AFTER WAR 5

1449 Kata
AFTER WAR 5 Princess of Moonbow             “Jadi dia gadis yang dimaksud Asteria. Princess Moonbow?” Amren menyingkap helaian rambut Sera, melihat tanda klan Moonbow disana, jika rakyat Moonbow biasa memiliki tanda bulan sabit berwarna hitam, maka pemilik darah Pure Moonbow memiliki tanda bulan penuh berwarna keemasan, sebagai simbol dialah si penguasa cahaya bulan, dalam tangannya cahaya bulan baik bisa melenyapkan, dialah Putri klan Moonbow yang hilang. “Bagaimana dengan lukanya?” Avyanna merasa bersalah karena telah membiarkan Amren menyetir sebuah mobil, tentu saja meski Amren memiliki kekuatan, tapi itu tidak menjamin Amren tidak ceroboh. Avyanna sudah mengoleskan ramuan untuk luka ditubuh Sera, gadis ginger dengan mata Ivy cantik itu masih dalam keadaan tidak sadar. Sementara Abraxas, kebingungan, kenapa Sera bisa berada di luar istannya, terhindar dibawah pengawasan sang ayah. Terlebih gadis itu menerobos hujan, kurang gila apalagi dia. Pakaian tidurnya yang pendek itu pun mengganggu Abraxas. “Kenapa Momma tidak membaca memorinya saja?” Usul Abraxas. Kini semua orang menatap Avyanna bergantian “Apa itu sopan?” “Kita tidak mementingkan itu sekarang.” Ujar Allerick pelan. Avyanna mengangguk mengerti, jiwa Pure Angelnya tentu mengatakan itu tindakan tak sopan, namun Allerick meyakinkannya, kini itu bukan hal penting. Avyanna menggenggam tangan Sera perlahan, karena Sera dalam keadaan tidak sadar, maka Avyanna bisa membaca memorinya, cahaya bulannya melemah. Avyanna membaca memori Sera beberapa jam sebelum mobil mereka menabraknya, ia memperhatikan kamar super luas gadis itu, kegiatan aneh lainnya adalah Sera membuang s**u diatas nakasnya lalu berpura-pura tidur, sampai ada seorang pria dewasa yang masuk ke kamarnya, duduk di samping kasurnya, Avyanna perkirakan itu adalah ayah Sera, pria itu memanggil nama Bree, Avyanna ingat, Bree adalah nama putri klan Moonbow yang kabur, jadi benar dugaan mereka kalau Sera adalah anak dari Bree, dan pria yang kini mendekatkan wajahnya pada Sera adalah ayahnya. Avyanna berusaha untuk tak kehilangan fokus setelah mengerti apa yang terjadi, ia sampai pada Sera yang berteriak dengan gemetar, menatap sang ayah kecewa dan memutuskan kabur dari rumah. Avyanna melepaskan tangannya dengan perlahan, menetap Sera kasihan “Apa?” Allerick bertanya dengan tak sabar. “Tidak perlu dibicarakan, aku rasa itu terlalu pribadi.” Avyanna berujar mutlak. Semua pria itu pun mencoba mengerti. Mereka memilih keluar, namun tidak dengan Abraxas ia menutup pintu kamar tamu, kemudian menarik sang Momma ke lorong, membiarkan Allerick dan Amren pergi tanpa menoleh kebelakang. “Tolong biarkan aku tau Momma.” Abraxas melembut, memohon. Avyanna menatap Abraxas heran, biasanya anak itu tidak perduli meski ada yang mati dihadapannya sekalipun, selama itu bukan orang tersayangnya. “Abraxas, itu memalukan.” Abraxas terdiam “Hanya aku Momma, aku janji.” Avyanna menarik nafas pelan, menatap tidak enak pada pintu kamar yang ditempati Sera “Ayahnya hampir melecehkannya.” Avyanna bisa melihat rahang Abraxas mengeras setelah itu, sampai pria itu melepaskan diri dan berlalu entah kemana.             “Jadi, dia benar-benar putri Moonbow yang hilang?” Amren membuka suara, menatap keempat orang yang duduk memutari ruang tamu, ditengah perapian yang menyala, sementara diluar masih diguyur hujan. “Iya, aku membaca memorinya dan mengetahui Ibunya bernama Bree.” Jawab Avyanna. “Dan rambut ginger dengan mata ivy itu, jelas dia dari bangsa imortal.” Tambah Allerick. “Jadi apa?” Asteria memutuskan bertanya, dia mulai bosan dengan pembicaraan seputar gadis ginger itu. “Beri aku satu keuntungan menolong klan Moonbow.” Putus Allerick. Amren mendengus, pria berdarah dingin itu memang tak berubah “Klan Moonbow memberi kekuatan bulan, seperti yang kita tau kaum srigala kehilangan control diri mereka ketika bulan purnama muncul, kita bisa mengambil keuntungan dengan bekerjasama bersama klan Moonbow, meminta mereka mengendalikan cahaya bulan untuk klan srigala.” “Klan Moonbow juga ditakuti karena pemilik darah Pure Moonbow bisa menghancurkan siapapun dengan cahaya bulan, bekerjasamalah dengan gadis itu, buat garis bulan untuk kaum pemberontak dan damai.” Allerick kini merasa tertarik “Baiklah, latih gadis itu mengendalikan kekuatan klannya, sembunyikan dia didaerah kekuasaanku, kita kembali ke negeri immortal secepatnya.” “Kau Abraxas jelaskan apa yang terjadi pada gadis itu.” “Tidak Dad, aku yang akan pergi. Kalian akan tinggal disini.” Putus Abraxas. Amren menatap Abraxas bangga “Benar Allerick, kau sudah cukup tua bangka untuk memimpin klan.” “Kau lebih tua dariku sialan.” Ketus Allerick. Avyanna mendelik, menutup telinga Asteria, menatap tajam kedua pria tua itu bergantian. “Ups.” Amren berdiri, memilih kembali kekamarnya, berniat untuk kembali bersama keluarga aneh itu setelah membawa Sera.             Abraxas bersandar didekat pintu kamar Sera, semua luka gadis itu sudah menghilang setelah diberikan ramuan oleh Avyanna. Abraxas terus menatap tajam pada gadis itu, sejak awal Abraxas memang curiga kalau gadis itu bukan gadis biasa, kehadirannya di kelas hari itu dan tatapan mata Ivynya membawa getaran aneh bagi Abraxas. Ia masih ingat sejak kecil ia dilatih berperang oleh Allerick, ikut berperang sejak kecil, tahtanya mungkin belum diberikan, tahta sebagai raja dari 3 klan, menggantikan Allerick, sebab Abraxas belum menemukan matenya, Allerick bilang akan memberikan tahtanya setelah ia memutuskan matenya, Abraxas tidak mengerti apa maksudnya, apa yang harus ia putuskan jika matenya hanya stau, Avyanna menyuruhnya menemui Desponia ketika mereka kembali nanti, mereka tidak pernah memutuskan untuk kembali setelah perang, Rush adalah kaki tangan yang dipercaya Allerick sampai saat ini setelah Mor yang meninggal saat perang dulu, terlebih Avyanna menganggap kehidupan di negeri mortal menangkan baginya, Abraxas tau banyak kenangan buruk bagi Avyanna di istana. Terlalu larut dalam lamunannya, membuat Abraxas mengabaikan Sera yang kini mulai terbangun, melenguh pelan, gadis itu meraba bajunya yang telah diganti menjadi sebuah dress berwarna putih, ia ingat apa yang terjadi sebelumnya, matanya menatap sekitar “Kau!” Abraxas langsung menatap Sera yang nampak terkejut menatapnya “Kau masih hidup?” Tanyanya dengan ketus. Sera yang hendak marah-marah hanya mendengus “Kau yang menabrakku?” “Kau yang tak melihat mobil kami,” Abraxas menghembuskan nafas pelan “Ada yang harus aku katakana segera, ikut aku.” Abraxas membuka sebuah portal didepannya, ia lupa kapan terakhir kali ia membuka portal ke kerajaan sang ayah. Sera yang melihat itu merasa takjub, gadis itu segera berdiri, sedikit oleng, Abraxas menarik Sera berdiri disampingnya, tanpa ragu membawa gadis itu masuk kedalam portal. Ternyata Abraxas mengubah tujuan portalnya, ia urung membawa Sera ke istana, melainkan ke hutan Malgof, tempat yang mungkin lebih baik untuk menjelaskan semuanya pada Sera. Abraxas tau gadis itu memiliki banyak pertanyaan dikepalanya, ia sedang meneliti keadaan. “Tidak ada orang disini?” Sera masih sibuk melihat sekitar, dengan perasaan takjub dan tak percaya. Ia suka membaca beberapa buku fantasi, tidak berharap dunia selain dunia manusia ada, tapi kini semua ini nyata, dan ada salah satu sosok fantasi didepannya. Bagaimana jika oang-orang di dunia manusia tau, apa mereka akan tetap memuja Abraxas. “Ini hanya sebagian tempat, hutan Malgof, kau tau tanda bulan penuh di belakang lehermu?” Sera menyentuh lehernya, tanda itu memang aneh, seringkali Sera berfikir begitu. “Ini tanda lahirku.” Sera terdengar tidak yakin, warnanya keemasan dan bentuknya mirip bulan, seringkali tengkuknya terasa aneh ketika bulan purnama, ada perasaan seperti memiliki energy yang terisi kembali, raganya terasa lebih kuat. “Kau adalah Princess Moonbow yang hilang.” Abraxas tidak mau berbasa-basi, ia juga tau Sera kerap merasakan perasaan aneh yang tak ia mengerti dari tanda lahir itu, suara tak yakin ketika menyebut tanda itu adalah tanda lahir. Alis Sera terangkat “Princess Moonbow.” Dia terkekeh di akhir kalimatnya. Abraxas mendengus, dalam hatinya ia menyebutkan sebuah permintaan pada hutan Malgof, ketika didepan mereka muncul sebuah gelombang menampilkan apa yang terjadi di klan Moonbow, Sera dan Abraxas terdiam, seluruh rakyat Moonbow tengah dirantai dipinggir pantai, memaksa mengeluarkan cahaya bulan terakhir untuk memperkuat klan Aequareal, lautan itu bercahaya, tapi tidak seluruhnya, Abraxas tidak tau apa yang terjadi pada klan penguasa lautan itu, Sang Raja dengan wajah pucat dan tanda biru menjalar di tubunya itu murka “Sialan! Segera temukan Princess Moonbow yang hilang!” Abraxas mengusap gelombang didepannya, menatap Sera yang merasa kehilangan udara disekitar “Kau, Princess Moonbow, kau pemilik kekuatan cahaya bulan terbesar.” Sera berulangkali membuka mulutnya, namun tak ada kalimat yang keluar, gadis itu menatap Abraxas, melirik sekitar, dan sial ini semua nyata “Taapi orang tuaku adalah manusia biasa Abraxas.” “Bree, Ibumu adalah putri Moonbow yang kabur, dia menikahi manusia, dan itu melawan takdir bangsa immortal, itulah alasan dia meninggal setelah melahirkanmu, dia memberikanmu seluruh kekuatannya, jadi sekarang kaulah pemilik kekuatan bulan terkuat.” “Tapi aku manusia biasa, aku tidak memiliki kekuatan apapun.” “Tempatmu bukan disana, ikutlah dengan kami, kami akan membantumu melatih kekuatanmu yang terkunci, selamatkan Klan Moonbow, mungkin itu yang ibumu inginkan.” Sera terdiam lama “Aku tidak tau apapun tentang dunia ibuku.” “Kau akan membutuhkanku, kau tidak punya banyak waktu untuk berfikir, Klanmu mmebutuhkanmu secepatnya.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN