipula ada di akademi ini bukan tujuan utamaku.” Balasnya acuh.
Sera mangut-mangut, rupanya ia sama dengan Abraxas, tentu saja orang-orang seperti mereka yang berasal dari keluarga yang sejak lahir berda disini tidak takut apapun, mereka terbiasa dengan peperangan dan bahaya mengintai.
“Setidaknya kau tidak bisa menghindar jika diberi hukuman.”
“Mereka tak akan berani menghukum kami.”
“Bagaimana denganku?”
Magmus mengangkat bahu acuh “Belum tau, kau harus membuat mereka yakin kau tidak perlu didikan lagi, kau harus meyakinkan mereka kau mampu menguasai segalanya hingga mereka tak perlu mengkhawatirkanmu.”
“Jika sekarang, kau saja masih ada dikelas menengah, kau benar-benar tak bisa menganggap lawanmu remeh Sera.”
Abraxas dan Fleur menatap Sera dan Magmus yang baru saja kembali dari hutan terlarang, Abraxas memicing “Apa yang kalian lakukan?”
Magmus mengangkat bahu acuh “Beberapa pelajaran.”
Sera menatap Abraxas santai “Magmus terimakasih atas sesi belajarnya,” Ujarnya tulus. Abraxas makin memicing. Namun keempatnya berbalik memilih kembali sebelum jam makan malam dan semua orang akan curiga soal dimana mereka.
Sera di sambut Oprah didalam ruang makan malam, mereka makan dengan bercerita banyak hal terlebih Oprah yang mengeluhkan kelasnya dnegan Sera yang tidak lagi sama, tapi Oprah bilang sebentar lagi akan menyusul dikelas menengah.
Sera memperhatikan sekliling yang nampak ramai, gadis itu fokus terhadap makan malamnya, masih merasa ada yang memperhatikannya sejak kemarin.
“Mereka pasti akan menggapainya, cepat atau lambat.”
“Itulah sebabnya aku mengutus mereka, lagipula kita juga banyak mendapat perlindungan, termasuk dari klan Allerick, kau tau seluas apa klan mereka kan?”
“Ya, tapi jika dia masih lemah untuk berperang, maka tak ada gunanya, kita akan membawa kekalahan.”
“Tenanglah, aku yakin Bree mendidiknya dengan baik.”’
“Kau menemukannya?”
“Ya, akademi Laamorvas, kita tidak bisa menyentuhnya dengan menghancurkan akademi itu, ittu sama artinya mengajak semua klan berperang.”
“Siaal, aku ingin segera mendapatkannya, semua klan akan bertekuk lutut padaku.”
“Sabarlah, kita akan menemukan cara terbaik.”
Sera membawa buku pemberian ibunya menuju lantai teratas, balkon deekat menara asrama yang sepi tentu saja, ia menatap rembulan yang bersinar terang, entah kenapa Sera baru sadar jika ia berhadapan dengan cahaya bulan, energinyya seolah terisi ulang, aneh saja Sera baru menyadarinya sekarang.
“Kau disini?” Sera menoleh, menatap Fleur yang datang dengan gaun bunga-bunga khas miliknya. Sera bergumam “Apa yang kau lakukan?”
“Oh, aku hanya melihat bulan dari sini, sangat cantik.”Balas Fleur, Sera mengabaikan gadis itu, lanjut melakukan apa yang memang ingin dilakukan, ia benar-benar merasa tenang malam ini.