Chapter 3
Strange
Jasper menatap putrinya yang terlihat jelas menghindar darinya, Sera tak pernah suka menginap di rumah teman sebelumnya, gadis itu meski nakal dan pembangkang, masih tetap menghormati Jasper sebagai satu-satunya keluarga yang ia punya.
Meski Jasper telah memberikan kehidupan yang lebih dari kata layak bagi Sera, Jasper tau sikapnya yang membingungkan membuat gadis itu memiliki asumsi sendiri tentang dirinya.
“Maafkan Dad yang sudah membentakmu kemarin.” Akhirnya Jasper berhasil membuka mulut, meksi wajahnya masih terlihat arogan dan pongah, Sera tau ketika kata maaf telah keluar dari bibir Jasper, maka hal itu berarti ayahnya benar-benar menyesal.
“Tidak dad, aku yang lancang masuk ke kamar dad.” Sesal Sera.
Jasper menghembuskan nafas pelan “Sebenarnya kau boleh masuk ke kamar orangtuamu kapan saja, tapi Dad terlalu menjaga barang peninggalan Mom mu.” Jasper menghembuskan nafas pelan “Melihat kau dengan gaun itu, membuat Dad berharap kalau Ibumu masih berada disisi kita.”
Sera merasa menyesal, ia tidak tau Jasper akan kehilangan akalnya hanya karena melihat Sera yang memakai gaun lama ibunya membuat Jasper merasakan kesedihan yang mendalam, ayahnya pasti butuh waktu lama untuk sadar bahwa Bree benar-benar tidak akan pernah bisa bersama mereka lagi.
“Sebagai tanda maafku, aku ingin menawarkan satu tiket kencan gratis bersama Dad.
Anggap saja aku adalah Mom untuk saat itu Dad.” Sera mengusulkan idenya dengan semangat, tidak tau bahwa kalimatnya membuat Jasper kembali merasa bersalah lebih dari sebelumnya.
Sera segera berlari menyusul Abraxas ketika kelas terakhir usai, gadis itu berusaha menyamakan langkah lebar Abraxas “Ayo kerjakan tugas Mr, Smith, aku akan sibuk besok.”
Abraxas menoleh seklilas memperlihatkan tidak tertariknya “Tugasnya sudah selesai.” Ketus pria itu.
Sera melengos, tidak percaya, ia menarik tangan Abraxas menghadapnya dan merasakan sensasi aneh ketika mereka bersentuhan secara tidak sengaja “Apa! Kau gila, aku bukan orang bodoh yang akan mempercayakan tugas mata kuliah terpenting padamu tanpa memeriksa,” Ketus Sera “Lagian, aku harus memastikan kau mencantumkan namaku sebelum kau mengumpulkan tugas itu pada Mr. Smith.” Sera nampak menggebu-gebu.
Abraxas menatap gadis itu sesaat, dalam diam dia mengusap tangannya yang baru saja bersentuhan dengan tangan gadis itu, Abraxas tidak sengaja membaca memori lama gadis itu. Memori yang di kunci seseorang di kepalanya.
“Apa!” Ketus Sera “Ayo ke rumahmu, dan biarkan aku mengecek tugas kita,”
Abraxas berdecak pelan “Pergilah, tunggu aku di café.” Putus Abraxas, gadis ginger itu sangat berisik.
Sera tersenyum tipis, mengangguk senang kemudian segera mencari Taxi unuk ke A café.
Abraxas memperhatikan Sera yang nampak teliti membaca tugas yang Abraxas kerjakan semudah menjentikan jari, raut takjub tak bisa dilepaskan dari wajah gadis itu, jelas apapun yang Abraxas kerjakan harus sempurna, tidak ada cela untuk mencari keburukannya.
Sera meletakan kertas itu di meja, menatap Abraxas dengan raut tak terbaca “Oke, ini bagus, lumayan.”
Abraxas mengeraskan rahangnya “Lumayan?” Abraxas tidak menerima pujian setengah-setengah, jelas sekali pekerjaannya sangat sempurna tanpa celah.
Sera gelagapan “Oke, ini bagus.” Gadis itu berdecak, kenapa pula ia takut dengan tatapan pria itu.
“Pergilah.” Ketus Abraxas meninggalkan Sera yang terpaku menatapnya dengan kesal.
Gadis ginger itu berbalik ingin memprotes Abraxas, sebelum itu ia terpaku pada pemandangan yang disuguhkan, Abraxas tengah mengusap kepala gadis remaja bermata samudra dengan kasih, benar, adik Abraxas, pria itu tampak lebih manusiawi ketika berhadapan dengan aadiknya.
Suasana dikediaman Winter sedang tidak baik-baik saja, makan malam kali ini teasa kaku dan sangat canggung, meski biasanya Jasper tidak berbicara banyak, kali ini Sera juga ikut-ikutan seperti orang bisu, Sera sangat membenci keadaan ini.
Diam-diam diliriknya sang ayah yang tampak mengunyah potongan daging steaknya pelan, terusa seperti itu hingga perlahan steak itu habis setengahnya.
Sera mengambil nafas pelan, meletakan garpu dan pisau diaatas piring “Dad, aku minta maaf.” Suaranya terdengar angkuh dan cepat, sejujurnya Sera belum mengerti kenapa ia harus minta maaf.
Gadis itu bersedekap, mempehatikan ayahnya yang mengambil serbet dan mengelap mulutnya, lalu menatap Sera datar “Baik, tapi jangan masuk kesana lagi, mengerti.”
Sera tak mengerti, tapi untuk mengakhiri suasana sialan itu, Sera mengangguk patuh. Jasper menghembuskan nafas pelan “Kehilangan Ibumu adalah hal paling berat untuk Dad, kau mengerti kan?”
Sera mengangguk lagi, Jasper mengelus kepala Sera lembut, mengecup dahi sang anak lama sebelum berlalu pergi menaiki lift menuju kamarnya.
Sera menatap ruang makan besar dengan hidangan yang banyak tersisa, Sera mendengus, untuk apa pula ada banyak kursi dan hidangan di meja makan jika hanya dua orang yang akan menikmatinya.
Setelah hari itu, Jasper kembali menghabiskan waktu makan malam di rumah dan sesekali mengantar Sera ke kampus, ada hal yang membuat Sera merasa aneh, biasanya ia akan mengalami insomnia untuk beberapa saat, namun kali ini ia tidur dengan nyenyak setiap malam setelah menyelesaikan makan malam, Sera merasa aneh sekaligus beruntung.
“Seperti biasa, Abraxas mengerjakan tugasnya dengan baik dan mendapat A+ untuk tugas kemarin.” Profesor Loubugn menatap Abraxas dengan bangga, seisi kelas bertepuk tangan untuk itu, tapi sebenarnya mereka sudah terbiasa dengan nilai Abraxas yang sempurna dan otak geniusnya.
Sera menatap pinggung Abraxas dari ekor matannya, pria itu seperti biasa tidak banyak bereaksi, namun kali ini ia membalas tatapan Sera dengan pandangan yang tak Sera mengerti.
Sera mengabaikan Trissa dan Olove untuk sesaat, ketika mereka mengajaknya pergi ke rumah Olive, Sera berkata ia ada urusan, Sera benar-benar hanya ingin waktu untuknya sendiri.
Gadis itu juga tak menghubungi Theo untuk meminta di jemput, Sera yakin Theo akan kelimpungan mencarinya sekarang, gadis itu hanya ingin pergi ke makam ibunya, setelah membeli beberapa bunga Lily putih, Sera berjalan seorang diri menyusuri area pemakaman, ia duduk di makam ibunya. Menatap lamat disana, Sera tak pernah menatap wajah ibunya selain di foto, ia tak tau bagaimana kasih sayang seorang ibu, Sera bertaruh ia bahkan tak pernah membayangkan itu, Sera tumbuh di tangan Jasper yang dingin dan angkuh, ia juga bertaruh tidak begitu mengenal ayahnya.
“Mom, entah ini perasaanku atau apa, aku…merasa ada yang aneh dengan Dad.” Itu memang benar, setelah pergi dari meja makan malam, keesokan harinya Jasper memperhatikannya dengan cara yang aneh.
Pandangan kerinduan itu, cara Jasper memperlakukannya. Ada yang membuat jantung Sera merasa ketakutan akan itu. Gadis itu berdiri setelah melihat malam akan tiba, gadis itu berjalan menyusuri jalan yang dipenuhi gang sempit dengan santai, tidak merasa takut sedikitpun, Theo mengajarinya banyak ilmu bela dirii, karena itu Sera merasa sebenarnya ia mampu menjaga diri tanpa bodyguard dan pengawasan ketat dari ayahnya.
“Siapa kalian!” Suara seorang gadis terdengar. Sera menoleh mencari kesumber suara, langkahnya terhenti, Sera segera menarik diri kebali tembok ketika ada dua pria bertubuh besar mengepung seorang gadis di ujung gang, Sera tau mereka akan melecehkan anak itu, lampu gang yang mati membuat Sera tak bisa melihat jelas siapa mereka, gadis itu hendak bergerak maju ketika melihat salah satu pria berniat menyentuh area sensitif si gadis, sebelum itu dirinya dikejutkan dengan mata gadis itu yang tiba-tiba berubah menjadi merah “Mati.”
Suara itu dingin dan angkuh, tak sampai semenit tubuh kedua pria itu membeku dan membiru seperti terkena racun, Sera masuh terpaku melihat semua itu, nafasnya memburu, apa-apaan itu, siapa anak itu, kenapa dengan matanya,gadis itu melihatnya di balik tembok, berjalan dengan matanya yang masih memerah, menatap Sera tajam, harusnya Sera bergegas pergi, namun wajah gadis itu membuatnya lebih terkejut, dia adalah adik Abraxas, yang Sera lihat di café keluarga mereka.
“Apa kau melihat apa yang sudah ku lakukan,” Gadis itu menarik smirk, wajahnya yang cantik membuatnya terkesan menyeramkan kini.
Sera melangkah mundur ketika gadis itu mengambil langkah maju “Berkatalah jujur.”
Sera tidak berniat membuka mulutnya namun ada dorongan seolah ia memang harus mematuhi ucapan gadis itu “Iya.”
Gadis itu tersenyum “Kalau begitu kau harus mati.” Ujarnya dingin.
“Asteria!” Mata merahnya berangsur membiru ketika suara itu memanggilnya.
Gadis itu menatap Abraxas yang menarik Sera berlindung di belakangnya “Pulanglah, akanku urus dia sendiri.” Titah Abraxas, meski Asteria enggan, namun ia tidak bisa membantah kakaknya, maka Asteria mengangguk patuh dan berlalu pergi dengan membuka portal di depan Sera yang masih berdiri kaku mencerna semua itu.
Abraxas berbalik menatap Sera, menatap betapa shok gadis itu melihat hal aneh tadi “Akan kuantar kau pulang.” Putus Abraxas. Tangannya yang besar menarik tangan kecil Sera, gadis itu tidak mengatakan dimana alamatnya namun Abraxas mengantarnya tepat didepan rumahnya yang kini terlihat ramai, para bodyguard dan Theo menatap kedatangannya dengan lega, Theo menatap tajam Abraxas yang membawa Sera pulang, telebih wajah Sera tidak terlihat baik-baik saja.
“Kenapa kau membawanya pulang selarut ini, dimana sopan santunmu!” Bentak Theo, mendorong Abraxas, namun pria itu tak bergeming.
Sera ditarik ke kesadarannya dan menjauh menarik Theo dari Abraxas, gadis itu gelagapan, tak berani menatap Abraxas “Pergilah.”
Abraxass tanpa menunggu lama segera pergi, meninggalkan Theo yang murka memarahi Sera.