AFTER WAR 1

2126 Kata
AFTER WAR ABRAXAS Jadi ini bisa di bilang book 2 dari judul awal, tapi aku mau satuin aja biar gak ribet, book 2 berjudul After War, berpusat pada cerita Abraxas, cerita dunia immortal setelah perang, tentang peraturan baru yang dibuar Allerick setelah perang yang ternyata membawa dampak negative bagi beberapa kaum. CHAPTER 1 Untouchable “Ini terakhir kalinya kau membuat masalah, kau paham!” Sang Ayah menyentak, antara muak dan lelah. “Ya. Mr Winter.” Sera membungkuk sopan dengan wajah malas, lalu menutup pintu mobil dengan kesal, gadis bermata Ivy itu berdiri di tengah area kampus, ia sudah pindah kampus sebanyak tiga kali karena membuat masalah, memakai pakaian ketat di kampus, merokok, membully, dan tidak pernah ikut pelajaran, itu semua karena bagi seorang Sera Willow Winter, kehidupan kampus tidak semenyenangkan itu, ia bahkan lebih pintar dari dosennya sendiri. Untungnya ia berasal dari salah satu keluarga paling di segani di New York, keluaga Winter, semua orang yang tau ia menyandang nama salah satu konglomerat Inggris itu akan mundur, tidak mau berurusan dan menjadi penjilat. “Oh, Hello, kau pasti Sera, anak tuan Winter.” Sera menatap wanita paruh baya dengan rambut coklat yang disanggul rapi itu dengan datar. “Yas.” Jawabnya dengan tidak sopan. “Kenalkan aku Ms. Grace, salah satu dosen jurusan kesenian di sini. Ikuti aku.” Sera menurut, berjalan disamping Ms. Grace“Jasper mengatakan banyak hal tentangmu, senang bisa melihat anak dari Jasper dan Bree di depanku.” Sera menoleh, tertarik “Kau kenal Mom?” Grace mengangguk dengan senyum “Oh kau pasti muak mendengar kisah cinta Jasper dan Bree, mereka jatuh cinta sejak semester awal dan selalu bemesraan di depan kami.” Grace terkekeh, mengabaikan orang-orang yang mulai memperhatikan tampilan mencolok Sera, gadis berambut merah itu fokus menatap Grace. “Kau teman orangtuaku?” “Yap,” Grace berhenti di depan sebuah ruangan, Sera menatap papan kecil diatas yang bertuliskan ruang Ms. Millan “Kau sangat mirip dengan Bree.” Grace menatap Sera penuh sesal, ia tau Sera dan Jasper sama-sama hancur dan kehilangan sepeninggalan Bree. “Nah, temui Ms. Millan terlebih dahulu untung jadwal dan tanyakan apapun padanya, oke.” “Astaga!” Sera mundur dengan spontan karena terkejut, ia menatap gadis berambut coklat dan pirang didepannya dengan bingung. “Ms. Grace meminta kami memandumu.” Si gadis berambut pirang nampak semangat. “Kenalkan aku Trissa dan ini Olive.” Lagi, si gadis berambut pirang menjulurkan tangan, mencoba beramah tamah, Sera menyalami keduanya dengan senyum tipis. “Kau jurusan apa?”Olive akhirnya membuka suara. “Biomedical engineering.” “Wow, kau cukup pintar rupanya, ngomong-ngomong kita satu jurusan.” Trissa tersenyum lebar. “Kelas pertama Mr. Edmund, itu lima menit lagi.” “Oh, kita kedatangan murid baru, kemari, aku hampir lupa mempekenalkanmu, my bad.” Mr. Edmund mempersilahkan Sera maju ke depan kelas dan memberikan lima menit tersisanya dengan cuma-cuma. Sejujurnya kedatangan Sera menjadi pertanyaan besar bagi sebagian orang dan menjadi spekulasi besar di luar kelas. “Sera Willow Winter, panggil saja Sera.” Mr Edmund mengernyit “Hanya itu,” Pria dengan janggut itu menatap arlojinya “Kau hanya menghabiskan 30 detik untuk perkenalan. Ayolah aku masih punya banyak waktu.” “Biarkan kami bertanya Mr. Edmund.” Pria berambut pirang mengangkat tangan. “Ya, Mike.” “Jadi, aku mendengar desas desus, ini ketiga kalinya kau pindah kampus, wow, menjadi keluarga Winter pasti mempermudahmu.” Kekehnya, seisi kelas menahan tawa. Sera terkekeh dalam hati, ya, menjadi keluarga Winter memang mempermudahnya namun kadang juga membuatnya kesal, Sera yakin pria bernama Mike itu sedang berspekulasi tentang kepindahannya di beberapa kampus ternama dengan mudah, sayangnya mereka tau kecerdasan Sera dan dengan senang hati menerima Sera tanpa persyaratan apapun. Sera tersenyum tipis “Yap. Aku beruntung sekali bukan.” Jawabnya santai. Mike nampak tidak puas “Jadi, apa kau berencana pindah kampus lagi setelah ini?” “Mike, adakah pertanyaan yang lebih penting?” Mr. Edmund menikis lengan bajunya dan bersedekap. Sera hendak membuka mulutnya sebelum seorang dengan pakaian serba hitam dan aura gelap masuk kedalam kelas yang bahkan hampir selesai dan duduk dengan nyaman di kursi belakang, anehnya tak ada yang potes, bahkan Mr. Edmund sendiri. Sera mengernyit, siapa pria itu? “Well, jika tidak ada kita akan mengakhiri sampai disini, jangan lupa untuk tugas minggu depan, telat satu detik saja, aku tidak akan mengampuni kalian.” Mr. Edmund mengepak buku-bukunya dan pergi begitu saja. Sera mengernyit, apa ia satu-satunya orang yang melihat pria itu masuk? Sera masih terpaku menatap pria itu sampai pria dengan mata hitam pekat dan tatapan tajam itu menatapnya datar, pandangan mereka bertemu dan untuk pertama kalinya, Sera merasa begitu aneh dengan aura seseorang. “Jangan lihat dia.” Olive segera menariknya keluar kelas. Dengan teburu-buru mereka keluar dari ruang kelas tadi, berjalan keluar dan duduk di lapangan kampus yang luas, ada banyak orang yang duduk disana, belajar dan bercanda. “Jadi, kenapa aku tidak boleh menatapnya?” Sera ikut menghempaskan pantatnya di rumput hijau. “Ssst, “ Olive mengankat jari telunjuknya di bibir. Sera mengernyit “Apa?” Trissa menarik Olive dan Sera merapat, membuat lingkaran kecil yang aman, Trissa dengan berlebihan menatap sekitar, lalu kembali fokus menatap kearah Sera dan Olive “Dia Abraxas, kami juga menganggapnya aneh.” Bisik Trissa. “Abraxas? Apa nama marganya?” Olive menggeleng “Namanya hanya Abraxas, alasan kami tidak mempermasalahkan keterlambatannya, karena auranya sangat aneh, dia menyeramkan bukan, padahal dia tak melakukan apapun, tapi mata hitamnya itu seoalah membius.” Sera mencoba berfikir, mungkin itu benar, Sera saja tidak pernah merasa seterintimidasi itu dengan siapapun, tapi harus di akui pria tadi memang aneh, seoalah dia bukan makhluk yang berasal dari tempat yang sama dengan Sera. “Bagaimana dengan Mr. Edmund?” Sera mengingat Mr. Edmund yang nampak tak protes sama sekali, padahal jelas-jelas pria bernama Abraxas itu tidak menghadiri kelasnya dan berlaku tidak sopan dengan tidak menampakan rasa bersalah sedikitpun. “Itu dia, Mr. Edmund pernah kalah berdebat dengan Abraxas, dia dipermalukan telak didepan semua orang, dia sangat pintar, semua dosen disini, tidak berani menentangnya.” “Oke, jadi dia semacam anak emas?” “Bisa dibilang begitu.” Trissa menjentikan jari “Tapi, bukankah dia sangat tampan, aura gelapnya itu sangat aneh tapi seluruh wanita di kampus mengakui pesonanya bukan.” Trissa terkekeh. “Kau ingat Luna yang di tolak dengan sadis di depan kampus. Memalukan.” Trissa dan Olive terkekeh. “Ssst. Kau tau. Luna adalah primadona disini, semua pria bertekuk lutut padanya namun dia malah menyukai si dingin Abraxas, disana,” Trissa menujuk area depan kampus, di bawah tangga. “Disana, Abraxas bahkan berlalu dan tidak menoleh sedikitpun pada Luna.” “Luna di ejek habis-habisan setelah itu.” Olive dan Trissa tertawa keras. “Aku akan menemui Ms. Grace dulu.” Sera berdiri, segera melenggang pergi karena ia tidak ingin diikuti oleh Trissa maupun Olive. Menatap pilar-pilar kuno yang begitu tinggi dan lorong yang lumayan sepi, mata Sera terpaku pada sosok dengan aura gelap itu lagi, pria dengan pakaian serba hitam itu melewatinya begitu saja, Sera merasa aneh lagi, ada sesuata yang ada di dalam diri Abraxas yang menarik Sera untuk terus mendekatinya. Oh, ini bukan pertama kalinya Sera bertemu pria tampan, percayalah, berada dilingkungan konglomerat membuatnya dikelilingi pria-pria tampan yang kerap dijodohkan dengannya, tapi ada sesuatu yang tak bisa Sera jelaskan tentang Abraxas. “Sera.” Sera terkesiap, segera berbalik dan menatap Ms. Grace yang berdiri dengan senyum didepannya “Bagaimana kelas pertamamu?” Sera menelan ludah pelan “Lumayan, boleh aku mengobrol dengan anda. Aku ingin tau sedikit tentang Mom dan Dad.” Ms.Grace tersenyum, mengangguk pelan “Kemari, ikut ke ruanganku.” Ms. Grace menyodorkan cangkir the di depan Sera, kemudian duduk di kursi miliknya. “Tanyakan saja, aku tau si kasar Jasper tidak akan memberitahumu tentang kehidupan romansanya.” Sera terkekeh pelan “Anda benar, Dad selalu marah ketika aku menyakan soal Mom.” Ms. Grace nampak sedih “Dia masih sangat terluka Sera, Bree adalah hidupnya, Bree adalah wanita yang sangat baik dan penyanyang, berbeda dengan Jasper yang kasar, arogan dan sombong. Jasper mencintai Bree lebih dulu, cinta pandangan pertama klise.” Ms. Grace terkekeh “Aku adalah sahabat Bree, kau tau Bree memiliki fisik yang lemah bukan, itulah alasan Jasper menikahi Bree diusia muda, dia hanya ingin menghabiskan sisa waktu Bree dengannya. Lalu kau hadir, mereka tidak pernah merencanakan kehadiranmu, seorang bayi terlalu beresiko bagi Breed an Jasper tidak akan mau kehilangan Bree.” Sera menelan ludah kasar, memikirkan ia adalah alasan kematian Ibunya dan Ayahnya kehilangan Ibunya membuat Sera merasa makin bersalah, Ms. Grace memegang tangan Sera, ia tau apa yang Sera fikirkan “Itu bukan salah siapapun, Jasper hanya terlalu mencintai Bree, dan Bree hanya ingin menjadi seorang Ibu. Itulah hal terbesar yang Bree inginkan, baginya kau adalah anugrah.” Sera tercekat “Dad membenciku?” Ms. Grace menggeleng “Tidak sama sekali, setiap tahun kami mengadakan pertemuan dengan teman satu fakultas kami, dan teman dekat Jasper, Daren dan Sean bercerita padaku, satu-satunya teman Bree, bahwa setiap kali melihatmu tumbuh, Jasper makin sakit, karena kau benar-benar mirip dengan Bree, kau bagaikan Bree, dan Jasper bisa gila karena itu.” “Bedanya, Bree suka pakaian Feminim lembut dan kau suka pakaian yang mencolok.” Kekeh Ms. Grace. Sera tersenyum tipis “Ku kira Dad membenciku.” “Jasper akan membenci dirinya terlebih dahulu sebelum ia mampu membencimu.” Sera menunggu ayahnya menjemputnya di depan kampus, ketika mobil seharga miliaran dollar itu berhenti didepan Sera, ia tau anak-anak itu memperhatikannya, Sera melangkah pelan, mmebuka pintu lalu masuk kedalam mobil “Theo!” Pria berumur 28 tahun itu terkekeh, Theo adalah bodyguard Sera sekaligus sahabat gadis itu “Maaf nona, ayah anda sedang sibuk. Jadi saya di tugaskan untuk menjemput anda.” Sera mendengus “Dia tidak benar-benar sibuk kan Theo, dia hanya tinggal tidur di rumah dan uangnya akan tetap mengalir.” Ketus Sera. Theo tertawa keras “Aku tidak tau, kenapa kau mengomel padaku.” “Sial, kau tidak akan membiarkanku keluar jalan-jalan.” “Maaf Sera, ayahmu minta kau segera pulang karena kau pasti menyebabkan masalah jika kau keluar.” Sera mendengus, menghempaskan punggungnya disandaran kursi dengan kesal, ayahnya benar-benar, Sera sangat tidak suka menghabiskan waktu di rumah besar itu sendirian dan kesepian, ia tidak mengerti kenapa mereka harus memiliki rumah besar sedangkan yang akan menempatinya hanya Sera dan Jasper. Para maid dan bodyguard memiliki rumah sendiri di belakang rumah mereka. Sera benar-benar merasa seperti Rapunzel yang dikurung didalam menara. Sera baru saja selesai mandi dan mengganti baju, ia mengelilingi rumah dan berharap ada hal yang bisa ia lakukan namun nihil, semua hal terasa membosankan baginya, ruang billiard, ruang olahraga, ruang tenis, dan kolam renang, serta ruangan-ruangan lain terasa membosankan baginya. Sera lalu berhenti di kamar atas, kamar Jasper dan mendiang Ibunya. Gadis itu mencoba membuka pintu namun terkunci, Sera mengernyit, kenapa pintu kamar ayahnya selalu terkunci, gadis berambut merah itu menyentih jepit rambutnya, menocoba membuka pintu, cukup lama sampai ia berhasil, pintu murahan sepertinya, atau Sera yang sudah sering membobol berbagai pintu menggunakan cara yang sama. Ketika pintu kamar Jasper terbuka, Sera menemukan foto besar tergantung di tembok kamar, foto pernikahan Jasper dan Bree. Ms. Grace benar, Bree terlihat sama persis dengannya, semuanya, warna mata mereka Ivy, rambut merah menyala yang aneh, kulit pucat, semuanya sama. Seperti Sera adalah renkarnasi dari Bree. “Kita benar-benar mirip Mom.” Sera begitu takjub sekarang, sejujurnya Bree meninggal ketika melahirkan Sera, jadi Sera bahkan tidak pernah melihat Bree secara langsung, terakhir kali Jasper memberikan Sera melihat foto Bree ketika umur Sera 6 tahun. Yang terakhir Sera ingat adalah Jasper selalu mengatakan kalau Sera adalah Bree, mereka sama persis, jadi ketika Sera ingin melihat Bree, maka ia hanya tinggal melihat dirinya di kaca. Dan Sera rasa Jasper benar. Sera beralih ke walk in closet ayahnya, menemukan baju-baju wanita tergantung rapi di sana, ada banyak foto Bree di dalam lemari kaca, Sera tau itu adalah barang-barang Bree yang dijaga baik oleh Jasper. Sera menyentuh gaun berwarna lilac yang cantik entah keinginan darimana, Sera mengganti kaosnya dengan gaun lilac itu, ia mematut dirinya dicermin dan benar-benar melihat sosok Bree di depan kaca. Sangat aneh, seperti ada diri Bree yang tertinggal padanya. “Bree.” Suara pelan yang terdengar penuh kerinduan dan sesak itu mengagetkan Sera. Ia melihat pantulan sosok Jasper di cermin, tadi ayahnya memanggilnya apa? Sera berbalik, ia menemukan Jasper dengan mata merah yang sarat akan kerinduan, oh tidak, ayahnya pasti berhalusinasi dan mengira dirinya adalah Bree sekarang. Sera menelan ludah kasar ketika Jasper mendekat, Sera ingin mengatakan bahwa ia bukan Bree namun ekspresi ayahnya membuatnya urung, ia biarkan Jasper mendekatinya, menyentuh wajahnya dengan sarat akan kerinduan, Sera bisa melihat kalau ayahnya sangat terpukul dan itu semua karena kehadiran Sera. “Bree, aku sangat merindukanmu.” Sera bisa merasakan betapa sakit yang ayahnya rasakan, mata Jasper menjawab semua, ayahnya pasti merindukan ibunya. “Bisakah kau tinggal Bree?” Jasper memeluk tubuh Sera dengan erat, Sera ketakutan sebenarnya, apa ini benar atau salah? “Dad-“ Sera tercekat “Aku Sera.” Jasper terlonjak, melepas pelukannya, menatap Sera dengan kosong cukup lama, Sera tidak pernah melihat ayahnya sehancur itu tapi Sera merasa bersalah “Tapi, Dad bisa anggap aku Mom untuk sesaat.” Jasper menyugur rambutnya kebelakang dengan frustasi, ia menatap tajam kearah Sera “Keluar Sera!” “Dad.” Sera mencicit “Maafkan aku.” Sera segera berlalu, merasa lebih bersalah karena telah melempar Jasper kembali kekenyataan, ia hanya ingin membantu ayahnya, mungkin sedikit mengurangi rasa sedih itu. Tapi sepertinya Sera membuatnya jadi lebih buruk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN