AFTER WAR 16

1245 Kata
AFTER WAR 16 Penyusup “Bgaimana dengan Magmus, Horison, Oprah dan Fleur, aku tidak perlu menaruh curiga pada mereka?” Abraxas menoleh, pria yang sibuk dengan buku-buka didepannya itu menatap sekitar, keduanya tengah duduk berhadapan di salah satu lorong akademi yang jarang di lalui, setelah melewati kelas terakhir dengan baik, seperti biasa mereka bertemu untuk bertuka fikiran, karena seperti kata Abraxas, ia meminta Sera untuk berhati-hati pada orang lain untuk sementara, tapi bagi Sera setelah mengenal Magmus, gadis itu merasa begitu satu frekuensi dan mengobrol dengan baik bersama Magmus, lagipula dia satu klan, jadi akan lebih banyak informasi yang akan mereka bagi seputar klan. “Mereka aman, aku sudah menyelidikinya, tapi kau tidak menutup kemungkinan mereka bermasalah suatu saat nanti.” Jelas Abraxas, Sera menyetujuinya. “Lalu, bagaimana dengan sekarang?” “Bersikap biasa saja, lagipula maksudku, kau jangan berbicara tentang hal-hal penting yang menjadi rahasia, kau hanya boleh bercerita padaku.” Sera mendengus “Bagaimana dengan Magmus, aku sangat nyambung berbicara padanya, lagipula katamu Magmus dan Horison di utus ayahmu, mereka memang bertujuan menjagaku disini, jadi aku akan anggap mereka pengecualian.” Abraxas menutup bukunya dengan kasar “Lalu untuk apa kau bertanya, jika ka uterus mengoceh soal keputusanmu.” Sera berdecak “Tenanglah, aku hanya merasa mereka tidak perlu dicurigai.” “Jika kau punya insting, aku juga.” Tegas Sera. Keduanya berjalan menjauh, berniat menemui yang lain, mereka sudah membahas beberapa hal seputar akademi yang terlihat tidak baik-baik saja, para Profesor terlihat tidak setenang biasanya. Abraxas menugaskan Horison untuk menjelajah area khusus Profesor dan menemukan mereka sedang dalam perdebatan. Mereka berdua masuk kedalam ruangan dari tumbuhan yang dibuat Fleur, entah sejak kapan, mereka terlihat suka saling berbagi pendapat. Fleur membuka pintu kedua, menyambut Sera dan Abraxas dengan ramah seperti biasa. Abraxas duduk disamping Horison, Fleur berada didepan papan, menjadi pembuka topik. “Penyusup Akademi Lamorvas.” Fleur menulis topic itu dipapan, yang lain nampak tak terkejut kecuali Oprah. Sera dan Abraxas memang sudah sering membahas dan mewanti-wanti soal itu, Horison memang ditugaskan untuk situasi seperti penyusupan bersama Magmus, Fleur mengetahuinya karena gadis itu bisa beralibi menjadi tumbuhan merambat di dekat ruang rapat. “Oke, jadi hanya aku yang tidak tau.” Oprah mendengus. Magmus mengangkat bahu “Bukankah sudah sangat jelas, kau harus lebih sering mengamati perubahan sekitar.” Oprah mengangguk mengerti, Magmus bermaksud baik, Oprah memang yang paling rendah tingkat kewaspadaannya terhadap sekitar. “Dia mengincar anak-anak dari klan Moonbow yang dibawa kesini, ada berita juga penyusup itu tau Sera dan Magmus ada akademi.” Jelas Fleur, gadis itu sepertinya mendengar banyak. “Ada klan Moonbow yang baru datang?” Sera memekik, ia tak menduga itu, Magmus bilang klannya sedang diperah kekuatannya, dan beberapa klan lain tidak perduli akan itu, jika memang ada seseorang yang bertindak itu pastinya klan yang berada dipihaknya. “Raja Allerick, Raja Amren dan Raja Aillard berada di pihakmu.” Jelas Horison. Sera terdiam, terakhir kalinya dia mendengar hanya Raja Allerick dan Raja Amren yang membantunya. “Raja Aillard?” “Ayahku.” Jawab Horison. Sera menatap Horison lamat “Ayahmu. Kenapa?” “Dengar Sera, ketiga klan ini adalah klan yang ikut serta dalam perang beberapa tahun lalu, mereka merasa bersalah pada klanmu, ada beberapa peraturan yang diubah, mereka mengira akan menjadi lebih baik, namun setelah ayahku kembali dia tau seberapa kacau yang telah dia buat.” Jelas Abraxas. Semuanya terdiam, sepertinya Sera kurang tau soal tragedi perang itu, jadi Oprah berbaik hati mengeluarkan buku soal sejarah perang beberapa tahun lalu dan memberikannya pada Sera “Sepertinya kau butuh ini.” Jelas Oprah. Fleur tersenyum menatap gadis itu “Beberapa memang diuntungkan oleh aturan Raja Allerick, namun beberapa juga di rugikan, kau pasti ingat semua klan bermusuhan dahulu Oprah.” Oprah mengangguk “Ya, mereka melakukan itu. Bermain licik dan saling membantai diam-diam.” Sera menghembuskan nafas pelan “Aku akan membacanya, terimakasih Oprah.” Ujarnya tulus. Abraxas berdiri disamping Fleur “Fleur dan aku mengetahui kawanan Klan Moonbow telah selamat dan dibawa kemari, akan datang saat acara makan malam nanti.” “Kami memutuskan untuk memberimu Bloom.” Putus Fleur. “Bloomku akan menjaga Magmus,” Balas Fleur. “Bloomku akan bersamamu selama akademi belum aman.” Jelas Abraxas. “Kalian memiliki Bloom di akademi?” Oprah menatap horror keduanya. Fleur mengangguk “Kami tidak menggunakannya setiap saat, hanya disaat penting.” “Bloom itu akan menghampiri kami jika mendeteksi bahaya pada kalian, Bloom kami juga sudah disamarkan dan dimanipulasi keberadaaanya oleh Raja Allerick.” Balas Fleur. Sera mengernyit, sepertinya Fleur sudah sangat dipercaya oleh Raja Allerick dan Abraxas sendiri. “Jadi menurut kalian, dari klan mana penyusup ini?” Tanya Sera. Abraxas mengangkat bahu “Belum terduga, tapi perkiraanku, klan yang sangat membutuhkan cahaya bulan milikmu.” Fleur menggeleng “Tidak, mereka tidak mungkin bermain secara terang-terangan, apalagi mereka pasti hanya ingin memantau.” “Kenapa mereka hanya memantau?” Tanya Magmus tidak mengerti “Mereka bisa saja langsung menculik Sera dan memintanya memanggil bulan.” “Mereka tidak siap berperang.” Jawab Abraxas pasti. Fleur menjentikan jari “Mereka tau ketiga klan besar berada di pihakmu, jika mereka melawan sendiri mereka akan langsung habis.” “Lalu kenapa mereka tidak langsung menolong rakyatku jika musuhku sangat takut pada tiga klan?” Tanya Sera tidak mengerti. “Karena itu tugasmu.” Jawab Allerick “Jika kau mengandalkan 3 klan, kau tidak akan mendapat kepercayaan rakyatmu lagi dan ibumu akan tetap dianggap penghianat.” Sera kini mencernanya, itulah sebabnya ia harus menjadi lebih kuat, setidaknya sekuat Abraxas, dia butuh memimpin klannya sendiri, karena ia baru sadar hidup di duni immortal tidak selamanya aman, tidak menjamin tidak ada peparangan. Magmus melirik jam tangannya “Ayo, sebentar lagi jam makan malam, kita harus menyambut klan Moonbow.” Sera dan Magmus adalah satu-satunya Klan Moonbow yang diketahui berada di akademi sebelumnya, kini mereka diminta untuk berdiri dibarisan terdepan, menyambun bagian dari mereka yang berhasil di bawa kabur diam-diam. Sera menatap satu persatu dari mereka, mereka semua berjumlah lima orang, masing-masing memiliki kulit pucat seperti cahaya rembulan, rambut mereka berwarna putih, entah kenapa rambut Sera sendiri hanya berwarna ginger, bola mata mereka juga hampir putih, sementara Sera berwarna Ivy, Sera menatap mereka berusaha terliahat ramah. “Ah jadi kau, anak dari Bree.” Seorang pemuda dan gadis moonbow nampak menatapnya sinis. Sera mengernyit, yang lain nampak biasa saja padanya,tapi kenapa dua orang itu nampak sangat tidak menyukainya, terlihat tidak senang dengannya. Magmus menariknya mundur, duduk di meja mereka bersama yang lain, Sera masih tidak mengerti, namun dia masa bodoh, Klan Moonbow yang lain duduk bersama kelompoknya. “Mereka tidak terlihat menyukaimu.” Horison menatap Sera. Gadis itu mengangkat bahu acuh “Tidak terlalu perduli.” “Kadang aku suka sifat masa bodohmu.” Ujar Horison disertai kekehan. Mereka melanjutkan acara makannya dengan khidmat, sesekali Sera masih merasa ada yang memperhatikannya, namun ketika dia berbalik benar-benar tidak ada yang melihatnya. Sera melirik Abraxas yang tengah berbincang dengan Sera, lalu melirik Horison dan Magmus yang tengah berbincang dengan Oprah, Sera merasa ada yang aneh, gadis itu berdiri, melihat sekitar, mengeluarkan cahaya bulannya, berlari pada segerombolan klan Moonbow yang baru datang, gadis itu masih mengeluarkan cahaya bulan dari tangannya, menyentuh salah satu dari mereka yang menatapnya datar, tadinya gadis itu menyapanya dengan ramah,, Sera menyentuhnya, benar-benar mengeluarkan kekuatan bulannya, mmebuat tangan gadis itu melepuh, Abraxas yang melihatnya segera berlari menarik Sera namun gadis itu begitu keras, Magmus menarik Abraxas kebelakang, ia kini tau apa yang Sera lakukan. Lama kelamaan, gadis itu kepanasan, wajahnya berubah menjadi hitam dengan bola mata yang hampir keluar, ia menjilat tangan Sera namun lidhanya malah melepuh, yang lain menjerit, menjauh . “Bukan kau tapi kau salah satunya.” Bisik Sera, gadis itu benar-benar berubah total kini, menjadi hitam dengan tengkorak yang terlihat. “Dia mayat hidup.” Ujar Abraxas. “Dia salah satu penyusup.” Tambah Horison. “Mati.” Desis Sera tajam, kemudian mayat hidup itu berubah menjadi abu, menyisakan kesunyian yang mencekam dan tatapan takut pada Sera.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN