Chaper 6

1495 Kata
Chapter 6 Fatamorgana Beberapa hari ini Allerick tak terlihat, Avyanna tidak bermaksud mencari keberadaan pria kejam itu, namun cukup aneh rassanya tak ada yang mengunjungi kamarnya tengah malam, seperti yang biasa Allerick lakukan. Meski kadang Avyanna hanya ura-pura tertidur, ia tau Allerick sering memperhatikannya saat terleleap. Sudah terhitung sebulan Avyanna di tawan, Avyanna tau ia tak akan pernah bebas, ia tau ia terikat dengan Allerick selamanya, namun ia bisa pergi. Avyanna tau itu, yang ia fikirkan adalah bagaimana caranya? Avyanna cukup tau kekuasaan dan kekuatan Allerick, bisa-bisa pria itu membinasakannya sebelum sempat mengandung anaknya, Avyanna diam-diam mengelus perutnya. Apa iya, dia bisa mengandung anak Allerick. Avyanna berjalan ke ujung balkon, berdiri disana dengan gaun tidur berwarna putih yang diberikan pelayan untuknya, ia kadang merasa aneh, ketika semua orang di istana berpakaian hitam, hanya dirinya yang berpakaian terang. Suasana malam itu sama seperti malam sebelumnya, ada beberapa pengawal berjaga di setiap pintu istana, lapangan yang setiap hari ramai karena latihan pertahanan kini sunyi, istana Allerick sangat membosankan bagi Avyanna, terlalu menyeramkan, kadang Avyanna takut tersesat, ia takut dengan lorong-lotong aneh yang entah kemana akan membawanya, ia kerap kali meminta Layla mengajaknya berkeliling, namun Layla tak pernah berkata iya, katanya harus Allerick yang membawanya berkeliling karena ada beberapa ruangan yang mungkin tidak diijinkan di tapaki orang lain selain Allerick. Avyanna menyipitkan matanya ketika melihat cahaya putih yang begitu terang menyilaukan pandangannya, dari atas balkon Avyanna tau ada yang salah, ketika cahaya itu menghilang, sudah tak ada hutan merah menyala disana, hanya ada hutan hijau. Lalu dari kejauhan, ia melihat Allerick mengepakan sayapnya keluar dari area hutan bersama  Mor. Avyanna segera mundur, tatapannya dengan Allerick bertemu, maka dengan langkah pelan Avyanna berbalik, masuk kedalam kamarnya. Namun jantungnya berdebar, siluet sayap mengepak di luar, pasti Allerick, Benar saja, pria itu masuk kedalam kamarnya, menemukan Avyanna yang nampak gugup memandangnya seolah baru saja tertangkap basah. “Aku ingin mandi,” Avyanna mengernyit, kini Allerick telah menghilangkan sayapnya, Kepulan asap hitam telah menghilang,, pria itu membuka pakaiannya. “Siapkan air hangat untuku.” Avyanna mendengus, namun ia tetap mengerjakannya. Ia siapkan semua perlengkapan mandi pria itu, ketika sudah selesai, Avyanna keluar, menemukan Allerick tengah mengenakan jubah mandi miliknya, Avyanna tau Layla menyediakan pakaian Allerick dikamarnya. Karna kadang, entah ketika suasana hati pria itu tengah bagus ia akan tidur di samping Avyanna hingga matahari menjelang. “Mandilah,” Allerick melewati Avyanna. Entah kenapa, mungkin karena beberapa hari bertemu, kini dimata Avyanna Allerick terlihat begitu tampan, entahlah, mungkin hanya perasaaanya saja. Namun yang lebih Avyanna fikirkan sekarang adalah, kemana hutan mereah menghilang? Apa Allerick pelakunya, bagaimana bisa? Apa kekuatan Allerick sehebat itu? Jika begitu, maka kesempatan kabur untuk Avyanna akan semakin sulit, atau dia tidak akan pernah bisa kabur dari Allerick? ~~~ “Apa hutan merah masih tak terlihat?” “Tidak Tuan, seperti yang saya prediksi, kekuatan Fatamorgana benar-benar menjadi milik anda, namun kita perlu waspada, mungkin saja nona Avy sudah menguasai kekuatan lain namun ia belum menyadarinya.” Jelas Mor. Allerick menatap tajam sasarannya, sebuah burung di ikat terbalik di depannya, jaraknya cukup jauh, Allerick memusatkan fikirannya kemudian dalam sekejap meloloskan anak panahnya tepat memusnahkan burung itu. Allerick tersenyum puas “Aku ingin kau cari tau, bagaimana cara menguasai kekuatan membaca memori milik Avyanna, secepatnya. Aku tidak bisa membunuhnya nanti jika ia masih menguasai kekuatan yang harusnya menjadi miiliku.” Mor mengangguk. “Allerick,” Avyanna  meminta Mor menjauh, ia ingin berbicara dengan Allerick, perempuan dengan gaun berwarna biru muda itu tampak memukau, bahkan beberapa pengawal Allerick tanpa sadar menatap Avyanna penuh takjub. Allerick, menatap tajam Mor yang juga sedang menatap Avyanna tanpa kedip. Mor gelagapan, pria itu menunduk hormat kemudian memilih berlalu. “Apa?” Ujar Allerick ketika sudah memastikan tak ada yang memandangi matenya. Avyanna menoleh kebelakang, merasa aneh karena tiba-tiba suasana berubah. “Aku bosan, bisakah kau ajak aku berkeliling?” Avyanna berusaha sehalus mungkin, ia tau kemungkinan Allerick akan luluh sangat sedikit, karena seperti yang Avyanna tau priaa itu hampir tak memiliki hati. “Aku mau imbalan.” Ujar Allerick. Avyanna tau pria itu selalu ingin di untungkan, maka Avyanna mengangguk saja, ia tau imbalan apa yang pria itu maksud, bercinta dengan Avyanna. “Bagus, ayo.” Avyanna kini berjalan bersama Allerick, hanya berdua, karena Mor dan Layla tidak dibutuhkan untuk saat ini. “Kenapa istana ini sangat seram.” Avyanna tanpa sadar mengucapkan apa yang selama ini di fikirannya. Allerick hanya diam malas menjawab, ia membuka sebuah pintu besar, lalu sebuah patung srigala menyambut mereka, Allerick menatap patung itu “Dia Avyanna, perbolehkan dia masuk kapanpun ia mau.” Avyanna mengernyit, Allerick berbicara pada patung itu seolah patung itu hidup dan akan mendengarkan perintahnya. “Baik tuanku.” Avyanna hampir sontak bersembunyi dibalik punggung Allerick, ketika si patung srigala itu berubah menjadi srigala. Allerick mengangguk, lalu membawa Avyanna berjalan menyusuri lorong, gelap, namun Avyanna tak takut sebab ada Allerick disampingnya. Allerick membuka pintu kemudian mengijinkan Avyanna masuk lebih dulu. Avyanna bersumpah ia tak pernah mengira Allerick punya tempat seindah ini di dalam istananya. Hutan hijau dengan cahaya matahari menyusup indah, batuan alam disamping air terjun dengan air biru jernih benar-benar memanjakan mata Avyanna, ditambah bunga-bunga yang beremekaran indah di dekat air terjun. Avyanna mengabaikan keberadaan Allerick untuk sesaat, ia mendekati kolam air terjun, ketika ia menginjak bebatuan di pinggir dan pantulan dirinya terlihat di air danau, ia benar-benar takjub. Lalu Avyanna menatap Allerick yang masih berdiri di belakangnya, nampak santai “Kenapa tidak bilang ada tempat seindah ini?” Allerick mengangkat bahu acuh “Kau tidak terlihat bosan dengan istanaku.” “Aku bosan, istanamu itu hanya penuh dengan barang-barang menyeramkan, gelap gulita tak berwarna sama sekali.” Avyanna mendengus. “Boleh aku tinggal disini?” “Tidak.” Ketus Allerick. Avyanna mendelik, mengabaikan pria dingin itu, ia sibuk menjelajahi hutan kecil itu, lalu langkahnya terhenti “Allerick ini semua buatan?” Ya Avyanna tau semua itu buatan, kenapa ia baru mengerti sekarang, ini hutan buatan, air terjun buatan, semuanya buatan, letaknya tersusun rapi seolah letaknya disesuaikan, ditambah, di belakang bebatuan besar dekat air terjun, Avyanna bisa menemukan rumah kaca, ada banyak pot tumbuhan disana, lalu Avyanna masuk, Allerick tetap mengikuti Avyanna dari belakang. Avyanna tak bisa menahan keterpukauannya, di tengah rumah kaca itu, ada sebuah foto keluarga. Ada seorang Raja dan Ratu, di gendongan sang ratu ada sang bayi, matanya mirip seperti Allerick. “Orang tuamu?” Avyanna menoleh pada Allerick, pria itu menatap dalam foto keluarganya. Allerick tak menjawab, Avyanna merasa canggung untuk ikut campur lebih banyak, meski dalam hati ia sangat ingin tau semua tentang Allerick. “Allerick lihat,” Avyanna menunjuk sebuah tumbuhan, kecil, bergerak ke kiri kemudian ke kanan, ia terlihat seperti bayi, bawahnya gemuk, lalu daunnya memanjang seperti tangan, di tambah atasanya bulat seperti kepala. “Ini tumbuhan apa?” "Baby breath.Obat untuk orang yang kesulitan bernafas, ia akan menghasilkan gas yang dapat membuat penderitanya dapat menghirup gasnya kemudian merasa lebih baik." "Semua ini tumbuhan obat?" Avyanna memandang ruangan kaca itu takjub, bentuk tumbuhan milik Allerick semuanya aneh, meski begitu Avyanna tetap penasaran di buatnya "Boleh aku sering kesini?" Avyanna memandang Allerick penuh harap. Allerick tertegun sejenak, mata semudra itu berbinar-binar penuh permohonan, tanpa sadar Allerick mengangguk, ia terkejut sendiri, lalu ia menggeram "Jangan berani-berani merusak tanamanku." Avyanna mengangguk antusias, lalu hari itu Avyanna sibuk di temani Allerick di dalam ruangan rahasia Allerick. ~~~ Malam menyambut kedua insan itu, mereka tengah beridiri di pembatas balkon kamar Avyanna setelah makan malam selelsai, entah kenapa Allerick tak sibuk seperti biasa, semestinya Allerickk akan langsung pergi, entah kemana bersama Mor. Pulang tengah malam, kemudian datang ke kamar Avyanna tengah malam, seperti biasa meminta Avyanna melayaninya. "Biasanya kau pergi bersama Mor?" Avyanna tak tahan untuk bertanya, ia penasaran. Semua tentang Allerick membuatnya haus ingin tau, namun ia tau informasi tentang Allerick begitu mahal.  "Kaumu berhasil menembus pembatas, tapi aku sudah mengatasinya."  Avyanna mengernyit, "Bagaimana kau menghilangkan hutan merah?" Allerick menatap Avyanna sebentar,sebelum keduanya memandang hutan merah yang memang sudah hilang "Kekuatan baruku, membuat apa yang sebenarnya ada tak terlihat." "Fatamorgaana?" Allerick menggumam "Aku tau kau berniat kabur dariku, tapi itu tak akan pernah bisa." Avyanna membola "Apaa kau membaca fikiranku?" "Tidak, kita terkoneksi, seharusnya mudah juga untukmu membaca mate mu." "Aku tak pernah bisa membaca pria dingin dan kejam sepertimu." "Apa kau baru mengatai suamimu." Avyanna tertawa nyaring "Aku bahkan lupa kita pernah menikah." Keadaan hening seketika, Allerick menatap Avyanna tajam. "Biar aku ingatkan," Allerick mengeluarkan sayap hitamnya seketika, membawa Avyanna kedalam gendongannya, membawanya terbang lalu menghempasakan Avyanna ke atasa kasurnya. "Bisakah kau tidak pamer kekuatanmu?" Avyanna mendengus, sementara Allerick mengankat bahu acuh, Allerick menatap Avyanna sekilas "Aku suka warna matamu." Avyanna tertegun, apakah Allerick baru saja memujinya? Keduanya diam cukup lama dalam pandangan yang hanya mereka yang mengerti, lalu entah siapa yang memulai, kedua bibir itu beradu, tangan kekar Allerick mulai berkeliaran, menjelajah tubuh indah Avyanna. Dan Avyanna hanya diam, menikmati meski nalarnya berkata, Allerick hanya bermain. Tidak boleh ada hati yang terlibat, seperti Allerick yang terlihat jelas hanya menganggap Avyanna penyempurna kekuatanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN