Chapter 17

1973 Kata
Chapter 17 Querencia “Bagaimana caranya ke Querencia?” Tanya ismene penasaran. Avyanna tersenyumm, ie melepaskan tangan Allerick yang menopangnya sedari tadi. Wanita itu berdiri di pinggir air terjun “Querencia, Querencia, Querencia, Anak terberkati telah datang, ijinkan portal terbuka dan sembunyikan kami dengan aman.” Cahaya putih terbuka, Avyanna masuk kedalam tanpa ragu diikuti yang lain. Inilah Querencia, tempat yang hanya tersedia untuk anak terberkati, Avyanna tau cara membuka portal ke Querencia adalah dengan menyebut nama tempat itu tiga kali, katakana siapa ia dan apa tujuannya masuk kesana, Querencia terlihat seperti tempat damai yang tak pernah tersentuh tangan makhluk manapun, hamparan rumput hijau terbentang, langit biru bersih dengan awan berarak putih, ada danau Almeen, danau dengan segala kekayaan dan air bersih yang tak akan pernah mongering, hutan Malgof, tempat persembunyian paling aman, makanan akan selalu ada disana, katakana apa yang ia minta kemudian akan terkabul, hutan Malgof adalah hutan permintaan, hanya anak terberkati yang bisa meminta dan terkabul. “Itu hutan Malgof.” Avyanna menunjung hutan yang nampak hijau dan damai itu dengan tangannya, “Kita harus ke sana.” Putus Avyanna. Allerick segera membawa Avyanna terbang kesana, diikuti yang lain. “Bagaimana kau tau semua ini?” Allerick dibuat menyadari satu hal kini, Avyanna bisa jadi lebih berbahaya dari pada yang ia kira, perempuan itu bisa kabur kemanapun ia mau. “Aku masuk ke ruangan penjaga perpustaan tengah malam, aku tau ia menyembunyikan banyak buku disana.” Allerick mendengus, merasa dibodohi gadis itu. Ketika mereka sampa di hutan Malgof, Avyanna meminta hutan itu menyediakan tiga tenda beserta isinya. “Wow Avy, aku sering mencari tau dimana tempat inni, namun tak pernah berhasil.” Ismene benar-benar selalu ingin ke Querencia. “Ajaib bukan, Ismene bisakah bantu aku berbaring, perutku sangat sakit.” Allerick baru sadar kalau wanita itu berpeluh, pasti Avyanna menahan sakit. “Biar aku saja, kalian bantulah obati luka Rush dan Mor.” Allerick membantu Avyanna masuk kedalam tenda, ia menggendong tubuh yang semakin mengurus itu kedalam tenda, sudah ada kasur kecil dengan bantal dan selimut didalam, karpet di lantai dan meja kecil disamping tempat tidur. “Tidurlah,” Allerick duduk di samping Avyanna, tanpa di duga pria itu mengelus perut Avyanna, dan entah kenapa elusan tangan Allerick berdampak nyaman bagi perut Avyanna. Perempuan itu akhirnya tertidur lelap setelah beberapa saat.             Allerick memutuskan keluar dari tenda setelah memastikan Avyanna aman, luka Mor dan Rush juga sudah di obati. Mereka duduk di atas rumput, Ismene tengah mengeluarkan barang-barang yang ia bawa di dalam tas. Daleka membantunya dengan mantra memperluas, baju-baju Avyanna yang ada di dalam lemari sekaligus baju Allerick berhasil ia bawa, ramuan dari Dragomir untuk pereda nyeri juga berhasil di bawa, Ismene juga membawa beberapa tanamannya di dalam tas, buku-buku yang Avyanna minta bawa di dalam laci. “Rush, apa yang Lucius katakana?” “Lucius dan Azur hanya meminta kita kembali dengan aman.” “Mereka akan tetap tak terlihat, namun aku khawatir dengan Alvator yang bisa melihat, meski anda membuat ilusi bahwa kerajaan itu hancur, namun Alvator tak bisa di tipu, tapi kecil kemungkinan mereka memeriksa kesana, mereka pasti mengira, anda mengirim mereka ke portal lain dan membangun tempat ilusi baru.” Itulah yang Rush fikirkan. “Berapa lama kita akan disini?” Tanya Daleka. “Sampai Abraxas remaja.” “Abraxas?” Tanya Ismene heran. “Nama anaku nanti.” “Nama yang bagus,” Ujar Mor. “Perhatikan baik-baik siapa musuh kita, selain klan Fallen Angel, Vampire, penyihir hitam, Alvator dan Bumper, klan mana lagi yang kalian lihat?” “Hanya itu, mereka baru mengirim sebagian. Kurasa orang-orang yang hadir di malam jamuan adala musuh anda.” Ujar Mor. “Kurasa akan lebih banyak. Kau lihat disana ada Alvator, Bumper dan penyihir hitam. Alvator tidak mungkin di taklukan dengan mudah dan diajak bersekutu, Bumper, ada empat bumper yang tersisa sejak peperangan dulu, mereka baru mengirim satu, dan penyihir hitam, mereka menyembunyikannya selama ini, kita selalu berfikir Daleka adalah satu-satunya penyihir tersisa setelah penyerangan.” Ujar Ismene. “Tapi Daleka penyihir putih,” Mor kini mengerti “Mereka menyerang penyihir putih sebab mereka memberontak, mereka pasti tak mau bekerjasama, penyihir hitam disembunyikan sebagai senjata.” “Allerick berapa sekutu yang telah kau kumpulkan?” tanya Daleka. “Satu Demigod.” “Hanya Demigod?” Ismene nampak tak yakin. “Dia bisa membuat makhluk-makhluk petarung dari tanah, ia juga bisa membelah tanah. Dia sudah lebih dari cukup.” Daleka menggeleng “Seluruh negeri memilih mengumpulkan banyak makhluk kegelapan untuk membasmimu, kau lihat tadi, ada Bumper, tahukah betapa bahayanya letusan bumper?” “Hanya Amren yang mau bekerjasama, ia hanya menginginkan hutan merah sebagai imbalan.” Sebab itu Allerick begitu menjaga hutan merah, sebagai imbalan untuk Amren. Kebencian seluruh negeri memang begitu besar pada Allerick. Mereka terdiam mendeNgarnya, Mor juga tau seberapa sulit mengajak mereka bekerjasama. “Sebenarnya Allerick, aku menyembunyikan keberadaan keberadaan kelompok penyihir putih yang tersisa. Maafkan aku.” Ujar Daleka sesal. “Dimana?” “Mereka tinggal di negeri manusia, menyesuaikan diri disana. Ada sepuluh penyihir putih tersisa. Tak ada makhluk kegelapan yang boleh kesana, namun kami melanggar aturan, maka dari itu aku diam.” “Apa kita perlu kesana?” Usul Rush. “Semakin banyak sekutu yang kita punya, akan semakin baik.” Ujar Mor. “Kita pergi setelah Abraxas lahir.” Allerick tak mau mengambil resiko, ia mau Avyanna dan calon bayinya tetap aman. Semuanya setuju, mereka harus mengumpulkan lebih banyak sekutu.             Avyanna bangun malam hari, Ia langsung meminta beberapa makan malam pada hutan Malgof untuk dimakan. Tapi Avyanna tak bisa keluar untuk makan malam, jadi Allerick menyuapinya di atas tempat tidur “Apa yang kau rasakan?” “Sakit, apa aku terlihat baik-baik saja?” Tanya Avyanna lemah. Allerick terkekeh “Sebenarnya tidak, sepertinya berat badanmu berkurang banyak.” Avyanna menyadarinya, urat-uratnya terlihat jelas, lekukan mata itu pun terlihat dalam, Avyanna tau ia sedang sekarat. “Jika kau tak bisa menahannya, kau bisa menyerah. Ismene benar, terlalu berbahaya jika kau mengandung.” Sejenak Ayanna menatap Allerick bingung, bukankah pria itu lebih mementingkan Abraxas disbanding keadaannya. “Tidak, dia tidak berbahaya.” “Kenapa kau merahasiakan kekuatan pemanggil?” “Aku memanggil Maryllin malam itu,” Avyanna tak ingin menjawab alasannya menyembunyikan kekuatan pemanggil. “Maryllin?” “Unicorn yang kau panah hingga tewas malam itu.” Kini Allerick mengingatnya “Maafkan aku.” Avyanna menetap aneh Allerick “Apa aku salah dengar, kau baru saja minta maaf?” Allerick mendnegus “Diamlah, kau harus istirahat.” Avyanna terkekeh “Kau tidur dimana, mau kuminta satu tenda lagi?” “Tidur disini, kau fikir dengan siapa kau akan tidur, Mor? Atau Rush?” Ketus Allerick. “Baiklah, kemari.” Avyanna menggeser sedikit badannya, membiarkan Allerick berbaring disampingnya. “Allerick, bukalah buku tentang Pure Angel di dalam tas Ismene, aku menyelipkan lukisan keluarga ayahmu disana.” “Kapan kau mengambilnya?” “Ketika berkunjung bersama Rush ketempat Lucius.” “Akan kuperiksa.” Avyanna menggumam, karena kasur itu kecil, keduanya tidur berdempetan, saling memeluk agar tubuh mereka hangat. Jika diluar Querencia masih bersalju, maka di Querencia cuacanya akan sama saja. Damai, tak ada dedaunan yang berjatuhan, seolah semuanya hidup abadi. Allerick membopong tubuh Avyanna masuk bersamanya kedalam danau, dalam diam Allerick membantu Avyanna membersihkan diri, dalam keadaan seperti ini Allerick bisa melihat jelas betapa kurus tubuh itu, Avyanna juga terlihat sakit-sakitan, perutnya malah terlihat lebih besar dengan tonjolan urat yang terlihat jelas. “Kau tau, Querencia memakan waktu kita, pergantian siang dan malam terlihat normal, namun sebenarnya lebih lama dari yang kita duga, satu hari disini bisa berarti satu minggu di luar sana.” “Kau banyak membaca sepertinya.” Kekeh Allerick. “Aku serius, lihat perutku sudah sangat besar.” Allerick melihatnya. “Apa dia masih menendang?” “Lebih keras dari yang kau duga.” Abraxas lebih kuat dari sebelumnya, ia memakan nutrisi sang ibu dengan ganas untuknya sendiri, tanpa memberi sedikitpun pada sang induk. Itulah mengapa Avyanna terlihat seperti sekarat. “Apa kalian sudah merencakan sesuatu untuk menyerang?” “Ya, kau melewatkan banyak latihan denganku.” “Tenanglah, disini tidak boleh memanggil makhluk legenda atau arwah.” Avyanna menatap Allerick “Memang siapa yang ingin kau panggil?” Allerick hanya diam, nampak merenung “Bisakah kau panggilakan arwah ayah dan ibuku, arwah Paman Jackson dan Bibi Maia?” “Akan kupanggilkan, tapi tidak disini.” Keduanya menyelesaikan acara mandi itu dengan cepat, Allerick membantu Avyanna mengeringkan tubuhnya dengan handuk lalu memasangkannya gaun putih panjang yang cantik.             “Kalian sudah kembali?” Rush baru saja selesai berlatih bersama Mor. Sementara Daleka masih sibuk melatih ilmu sihirnya di luar hutan Malgof, Daleka memutuskan melatih ilmu sihir yang lebih besar, oleh karena itu ia butuh ruang yang lebih besar. Sementara Ismene, gadis itu tengah berlatih menyemburkan api dengan berubah menjadi Pheonix di udara, ia berada di luar hutan Malgof bersama Daleka. “Avy, gaun belakangmu basah.” Ujar Rush bingung Avyanna tidak mungkin pipis kan. “Allerick, sepertinya Abraxas akan lahir.” Avyanna memegang perutnya yang terasa begitu sakit, itu adalah aiar ketubannya yang pecah, waktu di Querenciaa belum menunjukan waktu kelahiran Abraxas, namun Avyanna tau ia sudah melewatkan banyak waktu di dalam Querencia. “Panggil Ismene dan Daleka segera.” Allerck membawa Avyanna masuk kedalam tenda, Avyanna meminta peralatan medis dan brakar pada hutan Malgof, Ismene yang kembali dalam bentu Pheonixnya masuk kedalam istana kemudian merubah diri. “Allerick, jaga Avyanna agar tetap sadar.” Ismene membersihkan tangannya, kemudian melihat kondisi Avyanna, Abraxas sepertinya sudah tak dapat menunggu. “Daleka, tolong siapkan kain bersih.” Daleka mengangguk, segeraa masuk kedalam tendanya dan Ismene untuk merubah sebuah baju menjadi kain panjang. Avyanna mencengkram tangan Allerick begitu kuat, ia merasakan perutnya begitu nyeri dan seluruh persendiannya seperti di tarik hingga ngilu. Ismene memeriksa lagi, sepertinya Avyanna akan kehabisan banyak darah, lihatlah darahnya menggenang dipaha “Allerick, bagaimana ini, Avyanna kehilangan banyak darah.” “Ismene, bantu aku.” Lirih Avyanna “Selamatkan Abraxas.” “Tidak Ismene, selamatkan Avyanna lebih dulu.” Putus Allerick. Ismene kini kebingungan, Abraxas akan keluar namun Avyanna sudah kehilangan banyak darah dan Ismene tau Avyanna telah kehilangan banyak tenaganya, uratnya terlihat lebih menonjol dan menjadi keuanguan “Tidak, tidak bayi ini juga menyerap darahmu Avy!” Avyanna tau, wanita itu merasakan betapa hancur tubuhnya kini, Avyanna berusaha mengambil sisa tenagan yang ia puanya, ia tarik nafas panjang kemudian berusaha melahirkan seorang diri sebab ia tau Ismene tak akan tega membiarkan kondisinya lebih buruk dari ini. “Kau gila.”Desis Ismene tajam, pada akhirnya Ismene menyerah, membantu Avyanna melahirkan “Terus Avy, lakukan sekuat tenaga untuk satu kali dorongan!” Avyanna menurut, wanita itu mengambil nafas panjang, berusaha untuk tetap sadar dan ia mendorong dalam sekali dorongan, bunyi tulang rusuk yang retak beberapa kali bersamaan dengan suara tangisan bayi yang keluar membuat Allerick diam membisu. “Avy!” Ketika ia lihat lagi, Avyanna sudah tak sadarkan diri Allerick mengecek denyut nadi Avyanna, dan nadai itu berdetak begitu lemah, Allerick putuskan untuk membersihkan tubuh Avyanna dan membekukan tubuh itu agar Avyanna tetap tidak sadar sampai ia menemukan solusi untuk mengembalikan tubuh itu seperti semula. Allerick memindahkan tubuh Avyanna yang telah bersih ke kasur sementara Ismene membersihkan Abraxas di bantu Daleka yang langsung membalut tubuh bayi itu dengan kain. “Sangat tampan.” Daleka mengelus pipi Abraxas yang kemerahan dengan pelan, Allerick menghampiri bayi itu, ia bisa melihat kulit tembaganya di miliki oleh Abraxas, dan rambut sehitam arang itu miliknya. “Ini,” Ismene membantu Allerick menggendong Abraxas. Allerick menggendorng bai itu dengan canggung dan penuh ketakjuban, Abraxas membuka matanya, dan Allercik sadar mata itu adalah mata Avyanna, mata sebiru samudra yang begitu indah dan menghipnotis. “Allerick, lihat tanda ini.” Ismene menunjuk tanda di bahu Abraxas, tanda lingkaran hitam di luar, lingkaran kedua yang berada di lingkaran hitam berwarna merah dan lingkaran terakhir berwarna putih. “Tanda tiga klan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN