Sebelum kalian mulai ke part selanjutnya, aku mau berterimakasih dulu nih buat yang selalu nunggu part baru update, padahal lama, tapi gapapa kan guys kan aku updatenya sehari langsung banyak (pembelaan) haha, makasih yang udah baik banget buat tap love.
Oh ya, special thanks juga nih buat @Fian Fino readers yang setia banget komen dari awal, sama makasih buat @Nhia Nemo, baik banget sihh kalia komen terus. Makasi ya, i really apreciate it.
Segitu dulu sebelum kena timpuk, selamat membaca semuanya.
Chapter 18
Darah Hybird dan Sang Mate
“Bagaimana ini, Avyanna belum bisa member asi pada Abraxas, dan kita tidak bisa meminta pada hutan Malgof.” Ujar Ismene gusar, sedari tadi bayi it uterus menangis keras, ini sudah hari ke dua Avyanna tak sadarkan diri karena Allerick membekukannya.
Mereka hanya memberikan air hangat pada Abraxas sebagai pengganti asi, Rush dan Mor juga sudah menjelajah hutan untuk mencari makanan dan tak ada yang dapat dimakan jika tak meminta pada hutan Malgof.
Abraxas yang berada di gendongan Allerick kembali menangis, Daleka merasa buruk karena tak bisa menyihir sesuatu untuk dimakan atau menyihir sesuatu sebagai asi, Daleka tidak memiliki kekuatan itu, mungkin bisa saja air itu berubah menjadi asi tapi tekniknya air itu tetaplah hanya air.
Allerick berfikir lamat “Darah Hybird menyembuhkan, Ismene kau tau itu.”
Ismene tersenyum lebar, kini gadis itu mengangguk ia tau apa yang harus dilakukan dan yang lain bernafas lega, setidaknya mereka menemukan jalan keluar.
Ismene meminta Daleka menyiapkan sebuah gelas untuknya, sementara Ismene kini berubah menjadi burung Pheonix, sebelumnya Ismene telah menyuruh Daleka melukainya, Daleka dengan tak tega menyayat bagian paha burung Pheonix darah burung itu menetes pada gelas, Ismene kembali ke bentuknya setelah merasa darahnya cukup tertampung.
“Kau baik-baik saja?” Tanya Mor.
Ismene mengangguk, Daleka segera mengambil ramuan penyembuh di dalam tendanya lalu memberikannya pada Ismene untuk disiram di bagian paha.
Allerick memberikan Abraxas pada Daleka untuk diberi rebusan air hangat karena sepertinya Abraxas benar-benar kelaparan, Allerick dan yang lain masuk kedalamm tenda Avyanna, Allerick melepaskan segel di tubuh itu, keadaan Avyanna masih sama seperti terakhir kali,
“Kau pernah menyembuhkan dengan darah Hybird sebelumnya?” Allerick menatap Ismene sebelum ia benar-benar memberikan Avyanna meminum darah Ismene/
“Sudah, waktu pemulihan bisa sampai satu jam, itu waktu tercepat.”
“Baiklah,” Allerick meneteskan seteguk darah Hybird kedalam mulut Avyanna.
“Kerusakan di tubuh Avyanna sangay parah,” Lirih Daleka.
Allerick meminta yang lain keluar, sementara diam-diam Allerick membantu proses penyembuha Avyanna dengan kekuatan sang mate, Allerick memgeang daerah tulang rusuk Avyanna yang retak, dan dalam cahaya putih yang melingkupi suara tulang yang diperbaiki membuat Allerick tersenyum, waktu berlalu, Allerick bisa melihat perubahan rona wajah Avyanna, perlahan urat-urat keunguan mulai tak terlihat, tubuh Avyanna seperti di regnerasi, kembali seperti semula, sebelum ia hamil.
Allerickk tersenyum memandang Avyanna yang kini telah kembali seutuhnya, perlahan mata wanita itu terbuka, dengan nafas pelan beraturan Avyanna membuka matanya perlahan, yang pertama ia temukan adalah Allerick yang menatapnya bangga dengan senyuman, lalu Avyanna di bantu duduk oleh Allerick, ia kira akan sangat sakit ketika ia terbangun, namun semua terasa normal dan tubuhnya begitu bugar.
“Abraxas?”
“Keluarlah dan temui dia,” Allerick membantu Avyanna berrdiri, di luar tenda semua orang menunggunya dengan cemas, senyum merekah terlihat jelas ketika Avyanna berhasil berdiri dengan keadaan yang sangat baik di hadapan mereka.
Avyanna menatap bayi dalam gendongan Daleka, Avyanna berjalan menghampirinya, Daleka menyerahkannya pada Avyanna, dan bayi itu langsung terdiam dari tangisnya, tampak damai dalam gendongan sang ibu. Avyanna tau Abraxas kelaparan “Aku akan menyusuinya,” Ujar Avyanna.
Sebelum itu Avyanna meminta makanan dan air bersih untuk diminum untuk yang lain “Makanlah Allerick,”
“Kau juga harus makan,” Allerick memutuskan makan di dalam tenda bersama Avyanna sementara wanita itu menyusui Abraxas, bayi itu langsung menyusu dengan sangat lahap, Avyanna terkekeh pelan melihatnya.
“Pelan-pelan.” Ujar Avyanna lembut. Allerick menatap pemandangan itu dengan takjub, ia tak pernah menduga ia bisa memiliki seorang keturunan dan keluarga kecil.
Allerick makan bersama Avyanna dalam diam, mereka sibuk memperhatikan Abraxas yang nampak tidur dengan damai setelah cukup lama menyusu.
“Dia mirip denganmu.” Avyanna membelai kepala Abraxas.
“Manya mirip denganmu.” Ujar Allerick.
“Dia sangat kecil.” Avyanna terkekeh, Avyana menidurkan Abraxas di tempat tidur, ia menatap Allerick “Berapa lama aku tidur?”
“Dua hari.”
“Jadi, kalian memberikan makanan apa pada Abraxas?”
“Kami merebus air hangat, hanya itu yang bisa ia konsumsi, hutan ini tak menyediakan makanan apapun.”
Avyanna terkekeh, pantas saja mereka berseru girang ketika dengan pengertian Avyanna memintta makanan pada hutan Malgof.
“Apa yang akan kau lakukan setelah ini?”
Allerick terdiam “Kita akan menunggu Abraxas cukup besar untuk ikut ke negeri manusia, Daleka bilang masih ada sepuluh penyihir putih yang tersisa di negeri manusia, mungkin mereka mau di ajak bekerjasama.”
“Disini latihlah kekuatan masing-masing, dan nikmatilah waktu damai disini sementara.”
“Avy, akhirnya kau bangun, kami akan mati kelaparan jika kau tak kembali!” Seru Ismene girang.
Avyanna keluar dari tenda bersama Abraxas di gendongannya, semenjak Avyanna bangun Abraxas sudah jarang menangis, mungkin kini perasaanya lebih tenang.
“Bagaimana kalian menyembuhkanku?”
“Darah Hybird.” Jawab Rush.
Avyanna langsung menatap Ismene penuh terimakasih “Terimakasih Ismene.”
Ismene membalasnya dengan senyuman “Kalian mau kumintakan apa pada hutan Malgof katakanlah.”
“Buatkan saja kami ruang berlatih.” Usul Mor.
Avyanna mengangguk, dalam hati ia meminta ruang berlatih di luar hutan Malgof, ruangan kedap suara dan kokoh untuk berlatih, sementara ia meminta ruang penuh bebauan untuk Allerick melatih kekuatan penghancurnya.
“Sudah, ada di luar hutan Malgof.” Avyanna tersenyum.
“Terimakasih Avy.” Ujar Daleka.
Yang lain sedang sibuk melatih kemampuannya sementara Avyanna disibukan dengan Abraxas, bayi itu memang tidak rewel, namun entah kenapa ia tak mau menjauh dari Avyanna, bahkan ketika Allerick menggendongnya saja, Abraxas malah menangis.
“Avyanna menimang Abraxas di pangkuannya sementara itu ia melihat Allerick dan yang lain berlatih, Allerick menghancurkan bebatuan itu dengan lebih cepat, dalam hitungan detika ketik, ia juga melatih kekuatan Fatamorgana miliknya secara rutin, kekuatan Ismene dalam bentuk Pheonix yang bisa menyemburkan lahar api serta membantu orang bepindah tempat semakin hebat, Ismene juga banyak berlatih membuat ramuan, sementara Rush ia berlatih senjata bersama Mor, kekuatan bertarung mereka sudah tak di ragukan lagi, Daleka, penyihir putih itu banyak menghafal mantra pertarungan untuk lebih waspada.
Sementara Avyanna, ia sibuk menjaga Abraxas dan sesekali membaca dalam waktu senggang, ia belum terlalu melatih kekuatan penghancur sayapnya, mungkin nanti.
“Dimana Abraxas?” Allerick baru kembali bersama yang lain ketika makan malam.Hutan Malgof sudah menyiapkan peralatan makan malam dan beberapa makanan telah tersedia di atas meja.
“Sedang tidur.” Avyanna ikut duduk bergabung di samping Allerick.
“Dia sangat menempel padamu Avy,” Kekeh Mor.
“Ya, bayi itu pemilih.” Ketus Allerick, mungkin ia masih tak terima Abraxas yang tak mau di gendong dengannya.
Allerick menariknya ke luar hutan Malgof setelah meminta Ismene mangawasi Abraxas.
Mereka tengah berada di ruang berlatih “Kau belum malatih kekuatan penghancurmu.”
Avyanna mengangguk ia ditemani Allerick berlatih semalaman malam itu, sampai Ismene datang memanggil mengatakan Abraxas terbangun dan mungkin kelaparan.
Mereka kini berada di tenda, Avyanna tengah member asi pada Abraxas yang nampak kehausan, Avyanna selalu takjub akan Abraxas, bayi itu benar-benar mirip Allerick namun terlihat tidak suka pada Allerick “Uh, tanda apa ini?” Avyanna baru memperhatikan dengan jelas tanda di bahu Abraxas.
“Tanda tiga klan.” Jawab Allerick,
“Apa artinya?”
“Ada darah tiga klan yang mengalir dalam tubuhnya.”
Avyanna mengangguk pelan “Lalu, apa Abraxas akan memiliki kekuatan?”
Allerick menggeleng pelan “Belum di ketahui, dia masih bayi,”
Avyanna menghembuskan nafas pelan, bagaimanapun Abraxas nanti, bagi Avyanna Abraxas adlah bayi dimata Avyanna.