Chapter 16

2647 Kata
Chapter 16 Hadirnya Sang Penerus             “Apa masih sakit?” Allerick menyentuh punggung Avyanna pelan, seperti sayap Avyanna tengah menyesuaikan diri dengan pemiliknya, kadang Avyanna menggerakannya pelan, ukuran sayap itu cukup besar, namun lebih besar sayap milik Allerick. “Sudah tidak,” Allerick bisa melihatnya kini, Avyanna nampak tidak kesakitan lagi, luka di punggungnya juga sudah hilang, kulitnya kembali seperti semula seolah tak terjadi apa-apa. Allerick menjulurkan tangganya “Kemari, kau belum makan.” Avyanna menerima uluran tangan Allerick “Kau belum bisa menyembunyikannya?” Avyanna terlihat keberatan dengan sayap yang menyapu lantai itu, tentu saja ia belum bisa mengendalikan sayapnya, ia bahkan tak tau cara menyembunyikan sayapnya. “Kunci di bagian punggungmu dan lepaskan.” Allerick mengajarkan caranya pada Avyanna, sayap itu akan menurut pada sang pemilik, hanya sang pemilik yang bisa mengaturnya sesuka hati. Perlahan kepulan asap putih menelan sayap Avyanna. “Wow,” Allerick terkekeh pelan ketika mata biru itu memperlihatkan ketakjubannya. “Akan ku ajari terbang besok, bagaimana?” “Kau tidak akan pergi kesuatu tempat?” “Sudah kuserahkan pada Mor.” Avyanna mengangguk, keduanya menuruni tangga menuju ruang makan, tanpa sadar Avyanna melewatkan sarapan dan makan siang, Avyanna hanya fokus dengan rasa sakitnya, Dragomir sudah memberinya ramuan pereda nyeri, Dragomir bilang mungkin akan tiba-tiba menyengat nantinya selama beberapa hari. Layla tersenyum menatap Avyanna yang kini terlihat lebih baik, meski wajahnya masih lesu dan pucat, Avyanna makan dengan lahap, sekali lagi nafsu makan wanita itu yang lebih banyak dari biasanya membuat Allerick merasa ada yang aneh, terlebih sikap Avyanna yang aneh beberapa hari ini, Allerick memutuskan harus memanggil Ismene segera. Kamar Avyanna telah di bersihkan oleh Layla, Avyanna kini kembali ke kamarnya, Allerick mengikutinya dari belakang kemudian menutup pintu, Avyanna menatap pria itu bingung. “Aku menemui Aillard hari ini,” Allerick duduk di sofa, menatap Avyanna yang nampak terkejut akan ucapannya. “Bagaimana kalian bertemu dengan leluasa?” “Kubuat ilusi agar tak ada yang melihat,  Aillard mengatakan agar kau tetap bersamaku, karena jika kau kembali, mereka yang akan membunuhmu.” Allerick menghembuskan nafas pelan “Mereka juga sudah tau tentang ramalan kedua.” Avyanna mengernyit bingung “Bagaimana?” “Desponia ada di tangan mereka.” “Lalu bagaimana ia bisa menemuiku di memori itu?” “Teknik seperti melepas jiwa dari raga, kau mengerti?” Avyanna mengangguk. Keduanya terdiam beberapa saat, Allerick berdiri duduk dissamping Avyanna “Apa kau merasa ada yang aneh dengan dirimu?” “Apa maksudmu?” “Apa kau merasa kalau kadang kau tidak bersikap seperti pure angel, kadang kau memiliki sifat buas bangsa srigala, kau menatap rendah para pelayan itu sifat Fallen Angel, selalu merasa di atas, kau merasakan itu?” Avyanna memikirkannya kini, ia mengangguk pelan “Ya, aku merasa ada yang mengendalikan prilakuku, kadang aku tak sadar apa yang kulakukan, kadang aku sadar kemudian merasa menyesal.” “Aku mengabaikan Rush dan Mor, aku marah pada tukang kuda itu, dan aku memandang rendah Layla.” Allerick mengatupkan bibirnya, kemudian pria itu menggulum senyum tipis “Kita akan memastikannya, Ismene akan mengecek keadaanmu besok pagi, sekarang tidurlah.” Avyanna menurut, Allerick menarik selimut untuknya, Avyanna kira Allerick akan kembali ke kamarnya, namun tidak, pria itu malah berbaring di samping Avyanna, itu artinya Allerick akan menghabiskan malam di kamar Avyanna.             “Sayap itu tidak berat, ingat kini bagaian dari dirumu, kendalikan dengan gerak tubuhmu seperti kau kendalikan tangan dan kakimua, paham.” Allerick dan Avyanna berada di tengah lapangan istana, ketika melihat Avyanna yang keluar dengan sayapnya untuk pertama kali, semua orang merasa terkejut dan kagum pada sayap indah milik Avyanna, namun mereka tak tau sayap itu tak secantik kelihatannya, kepakannnya menghancurkan dalam sekejap. Ini perjobaan kedua, Avyanna berusaha menggerakan sayapnya dengan pelan pertama, kemudian makin cepat membuat Avyanna terangkat cukup tinggi, Allerick berjaga di bawah melihat apa Avyanna akan terjatuh atau tidak, Allerick benar, sayap itu menuruti perintahnya, Avyanna mencoba lebih tinggi, ringan, tidak seberat ketika diam, Avyanna tersenyum puas, tanpa sadar kini ia sudah tampak leluasa dan terbang kemana-mana, Avyanna mengepakan sayapnya lebih kuat, namun kepakan sayap itu mengeluarkan sebuah gelombang berdentum, dalam sekejap bagian kiri istana hancur berkeping-keping. “Sial! Kau ingin menghancurkan istanaku!” Pekik Allerick berang, Avyanna terdiam di tempatnya, merasa takjub dengan kekuatan yan sayapnya punya, ruangan istana yang Avyanna rusak adalah gudang penyimpanan istana, Rush segera mengecek apa ada orang di sana atau tidak, Rush kembali dengan satu orang penjaga yang nampak kepayahan keluar dari sana. “Kau hampir membunuh seseorang.” Ketus Allerick, kini pira itu terbang di dekat Avyanna, kedua sayap hitam dan putih itu nampak menakjubkan di udara. “Apa dia tak apa?”Avyanna meringis, merasa bersalah. “Tidak, kau sepertinya sudah bisa terbang dengan baik, tapi kau belum bisa mengendalikan kekuatan penghancur, kau mengepakan dengan kuat dan memerintahkannya menghancurkankan?” Avyanna mengatupkan bibirnya “Aku hanya penasaran.” Ketus Avyanna. Allerick mengernyit “Kita berdua punya kekuatan penghancur, akan sangat berguna untuk menghancurkan musuh dalam sekejap, tapi aku mau kau berlatih menghancurkan lebih hebat, kau akan ikut berlatih denganku nanti.” Allerick menatap sekeliling, Daleka sepertinya telah mengembalikan tempat penyimpaan senjata yang rusak seperti semula, kini istananya kembali terlihat baik-baik saja. Dari tempatnya, Allerick melihat sebuah portal baru saja Daleka buka, sepertinya ia tengah menjemput Ismene. Allerick mengajak Avyanna turun, dalam kepulan asap hitam dan putih keduanya menyembunyikan sayapnya, Allerick dan Avyanna kini kembali kedalam istana, Avyanna duduk di tungku perapian, ia melihat ke luar jendela, sepertinya salju pertama akan turun, musim dingin akan segera tiba, dan Avyanna benci musim dingin. “Akhh.” Avyanna merasakan sesuatu bergerak di dalam perutnya, hanya sekejap, namun anehnya detak jantung Avyanna menghangat, seperti ada kehidupan di dalam perutnya, seperti ada yang menyapanya, seketika fikiran Avyanna berkelana, tidak mungkin! “Nona.” Avyanna menoleh, menemukan Layla yang menatapnya bingung, Avyanna memegang perutnya dengan wajah berkaca-kaca. “Apa anda baik-baik saja?” Tanya Layla khawatir. Avyanna segera mengubah ekspresinya menjadi tenang “Ada apa Layla?” “Pesanan anada sudah siap, apa anda ingin makan pudding coklat anda sekarang?” “Simpan nanti Layla.” Layla mengangguk lalu ijin kembali ke dapur. Avyanna kembali menyentuh perutnya, rassanya aneh, ia benar-benar merasakan ada pergerakan di dalam, terasa begitu hidup dan kuat.             Avyanna menatap heran pada Ismene, Daleka, Rush dan Mor yang kini ikut duduk makan malam bersama mereka, biasanya tidak, hanya Avyanna dan Allerick yang akan mengisi meja makan. Tanpa menyapa siapapun, ia duduk di samping Allerick, di depannya ada Mor yang menyapanya dengan senyum. Namun Avyanna malah mengabaikannya. Allerick menikmati apa yang ia lihat “Makanlah.” Allerick menyantap makannanya dengan tenang begitupun yang lain, tidak dengan Avyanna yang makan dengan cepat, porsinya pun sangat banyak, semuanya tercekat ketika Avyanna nampak seperti orang lain, Avyanna sebelumnya sangat anggun ketika makan, porsinya juga tak sebanyak ini, Avyanna juga pasti akan menyapa hangat ketika melihat mereka semua dalam satu tempat, aneh. Diam-diam Ismene tersenyum, ketika selesai dengan makan malam, mereka duduk di depan perapian, Ismene berdehem “Avy, bisakah aku menyentuh perutmu sebentar?” Avyanna menoleh tajam “Untuk apa?” Ismene menatap Allerick meminta bantuan “Biarkan saja.” Avyanna pun mengangguk pelan, Ismene duduk di samping Avyanna, menyentuh perutnya, ia memejamkan mata, meraba, kemudian tanpa di duga, tendangan kecil itu kembali terasa, membuat Avyanna meringis, tanpa sadar ia mencengkram tangan Allerick kuat. Ismene menjauh, dia gelagapan “Wow.” Allerick tersenyum puas, ia tau apa yang ia fikirkan kini terbukti benar. “Apa?” Avyanna kebingungan. “Kau hamil.” Ismene menatap Avyanna serius “Tapi ini tidak normal Allerick, pertumbuhannya terlalu cepat, dan ia terlalu kuat, berbahaya jika Avyanna mengandung bayi ini.” Jelas Ismene lirih. “Menurutku, harusnya kita sudah memprediksinya, janin itu punya darah tiga klan, tidak mungkin ia janin normal.” Ujar Rush sserius. Semuanya terdiam, apa yang Rush katakan memang benar. Ismene menggelen, ia mengenggam tangan Avyanna “Kau yakin mengandungnya, dia bisa membunuhmu, dia terlalu kuat jika dibiarkan di dalam tubuhmu.” Avyanna terdiam, ia membawa tangannya ke perutnnya, ia bisa merasakan bayinya berbagi dengannya, ia menyayangi bayinya, jiwa suci seorang pure angel yang tak pernah melakukan kejahatan sedikitpun memberontak “Aku akan menjaganya,” Avyanna memeluk perutnya sayang. Allerick tersenyum puas. Memang itu yang harusnya terjadi “Diamlah Ismene, kau sudah mengemasi barangmu bukan, kau harus tinggal disini menjaga Avy. Kau paham.” Ismene menghela nafas pelan, ia tak punya pilihan lain, entah bagaimana, ramalan itu datang, tapi Ismene takut Avyanna tak bisa kembali, ramalan hanya mengatakan Avyanna adalah mate sang pure angel, dan Avyanna akan melahirkan seorang bayi penghancur, tidak ada kepastian Avyanna akan selamat dan akan tetap hidup setelah bayi itu lahir. “Ingat, kabar kehamilan Avyanna tak boleh di dengar siapapun.” Ujar Allerick. Semua mengerti, akan terjadi pemburuan besar-besaran jika itu terjadi.             “Abraxas, jangan menendang terlalu sering.” Avyanna terkekeh ketika menyadari ia berbicara dengan bayinya, Allerick bilang namanya Abraxas, entah kenapa Avyanna jadi yakin kalau anaknya laik-laki, dari tendangan kuat itu, di dalam perut juga ia tak bisa tenang, Ismene benar pertumbuhan Abraxas sangat cepat, setiap harinya porsi makan Avyanna akan lebih bertambah banyak, setiap detik ia ingin makan, namun anehnya berat badannya tidak bertambah sedikitpun, ia kehilangan banyak berat badan, sudah satu minggu berlalu sejak ia tau ia hamil, dan Avyanna tidak terlihat baik-baik saja, terbukti kini ia lebih sering meringkuk di atas kasur, merasa sakit dan kehilangan tenaga. Dragomir kadang datang memberinya obat, namun tak berefek banyak. Perubahan sifat Avyanna ia tekan, ia tak mau anaknya mengontrlnya lebih banyak, ia janji akan membuat Abraxas menjadi anak yang manis, tidak perduli jika ada darah bangsa srigala dan fallen angel didalamnya. Abraxas hanya akan jadi bayi biasa.             “Seseorang membobol portal di The hidden forest, mereka masuk lewat sana,”Ismene meletakan tas berisi barang-barang pentingnya “Rumahku sudah di hancurkan.” Jelas Ismene lagi. “Ada jejak?” Ismene megangguk “Ini bulu Alvator.” Allerick mengamati bulu berwarna abu-abu itu, jelas sekali itu bagian dari Alvator “Bagaimana bisa, bangsaku tak pernah berurusan dengan Alvator.” Mor mencoba berfikir “Musuh anda telah bekerjasama dengan Alvator, penyerangan akan tiba.” Rush datang dengan tergopoh-gopoh menghampiri mereka bersama Daleke  “Gawat, berita kehamilan Avyanna tersebar, aku idak tau bagaimana.” Ujar Rush panic. “Sial.” Desis Allerick “Sudah jelas, mereka akan menyerang, Rush bawa seluruh rakyat ke kerajaan Lucius, lakuakan dengan cepat.” Rush mengangguk patuh, ia segera terbang bersama Askov yang berubah dalam bentuk srigalanya, mengungsikan bangsa srigala, kedangan Rush dan Askov yang tiba-tiba meminta mereka mengungsi melalui portal membuat seluruh warga panic, mereka membuat keributan. “Kuberikan setengah jam, jika ada yang menolak masuk kedalam portal maka tanggung sendiri akibatnya!” Teriak Rush lantang. Askov dan prajurit lain segera bergerak, penduduk segera memiliih barang-barang penting dan membawa anak-anak mereka, beberapa hewan ternakpun di bawa. “Askov!” Rush berteriak ketika tiba-tiba ada panah api menyerang mereka, rumah-rumah penduduk tiba-tiba terbakar, rupanya kaum Fallen angel lain membantu penyerangan, enam Alvator datang dari bberbagai arah dan menghancurkan rumah-rumah. Rush menggeram “Askov, lebih cepat!” Keadaan makin kacau, sebagian besar sudah masuk kedalam portal dengan berdesakan, mungkin ada sebagian yang terinjak dan meninggal akibat kerusuhan, Rush menutup portal ketika seluruh penduduk telah masuk, penduduk yang meninggal dibiarkan begitu saja, Rush sudah mengatakan untuk cepat bukan “Askov, perintahkan prajurit lain kembali ke istana.” Banyak prajurit yang mati karena panah api. Sepertinya penyerangan itu akan benar-benar terjadi lebih cepat, mereka begitu marah ketika mendnegar berita kehamilan Avyanna. Rush kini masuk kedalam portal, ia menemukan Lucius dan Azur yang sudah membantu penduduk mengungsi, ada beberapa yang terluka. “Apa-apaan ini, kenapa kami disatukan dengan bangsa Fallen angel!” Seorang berteriak marah. Rush mengepakan sayapnya, memukul orang itu kuat hingga tersungkur. “Dengar, jika ada yang ingin kembali ke rumah kalian, aku persilahkan, sebab kalian yang tidak patuh beberapa orang tak bersalah mati akibat kerusuhan kalian. Tidak ada perbedaan klan disini, semua sama!” Bisik-bisik tidak setuju terdengar “Jika ada yang ingin kembali kupersilahkan!” Semua orang terdiam, Rush benar-benar serius dengan ucapannya. “Istana ini telah di segel dan dibuat tak terlihat oleh Tuan Allerick, jadi kalian akan aman. Untuk sementara tinggalah disini, Lucius adalah pimpinan kalian untuk sementara. Jika ada yang memberontak kau bisa langsung membunuhnya Lucius!” “Aku harus kembali, istana sedang diserang.” Azur dan Lucius mengangguk “Tetaplah aman Rush.” Ujar Azur tulus. `           Kondisi istana sudah setengah hancur, padahal Allerick sudah membuat ilusi agar istananya tak terlihat, namun mereka tau itu adalah ilusi, mereka tetap menyerang dengan membabi buta, apalagi Alvator tidak mempan terhadap ilusi, mereka hidup di dalam kabut seumur hidup mereka. Allerick mengepakan sayapanya, menghunus duri beracun hingga membuat 6 orang tewas seketika, lalu ia menghancurkan tanah dibawah kaki empat Alvator dan mengubur mereka hidup-hidup. Namun semua belum berakhir, terlalu banyak penyerang, Fallen angel tetap memanah dengan panah api, terlalu banyak, Alvator sudah berkurang sebagian, Daleka ikut tudurn dibawah, menyerang dnegan kekuatan sihirnya,membakar bangsa vampire hidup-hidup, mereka juga membawa penyihir hitam untuk menyerang. Allerick kini tau seluruh klan bersekutu melawanya. “Allerick!”Ismene berteriak memanggil ketika berbalik Allerick melihat balkon kamar Avyanna telah di hancurkan oleh Bumper, makhluk peledak dengan kepala magma. Allerick melesat menghampiri mereka dan menghancurkan Bumper dengan kekuatan penghancunrya, namun bumper itu tidak terpengaruh, ia malah membelah diri menjadi enam bagian dan membakar istana, Allerick mendengus. “Avy!” Avyanna mengeluarkan sayapnya “Serangan ini terlalu besar dan kita tidak siap, panggil yang lain, kita akan ke Querencia.” Putus Avyanna dalam keadaannya yang tak baik-baik saja. “Teempat itu tidak ada Avy.” Ismene mengernyit. “Ada, hanya aku yang bisa membuka jalan kesana, di tulis Querencia akan terbuka jika anak terberkati membuka jalan, Querencia ada di arah matahari terbenam, cepatla.” Ismene mengangguk, ia mengambil tasnya, mamasukan seluruh barang penting disana. “Allerick, buatlah portal untuk prajurit dan pelayan ke istana Lucius.” Ujar Avyanna. “Ikutlah denganku,” Avyanna menggeleng “Panggilkan Daleka.” Allerick mengangguk, dalam sekejap Daleka hadir di depannya, sementara Allerick sedang membuka portal ke istana Lucius melalui hutan belakang, Mor membantunya menggiring yang lain “Askov, kupercayakan yang lain padamu, kami akan kembali segera.” Askov mengangguk, ia masuk ke dalam portal “Layla, kuserahkan pelayan lain padamu.” “Baik Tuan.” “Mor, apa sudah tidak ada yang lain?” “Sebagian mengorbankan diri bertarung Tuan.” Allerick mengangguk “Dimana Rush?” “Di garda terdepan.” “Segera bawa ke kamar Avyanna.” “Biak tuan.” Allerick kembali ke kamar Avyanna, ia bisa melihat Avyanna duduk didalam perlindungan Daleka, cahaya putih memancar “Apa yang dia lakukan.” Allerick mengernyit bingung. “Kekuatan ke empat Allerick, kekuatan pemanggil.” Ketika cahaya pemanggil Avyanna berhenti, suara semburan naga api terdengar, mereka segera keluar melihat, makhluk legenda penjaga black giant wings tengah menyemburkan apinya  membakar seluruh musuh dalam sekali hembusan, Avyanna berjelan ke atas balkon yang sebegaian sudah terbakar, Naga htam itu bernama Dragon Magma, ia tinggal di gunung berapi selama ia menjaga black giant wings, menyemburkan api sepanas lahar adalah kehebatannya, ketika melihat sosok Avyanna, naga itu terbang menghampiri Avyanna. Wanita itu tersenyum, ia tau kekuatan pemanggil akan berhasil, Avyanna mendapatkan kekuatan itu ketika ia mencoba memanggil arwah Maryllis, ia memutuskan merahasiakannya karena tak ingin Allerick mengatur siapa yang harus ia panggil dan tidak. Avyanna mengelus kepala naga hitam itu pelan, dan naga itu nampak menyukainya, naga itu berhasil memusnahkan musuh-musuh dalam beberapa kali semburan, prajurit Allerick yang tersisa diminta untuk masuk ke dalam portal menuju istana Lucius oleh Allerick, keadaan mereka ada yang terluka parah dan ada yang luka ringan. “Naiklah,”Avyanna duduk diatas naga itu, meminta yang lain naik, ia putuskan membawa Ismene, Rush, Mor, dan Daleka juga ke Querencia. Allerick naik lebih dulu di susul yang lain. Mereka terbang menunggangi naga itu kea rah matahari terbenam, Avyanna meminta turun di ujung sungai, sekali lagi ia elus kepala naga itu kemudian mengucapkan terimakasih.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN