Chapter 30

3297 Kata
Chapter 30 Kepergian sang Pure Angel   Halo semuanya, part ini adalah part terakhir cerita ini, semoga kalian akan tetap menikmatinya, terimakasih untuk semua pembaca Half Werewolf and Fallen Angel Mate, semoga kita bisa ketemu di cerita selanjutnya.                         “Momma, mau kemana?” Abraxas menatap sang Momma yang nampak tak baik-baik saja, ada raut sedih di  matanya yang tak pernah Abraxas sukai, melihat sang Momma sedih adalah hal terakhir yang Abraxas inginkan. “Momma ingin berlibur sejenak sayang, mau kah kau ikut?” Gumam Avvyanna pelan. Abraxas menghembuskan nafas pelan “Aku tidak bisa momma tipu, apakah terjadi sesuatu yang buruk, kenapa kita harus meninggalkan istana dan Dadda. Apa Dad menyakiti Momma?” Abraxas benar, anak itu tidak mudah di kelabui, jadi Avyanna membawa Abraxas dalam pelukannya “Sedikit, ikutlah dengan Momma, dan Momma akan menjelaskan padamu, hm?” Abraxas menghembuskan nafas pelan, kemudian mengangguk, pergi kemanapun mereka, akan tetap di temukan oleh Allerick bukan. Abraxas mengikuti Avyanna memasuki portal, Mommanya hanya membawa sebuah koper berisi kertas-kertas itu lagi, dan setelan baju manusia, kini Abraxas tau kemana tujuan sang Momma. Avyanna menyewa sebuah flat di tengah kota, Flat nyaman untuknya tinggali bersama Abraxas. Abraxas menatap sekeliling kamar flat yang cukup luas dan nyaman, ada kipas angin yang berputar di atasnya, dan kaca balkon yang mengarah pada pemangdangan malam kota New York. Mungkin Avyanna hanya butuh sedikit waktu. Abraxas duduk di samping Avyanna, memeluk sang Momma hangat “Aku tau ini soal Dadda.” Ujanya pelan. Avyanna mengangguk, memeluk Abraxas pelan “Aku juga tau Momma sedang hamil, Desponia yang memberitahuku.” Avyanna terkekeh pelan “Itu yang dia bisikan padamu.” Abraxas mengangguk pelan. “Aku juga tau kalian tidak saling mencintai, Momma dan Dadda, aku mendengar pertengkaran kalian malam sebelum peperangan.” Avyanna menatap Abraxas penuh sesal “Maafkan Momma, semua itu bohong, tapi Momma yakin Daddamu tetap menyayangimu meski kami tidak saling mencintai.” Abraxas menggeleng “Momma yang mencintai Dad.” Avyanna meringis pelan kemudian mengangguk “Mungkin Momma yang terlalu berharap, Dadmu sampai kapanpun tidak akan mengerti apa itu cinta.” Abraxas menggeleng “Kata Amren Momma adalah pemantik, Amren juga tanpa hati, tapi dia bisa mencintai Ismene.” “Itu mungkin terjadi, tapi Dadmu, ada sedikit kemungkinannya.” Abraxas menghembuskan nafas pelan “Jadi kita akan meninggalkan Dad,” Avyanna membelai wajah Abraxas pelan “Sementara waktu oke,” Abraxas mengangguk patuh, bukan karena ia setuju meniinggalkan Allerick, tapi ia ingin menemani Avyanna dan adiknya. Abraxas tidak menyalahkan Allerick karena tidak bisa mencintai Avyanna, Abraxas mengerti terlahir tanpa hati bukan keinginan Allerick, seperti kata Amren, Mommanya bisa merubah semua, namun nampaknya Mommanya hanya lelah dan memilih beristirahat sejenak. Dan Abraxas mengerti tentang hal itu.             Allerick mencari Avyanna ke kamarnya namun tak ada, ia pergi ke kamar Abaxas dan menemukan keduanya tak ada di manapun “Layla!” Allerick menuruni tangga dengan tergesa, ketika menemukan Layla berlari menghampirinya dari arah dapur membuat Allerick mengernyit “Kau tau dimana Avyanna dan Abraxas?” Layla menggeleng pelan, raut wajah Allerick membuatnya takut, sudah lama Layla tidak melihat wajah keras yang menahan amarah itu lagi. “Sial, cari mereka!” Titah Allerick murka, Layla menunduk hormat, kemudian ikut mencari dimana Abraxas dan Avyanna. Kini seluuh penghuni istana di sibukan dengan pencarian Avyanna dan Abraxas, Rush tidak mengerti kenapa Allerick tidak tau kemana anak dan istrinya, jika benar dugaan Rush kepergian keduanya ada hubungannya dengan kepergian Daleka pagi ini, ia tau semalaman Allerick berada di hutan buatan, entah apa yang dilakukan pria itu disana hingga kembali pagi hari untuk mengantarkan kepergian Daleka dari istana, kini Rush tau Avyanna pasti melihat apa yang Daleka dan Allerick lakukan malam itu, karena Rush juga tak sengaja melihat kemesraan Daleka dan Allerick malam itu, semua ini terasa buruk kini, sebuah kesalah pahaman, Rush tau Daleka yang menginginkan ciuman itu sebagai tanda perpisahaan, entah bodoh atau apa, Rush kebingungan ketika Allerick bahkan menyetujuinya. Sejahat-jahatnya pria itu harusnya ia mengharagai Avyanna bukan. Mereka sudah menjadi suami istri, dan ada Abraxas juga, sudah sejak dulu Rush berfikir tentang Avyanna yang terlalu sabar menunggu Allerick, namun ia salah, Avyannna hanya menunggu batas sabarnya habis, meski Avyanna adalah makhluk dengan hati lembut, bagi Rush wanita itu lemah terhadap perasaannya pada Allerick. Rush kini menduga, Avyanna benar-benar pergi ke tempat yang jauh, yang tak bisa Allerick jangkau untuk sementara waktu, Avyanna lebih cerdas dari yang Allerick duga.             “Amren!” Allerick memasuki istana Amren dengan wajah murka yang membuat semua penghuni istana Amren tidak berani memandangnya. Amren yang saat itu tengah bersantai di ruang tamunya terlonjak, tidak menyangka Allerick akan beteriak sekencang itu. “Apa!?” Amren membalas sewot. Namun ketika melihat ekspresi Allerick membuat Amren tau, kedatangan pria itu pasti karena terjadi sesuatu dengannya. “Apa ada Avyanna dan Abraxas disini?” Allerick memandang Amrren tajam. Pertanyaan itu membuat Amren kebingungan, apa Allerick menuduhnya menyembunyikan anak istrinya, Amren mendengus “Kau gila, bukankah mereka selalu keluar kemanapun atas ijinmu, jangan katakana mereka kabur?” Allerick terdiam, sejenak memikirkan ucapan Amren “Kabur? Tapi kenapa?” Amren mendengus “Kau pasti melakukan kesalahan besar Allerick, Avyanna tidak mungkin kabur membawa Abrraxas bersamanya jika dia tidak kecewa padamu.” Allerick menginta pertemuannya dengan Daleka semalam, apa karena itu “Apa karena ia melihat Daleka menciumku?” Amren mendengus, jujur Allerick terlihat sangat bodoh saat ini “Bodoh, bagaimana bisa kau mencium wanita lain disaat kau punya wanita secantik Avyanna.” Muka Amren tak habis fikir. “Sebodoh-bodohnya aku, kurasa kau lebih bodoh.” “Jadi dia kabur karena itu?” Amren mengacak rambutnya frustasi “Sudah pasti, dia mencintaimu seorang diri selama ini, kini kesabaran dan harapannya habis karena melihatmu mencium wanita lain.” “Kau hanya menciumnya kan?” “Sebenarnya, aku pernah menidurinya.” Amren menganga “Kasihan sekali Avyanna.” Amren menatap Allerick tak percaya “Avyanna  pernah mengatakan ia mencintaimu?” Allerick mengangguk pelan “Dua kali.” Amren kini benar-benar merasa kasihan pada Avyanna “Apa yang kau katakana setelah mendengarnya. “Aku mengatakan itu menjijikan pertama kali, lalu aku meminta maaf karena aku tak bisa mengerti apa itu cinta untuk yang kedua.” Amren menggeleng tak percaya “Dia pasti sudah menyerah terhadapmu.” Allerick mengernyit “Kenapa dia menyerah.” “Allerick aku tidak tau kau sebodoh—“ “Berhenti bilang aku bodoh!” “Tapi itu faktanya, dengar karena Avyanna memiliki perasaan, dia pasti cukup tangguh menghadapimu, menahan rasa cemburunya seorang diri, kau menghamilinya tanpa rasa cinta, bagi seorang yang berhati lembut seperti Avy, itu pasti telah menginjak perasaanya. Kau menghancurkannya.” “Bukan fisiknya, tapi hatinya. Dan untuk menyembuhkannya, tidak ada yang tau dengan apa.” Allerick menatap Amren lamat “Aku tidak tau perasaanku padanya.” “Maka jangan berani mencarinya jika kau tidak tau perasaanmu padanya, kurasa Avyanna butuh waktu, percaya padaku, jika kau menemuinya sekarang tanpa tau perasaanmu padanya itu hanya akan memperberuk keadaan.”             Avyanna menatap Abraxas yang tampak bersemangat ketika ia mengatakan akan mengajaknya ke tempat bermain, tapi sebelum itu Avyanna mengatakan pada Abraxas untuk tak mengeluarkan satupun kekuatannya di negri mortal. “Kenapa Momma?” Avyanna tersenyum menunjuk segerombolan anak-anak yang tengah bermain tenis di lapangan depan “Kau lihat, mereka tidak memiliki kekuatan apapun, jika kau mengeluarkan sayapmu didepan makhluk mortal mereka akan ketakutan, jadi berjanjilah pada Momma untuk tidak mengeluarkan satupun kekuatanmu, dan bertindak seperti mereka, oke?” Abraxas mengangguk mengerti, ia menggandenng tangan sang Momma ketika kluar dari rumah kecil yang telah Mommanya beli, Avyanna memutuskan membeli sebuah rumah kecil di pinggir kora, rumah yang cukup untuknya dan Abraxas, ada tetangga yang suka mengantar makanan dan mengajak mereka makan malam, suasana ini lebih hangat dari suasana di kota, mereka menaiki Taxi menuju sebuah toko pernak pernik hari natal, Avyanna membeli pohon natal dai tetangganya, kemudian berencana akan menghiasanya dengan hiasan natal. Sudah beberapa waktu sejak kepergiannya bersama Abraxas dari negri Imortal, tak ada tanda-tanda Allerick mencarinya, hal itu membuat Avyanna kecewa dan juga tenang untuk sesaat, karena jika menghadapi Allerick saat ini, akan membuatnya merasa tidak nyaman. Usia kandungannya sekitar 4 bulan, perutnya sedikit demi sedikit mulai membesar dan Abraxas menjadi anak paling perduli yang pernah Avyanna tau, anak itu menjaganya ketika perutnya keram, atau berusaha membuat lelucon untuk membuatnya tertawa. Ia sangat bersemangat untuk adiknya. Avyanna tau Abraxas memikirkan Allerick di beberapa waktu, namun anak itu tidak mengatakan apapun pada Avyanna, hanya untuk membuat Avyanna tak merasa khawatir. Mereka turun di toko pernak-pernik natal terdekat, salju turun dan udara terasa semakin dingin “Kau kedinginan sayang?” Tanya Avyanna pada Abraxas. “Tidak, ini menyenangkan, kita tidak punya tradisi menghias pohon natal sebelumnya, aku suka disini, sangat keren.” Ujar Abrraxas. Avyanna tertawa pelan, membuka pintu untuk Abraxas, keduanya memasuki toko itu, mereka disambut oleh kakek tua yang tersenyum ketika lonceng di pintu berdenting “Halo, ada yang bisa kubantu?” “Halo, bisa beritahu kami dimana pernak pernik hiasan untuk natal?” “Oh, kalian akan menghias, kemari biar kutunjukan.” Ujarnya ramah. Kakek tua itu membawa mereka kebagian hiasan natal kemudian meninggalkan mereka. “Pilihlah Abraxas,” “Baik Momma, serahkan padaku.” Avyanna dan Abraxas kemudian sibut terlarut dalam kegiatan mereka, memilih macam-macam hiasan natal, ketika selesai dan akan membayar, Avyanna memperhatikan Abraxas yang menatap mainan bola salju yang di pajang “Kau boleh memilikinya sayang.” “Terimakasih Momma.” Abraxas mengambilnya dengan semangat.             Setelah selesai berbelanja, Avyanna memutuskan untuk pergi ke café didepan toko pernak pernik, memesan coklat panas untuknya dan Abraxas. “Apa Momma sering ke negeri mortal?” Bisik Abraxas. “Momma tinggal disini beberapa waktu.” “Whoa, pantas saja Momma tau segala hal.” Waiters tersenyum kepada mereka dan meletakan dua cangkir coklat panas dihadapan mereka, Avyanna mencicipinya kemudian merasa lega karena rasanya sangat enak, Abraxas pasti akan menyukainya. “Momma, sangat enak.” Avyanna tersenyum. Anak dan Ibu itu berbincang cukup lama di dalam café, setelah menghabiskan coklat hangat masing-masing, keduanya memutuskan kembali ke rumah dan menghias pohon natal hiingga larut malam.             “Bangun Abraxas, coba cek apa Santa meninggalkan hadiah untukmu.” Avyanna bersandar di pintu, menatap Abraxas yang melonjak dari kasurnya setelah mendengarkan ucapan Avyanna. Dengan piamanya Abrraxas berlari ke ruang tamu, menatap kaos kaki yang di gantung di perapian kemudian mengeceknya “Momma aku dapat!” Abraxas berseru heboh, memperlihatkan Avyanna satu kado yang ia dapat. “Boleh aku buka?”” Avyanna mengangguk, ia duduk disamping Abraxas menanti ekspresi bahagia Abraxas ketika membuka kado itu. Isinya adalah hasil tes Avyanna pada dokter Gabriela kemarin, ia pergi ke dokter untuk mengecek jenis kelamin bayinya dan sesuai keingin Abraxas, dia akan mempunya saudara perempuan. “Seorang perempuan Momma, adikku adalah perempuan.” “Ya sayang.” Abraxas memeluk Avyanna erat, dalam hatinya Abraxas berrharap ada Allerick yang mengetahui kabar ini, Abraxas tau kalau Allerick juga menginginkan bayi perempuan, sama sepertinya. Avyanna tau apa yang Abraxas fikirkan, maka ia menatap Abraxas lamat “Apa kau memikirkan Dadda?” “Sedikit,” Jawab Abraxas jujur. “Haruskah kita kembali?” “Aku akan ikut kembali ketika Momma siap, tapi Dad bahkan tak mencari kita, jadi aku ingin lebih lama disini.” “Baiklah sayang.” Suara pintu yang diketuk menyadarkan mereka, Avyanna dan Abraxas berjalan kearah pintu, ketika mereka membuka pintu ada nenek Merry yang membawa kue jahe disebuah piring, nampaknya beliau baru saja memanggangnya “Masuklah Nenek Merry.” Abraxas menariknya masuk dan membantunya duduk di meja makan, Avyanna memang berniat mengundang Nenek Merry untuk makan malam, beliau tinggal sendiri di rumah untuk natal, anak-anaknya tak ada yang bisa datang sementara suaminya telah meninggal beberapa tahun lalu, akhirnya malam itu mereka menghabiskan waktu bertiga saat malam natal.             Di tempat lain, suasana tengah menegang, emosi sang tuan nampak tak terbendung, Amren menengakan Allerick yang berniat pergi menemui Avyanna. “Kau yakin?” Tanya Amrren sekali lagi. “Ya, aku sudah memastikannya.” Amren menghembuskan nafas pelan, mengangguk mengerti. Menahan Allerick untuk tak menemui Avyanna adalah sebuah kesalahan, emosi pria itu tentu buruk, semua orang menjadi tumbal, maka Amren membantu Allerick membuka portal ke negeri manusi, ia sudah tau dimana Avyanna tinggal, ada seseorang yang membantu Avyanna mengunci portal, hingga Allerick tidak bisa membuka portal ketempat Avyanna. Amren tau itu Aillard yang marah setelah tau alasan kepergian Avyanna. Malam itu akhirnya Allerick pergi menuju kediaman Avyanna, ia berdiri di depan rumah Avyanna, malam sudah larut, salju masih turun menutupi seluruh kota. Allerick menatap jendela kamar di atas, menemukan seseorang belum tidur, apakah itu kamar Avyanna. Abraxas menatap sosok Allerick dari jendela, ia nampak ragu itu Allerick, namun ketika tudung dibuka, Abraxas segera berlari turun membuka pintu dan menubruk tubuh Allerick, memeluk Allerick erat. “Kenapa Dad baru datang?” Menemukan nada penuh rindu dari Abraxas membuat Allerick merasa aneh, setidaknya yang terakhir diingat adalah Abraxas tidak menyukainya. “Maafkann Dadda, bagaimana dengan Momma?” “Dad, aku akan mempunyai adik perempuan.” Allerick membawa Abraxas masuk kedalam rumah. “Apa, Mommamu hamil?” Abraxas mengernyit “Dad tidak tau?” Allerick menggeram marah “Tidak, Momma mu harus diberi pelajaran.” “Dia perempuan, adikku.” Allerick menurunkan Abraxas di sofa “Benarkah, seperti yang Dad duga.” “Ini semua karena Dadda, kenapa kau membuat Momma sedih terus.” Nada menyebalkan Abraxas kembali. “Momma mu salah paham, ini rumit. Tapi bisakah beri kami waktu unttuk bicara.” “Baiklah, kamar Momma di lantai atas paling ujung.”             Allerick menatap lamat pintu kamar berrecat putih itu, ketika Allerick memutuskan membukanya, ia melihat Avyanna yang duduk di atas kasur memandangnya lamat, sepertinya wanita itu tau kedatangan Allerick, kini pandangan Allerick fokus pada perut Avyanna “Kenapa kau tidak memberitahuku?” Avyanna diam, Allerick  mengalah, ia mendekati wanita itu dan duduk dihadapannya “Maafkan aku.” Ujar Allerick tulus “Tak seharusnya aku mengijinkan Daleka menciumku meski itu adalah perpisahaan.” Avyanna tetap diam. “Aku tau menghadapiku melelahkan bagimu, tapi aku yakin kau tidak akan menyerah terhadapku, Avy, mencintai bagiku adalah suatu keistimewahan, hal yang tidak akan pernah kuanggap mampu kulakukan.” “Tapi kau berhasil melakukannya, kau menghadirkan perasaan aneh ketika kau melahirkan Abraxas untuku, kau membuatku merasa hampa ketika kau pergi dariku, aku tidak mencarimu bukan tanpa alasan.” “Aku butuh memastikan satu hal, apa aku mencintaimu atau tidak.” Kini Avyanna benar-benar menatap Allerick, menunggu apa yang akan pria itu ucapkan selanjutnya “Kini aku mengerti artinya mencintai.” “Tak ada alasan aku mencintaimu, alasan terbaik yang aku punya adalah itu kau, jika itu kau maka aku akan mengerti apa itu.” “Kembalilah Avy, menjadi mate ku yang sesungguhnya, bukan karena aku membutuhkan kekutanmu, tapi karena aku butuh kau disisiku.” Avyanna tidak pernah tau Allerick bisa selembut dan setulus ini. “Allerick, bisakah kita tinggal disini, hidup normal disini. Abraxas menyukai tempat ini.” “Baik, tapi aku ingin kau melahirkan di negri Imortal, semua orang menantimu dan berjanjilah kita akan mengunjungi istana sesering mungkin.” Kini Avyanna tersenyum, membuka tangannya lebar agar Allerick mampu masuk kedalam pelukannya, d**a Allerick kembali menghangat ketika perut besar Avyanna bersentuhan dengan kulitnya, terasa aneh namun menyenangkan. “Aku mencintaimu.” Avyanna tersenyum mendengarnya, ini mungkin seperti hal biasa, namun jika makhluk tanpa hati seperti Allerick yang mengatakannya, semua terasa lebih menakjubkan.             Avyanna dan Abraxas banging pagi-pagi menyiapkan tiga gelas s**u dan tiga porsi pancake dengan sirup maple di atasnya, Allerick akan ikut sarapan pagi ini, terlihat sederhana namun inilah kehidupan yang Avyanna inginkan. Allerick turun dari tangga dan indra penciumannya menangkap aroma hangat pancake yang baru saja di angkat dari Teflon “Sarapan Dad.” Abraxas menyesap s**u di gelasnya. Menatap Allerick yang menarik kursi di depannya, ia memperhatikan Avyanna yang memasak di dapur kecil dengan perut besar itu, terlihat menyenangkan bagi Allerick, rumah itu kecil namun suasannya sangat hangat, inikah suasana sebuah keluarga yang Avyanna maksud? Jika iya, Allerick benar-benar akan menyukainya. “Ini pertama kalinya aku makan maskanmu,” Allerick menatap pancake di piringnya. “Benar juga, kau akan memakannya setiap hari nanti.” Avyanna menarik kursi untuknya dan duduk di samping Allerick. “Momma sudah mendaftarkanmu untuk sekolah menengah, psst kita memalsukan data sekolah dasarmu.” Avyanna terkekeh pelan, ia meminta bantuan penyihir putih untuk itu. “Sekolah?” Allerick menatap Avyanna dan Abraxas bergantian. “Ya, makhluk mortal melakukannya, mereka akan pergi sekolah, menjadi pintar, mendapat pekerjaan dan kaya raya.” “Kita tidak perlu bekerja Momma, kita bisa minta dari hutan Malgof.” Jawab Abraxas santai. Avyanna mendelik “Tidak, kau akan melakukannya, uang ini hanya untuk keadaan genting, Dadda mu tidak bekerja di dunia Mortal, itu akan mencurigakan jika kita punya banyak uang, Momma berencana membuka café di suatu tempat nanti.” “Dadda mu akan bekerja membantu Momma.” Putus Avyanna. Allerick menatap wanita itu dengan alis terangkat “Aku tidak bilang aku akan bekerja.” “Lalu darimana kita dapat uang.” “Hutan Malgof,” Jawab Allerick acuh. Avyanna memutar matanya malas “Pantas saja kalian ditakdirkan sebagai ayah dan anak.” Ketus Avyanna. Abraxas dan Allerick saling melempar senyum, aneh melihat Avyanna mengoceh sepanjang acara sarapan itu.             “Avy!” Ismene memeluk Avyanna ketika wanita itu baru saja keluar dari portal, semua orang berkumpul di istana Allerick, Lucius dan Azur, Aillard dan Nerdanel, Feyre, Cresida, Melione, Rush dan Amren. “Senang kau kembali.” Rush menatap lega Avyanna. “Kau pasti lelah dengan si b******n itu.” Tunjuk Amren dengan ekor matanya. “Abraxas, kau jahat sekali meninggalkanku,” Ismene memeluk bocah itu erat. “Berhenti, aku tidak suka di peluk.” Abraxas menjauhka diri, segera duduk di dekat Aillard dan Nerdanel. “Avyanna sedang hamil. Anak kedua kami perempuan.” Ujar Allerick, yang lain memandang perut Avyanna. “Kau memproduksi dengan cepat Allerick,”Ujar Lucius tak habis fikir. “Kenapa kalian para pria terus mengatakan soal produksi.” Decak Avyanna. “Aku dan Avy memutuskan tinggal di negeri mortal setelah Avyanna melahirkan.” “Apa!” Feyre mengernyit. “Kenapa?” Tanya Cresida aneh. “Kami ingin hidup normal, lagi pula tugasku disini sudah selesai, aku akan menyerahkan kedudukanku disini kepada Rush.” Tegas Allerick. “Allerick, aku tak merasa pantas.” “Kau pantas, sangat pantas.” Ujar Allerick, maka Rush tak bisa membantah lagi. “Boleh aku beri nama anak kalian?” Aillard menatap Avyanna dan Allerick begantian. “Boleh,” Avyanna tersenyum “Apa namanya?” “Asteria, artinya goddess of dream and astrology.” “Aku menyukainya Aillard, terimakasih.” “Kami akan menamainya Asteria, terimakasih.” Ujar Allerick tulus.             “Momma dimana seragamku!” “Momma, aku lapar.” Avyanna dan Allerick disibukan dengan kegiatan di pagi hari, Abraxas akan menghadiri acara kenaikan kelas, dan Asteria yang ribut meminta s**u di pagi hari, café mereka di liburkan pagi ini. “Ini, cepatlah turun dan sarapan.” Allerick melepar seragam Abraxas tepat di wajahnya. “Dad!” Teriaknya tak terima. “Ini susumu sayang.” Avyanna sibuk memasak dan memberikan apa yang di butuhkan Ateria, bayi beumur 3 tahun itu tumbuhh sangat cantik dengan mewarisi kecantikan Avyanna, kadang orang yang melihatnya tidak akan menyangka bahwa Asteria adalah manusia, karena dugaan mereka benar Asteria dan Allerick yang terlihat begitu menakjubkan adalah pemilik darah tiga klan. Mereka istimewa. “Ayo cepat, kita akan terlambat.” Allerick mengambil roti bakar di atas meja kemudian memassukannya kedalam mulut dengan terburu-buru. “Abraxas, cepatlah!” “Ya ya, aku turun!” “Ayo Asteria.” Mereka semua kini sudah masuk kedalam mobil, Allerick dan Avyanna tertawa pelan menyadari kehebohan hari ini, hidup mereka jauh lebih sederhana namun berwarna. Allerick dan Avyanna, kini mendapat apa yang mereka impikan, keluarga kecil yang hangat dan akan selalu ada satu sama lain. Allerick mengambil keputusan tepat dengan menikahi Avyanna, wanita itu memberinya segalanya, hal yang tak pernah Allerick mampu bayangkan. Dan Allerick akan selalu berterimakasih untuk itu. The End.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN