Chapter 14

2723 Kata
CHAPTER 14 PENYUSUP             Allerick benar, keadaan istana memang sedang tidak baik-baik saja, hari ini portal di perbatasan ada yang membobol. Portal itu hancur, namun tak ada yang tau siapa yang berhasil masuk ke area istana, kini semua pengawal tengah waspada, mereka dibagi, sebagian tetap berada di istana, sebagian lagi ditugaskan memecahkan misteri portal yang sudah di hancurkan. Avyanna mengabaikan keributan di istana, satu minggu setelah kembalinya dirinya, Allerick semakin sibuk, bahkan dalam satu minggu ini Allerick hanya terlihat dua kali hanya untuk mengambil barangnya, Mor pergi bersama Allerick, sementara Rush di tugaskan menjaga Avyanna. Ketika Avyanna keluar kamar, ia bisa menemukan Layla yang tengah mengecek setiap makanan istana yang akan disajikan, takut-takut ada yang menaruh sesuatu yang membahayakan, seperti kemarin seorang pelayan mati setelah mencicipi pudding coklat yang harusnya di hidangkan untuk makan malam, maka Daleka di tugaskan mengecek makanan di istana bersama Layla tanpa harus mencicipinya, Daleka menggunakan ilmu sihirnya akan menyeleksi makanan yang aman dan tidak, jika aman makanan akan tetepa utuh, smentara jika beracun, makanan itu akan hengus perlahan. Jika begini Avyanna menduga seseorang telah berhasil menyusup di istana dan mengacau, apalagi portal itu sudah di hancurkan. “Rush!” Avyanna berlari keluar ketika melihat Rush nampak akan pergi ke suatu tempat, pria itu mengeluarkan sayapnya, menenteng tas berisi makanan. Pasti untuk anak-anak Fallen Angel, sebenarnya Avyanna dari dulu ingin menemui anak-anak itu, namun ia tau aturan Allerick yang tak akan pernah mengijinkan Avyanna keluar dari istana. “Ya nona?” “Apa kau akan menemui anak-anak Fallen Angel itu?” Rush mengangguk “Ya nona, apa anda ingin ikut?” Avyanna menatap Rush dengan mata berbinar “Bolehkah, apa Allerick mengijinkanku keluar?” Rush mengangguk “Tidak ada orang di istana yang dapat menjaga anda, saya kira anda sibuk, anda boleh ikut nona.” “Benarkah. Terimakasih Rush.” Avyanna tersenyum begitu lebar, ketika Allerick pulang ia akan mengucapkan terimakasih pada Allerick. Akhirnya Rush pergi bersama Avyanna menggunakan portal yang di buat Daleka, ia tak mungkin berani membawa Avyanna dalam gendongannya dan terbang berdua. “Rush, ini istana Fallen Angel. Mereka kembali ke sini?” Daleka membuat portal langsung ke gerbang istana Fallen Angel. Avyanna begitu takjub melihat kerajaan itu kini telah ditumbuhi banyak tumbuhan dan bunga-bunga, awalnya istana itu terlihat suram dengan patung-patung menyeramkan, apalagi di depan sana, ada anak-anak Fallen Angel yang tengah beraktifitas dan bermain dengan yang lain. “Azur?” Avyanna melihat Azur yang tengah menyiram tanaman menatapnya dan Rush dengan senyuman, Azur menghentikan aktifitasnya, menghampiri Rush dan Avyanna. “Avy, kau sudah bangun, kudengar kau meminum bubuk memoire.” Azur menatap Avyanna heran. “Ya Azur, bagaimana kabarmu dan Lucius?” “Kami baik-baik saja, cukup damai disini dengan anak-anak yang berkeliaran di istana.” Kekeh Azur “Rush, anak-anak itu mencarimu, temuailah mereka.” Rush mengangguk, membawa makanan itu bersamanya untuk dibagikan. Sementara Azur mengajak Avyanna berkeliling istana bersamanya “Kau baru pertama kali kemari setelah perang itu bukan?” Avyanna mengangguk “Maafkan apa yang Allerick lakukan.” Avyanna sejujurnya merasa bersalah, kerajaan Lucius di buat tak terlihat dan ia kehilangan rakyatnya. Azur menggeleng pelan “Lucius menceritakan segalanya padaku, tentang apa yang terjadi pada keluarga Allerick bahkan ayah dan ibunya. Aku tak tau benar atau salah tapi Allerick menganut aturan bangsa srigala, kematian dibalas kematian. Bersyukurnya Lucius tak menaruh dendam dan mmebiarkan Allerick membantai malam itu.” “Lucius sangat baik.” Avyanna tersenyum tulus. Azur mengangguk “Cassian mengajarkannya banyak hal, oh ya, mengapa Allerick tak kemari, untuk mengambil barang titipan Cassian pada Lucius.” “Dia belum kemari, sudah satu tahun berlalu.” “Itu yang kubingungkan, apa ia memang belum siap melihat wajah ayahnya, Lucius bilang Cassian meninggalkan lukisan keluarganya dan dirinya, Cassian melukisnya sendiri.” “Biar aku yang memberikan padanya.” Putus Avyanna. Azur mengangguk pelan, ketika keduanya kembali ke depan istana, Rush sudah di temani Lucius, berbincang di taman istana. “Semuanta terawatt dengan begitu baik, apa kalian merawat istana sebesar ini sendiri?” “Dibantu anak-anak, Rush juga sering mengirimkan kami makanan setiap hari melalu portal atau ia datang langsung, kudengar Allerick menugaskan Rush menjaga kami.” Azur tersenyum menatap Avyanna. “Kau tetap bersama Lucius, bukankah orangtuamu harusnya memintamu kembali?” Menurut Avyanna, harusnya orangtua Azur memintanya kembali setelah tau sudah tak ada istana itu lagi, Lucius tak memiliki rakyat dan kekuasaan lagi. “Aku yang tak ingin, mereka sering mencariku kemari, namun  ilusi yang Allerick buat tetap menjaga kami aman, kerajaan ini seperti kota mati bagi mereka.” “Kau mencintai Lucius?” Azur mengangguk lembut, ia menatap Lucius dengan tatapan cinta, Avyanna iri sekejap “Kau beruntung.”             Avyanna dan Rush kembali sore hari, ia menemukan beberapa pengawal tengah membuat pertemuan untuk membahas sesuatu, Avyanna melihat lebih banyak prajurit di istana, mungkin semua prajurit di rumah pelatihan yang di urus Askav diminta menjaga ketat istana. Oh ya, ketika Avyanna masuk, ia bisa melihat semua penjaga berdiri di setiap ruangan bahkan sudut, Avyanna kini tau keadaan mungkin makin kacau, ia melihat Layla di ruang makan istana, menyiapkan makan malam. Avyanna menghampirinya dengan pelan “Apa terjadi sesuatu?” Layla mengangguk “Ada yang masuk ke kamar Ivan nona.” “Ivan?” Layla terdiam “Tuan Allerick tidak menceritakan soal Ivan?” Avyanna menggeleng “Maka saya tak berhak nona, maafkan saya.” Layla membungkuk hormat. Lalu memilih pergi kembali ke dapur.             Layla memasak lebih banyak dari biasanya, untuk prajurit tambahan yang tiba-tiba menumpuk di istana, Avyanna sendiri tidak merasa terlalu lapar karena ia dan Rush memilih makan bersama Lucius dan Azur di istana mereka. Avyanna hanya meminta the hangat di antarkan ke kamarnya, kini ia sibuk menyelam membaca sebuah buku, buku tentang legenda Pure Angel. Avyanna mendapatkannya dari penjaga perpustakaan kerajaan, hanya satu yang tersisisa, kebanyakan buku tentang bangsa Pure angel dimusnahkan, Allerick tidak menyukainya. Buku yang Avyanna baca sendiri mengatakan kalau bangsa pure angel adalah bangsa kasta tertatas, dari semua klan, bangsa pure angel yang selalu makmur dan slalu terberkati, dalam setiap pergantian tahun, mereka tak pernah menghadapi krisis atau masalah ekonimi. Kecuali mereka melakukan kesalahan besar, mereka di kutuk oleh sang pencipta. Tunggu, dalam memori Avyanna keluarganya mengalami krisis itu, bukankah itu artinya keluarganya melakukan kesalahan besar. Avyann penasaran kesalahan sebesar apa yang kerajaannya buat. Lalu di jelaskan juga tentang sayap terkuat keturunan pure angel, sayap untuk anak yang di berkati, sayap putih dengan kekuatan menghancurkan dalam sekali kepakan, sayap yang akan membawa sang pemilik ke tempat paling damai bernama Querencia kapanpun sang pemilik mau. “Querencia?” Avyanna mengabaikan kalimat itu dulu, ia kembali membaca, dijelaskan Querencia adalah sebuah tempat paling aman, tempat yang dimiliki oleh orang-orang terpilih, unttuk anak yang di berkati. “Tempat teraman,” Avyanna menggumam. Itu artinya Avyanna bisa kesana kan? Bagaimana caranya. Apa Avyanna harus memiliki sayap terlebih dahulu. Tempat itu terdengar aman untuknya yang tak tau apapun di dunia Imortal. Tapi Avyanna tak boleh pergi tanpa Allerick, pria itu mengatakan ia butuh Avyanna untuk melakukan rencananya, melihat pembantaian malam itu membuat Avyanna sedikit mewajarkan kekejaman Allerick. “Nona.” Avyanna terlonjak, ia mendongak, menatap Mor yang berdiri sembari menenteng sebuah buku, pria itu kembali? Avyanna segera berdiri, ia berlari keluar dari ruang perpustakaan, jika Mor kembali, itu artinya Allerick juga kembali kan? Avyanna menjelajah sekitar, mencari keberadaan Allerick, Avyanna mengernyit heran, Allerick tak ada dimanapun, apa Avyanna harus ke kamar pria itu. Avyanna menghembuskan nafas pelan, memutuskan naik ke lantai teratas, kamar Allerick berada, ketika Avyanna hampir sampai ke lantai teratas, ia berhenti di tangga terakhir, ia menemukan Allerick dan Daleka tengah berbincang disana, Avyanna segera menarik dirinya ke belakang tembok, ia masih cukup jauh, kedua orang itu berdiri di depan pintu kamar Allerick Avyanna mengintip di balik tembok dengan perasaan mewanti. “Kau sudah tau siapa penyusunya?” Sejujurnya Allerick menyerahkan kasus itu pada Daleka, Allerick punya dugaan penyusup itu adalah seorang penyihir, terbukti dari mantra Daleka yang menyeleksi makanan beracun dengan ilmu sihir, Daleka menemukan penggunaan ilmu sihir di makanan itu. “Sudah, seorang pelayan bernama Grisele telah terbunuh, penyihir itu menyihir mayatnya menjadi seonggok bangkai burung gagak, dan menyamar menggunakan wajah Grisele. “Lalu?” “Penyihir ini licik, ia bisa saja membunuh tidak hanya satu orang untuk berkamuflase, mungkin kini ia bisa saja berubah menjadi orang lain dan menggunakan identitas mereka.” “Maksudmu, kini ia bukan Grisele lagi?” Daleka mengangguk. “Allercik aku sudah melaksanakan tugasku,” Bisik Daleka parau. Allerick menatap wanita itu lamat, pria itu lalu mendekatkan wajahnya, mengecup bibir Daleka pelan. Avyanna yang melihatnya terbelalak, ia mengepalkan tangannya kuat. Makin kuat hingga kukunya menancap tajam pada tangannya sendiri, apalagi ciuman itu makin b*******h, Daleka menyentuh tubuh Allerick leluasa, mereka saling melumat, hal terakhir yang ia lihat adalah Allerick yang menendang pintu dan membawa Daleka masuk kedalam kamarnya. Seketika tubuh Avyanna terasa terbakar, hatinya berdenyut ngilu. Dengan langkah pelan ia menjauh, ia paham betul apa yang terjadi dalam ruangan itu, Avyanna saja baru sekali masuk kedalam kamar Allerick, ia merasa jijik sebab Allerick membawa Daleka melakukan pericntaan di tempat yang sama,dimana keduannya pernah melakukannya di sana juga, tempat yang seharusnya untuk Avyanna. Malam itu Avyanna sadar, ia cemburu, ia mencintai si makhluk hina tanpa hati. Bukankah Avyanna sangat bodoh. Avyanna menuruni tangga dengan cepat, ia masuk kedalam kamarnya setelah menutup pinttu dengan keras, jantungnya masih berdentam sakit sedang otaknya tengah menyangkal apa yang ia lihat, b******k sekali pria itu. Avyanna bersumpah tak akan pernah mau mengandung benihnya, Avyanna keluar dari kamarnya menuju ruang baca mengambil buku ramuan, kemudian berjalan cepat ke taman buatan. Ia dudukan dirinya di kursi rumah kaca, malam itu Avyanna habiskan waktunya membuat ramuan pencegah kehamilan, Avyanna mungkin tau Allerick tanpa hati, namun ia masihlah memilikinya, ia membenci apa yang Allerick lakukan, mate? Apakah seorang mate bisa menjamah wanita lain sesukanya? Hingga pagi menjelang, dan jam sarapan telah usai, Avyanna tetap berdiam diri di rumah kaca.             Di istana, Allerick mengumpulkan semua orang tanpa terkecuali di lapangan istana, Daleka tengah mencari siapa pelaku penyusup istana, seorang penyihir pasti masih menyimpan tanda meski sehebat apapun penyihir itu, Avyanna menatap mata seorang pelayan bernama Hesa dengan tajam, meneliti setiap bagian tubuhnya, perlahan ketika Daleka membaca mantra itu, mata Hesa berubah memerah, urat-uratnya menonjol, para penjaga mulai waspada dan mengambil ancang-ancang, sementara para pelayan memilih mundur menjauh, Daleka mencekik leher penyihir yang mulai berubah kedalam bentuk aslinya. “Siapkan tungku pembakaran!” Teriak Daleka lantang, para prajurit itu mulai bergerak, mengambil kayu bakar, menumpuknya menjadi satu kemudian kepulan api membara, Daleka mengikat seluruh tubuh penyihir itu dengan sihirnya “Tusuk Allerick!” Allerick tanpa ragu menghujam pedang itu pada tubuh si penyihir, bentuk mengerikan dengan taring itu berteriak, urat-uratnya meletus, Daleka segera melempar tubuh penyihir itu ke tumpukan kayu bakar, dalam sekejap tubuh penyihir itu terbakar, teriakannya nyaring terdengar. Mereka semua melihatnya dengan puas “Siapa yang menyuruhnya?’ Daleka menggeleng, mengusap darah penyihir hitam itu dengan jijik di beberapa bagian tubuhnya “Tidak bisa berbicara dengannya, dia tak terkendali.” Allerick diam, pria itu masih harus waspada rupanya “Rush dan Mor, bangun pembatas kembali di hutan belakang, kita harus tetap waspada!” Teriak Allerick lantang. Allerick masuk kedalam istana dengan wajah lelah, ia sarapan sendiri pagi ini, Layla tidak tau dimana Avyanna, Rush dan Mor pun tidak tau, sudah pasti wanita itu berada di hutan buatan. Tidak biasanya Avyanna diam disana dalam kurun waktu cukup lama, Layla melaporkan sejak pagi buta ketika ia mengecek kamar Avyanna wanita itu sudah tak ada, Mor dan Rush diminta ikut mencari karena Allerick tau mereka belakangan cukup dekat, namun tak ada Avyanna dimanapun. Maka Allerick putuskan masuk kedalam hutan buatan, ia menyusuri sekitar, masuk kedalam rumah kaca, Allerick hanya menemukan keadaan taman yang sudah di sirami, namun tak ada Avyanna disana. Allerick berdecak, kemana perempuan itu, Allerick tidak khwatir sebab ia tau Avyanna tak punya tempat untuk pergi dan tidak punya cara juga untuk kabur dari Allerick, kecuali ia memang nekat. Sekali lagi Avyanna cukup penakut untuk menghadapi dunia luar.             “Layla boleh bawakan makanan ke kamarku, dan jangan ganggu aku dulu.” Ujar Avyanna pelan, Layla mengernyit, tak biasanya Avyanna makan di kamar, apalagi wanita itu melewatkan makan malam dan sarapan. Meski begitu Layla mengangguk patuh tanpa bertanya lebih lanjut. Avyanna kembali ke kamarnya dengan perlahan, sejujurnya kini di otak Avyanna ia mulai memikirkan cara untuk kabur, tapi tidak hari ini, mungkin jika peperangan yang Allerick idamkan itu selesai dan Avyanna masih punya kesempatan selamat. Memeluk buku ramuan yang ia ambil semalam ke kamarnya, Avyanna menyembunyikan buku itu dengan baik di dalam laci, Avyanna duduk di sofa dekat jendela ketika Layla membawakannya sarapan, tidak lagi disebut demikian sebab Avyanna sudah sangat telat. Layla meletakan nampan berisi sebuah sup ayam, buah dan segelas air putih untuk Avyanna “Apa anda sakit nona?” Layla bertanya dengan sopan.             Avyanna menggeleng pelan “Aku akan tidur setelah ini, aku tidak bisa tidur semalaman.” Layla mengerti “Apa anda susah tidur. Perlu saya ambilkan sesuatu lagi?” Avyanna terssenyum “Tidak Layla, terimakasih. Kau bisa keluar.” Layla mengangguk hormat, Avyanna menghembuskan nafas pelan ketika Layla pergi, hidupnya benar-benar menyedihkan. Avyanna menatap pemandangan diluar istana, apa ia sepatah hati itu karena tau Allerick bercinta dengan Daleka? Avyanna tidak tau, tapi ia sangat marah dan kecewa, ia bahkan tidak mau mencari dimana Allerick lagi, seperti kata pria itu, ia akan dimusnahkan nanti ketika selesai dibutuhkan, entah kapan, tapi pasti akan tiba waktunya. Avyanna menatap bekas kayu yang kini terbakar hangus menyisakan abu disana, Avyanna tak tau apa yang terjadi, pasti ada kaitannya dengan pembahasan Daleka dan Allerick malam itu. Pintu kamar Avyanna di buka kasar, jika dari cara membuka pintu itu, Avyanna tau siapa yang masuk. “Kau baru sarapan?” Avyanna tak menoleh sedikitpun, ia selalu terbayang pergumulan Daleka dan Allerick, Avyanna marah pada dirinya jika ia mencintai pria itu, benar-benar akan marah, namun Avyanna sendiri sadar jika ia sudah terjebak, mungkin kini ia akan bertekuk lutut di kaki Allerick. Dan Avyanna tidak mau, meski ia tak memiliki siapapun lagi di dunia ini, tapi menjadi mainan seseorang seumur hidup benar-benar terasa menyedihkan. Allerick bersedekap “Kau mengabaikanku?” Allerick nampak terganggu, Avyanna masih tetap santai menatap keluar, Avyanna meletakan mangkuk sup yang tengah habis setengah di meja kecil disampingnya. “Allerick aku ingin tidur.” Ujar Avyanna pelan, masih tanpa menatap Allerick, ia malah meneguk air minumnya santai, Allerick mencekal lengan Avyanna ketika wanita itu ingin berjalan ke kasurnya, Allerick memaksa gadis itu menghadapnya, Allerick menatap Avyanna meneliti, ekspresinya lelah dengan pandangan malas menghadapi Allerick. Allerick melepaskan cekalannya “Apa kau naik ke kamarku semalam?” Allerick mendapat informasi dari pengawal yang berjaga di bawah tangga kamarnya, Avyanna naik ke lantai atas untuk menemuinya, bersamaan ketika Daleka juga berada di atas, Allerick menyimpulkan Avyanna melihat apa yang ia dan Daleka lakukan semalam. “Kau tau aku bercinta dengan Daleka semalam,” Allerick mengangkat sebelah alisnya, tersenyum miring menatap Avyanna “Dan kau marah?” Pria itu seperti tengah mengejeknya, Avyanna hanya diam bersikap setenang mungkin. “Jangan katakan kau mencintaiku,” Wajah Allerick mengeras, ia mencengkram rahang Avyanna, menatap sinis padanya “Menjijikan,” Desis Allerick tajam. Avyanna mengepalkan tangannya “Tidak, aku hanya tidak bisa tidur semalaman, dan aku tidak suka kau disini karena aku ingin tidur.” Allerick menelisik mata itu. Avyanna menghembuskan nafas pelan “Jika kau ingin tidur dengan wanita manapun, lakukanlah.” Tantang Avyanna pongah. Mata Allerick membara marah, ia mencekik leher Avyanna geram, melempar tubuhnya ke atas kasur, tubuh tembaga itu langsung mendindih tubuh Avyanna “Berani sekali kau!” Desis Allerick tajam, ia benci Avyanna yang menentangnya dan mengabaikannya. Avyanna mengabaikan apa yang Allerick akan lakukan padanya, meski pria itu menyentuhnya dengan kasar dan mencoba membuatnya terangsang, Avyanna tidak perduli, ia menggigit bibirnya keras hingga berdarah ketika Allerick menyatukan tubuh mereka. “Menjijikan.” Avyanna tersenyum sinis menatap Allerick, untuk pertama kalinya Allerick melihat sisi lain dari Pure Angel itu, sisi yang sebelumnya begitu lembut dan penuh senyuman itu kini menatapnya berani. Allerick melepaskan tubuhnya dari Avyanna. Dengan marah ia menampar Avyanna “Menjijikan?” Sejujurnya Avyanna merasa sakit disentuh begitu kasar bak p*****r, namun ia mengabaikan keberadaan Allerick, ia mengabaikan rasa panas di pipinya sebab tamparan itu, Avyanna perlahan menutup tubuhnya dengan selimut, membelakangi Allerick. Allerick mengepalkan tangannya kuat “Sialan!” Allerick berdiri setelah mengenakan jubahnya, pintu kamar Avyanna di banting kuat, Avyanna menggigit bibirnya menahan isak setelah kepergian Allerick.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN