AFTER WAR 4

1774 Kata
Chapter 4 Runaway             Seluruh bodyguard kediaman Winter dikumpulkan, mereka di hajar satu persatu oleh Jasper “Menjaga satu anak gadis saja kalian tidak becus!” Teriak Jasper, Sera duduk di sofa ruang tamu, terdiam memperhatikan betapa murka sang ayah karena ia hilang dari radar pengawasannya, ayahnya memang seberlebihan itu, memberinya banyak bodyguard selain Theo yang mengikutinya diam-diam, mengaktifkan gps di ponselnya, membuntuti Sera kemanapun ia pergi, namun tadi mereka lengah, Sera meninggalkan ponselnya mati, kabur dari kampus setelah memeberitahu kalau ia masih punya satu kelas lagi untuk diselesaikan. “Maafkan kami Mr. Winter.” Jefrrey, pimpinan para bodyguard yang sudah babak belur itu membungkuk hormat diikuti yang lain termasuk Theo. “Pergi sebelum aku membunuh kalian semua!” Teriakan terakhir Jasper menggema, membuat mereka berlalu pergi secepat yang ia bisa, kini Jasper menatap Sera yang nampak diam sedari tadi, biasanya gadis itu akan mengamuk dan membela Theo dan Jefrey ketika sang ayah murka atas kesalahannya, namun gadis itu terlihat shok dan memikirkan banyak hal. “Apa yang anak itu lakukan padamu?” Sera mendongak, menatap ayahnya yang marah, Sera tau ayahnya tengah berfikiran negatif soal Abraxas, karena untuk pertama kalinya Sera bersama seorang pria, dan pulang larut malam, terlebih ia tau wajahnya tidak terlihat baik-baik saja sekarang, Sera tengah memikirkan hal buruk tentang kejadian barusan, siapa Abraxas, siapa keluarganya sebenarnya? “Sera!” Gadis itu tersentak menatap Jasper linglung. “Ayah, aku sangat lelah, jika ayah berfikir macam-macam soal aku dan pria tadi, ayah salah, dia hanya teman kampusku yang mengantarku pulang.” Jasper mengernyit “Kemana saja kau?” “Aku ke makam Mom. Aku hanya ingin pergi sendiri oke, tanpa dibuntuti, aku ingin berbicara berdua dengan Mom.” Jasper menelisik wajah gadis itu, tak ada kebohongan disana, Sera tau ayahnya percaya jadi ia mengucapkan selamat malam dan segera berlalu ke kamarnya.             Sera menutup pintu kamarnya dengan keras, gadis itu bersandar di pintu dengan lemas dan fikiran berkecamuk. Abraxas dan keluarganya jelas bukan manusia biasa, Sera duduk di depan komputernya, mencari tentang makhluk bermata merah, dikatakan makhluk bermata merah adalah mata milik klan srigala. Tapi makhluk itu hanya dongeng kan? Tangan Sera gemetaran “Werewolf?” memikirkan keluarga Abraxas berasal dari bangsa mortal itu membuat Sera mengerti, alasan Abraxas dan keluarganya begitu awet muda dan memiliki aura makhluk berdarah dingin di waktu yang bersamaan, Sera awalnya tak berniat mempercayai hal itu, tapi ia melihat sendiri Asteria, adik Abraxas membunuh dua preman itu hanya dengan menatapnya, jelas Sera tidak berhalusinasi atau bermimpi.             Semalaman terjaga dan berfikir soal Abraxas membuat Sera merasa pusing pagi ini, kantung matanya menghitam dan Sera sangat mengantuk, tapi ia ada kelas pagi ini, Sera tak berniat untuk terlalu rajin di kampus barunya, hanya saja, ia penasaran dengan Abraxas, ia ingin memastikannya sendiri.             Abraxas tau diam-diam Sera mengikutinya sejak kelas terakhir selesai, dari awal juga begitu, kini Abraxas tengah berjalan keaarah taman belakang kampus, duduk dibawah pohon maple yang mulai berguguran sembari membaca buku, Sera memperhatikannya dari belakang, pria itu tampak sangat normal jika begini, sifatnya saja yang agak aneh, Sera terus memperhatikan Abraxas, pria itu kini mengangkat tangannya, menyentuh udara sehingga sebuah lubang kecil terbuka, lalu sebuah buku kuno ditarik keluar, Sera tidak bisa mempercayai apa yang ia lihat hingga gadis itu membatu di tempatnya, Abraxas memasang smirknya, ia sengaja memperlihatkan hal itu pada Sera, ia benci ada yang menguntitinya, lagi pula Abraxas bisa dengan mudah menghapus memori gadis itu nantinya. Entah kenapa, menyenangkan bermain-main dengan gadis itu. Abraxas berbalik, menatap remeh pada Sera yang diam membatu ditempatnya sejak melihat apa yang dilakukan Abraxas, dengan wajah tanpa dosa, Abraxas melewati gadis itu dengan santai. “Kau! Berhenti!” Sera mengejar langkah Abraxas merentangkan tangannya untuk menghadang pria itu, Sera memicing “Apa maksudmu memperlihatkan hal-hal aneh didepanku?” Sejujurnya itu yang ingin Sera katakan, alasan kenapa Abraxas entah terlihat begitu sengaja memperlihatkan hal-hal yang harusnya Sera tak boleh lihat. “Hanya ingin.” Jawab Abraxas santai, dengan wajah dingin menyebalkannya. Sera memicing lagi “Kau akan membunuhku?” “Mungkin.” Sera beringsut mundur, ia menatap pria itu tidak percaya. Abraxas menyingkirkan tubuh Sera dari hadapannya, berlalu pergi begitu saja. Sera gelagapan, memikirkan apa yang Abraxas katakan barusan.             “Asteria mengatakan salah satu temanmu menyaksikan kekuatan Asteria?” Avyanna meletakan kue muffin di atas meja, sudah waktunya makan malam, semua keluarganya tengah berkumpul disana termasuk Amren yang tiba-tiba berkunjung. “Dan kau membiarkannya pergi begitu saja.” Tambah Allerick tidak habis fikir. Sejujurnya mereka menikmati kehidupan biasa di tempat bangsa Mortal, tidak ada hal-hal yang tak bisa mereka lakukan dengan kekuatan-kekutan yang mereka punya, sangat mudah hidup di sana. “Kau tidak seharusnya membiarkannya begitu saja Abraxas.” Tambah Amren, nampak mengejek. Abraxas mendengus, menatap Asteria yang memilih pura-pura tak tau “Dia dari kaum Imortal.” Avyanna menghentikan gerakan memotok steaknya “Apa maksudmu?” “Ada tanda klan Moonbow di belakang lehernya.” Jelas Abraxas, awalnya ia kira tanda itu hanya sebuah tato, namun warnanya tidak hitam, warnanya keemasan. “Klan Moonbow?” Amren mengernyit “Klan yang sedang krisis itu tidak mungkin sampai bisa keluar dari kejahatan klan lain.” “Jadi seberapa kacau sebenarnya, negeri Imortal setelah peperangan itu?” Kini Abraxas mengambil alih, ada yang cukup serius sepertinya. Amren menegak airnya hingga tandas, menatap semua orang bergantian, pada Asteria yang mungkin tidak patut mendengar sebab masih kecil “Biarkan dia, tak ada yang perlu disembunyikan.” Jelas Allerick, tau alasan keterdiaman Amren. “Sejujurnya aku berniat membicarakan ini dengan kalian, itulah alasan aku kemari.” Baiklah, mereka mengerti kini, Amren yang sangat sibuk dan mencintai negerinya tidak mungkin mau repot menghampiri negeri Mortal “Sangat kacau disana, kebijakanmu soal kesetaraan klan, membebaskan mereka mengikat darah atas pernikahan membuat banyak klan baru lahir, ada anak-anak yang bahkan tidak memiliki kekuatan dan lemah, oleh karena itu, ada akademi Lamorvas, menampung mereka yang terlahir tanpa tau kekuatan, membantu mereka menemukan kekuatan mereka.” “Empat tahun setelah perang itu, banyak yang mendirikan klan baru, lebih banyak yang serakah, klan Moonbow salah satu klan yang sedang mengalami pembantaian.” “Dibantai oleh klan lain untuk diambil kekuatan bulan milik mereka, Ratu dan sang Raja Moonbow memilih bunuh diri daripada harus memberikan kekuatan mereka, sang putri Bree, melarikan diri entah kemana, semua kaum Moonbow, sedang diperah kekuatannya, kekutan terbasar sang penerus darah asli klan Moonbow adalah mengontrol bulan, cahaya bulan baik akan memusnahkan atas perintahnya.” Jelas Amren, pria itu menghembuskan nafasnya pelan, menatap Allerick yang ia tahu kini telah berfikir banyak. “Ramalan Desponia, Abraxas adalah penyembuh atau penghancur. Maksudnya adalah kelahiran Abraxas akan menjadi kekuatan bagi tiga klan, dan peperangan itu menjadi penghancur.” Allerick menghembuskan nafasnya pelan “Berapa klan baru yang didirikan?” “Sepuluh. Klan Seraphic, kekuatan mereka adalah pengontrol tumbuhan,Clair de Lune, membutakan, Poiesis, klan tercerdas dalam membuat senjata penghancur, Belamour klan mereka bisa menyesatkan dan mengontrol perasaan positifnya mereka memberi rasa kebaikan, Klan Blueth, mengontrol kesedihan, Klan Lemudens mereka penguasa hewan laut buas hanya berkuasa di perairan, Klan Seatherny mereka pengontrol hewan terbang, Klan Aequoreal pengontrol lautan, salah satu klan yang membantai klan Moonbow, Klan Moonbow kekutan mereka adalah cahaya bulan, dan terakhir Kerajaan Astouvapia mereka satu-satunya tempat dimana semua makhluk kegelapan berkumpul menjadi satu, yang paling serakah dari yang serakah, mereka berbahaya.” “Baik, jadi bisa dikatakan klan lain masih aman, kecuali Astouvapia?” Tanya Allerick. Amren mengangguk “Jika benar dugaanku, mungkin temanmu adalah salah satu keturunan Pure Moonbow.” Abraxas terdiam “Kurasa dia tidak tau apapun soal klannya.” “Kenapa kau menyimpulkan dia tidak tau apapun?” Tanya Avyanna. Abraxas mencoba mengingat “Dia hanya nampak sangat lemah dan bodoh.” Asteria mengernyit “Lalu kenapa kau menolongnya malam itu, harusnya hapus dulu memorinya.” Abraxas mendengus “Sepertinya menghapus memorinya tidak mempan,” “Tentu saja, itu malam hari, kekuatan Imortal apapun tidak akan berlaku padanya.” Jelas Amren. Abraxas kini mengerti “Jadi, apa kita harus kembali ke klan?” “Akan kita fikirkan nanti.” Putus Allerick. “Benar, kalian tidak perlu terburu-buru. Ngomong-ngomong, Ismene menitipkan sesuatu, dia ingin makanan dari negeri Mortal yang pernah kita makan dulu.” Jelas Amren, menatap Avyanna penuh harap. Avyanna terkekeh “Pizza. Baiklah, mari kita beli nanti, setelah kalian menghabiskan makanan di meja.” “Apa Ismene ngidam?” Tanya Allerick. “Tentu saja, dia sedikit merepotkan dengan segala keinginannya itu.” Amren mendesah kesal.             Sera selalu merasa aneh setelah meminum segelas s**u di atas nakas sebelah kasurnya, ia yang insomnia parah, bisa tidur dengan nyenyak sampai tak bisa merasakan apapun, padahal sebelumnya sedikit saja gangguan, Sera akan langsung terbangun. Sebelumnya, ia juga sering meminta maid meletakan s**u di atas nakas sebelum dia tidur, tapi ia tidak langsung tidur nyenyak secara ajaib, Sera memutuskan membuang s**u itu, perasaannya buruk. Seperti biasa, Sera tidak tidur tepat waktu, benar dugaanya beberapa hari ada yang salah dengan s**u itu. Jadi ia menunggu apa yang akan terjadi, ia membuka mata sebentar, melirik jam di dinding, pukul setengah sepuluh, uhh sejak kapan Sera secupu ini, tidur tepat waktu, bukan gayanya sama sekali. Kamar bernuansa kuat dengan d******i warna merah dan hitam itu dibuka, Sera merasakan ada yang mendekat, ia bisa mencium aroma parfum Jasper, semakin jelas ketika langkah kaki itu semakin dekat. Sera tetap berpura-pura tidur, nalurinya mengatakan itu. Ia merasakan Jasper duduk disebelah tempat tidurnya, menari tangannya kemudian mengenggamnya, Sera merasa senang, ia fikir ayahnya tidak pernah perduli padanya “Bree.” Apa! Sera terkejut dalam batin, apa ayahnya sedang menganggapnya Bree sekarang? Sera merasakan jantungnya hampir meloncat dari tempatnya ketika nafas Jasper menerpa wajahnya, Sera tau apa yang akan ayahnnya lakukan! Demi Tuhan Jasper adalah ayahnya, Sera mengerti Jasper begitu kehilangan akan Ibunya, tapi kenapa Jasper sampai sejauh itu melakukan ini, masuk kedalam kamar tidurnya menganggapnya sebagai Bree. “Dad!” Sera mendorong Jasper sekuat tenaga ketika ia bisa merasakan tangan Jasper menjelajah lebih jauh, Sera menatap sang ayah dengan gemetar, namun ia menyembunyikannya, Sera segera berdiri, menatap sang ayah dengan kecewa, ia berlari sekuat tenaga keluar dari rumahnya. Meski ia masih syok, Sera tidak bisa melihat wajah ayahnya yang nampak menakutkan kini dimatanya. Sera berlari melalui pintu belakang mansion, ada Arthur dan Joseph yang berjaga disana, mereka berlari menghampiri Sera yang membawa kunci gerbang belakang dengan panic “Nona, kemana anda akan pergi?” Arthur menatap Sera heran, ia tau gadis itu menangis di bawah air hujan. “Sera!” Keduanya berteriak ketika Sera berhasil membuka pintu dan pergi. “Stop. Tolong biarkan aku kali ini!” Sera berteriak dibawah derasnya air hujan, berlari tak tentu arah, matanya buram, hingga ia tak bisa melihat cahaya mobil dari kejauhan, menabrak tubuhnya dengan cukup kuat, hingga Sera melenguh kesakitan, dan pingsan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN