Chapter 2
Getting Worst
Sera tau ayahnya menghindar, mereka bahkan menghindari sarapan bersama pagi ini, meski Jasper selalu berusaha berinteraksi sedikt mungkin dengannya karena enggan menatap wajahnya, tapi Jasper tidak pernah menghindar sampai melewatkan kegiatan makan bersama.
Sera tau, ia telah membuat keadaan makin buruk, ayahnya pasti akan berusaha menghindar terus-terusan karena menganggapnya Bree kemarin, Sera ingin meminta maaf karena itu. Tapi ia juga takut akan penolakan Jasper.
Meski Sera termasuk anak yang masa bodoh, suka membuat masalah dan terlihat buruk karena penampilannya, Sera sangat menyayngi Jasper, ia satu-satunya yang Sera punya.
“Apa yang kau lamunkan.” Trissa menyenggol lengannya, Sera mengerjap pelan, menyadarkan diri, ternyata kelas terakhir telah selesai, dan Sera menghabiskan waktunya dengan melamun.
“Kalian akan kemana?” Sera merasa tidak ingin pulang ke rumah untuk sementara waktu, dia akan mengabari Theo kalau ia akan pulang telambat, Sera akan kemanapun, asal tidak pulang tepat waktu.
“Kami akan ke Café milik orang tua Abraxas.” Bisik Olive.
Sera menatap Abraxas yang sudah keluar kelas lebih dulu.
“Orangtuanya punya Café?”
Trissa mengangguk semangat sembari membereskan buku di mejanya “Sangat terkenal, A café, semua gadis-gadis yang menyukai Abraxas memakai metode ini untuk dekat dengannya.”
“Metode apa?” Mereka berjalan keluar dari kelas.
“Sengaja pergi ke A café untuk bertemu Abraxas, pria itu sering ada disana membantu Momnya.” Jawab Olive.
“Kau akan terkejut melihat keluarga yang satu ini, mereka semua sangat sempurna, apalagi ayahnya, dia sangat tampan, super super tampan!” Trissa menjerit kegeringan.
Mereka sampai di parkiran, Sera masuk kedalam mobil antik milik Olive, di sepanjang jalan Sera hanya melamun, ia mendengar semua obrolan Trissa dan Olive, namun samar dipendengaran Sera.
Ia masih memikirkan cara menghilangkan keadaan canggung antara dirinya dan ayahnya.
Sera menatap bangunan didepannya dengan takjub, café milik keluarga Abraxas sangat unik, ada rumah besar dibelakangnya, sementara ada bangunan kecil dari kayu dan ditumbuhi banyak bunga di atapnya dengan indah, itu café milik keluarga Abraxas, itu artinya rumah keluarga mereka ada di belakang café itu kan.
Ketika masuk, suasana hangat dan nyaman sangat terasa, beberapa pegawai berkeliaran dengan seragam mereka, seragam berwarna putih untuk wanita dan hitam untuk pria, kaca besar menampilkan pemandangan jalanan, didalamnya banyak interior kayu dan lampu Kristal mahal.
Sera ikut duduk di kursi pojok, dekat dengan kaca besar yang menampilkan pemandangan jalan raya yang tidak terlalu padat.
Seorang wanita dengan mata samudra yang indah menatap mereka dengan senyum ramah “Halo, ingin pesan apa?”
Sejenak Sera tertegun, paras wanita ini begitu menakjubkan, auranya sangat terang dan hangat secara bersamaan.
“Menu terbaik anda Nyonya.” Olive tau wanita didepannya adalah pemilik café sekaligus ibu Abraxas. Mereka tak akan pernah heran lagi dari mana Abraxas menjadi semenakjubkan itu jika ibunya saja sesempurna ini.
“Baiklah, kuharap kalian tidak keberatan untuk menunggu.” Ujarnya ramah.
“Tentu.” Jawab Trissa sopan.
Trissa menahan pekikannya ketika Avyanna berlalu “Kau lihatkan, itu ibu Abraxas bukankah dia sangat cantik dan terlihat sangat muda.”
Sera terkejut “Hah, dia terlihat seumuran dengan kita.”
Trissa menjentik “Benar kan, memang keluarga ini sangat menakjubkan.”
“Tunggu sampai kau melihat Mr. Allerick.” Olive tersenyum bangga
“Dia sangat sexy dan mempesona, dia juga sangat mirip dengan Abraxas.”
“Sepertinya kalian tau banyak.” Sera berujar, pandangannya teralih keluar jendela, ia melihat ada seorang anak berusia sekitar 14 tahunan masuk ke dalam café bersama Abraxas disampingnya, oke, Sera bisa menebak keduanya mungkin bersaudara karena aura mereka terlihat sama dengan visual yang terlalu kuat, anak remaja itu lebih mirip dengan Avyanna. Dibelakangnya disusul seorang pria dengan jambang sexy dengan pakaian serba hitam masuk, Sera mengikuti gerak mereka, Avyanna menyambut ketiganya dengan hangat sebelum mereka berlalu masuk kedalam rumah melalu pintu belakang.
“Theo, aku akan menginap di rumah temanku, aku akan pulang besok pagi.”
“Kau sudah bilang ayahmu?” Theo terdengar tak yakin, Sera mengigi bibirnya gusar.
“Theo, katakana saja pada Dad.”
Theo mendesis curiga “Kalian bertengkar?”
Sera berdecak, Theo sangat kepo “Theo, berhenti bertanya dan lakukan saja.”
Theo terkekeh “Baiklah, aku akan menjemputmu besok pagi.”
Sera bergumam setuju, lalu ia berbalik menatap Olive dan Trissa yang masih menunggu panggilan telponya selesai.
“Boleh?” Trissa menyatukan tangan penuh harap, Sera mengangguk pelan membuat Olive dan Trissa memekik sennag. Sejujurnya, Sera tidak suka menginap di rumah teman, ia lebih suka kamarnya sendiri yang nyaman, ia tidak suka suasana baru karena harus menyesuaikan diri dengan itu.
“Pizza dan Colla?” Tawar Olive.
“Setuju.” Trissa mengangguk antusias bersama Sera.
Sera menginap di rumah Olive, rumahnya lebih dekat dengan kampus, Olive juga sedang tinggal sendiri karena Ibunya sedang bekerja lembur, Sera baru tau kalau ayah dan ibu Olive bercerai sejak ia berumur 10 tahun, Olive lebih memilih tinggal bersama ibunya karena sang ayah telah menikah lagi dan sudah mempunyai dua orang anak, ibunya akan sendirian jika Olive lebih memilih ikut dengan ayahnya.
Sejujurnya, Sera tidak suka berteman, tapi Trissa dan Olive trelihat tulus dan mengerti dirinya, seringkali mereka yang tiba-tiba mau berteman dengan Sera dipastikan karena beberapa alasan, karena Sera berasal dari keluarga Winter, karena Sera kaya raya, Sera bisa mentraktirknya setiap hari, dan berteman dengan anak salah satu konglomerat merupakan kebanggan. Tapi sejak awal Olive dan Trissa datang karena Ms. Grace yang meminta, dan secara alami Sera menyukai mereka.
“Ini, piamaku. Sudah aku cuci bersih kok.” Olive terkikik, menyerahkan dua piama untuk Sera dan Trissa.
Sera mengambil piyama berwarna putih dengan gambar kepala sapi yang lucu, jauh dari style Sera sebenarnya, penampilan Sera terkesan seperti mean girl, rambutnya merah ginger, bola matanya berwarna ivy cantik, kulitnya putih pucat, dia lebih suka memakai pakaian pendek seperti tank top, crop top, dan skirt kotak-kotak, suka kemeja pendek yang memperlihatkan perut dan sepatu boots yang mencolok.
“Jadi, kita akan mengadakan pajamas party, aku tau ini untuk anak sma, tapi mari kita coba.” Trissa terkekeh pelan.
“Siapa yang mau maskeran,” Olive mengangkat masker lumpur berwarna hijau ditangannya.
“Kita akan melakukannya.” Usul Trissa menatap Sera penuh harap.
“Lakukan saja.” Jawab Sera.
Ketiga gadis itu akhirnya memakai masker bergantian, sembari menunggu pizza dan cola yang mereka pesan datang.
“Oh, pizzanya datang.”
Sera mengambil dompet pink dengan gantungan pom-pom berbulu dan mengeluarkan uangnya “Traktiranku, sebagai tanda perkenalan.”
“Aw, kau manis sekali.” Trissa memeluk Sera erat, Olive segera turun untuk mengambil pesanannya dan membayar. Sera tau Trissa dan Olive bukan orang yang akan memanfaatkannya.
“Pizza dan Colla datang!” Seru Olive senang, ketika Olive membuka kotak pizza yang masih hangat itu, aromanya menguar dan membuat liur mereka hampir menetes.
“Ini sangat enak.” Trissa berseru heboh.
Sera terkekeh “Ini pajamas party pertamaku.” Ujarnya jujur.
Trissa dan Olive berhenti mengunyah “Benarkah, bukankah kau melakukan ini dengan teman-teman SMA mu dulu?”
Sera tau mereka kebingungan “Aku tak pernah benar-benar punya teman untuk melakukannya.”
Trissa tergelak “Kau bercanda, kau seorang Winter.”
Sera terkekeh “Mereka berteman hanya aku anak dari Mr. Winter dan aku tidak menyukainya, aku mau mereka tau aku sebagai Sera.”
Olive menatap Sera prihatin “Lupakanlah, kami akan jadi temanmu, kita bisa adakan pejamas party kapanpun kau mau.”
“Itu benar.” Trissa berujar setuju.
Sera tersenyum tipis, ini akan menyenangkan sepertinya.
Mereka mengobrol banyak hal hingga larut malam, tidur dengan posisi berdempetann karena kasur Olive tidak terlalu besar.
“Aku pernah mengirim surat cinta untuk Abraxas.” Trissa menerawang “Aku meletakannya di lokernya, lalu sembunyi untuk melihat reaksinya.”
“Lalu?” Sera menanti.
“Sial sekali, bukan hanya aku yang mengirim surat untuknya, ketika dia membuka lokernya, surat-surat berjatuhan dari sana dan dia terlihat marah, dia pergi dengan menutup pintu loker kuat-kuat.”
Olive dan Sera tertawa keras “Tentu saja bukan kau satu-satunya pengirim surat, dia pasti punya banyak penggemar.”
“Kalian benar.” Trissa menghela nafas berat “Akhh dia tampan sekali, aku tidak bisa memikirkan orang lain yang lebih tampan darinya.”
“Sejujurnya aku juga tidak pernah melihat yang setampan Abraxas, aku sering menemui anak konglomerat yang bekerja sama dengan ayahku, tapi Abraxas benar-benar sesuatu.” Sera menerawang.
“Kau saja mengakuinya, dan sejujurnya, kurasa keluarganya juga sangat tidak nyata, apakah kalian setuju?” Olive melirik yang lain.
“Ya, bagaimana bisa orantuanya terlihat begitu awet muda, kau lihat mata ibunya, sangat cantik bukan.”
“Mr. Allerick juga, auranya sangat aneh.”
“Kalian tidak berfikir sepertiku, mungkin saja mereka keturunan makhluk kuno seperti serigala atau vampire.” Trissa tertawa keras.
“Bagaimana kalian pertama kali melihat Abraxas?” Sera menatap Olive dan Trissa bergantian.
“Sangat menakjubkan, dia berjalan di sepanjang lorong kampus dan semua orang berhenti untuk menatapnya, besoknya kampus menjadi sangat ricuh dan semua gadis berlomba menyatakan perasaan padanya. Kau ingat Olive. Dia bahkan tidak perduli dan berlalu begitu saja meski ada gadis yang berlutut menyatakan cinta padanya.”
“Benar, dia terlihat marah setiap kali ada yang menyatakan perasaan padanya, banyak yang mengira dia gay setelah itu.”
“Dia gay?” Sera berseru nyaring.
“Tidak, tentu saja tidak, ada pria yang menyatakan cinta padanya dan dia malah lebih mengamuk, dia melemparnya ke tiang hingga tulang punggungnya retak dan masuk rumah sakit.”
“Dia pasti lebih marah karena ada yang mengira dirinya gay. Anggap saja dia makhluk berhati dingin tak tersentuh.” Kekeh Trissa.
Theo menjemput Sera pagi itu, melihat wajah Sera yang enggan pulang ke rumah menambah keyakinan Theo akan pertengkaran ayah dan anak itu “Selesaikan masalahmu dan ayahmu dengan cepat.” Ujar Theo sebelum Sera turun dari mobil.
Sera tak merespon, gadis itu masuk kedalam rumah dan langsung menuju kamarnya untuk bersiap berangkat ke kampus satu jam lagi, Sera menghempaskan tubuhnya lelah, memikirkan bagaimana cara Sera meminta maaf pada sang ayah, mereka sama-sama berwatak keras dan penuh gengsi, meski Sera sadar masuk ke kamar ayahnya tanpa ijin dan lancang mengenakan baju ibunya adalah salahnya, tunggu, apa salah masuk ke kamar orang tuanya sendiri dan mengenakan baju mendiang Ibunya?
Sera rasa tidak juga, jadi apa yang salah?
Lelah memikirkan persoalan kemarin, Sera memilih membersihkan diri dan bersiap.
“Hei, kau rambut ginger!” Merasa dirinya dipanggil Sera menoleh dengan wajah malas, didepannya kini ada tiga orang gadis yang menatapnya menilai dari atas hingga bawah, kemudian tertawa keras, meremehkan.
“Ternyata keturunan Winter tidak semenakjubkan itu.” Sinis gadis berambut pirang, jelas sekali dia adalah dalangnya sedangkan satu gadis berkulit tan, dan pucat itu hanya ikut-ikutan.
Sera masih memilih diam ketika gadis berambut pirang memutarinya “Lupakan, aku jelas jauh lebih cantik dan populer darinya!” Perkataan pongah itu membuat Sera mual, percaya diri sekali gadis pirang itu.
Syukurnya Sera sedang tidak ingin menimbulkan masalah jadi dia membiarkan tiga gadis itu berlalu.
“Sera, apa yang dilakukan Luna padamu!” Trissa dan Olive menatapnya panik, memeriksa setiap inci tubuh Sera.
“Jadi dia Luna?”
“Ya, dia si primadona.” Balas Olive.
Trissa menepuk tangannya seperti baru saja mendapat informasi penting “Ah, aku tau, dia pasti menganggumu karena posisinya terancam.”
“Posisi apa?” Sera mengernyit, tidak mengerti.
“Dia primadona sebelumnya, tapi kau mengalahkannya, forum mahasiswa membicarakanmu, dan popularitasnya jadi turun.”
Sera terkekeh “Bukankah hal semacam itu sangat kekanakan.”
“Sedikit mungkin.” Kekeh Olive.
“Sera Willow Winter akan satu kelompok dengan Abraxas.” Sera tak berkutik, melirik Abraxas yang duduk di barisan sebelahnya dibagian belakang, pria itu tak berekspresi, sedikitpun.
Sera akhirnya menghela nafas pelan.
“Kau pasti menyelamatkan dunia sebelumnya.” Trissa memekik “Sekelompok dengan Abraxas! Dan anehnya pria itu tidak keberatan.”
“Tidak keberatan?” Sera tidak mengerti kalimat itu.
“Abraxas tidak suka kerja kelompok, dia lebiih percaya pada pekerjaanya sendiri, jenis pria perfeksionis.” Olive terkekeh pelan
“Ngomong-ngomong kalian tidak ingin menginap lagi?”
Trissa tersenyum manis, merangkul bahu Olive “Maaf Olive, aku ada kencan malam ini.”
“Apa! Dengan siapa?”
“Oscar, gitaris band kampus.” Bisik Trissa bangga.
“Kau benar-benar.” Olive terkekeh “Sera bagaimana denganmu?”
“Oh, aku sepertinya tidak bisa.” Sera tesenyum tipis “Aku ada urusan, aku akan pergi lebih dulu, sampai jumpa besok.” Sera segera berlalu tanpa menunggu jawaban dari Olive dan Trissa.
Gadis itu menyusuri kelas tadi, mencari keberadaan Abraxas, anehnya pria itu masih disana, duduk dengan tenang menatap Sera lurus, Sera mendekat memilih duduk di samping Abraxas “Jadi, kita akan mengerjakan tugas Mr. Smith dimana?”
Sera menanti jawaban pria itu, namun ekspresi wajahnya tidak berubah sama sekali, Sera mendengus “Aku tidak ingin pindah kampus lagi karena mencari masalah denganmu, jadi katakana diman-“
“Kau tak seharusnya disini.” Sera membeku, untuk pertama kali ia mendengar suara pria itu, suaranya dalam, berat dan mengintimidasi, sejanak Sera tidak dapat memikirkan apapun.
Alisnya terangkat tinggi “Aku hanya ingin membahas soal tugas Mr. Smith.” Kekeuh Sera.
Kini Abraxas menatap Sera dalam, memandang mata ivy yang cantik itu penasaran “Tidak perlu, aku akan mengerjakannya sendiri.”
Sera melipat mulutnya kedalam, berusaha keras untuk tidak mengumpat “Ini tugas kelompok.” Tegas Sera.
“Aku akan mengerjakannya sendiri dan namamu akan tetap tercatat pada tugas itu.” Tegas Abraxas.
Sera memandang Abraxas dengan jengkel “Baik, akan kita kerjakan di café milikmu.” Sera bergegas berdiri berniat untuk pergi karena semakin ia berdebat dengan Abraxas, semakin kesal pria itu membuatnya, Sera baru saja menemukan orang yang lebih keras kepala, arogan, dan sok sempurna dari pada dirinya.
Abraxas membiarkan Sera berlalu, dalam diam menatap tanda segel yang melindungi gadis itu, apa yang terjadi dengan gadis itu, ia tak seharusnya berada di negeri manusia dan melupakan identitas aslinya.