AFTER WAR 15

1206 Kata
AFTER WAR 15 The Truth About Academy “Oke, selanjutnya!” Profesor Clavin berteriak, terlihat senang pada pertarungan tangan kosong yang tiba-tiba diadakan. Sera mendengus, kini gilirannya, gadis itu memasang kuda-kuda, menatap lawannya yang nampak begitu berambisi membantainya. Namanya Wendy, gadis berambut hijau dari klan tumbuhan sama seperti Fleur, mereka tidak di ijinkan menggunakan kekuatan pada kondisi ini, hanya tangan kosong. Windy mengambil ancang lebih dulu, memukul wajah Sera namun hanya mengenai lengan, karena gadis itu berhasil melindungi wajahnya, Windy mendengus, berusaha membelit kaki Sera namun Sera mengunci pergerakannya, ia membalik arah, mengapit leher Windy kemudian mengangkat keatas, membanting dengan keras hingga menyentuh lantai, pekikan terdengar, ia melihat Abraxas menonton di ambang pintu, gadis ginger berusaha fokus, Profesor Clavin, menghitung hingga tiga, dan Windy hampir kehabisan nafas, Sera masih cukup tangguh, karena ia sering latihan dengan Theo untuk itu. Sera membungkuk, mendapat sorrakan dari yang lain, gadis itu menghampiri Abraxas “Apa yang membawamu kemari?” Abraxas mengangkat bahunya “Pertempuran kelas menengah mungkin, kau tangguh juga.” Pujinya, terdengar antara tulus dan mengejek di telinga Sera. Gadis itu terkekeh, mengambil jaketnya, kemudian mengikuti Abraxas “Apa yang mau kau tunjukan?” “Kau sudah membaca buku dari ibumu?” “Yep,” Sera memang sudah membacanya tapi baru sebagian “Kenapa?” “Teruslah membaca, jangan lewatkan sedikitpun” Mereka melewati lorong-lorong yang lumayan sepi, masih tersisa beberapa menit sebelum kelas benar-benar berakhir. “Oh ya, apa yang kau rasakan setelah meminum memori Ibumu sendiri?” Sera berhenti melangkah, menatap Abraxas tajam “Itu memori Mom?” Gadis itu tampak baru sadar, ia kira itu hanyalah apa yang ibunya tinggalkan. Abraxas berdecak “Ya, kau fikir apa?” Ada kernyitan menyinggung disana, seolah mengatai Sera begitu bodoh dan semacamnya. Mereka meneruskan langkah, menuju menara lain gedung, dimana lonceng besar dibunyikan “Dengar, aku mendapat informasi baru.” Ujar Abraxas serius, ia memanggil Bloom miliknya yang keluar dari portal. Bloom itu menyampaikan pesan dari Amren dan kedua orang tuanya “Bisa jadi Akademi sedang tidak aman, namun ini bukan tanda penyerangan besar-besaran, hanya sebuah rencana penyusupan.” Sera mengernyit “Kau bilang Akademi ini sangat aman, untuk saat ini.” Abraxas mengangguk “Memang aman, masih sangat aman disbanding dunia luar, hanya saja, sedang terjadi kebocoran informasi. Kini banyak klan yang tau kau telah ditemukan, klanmu menaruh harapan, ada beberapa yang mulai memberontak.” “Jadi maksudmu, kita kebocoran informasi.” Ujar Sera serius. Abraxas mengangguk “Ya, tidak akan ada penyerangan sampai di akademi, tapi kau akan diintai.” Sera terdiam “Jadi aku perlu mewaspadai beberapa orang.” Abraxas mengangguk “Langsung katakana padaku jika kau mencurigai seseorang..” Sera mengangguk “Kau mendapatkan Bloom, apa akademi tau?” Abraxas menggeleng “Tidak, itu sebabnya aku menggunakannya di tempat terterntu. “Bagaimana kalau kau dapat hukuman atau pengurangan nilai?” Abraxas terkekeh “Siapa perduli.” Sera mendengus “Jika kita memang tidak perlu tinggal di akademi ini, kenapa kita melakukannya?” Abraxas terdiam “Kau memerlukannya, aku tidak, ingat kau telah menyetujui kerjasama dengan Dadku.” Sera terdiam, itu memang benar, Sera paling setuju bekerjasama dengan klan Allerick ketimbang yang lain, mereka secara sedia dan dapat dipercaya, sedang yang lain belum tentu. Sera juga tau seberapa ditakuti klan milik keluarga itu. “Ayo turun, jangan menimbulkan kecurigaan.” Abraxas melihat sekitar, sepertinya jam makan siang telah datang, pria itu menatap kebawah, keduanya turun bersamaan, Sera dan Abraxas kembali masuk kedalam gedung, ada Fleur, Horison, Magmus dan Oprah yang menunggu mereka, keenam orang itu memutuskan duduk bersisian, menimbulkan banyak keheranan, karena biasanya mereka akan duduk berkubu sesuai kelas tingkatan, kelas rendahan, kelas menengah kelas khusus, ngomong-ngomong Oprah sudah berada di kelas menengah, menyusul lebih awal ketertinggalannya. “Fleur,” Seorang pria bermata hitam dengan pakaian serba hitam menghampiri Fleur, memberi setangkai bunga mawar pink pada Fleur, ya perlu diketahui Fleur sangat populer dikalangan pria maupun wanita, gadis itu begitu dissegani dan di hormati, dia juga begitu cantik dan nampak mencolok dengan pakaian anggun dan jiwa bangsawannya yang tinggi itu. Sera mendengus “Apa!” Gadis itu berujar galak ketika ada yang meliriknya, membuat siapapun takut dan enggan. Horison terkekeh “Kau tidak perlu segalak itu Sera.” “Ya,, kau membuat mereka kabur.” Oprah tertawa lebar. Sera mendengus, siapa yang perduli, baru dibentak sedikit saja sudah ketakutan begitu, bukan tipe Sera sama sekali. Mereka menyelesaikan acara makan siang kemudian sepakat untuk pergi ke danau belakang, Sera melempar kerikil ke danau, memperhatikan yang lain yang sedang sibuk dengann urusan masing-masing, Oprah yang berlatih pedang di dekat hutan, Horison yang meneliti tumbuhan air besama magmus, sementara Fleur tengah melatih kefokusannya pada tumbuhan sekitar, kadang juga Fleur berbicara pada mereka seolah mengerti apa yang dibicarakan, sementara Abraxas tengah terbang kesana kemari dengan kecepatan di atas rata-rata, kadang sayapnya menyentuh air dan menyiprat ke yang lain. Sera duduk bersila di batang pohon yang sudah mati, gadis itu mengeluarkan buku peninggalan ibunya dari dalam tasnya, membaca beberapa bab, seringkali ia menemukan coretan as all sang Ibu, atau menemukan kata-kata aneh yang tidak nyambung. Contohnya kemarin, Sera menemukan kalimat Try, dan Too. Sangat tidak nyambung. Dibuku dikatakan Klan Moonbow adalah klan yang paling banyak diincar sejak ari terbentuknya klan itu, itu karena mereka hanya memiliki kekuatan dimalam hari, meeka cendung dipandang lemah, namun klan Moonbow sendiri sebenarnya hidup di sebuah temat yang hanya ada malam di dalamnya, para musuh merusak tatanan tempat tinggal klan Moonbow untuk membuat mereka tak berkutik, hanya Putri Moonbow yang dapat mengembalikan siklus tatanan kehidupan dan tempat tinggal mereka. Klan Moonbow meski diketahui sebagai pemilik klan yang hanya kuat di waktu tertentu, namun kekuatan mereka dapat membangkitkan kekuatan-kekuatan lain yang lebih dahsyat, banyak yang menggunakannya dalam hal positif dan negative, sehingga beberapa tujuan menjadi terpecah belah. Diketahui Putri Bree telah menghilang bertahun-tahun lalu, para rakyat klan telah kehilangan harapan mereka, klan Moonbow berada dalam masa krisis dan memprihatinkan dalam kurun waktu yang lama setelah menghilangnya Putri Bree, sang Putri di anggap tidak bertanggung jawab dan tidak mampu mengemban amanah klan, karena kepergiannya. Sera menutup buku itu dengan bunyi keras, hingga beberapa orang melihatnya, Magmus menghampiri gadis itu “Ada apa?” Sera mendengus “Apa benar, Ibuku dianggap penghianat klan?” Magmus melirik buku yang sedang Sera baca, pria itu duduk disamping gadis itu, bersandar pada sebatang pohon mati “Ya, begitulah.” Sera mendengus “Sial. Ada apa dengan mereka semua!” Magmus terkekeh “Tenang saja, semua hanya kesalah pahaman, para rakyat Moonbow hanya merasa kehilangan semangat mereka, kau hanya perlu mengembalikan Moonbow Land pada rakyatmu.” “Moobow Land?” Magmus mengangguk “Tempat asal kita yang telah dibantai begitu keji, disanalah tempat kita seharusnya, hanya ada cahaya bulan dan kedamaian.” “Kau sudah kembali, kau bisa mengembalikan sagalanya seperti semula.” Magmus menepuk bahu Sera, memberi gadis itu semangat. Sera menghembuskann nafas kasar “Andai itu semudah yang aku bayangkan.” “Bagaimana denganmu, kau pernah bertemu para musuh?” Magmus menggeleng “Aku juga sama sepertimu, kabur sejak kecl bersama kedua orangtuaku. Tapi ayahku pernah bercerita, Beberapa klan memang sangat membutuhkan cajaya bulan untuk memperkuat diri, tapi alih-alih bekerja sama, mereka memperkerjakan secara paksa, menyiksa mereka dengan sadis.” “Harus seberapa kuat aku?” Magmus menatap Abraxas yang baru saja turun dengan gagah di tepi danau, sayapnya membentang kokoh, sejenak Sera merasa takjub “Paling tidak kau harus sekuat Abraxas.” Sera mendelik, lidahnya kelu “Itu terlalu kuat, pria itu bahkan berperang sejak kecil dan mengalahkan begitu banyak klan dalam pertarungannya.” “Tapi begitulah adanya Sera, kau setidaknya harus sekuat Abraxas untuk membantai salah satu pemimpin mereka.” Sera terdiam, menatap Abraxas yang kembali melesat terbang dengan kepakan kuat yang membuat air beriak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN