Chapter 15
Perubahan Sang Pure Angel
Mor bilang Avyanna boleh melakukan apapun di istana, tapi masih di larang untuk keluar dan melewati batas yang diberikan, Avyanna membawa sebuah buku baru tentang ramuan, satu bab khusus membahas tentang ramuan penahan, Avyanna menenteng keranjang bunga sebelah tangannya, ia mengabaikan para pengawal yang melihatnya kemnapun Avyanna melangkah, meski Mor mengatakan ia boleh kemanapun di istana, tetap saja pengawasan akan selalu ada untuk Avyanna, namun perempuan itu tak masalah, ia tau mungkin orang-orang itu takut ia kabur.
Avyanna meletakan menggelar sebuah alas kain untuknya duduk di bawah pohon apel, didepannya ada tanaman bunga berbagai warna yang indah dipandang, taman istana, Avyanna duduk bersandar pada batang pohon, fokus membaca buku itu dengan tenang.
Ramuan penahan, berfungsi unttuk menahan apa yang tak ingin dibiarkan ada, seperti orangtua Avyanna yang memberinya ramuan penahan agar sayapnya tak keluar, Avyanna lalu membaca dengan fokus, mengabaikan para pengawal yang mencuri pandang padanya.
Meski mendengar suara pedang yang berada dari lapangan, atau suara pacuan kuda, atau suara bising sebab kegiatan lainnya, Avyanna mengabaikannya, jika sudah bertemu dengan buku, Avyanna seperti lupa segalanya.
Daleka diam-diam menatap Avyanna dari kejauhan, perempuan bermata samudra itu nampak memang begitu cantik bagaikan kelahiran kembali seorang dewi kecantikan, apalagi ia berasal dari keturunan pure angel, ia lembut ketika bertutur, dan ramah pada semua orang di istana. Beberapa pegawai kedapan sering memuji Avyanna, para prajurit kadang tak sadar melihat puer angel itu takjub.
Sayang, Avyanna adalah wanita malang, Daleka tau ia terjebak mencintai Allerick seorang diri, sama seperti Daleka, pesona memang tak bisa terbantahkan, makhluk itu begitu memesona, auranya begitu memikat dan kuat, membuat siapapun gadis yang memandanganya merasa terberkati sebab pria itu.
Terlepas dari itu, sebuah rahasia umum jika Allerick adalah makhluk tanpa perasaan, Daleka menghampiri Avyanna dengan langkah pelan “Apa kau ingin sesuatu?” Allerick bilang, Daleka harus mematuhi keinginan Avyanna selama ia sibuk mencari sekutu diluar.
Avyanna tak menoleh sedikitpun “Tidak.” Jawabnya pelan.
“Pergilah,” Avyanna melanjutkan kembali bacaannya, Daleka mundur perlahan, sepertinya Avyanna memang tak membutuhkan apapun. Tadi Layla datang menghampirinya untuk makan siangpun Avyanna tolak dengan ketus, tak biasanya fikir Lalyla.
Avyanna malah meminta makanannya dibawakan ke tempatnya membaca.
Avyanna mendelik tajam ketika melihat seekor kuda berhenti di depannya dan makan rumput dengan santai, wanita itu berdiri dengan marah, menatap salah satu penjaga tajam “Singkirkan kuda ini.”
Si penjaga kuda itu gelagapan ketika mata sebiru samudra itu memancarkan amarah “Maafkan saya nona,” Segera ia tari tali kuda itu menjauh, namun Avyanna sudah kehilangan seleranya untuk berdiam diri di tempat itu, akhirnya Avyanna memilih menyudahi kegiatannya, wanita itu memetik beberapa bunga di taman untuk dimasukan ke dalam pot di kamarnya, dalam perjalannya memasuki istana, suara gerbang terbuka harusnya membuatnya menoleh dengan senyuma, menatap Allerick yang kembali sore itu suka cita.
Namun kali ini tidak, Avyanna melenggang masuk tanpa menatap siapapun, bahkan ia mengabaikan Rush dan Mor yang melambaikan tangan padanya penuh semangat, mata Avyanna kini terasa berbeda, tidak memancarkan kehangatan lagi, namun aura mengintimidasi yang sangat tajam, hingga tanpa sadar mereka mundur menjauh.
Allerick sendiri merasa geram melihat tingkah wanita itu, ia fikir ia di mana.
“Sepertinya ada yang berbeda dengan Avy.” Bisik Mor pada Rush.
“Sudahlah Mor, mungkin ia sedikit jenuh di istana.”
Allerick mengepakan sayapnya, langsung naik ke balkon kamar Avyanna yang terbuka, Avyanna yang tengah menata bunga di vas tidak sama sekali terganggu dengan kedatangan Allerick.
“Hentikan sifat menyebalkan itu.” Allerick menelan sayapnya dalam kepulan asap hitam, pria itu menarik Avyanna menghadapnya “Kau tak sepantasnya dengan sifat itu.”
“Berhenti memberikanku ramuan penahan, aku sudah siap menerima sayapku.”
Allerick tersenyum miring “Kau sudah siap kabur dariku!””
Avyanna menghembuskan nafas pelan “Tidak, aku hanya perlu berlatih dengan sayapmu untuk menghancurkan musuhmu bukan?”
Allerick terdiam “Baiklah, dalam 24 jam, ramuan penahan tidak akan mengalir di tubuhmu.”
Avyanna mengangguk saja, wanita itu lalu melepaskan jubahnya di hadaan Allerick, kemudian masuk ke kamar mandi.
Malam itu Avyanna menghabiskan waktu semalaman di perpustakaan, ia membaca begitu banyak buku hingga pagi hari, entah kenapa belakangan Avyanna susah sekali untuk tidur, ia tidak tau kenapa.
Sampai besok Allerick tidak akan memasukan ramuan penahan pada Avyanna, ia hanya berharap dirinya mampu menahan rasa sakit itu nantinya.
Layla memanggilnya untuk sarapan ke ruang perpustakaan, dengan langkah pelan Avyanna berjalan ke meja makan setelah membersihkan diri sejenak di kamar, ia menemukan Allerick sudah duduk di kursinya dan menyesap mint tea kesukaannya, Avyanna duduk di hadapan Allerick, mengambil paha ayam berukuran besar di piring menyantapnya hingga habis, biasanya memakan sedikit membuat Avyanna langsung kenyang, namun wanita itu tak berhenti makan, ia terus memasukan makanan ke dalam mulutnya tanpa henti.
Allerick menatapnya aneh “Kau menghabiskan setengah hidangan?”
Avyanna mengangkat bahu acuh, kini Allerick merasa ada yang aneh pada Avyanna, ia harus segera memanggil Ismene untuk memeriksa ke adaan Avyanna, Selain seorang Hybird langka, Ismene telah belajar begitu banyak tentang tanaman obat dan keadaan tubuh mannusia.
Allerick meminta Avyanna tidur di kamarnya malam itu karena besok pagi-pagi sekali Avyanna akan merasakan rasa sakit luar biasa, namun wanita itu menolak, berujar dengan ketus “Aku tidak akan pernah mau menginjakan kaki disana lagi!”
Allerick harusnya marah, namun pria itu hanya terlihat kesal “Baiklah, aku yang akan tidur di kamarmu.”
Avyanna mendelik, mengabaiakan Allerick, ia menarik selimut menutupi sebagian tubuhnya, membelakangi Allerick.
Pria itu malah sibuk dengan fikirannya sendiri, perlahan ia berbalik memandang Avyanna yang nampak sudah terlelap dengan nafas teratur.
“Akhh!” Avyanna tersentak ketika merasakan kulit punggungnya yang terasa sobek perlahan, wanita itu melihat matahari sudah naik ke permukaan, artinya saatnya ia menerima sakit luar biasa itu di punggungnya, Avyanna berusaha menahannya sekuat tenaga, tangannya mencengkram bantalnya dengan kuat hingga terasa sakit, semakin ia merasakan punggungnya dikuliti secara perlahan, perihnya luar biasa, setiap detiknya begitu menyiksa Avyanna, peluh bercucuran, meski ia tak ingin menangis, namun ia tak bisa mentolerir sakit luar biasa yang kini ia alami.
Allerick menghampiri Avyanna, pria itu datang dari arah balkon seperti biasa, Allerick melihat tubuh Avyanna yang bergetar menahan sakit, wanita itu menangis dalam diam, Allerick duduk di hadapan Avyanna yang memejamkan matanya, ketika melihat kebelakang, baju bagian punggung telah sobek, punggung Avyanna terbuka baru sebagian, darah merembes ke kasur, pertama kali Allerick mendapatkan sayapnya, ia tak mendapat kesakitan seperti Avyanna, ayahnya memindahkanya sejak ia kecil, namun Avyanna, harus merasakan sakit itu sebab ia menahan sayap itu dalam dirinya.
“Aaaaa!” Teriakan Avyanna makin kencang ketika kulit punggungnya terdengar di sobek sekaligus, perlahan kepulan asap putih melingkupi Avyanna, sayap besar berwarna putih yang terlihat kokoh menyelimuti tubuh Avyanna yang kini telah pingsan tak sadarkan diri. Allerick membawa Avyanna kedalam rengkuhannya, ia menggendong Avyanna ke kamar lain, kamar Avyanna harus dibersihkan terlebih dahulu, Allerick meletakan Avyanna di tempat tidur, menatap takjub sayap putih bersih yang begitu cocok dengan paras Avyanna. Perlahan tangannya menyentuh sayap itu, bulunya halus sekali. Ia melihat punggung Avyanna perlahan mengatup, perlahan sayap itu menyesuaikan diri dengan si pemilik.
Allerick menutup pintu kamar itu dengan pelan, ia keluar meminta Layla membersihkan kamar Avyanna, ia juga meminta Dragomir datang untuk memberikan ramuan pereda sakit untuk wanita itu. Sementara Allerick harus disibukan dengan laporan dari Mor dan Rush tentang pemberontakan yang terdengar.
Allerick mengepakan sayapnya di udara, ia berdiri di atas hutan merah yang masih dilapisi kekuatan fatamorgana miliknya hingga hutan itu tak terlihat, Allerick juga membuat istananya tak terlihat untuk sementara waktu, Allerick tau, bangsa musuh kini bersekutu menyerangnya kapan saja.
Di atas sana, Allerick melihat kawasan Pure Angel tengah di segel cahaya putih, mereka bersatu menyegel kerajaan masing-masing dari serangan Allerick yang tak terduga, Allerick akan memasuki kawasan pure angel secepatnya dan menyeret semua pelaku dalam keadaan hidup untuk mati di tangannya.
Sebelum itu, ia harus menemukan penghianat dalam bangsanya sendiri, Greg mengatakan penghianat itu berasal dari tiga klan, sedangkan memori yang Avyanna lihat, ada 4 orang dalam pertemuan itu, artinya masing-masing klan memiliki perwakilan masing-masing untuk menyerang, yang Allerick tidak tau bangsa mana yang memiliki dua perwakilan malam itu, ia telah membunuh Greg yang di percaya kerajaan selama ini, Greg berasal dari klan srigala, sementara Raja Erick adalah klan Fallen Angel yang menaruh dendam pada ayahnya sebab tak terima Black giant wings menjadi milik Allerick, lalu salah satu kerajaan Pure Angel? Apa mereka yang memiliki perwakilan ganda?
Allerick tau selama ini orang tua Avyanna tak pernah berniat menbobol pertahanan Allerick, mereka malah sibuk menguatkan pertahanan untuk kerajaan mereka sendiri agar Allerick tidakk menyerang, meski Aillard dan Nerdanel sepakat membantunya, mereka tetap akan berdiri untuk kerajaan masing-masing.
Ketika melihat tanda cahaya putih keluar, Allerick segera menghampirinya, ia membuat segel ilusi dimana tak aka nada yang melihat keduanya disana.
“Bagaimana keadaan adiku?” Aillard bahkan tak repot menyapa Allerick.
“Dia sudah mendapatkan sayap itu, dia masih dalam keadaan pingsan di istana.” Jelas Allerick santai.
Aillard menghembuskan nafas pelan “Pastikan dia ada disampingmu, ia akan dibunuh hidup-hidup jika kembali ke istana?” Aillard menatap Allerick serius.
“Kenapa, mereka sudah menemukan cara memindahkan sayap milik Avyanna?”
Aillard menggeleng “Mereka tak menginginkannya lagi, yang mereka takutkan adalah kehamilan Avyanna, mereka sudah mendapatkan ramalan ke dua. Anakmu kelak akan membantu kalian menghancurkan mereka.”
Allerick kini mengernyitkan dahinya bingung “Ramalan Desponia. Hanya kami yang tau.”
Aillard menggeleng pasti “Kau fikir siapa yang menguasai Desponia sekarang, Pure Angel, ramalan kedua di sebar diseluruh negeri, bukan kau saja tujuan mereka kini, namun kau, Avyanna dan keturunanmu.”
“Aku tau, bagaimana dengan pembunuh orang tuaku?”
“Tak ada jejak, semua terlihat begitu bersih seolah tak ada satupun pelaku dari bangsaku. Kau yakin salah satu pembunuh adalah klan ku?”
“Ya, Greg salah satu penghianat yang melakukan perjanjian darah itu mengatakannya.”
“Baiklah, tetap jaga adiku.”
“Aillard,, Avyanna telah mendapatkan ingatannya yang hilang.”
Aillard termangu “Dia tau aku me-“
“Dia ingat semuanya, tenang saja, dia tak membencimu, dia ingat hanya kau yang menjaganya sejak ia kecil.”
Aillard mengangguk pelan.