Chapter 29
Setelah Perang
Aku emang kadang jahat sama beberapa tokoh, tapi gak tau kenapa ngebunuh tokoh Mor seolah ikut ngebuat aku ngerasa sedih, bahkan waktu nulis part kematian Mor dan part ini aja aku nangis woi, aduhh Mor baik banget sih, jadi pas ngebunuh tokoh ini dalam cerita ngebuat aku ngerrasa bersalah.
Pemakaman Mor dan Bibi Jess serta prajurti lain yang gugur diadakan dengan hormat, Allerick memakamkan mereka di The Hidden Forest, tempat yang selalu ia jaga, mungkin mereka mendapatkan kemenangan dalam perang dan tujuan mereka tercapai, namun kehilangan sosok Mor menjadi pukulan besar bagi Allerick dan yang lain, terutama Ismene, kini smeua orang tau Hybird itu mencintai seorang srigala, harusnya mereka akan hidup bahagia setelah aturan yang akan Allerick buat setelah perang, memperbolehkan pernikahan dengan klan manapun, hidup berdampingan dengan damai.
Ismene berdiam diri di makam Mor, menangis disana seharian, Avyanna menghampirinya dengan pelan, memeluk bahu Ismene, dalam suasan itu udara berubah menjadi dingin, cahaya putih muncul dihadapan Ismene, arwah Mor.
Ismene makin tergugu, ia tau itu hanya arwah Mor, pria itu tersenyum hangat pada Ismene, Avyanna menjauh, memberi Ismene waktu. Dalam diam Avyanna juga menangis, ikut kehilangan sosok baik Mor.
“Bisakah kau kembali?” Ismene menangis lagi, suaranya serak.
Arwah Mor menggeleng pelan “Maafkan aku tak pernah mengatakan ini, aku mencintaimu Ismene, tapi kita berbeda.”
Ismene tergugu, menggeleng kuat “Aku tidak perduli, Mor kembalilah, kumohon, semua sudah baik-baik saja sekarang.”
“Aku tidak bisa meski aku ingin.”
“Aku akan membencimu.”
“Maafkan aku Ismene, ada yang lebih mencintaimu di luar sana, dia akan menjagamu dengan baik.”
“Aku ingin kau!”
“Kita tidak bisa Ismene, mengertilah. Terimakasih sudah mencintaiku, selamat tinggal.” Dalam cahay putih dan udara yang kembali dingin Mor menghilang, Ismene berteriak memanggil namanya dengan parau.
Avyanna mendekat, membantu Ismene berdiri “Biarkan Mor pergi dengan tenang Ismene.”
Perlahan, Istana Allerick mulai di perbaiki, begitupun dengan istana Lucius, Raja Hemis kembali ke kerajaanya, kini kerajaan Barat diisi oleh Aillard yang mengantikan Raja Hemis yang menjadi Raja.
Lucius kembali menjadi raja, mereka kembali membangun dari awal, menciptakan awal yang lebih baik, Amren dan yang lain mengunjungi mereka sesekali, banyak prajurit yang gugur dan terluka, yang terluka masih dalam proses pemulihan, mereka tinggal di istana Amren yang fasilitasnya lebih banyak, Allerick dan Rush nampak larut dalam duka setelah kehilangan Mor.
Bibi Maia dan Paman Jackson sudah menitipkan Mor padanya namun ia malah tidak bisa menjaga Mor, Allerick merenung di hutan belakang miliknya, ketika ia kehilangan ia tak pernah merasa sesedih ini, namun ada apa dengannya balakngan, kehilangan Mor membuatnya seperti kehilangan sebagian besar dirinya, Allerick memutuskan mengunjungi Amren ke istananya.
“Amren.” Amren menyemburkan tehnya ketika melihat membuka portal sesuka hatinya di depan meja makan Amren.
Tanpa raut bersalah sedikitpun Allerick duduk di depan Amren “Kau sedang sarapan?” Tanyanya tanpa rasa bersalah.
Amren mendengus “Kau masih punya mata kan.”
“Amren, aku merasa aneh dengan perasaanku, begitu sakit disini ketika tau Mor sudah pergi.” Allerick menujuk dadanya.
Amren menghembuskan nafas pelan “Sudah kukatakan, hatimu mulai bereaksi, perasaan-perasaan aneh itulah yang ku maksudkan.”
“Jadi menurutmu?”
“Kau makhluk berperasaan sekarang.”
Allerick mengangguk mengerti “Kau tidak menghibur Ismene?”
Amren terdiam “Aku tidak tau mereka saling mencintai.”
“Aku juga baru mengetahuinya, sikap Mor pada Ismene biasanya datar dan professional, tidak ada tanda seperti mereka akan saling mencintai atau apa.”
“Mereka menyembunyikannya dengan baik.” Gumam Amren.
“Hiburlah Ismene, dia sangat terpukul atas kepergian Mor.” Allerick membuka portal di depan meja makan Amren, lalu masuk begitu saja.
Amren berfikir keras, dia tidak mungkin mengambil kesempatan atas kematian Mor bukan, tapi Amren juga baru pertama kali menyukai seorang gadis, Ismene berhasil merebut perhatiannya dengan sikapnya yang apa adanya. Amren memutuskan menemui Ismene, untuk menghiburnya.
Ia tak bermaksud mengambil alih posisi Mor, namu Ismene juga pastinya butuh seseorang yang ada disampingnya bukan.
Abraxas tengah duduk bersama Rush di lapangan istana, menatap langit cerah yang gterasa hampa “Aku meindukan Mor.” Gumam Abraxas ‘Tidakkah kau merindukan Mor Rush?”
Rush menatap Abraxas sekilas “Sangat, dia adalah teman yang baik, kehilangan oang semerti Mor tentunya menyakiti banyak orang.”
Abraxas mengangguk setuju, Mor memang sangat baik, Abraxas mengakui itu, Mor selalu mengajarinya banyak hal dan bersabar terhadapanya, bagi Abraxas Mor adalah ayah baptisnya “Mor sudah tidak ada, aku tidak punya ayah baptis lagi, maukah kau jadi ayah baptisku Rush?”
Rush terkekeh “Kenapa kau perlu ayah baptis?”
“Berjaga-jaga, siapa tau Dadda mengusirku, aku bisa lari kepadamu.”
Rush tertawa kecil “Jangan membuat Dadda mu kesal terus padamu, kenapa kau suka sekali membuatnya kesal?”
“Sengaja, ekspresinya menyebalkan, aku suka membuatnya marah, bukankah hidupnya nampak membosankan Rush,”
Rush kembali tertawa “Kau memang anak nakal.”
“Aku tau Momma dan Dadda tidak saling mencintai, aku mendengar pertengkaran meraka.” Lirih Abraxas.
Rush menatap Abraxas iba “Bukan kemauan Allerick untuk lahi tanpa perasaan Abrraxas.”
Abraxas mengangguk paham “Tapi, aku kasihan pada Momma. Dia mencintai Dadda sendirian, Dadda bahkan tidur dengan Daleka.”
Ruhs menatap Abraxas prihatin “Bagiamana kau tau itu?”
“Aku mendengarnya, aku mau Momma bahagia, dan Dadda tidak bisa membuat Momma bahagia.”
“Lalu kau ingin apa?”
“Tidak tau, aku tidak mengerti mereka.”
Allerick dan Avyanna mengunjungi beberapa desa dan kota yang sudah terlihat kembali seperti semula, aktifotas yang mulai tampak normal membuat Allerick merasa tenang, rumah yang rusak dan beberapa fasilitas lainnya akan Allerick perbaiki secara gratis, melihat keadaan akyatnya yang mungkin masih memikirkan perang kemarin sebenarnya membuat Allerick merasa bersalah.
Ada beberapa anak kecil yang kehilangan orangtuanya, ada beberapa orangtua yang kehilangan anaknya.
Semua keadaan akan kembali normal pada waktunya, hanya butuh waktu “Katakan padakau jika ada sesuatu yang kalian butuhkan.” Putus Allerick, para rakyatnya mengangguk hormat, ada perubahan terhadap sikap rakyat Allerick, jika dulu mereka bertahan sebab takut akan Allerick, kini mereka dengan suka rela tinggal dibawah kepemimpinan Allerick ssebab tau Allerick adalah raja yang bisa diandalkan dan mampu menjaga mereka, perlahan pandangan terhadap kekejaman Allerick telah berubah.
Keputusan baru yang Allerick utarakan membuat mereka senang dan bersuka cita, bahwa seluruh klan kini bersahabat baik, bisa saling menerima dan di perbolehkan pernikahan dengan klan lain, kematian Mor juga di hormati, Mor dikenang sebagai pahlawan bagi mereka, oatung Mor di buat di tengah kota sebagai penghormatan.
Allerick terbang bersama Avyanna menuju kerajaan Lucius, kerajaan Lucius juga sedang dalam pemulihan, anak-anak Fallen Angel itu telah sembuh dari trauma, diketahui beberapa Fallen Angel yang memberontak mengungsi di tempat aman, menghindar dari kejaran mereka telah kembali dan tinggal di istana Lucius, dengan suka rela Lucius menerimanya menjadi rakyat baru Fallen Angel, tidak perduli dari kerajaan manapun mereka, kini mereka adalah satu, tidak perduli dari klan mana dan dari bagian mana, semua ini terasa benar dan lebih melegakan.
“Selamat datang Allerick dan Avyanna,”Azur menyambut keduanya, membawa mereka masuk kedalam istana, diluar sana nampak ramai, para akyat Fallen Angel tengah bergotong royong, membangun kembali apa yang telah rusak, semuanya akan kembali normal namun pelan-pelan, Allerick akan membantu sebisanya.
Azur dan Lucius menjamunya dengan meminum the di siang hari “Dimana Abraxas, kenapa kalian tak mengajaknya, Xylia terus mencarinya.” Ujar Azur.
“Apakah mereka akrab?” Kekeh Avyanna.
Lucius tertawa pelan “Entahlah aku juga bingung, entah kapan kedua bocah itu akrab.”
“Kapan-kapan kami akan mengajaknya,” Ujar Allerick.
“Bagaimna dengan perkembangan di istanamu?” Lanjutnya.
“Hampir selesai, aku tak menyangka mereka memberontak dari Zender dan melarikan diri dengan berpindah tempat, masih banyak yang tersisa dan waras ternyata.”
“Sebagian besar dari mereka terpaksa,” Jawab Allerick.
Mereka setuju, Zender dan Falcon begitu kejam memaksa rakyat biasa berperang, emerak melatihnya sekuat munkin agar mampu menahan Allerick di medan perang, sayangnya mereka yang tak bersalah harus mati sia-sia.
Berita perang sebelumnya tersebar ke banyak tempat yang bahkan tak dijangkau, keberhasilan Allerick di perang itu membuat beberapa kerajaan lain mengajukan banyak kerjasama dalam berbagai bidang, mereka percaya Allerick dapat menguntungkan mereka jika bekerjasama dnegan Allerick.
Namun kini Allerick masih dalam masa pemulihan, ia tidak bisa mengurus hal yang lebih jauh selain memulihkan kerajaanya seperti semula, ia juga harus membantu kerajaan Lucius untuk pulih, kekacuan ini erjadi karenanya atas rasa bersalah dan terimakasihnya pada Lucius, Allerick memberinya banyak bantuan untuk kerajaanya.
Abraxas menghabiskan hari itu hanya dengan terbang mengelilingi istana, anak itu berhenti di sebuah bukt di belakang hutan kerajaan, dai atas sini ia bisa melihat istananya, Allerick dan Avyanna bilang mereka sibuk mengurus beberapa urusan, mereka menawarkan Abraxas untuk ikut namun Abraxas merasa ingin keluar dari istana.
Abraxas tidak mengerti banyak hal tentang orangtuanya, namun apa yang ia dengar beberapa waktu lalu membuatnya banyak berfikir, apa Mommanya tidak bahagia, jika iya, apa yang harus Abraxas lakukan, ia tak mau Mommanya bersedih, keadaan di istana juga nampak dingin bagi Abraxas, mungkin karena semua orang masih berduka atas kematian Mor.
Abraxas memutuskan membuka portal ke The Hidden Forest, Amren yang mengajarkannya cara membuka portal, bagi Abrraxas meski Amren menyebalkan pria itu sebenarnya adalah pria yang baik, mungkin Abraxas bisa mempertimbangkan Amren menjadi ayah baptis keduanya.
Portal ke The Hidden Forest terbuka, Abraxas segera bejalan ke rumah Ismene, wanita cerewet itu sedang tidak baik-baik saja, pasti ia seharian menangisi Mor, Abraxas melihat kesekeliling, tangannya masih sakit sebenarnya karena terkena panah, namun ia tak terlalu memikirkannya, ia melihat gubuk Ismene, bunga-bunga yang sebelumnya terawat itu mulai layu, Abraxas melihat Ismene yang duduk termenung di jembatan kecil, Abraxas hendak menghampirinya sebelum ia melihat ada Amren yang mengintip dari balik pohon, Amren, kenapa Amren menginti Ismene seperti itu, Abraxas tersenyum geli, mungkinkah Amren khawatir pada Ismene?
Abraxas berjalan pelan mendekat “Ismene!”
Ismene yang tadinya melamun tersentak, tak berfikir Abraxas akan menghampirinya, wanita itu berdiri “Abraxas, kau kesini sendiri, orangtuamu akan mencarimu, kembalilah.”
“Kau cerewet sekali, sangat membosankan di Istana, ayo ajak aku jalan-jalan.”
Ismene menghembuskan nafas pelan “Aku sedang tidak ingin kemanapun Abraxas.”
“Ayolah Ismene, aku benar-benar bosan, tidakkah kau juga bosan?” Abraxas menarik Ismene mengeluarkan sayapnya “Terbanglah, kita ke istana Amren.”
Amren yang masih bersembunyi di balik pohon mendelik, dia kan sedang disini, siapa yang akan bocah itu cari di istananya.
“Untuk apa kita kesana?”
“Menemui Feyre, aku mau berlatih dengannya.”
Ismene menghembuskan nafas pelan, karena Abraxas terlihat begitu bosan sampai harus memaksa Ismene, maka ia menurut, mereka terbang melalui jalur yang sudah di bukakan oleh Amren, karena sepeti yang diketahui, kerajaan Amren tidak bisa di kunjungi oleh sembarang orang.
Amren yang mendengar keduanya akan pergi ke rumahnya segera membuka portal, ia keluar dan menunggu dengan santai di meja makan, meminta makanan jamuan yang enak untuk keduanya.
Beberapa menit kemudian teriakan Abraxas terdengar, Amren berdehem, berusaha untuk pura-pura tidak tau akan kedatangan mereka.
“Apa ini, kau makan semua ini sendiri?” Ismene menatap meja makan dan Amren bergantian dengan selidik.
“Ya, aku memang sellau makan sebanyak ini.” Amren melepaska buku bacaanya “Oh kalian datang, duduk lah, makan kudapan bersama.”
Diam-diam Abraxas menahan tawa mengejek Amren, pria itu pasti pontang-panting kembali ke istananya.
“Kebetulan sekali Ismene, kau pasti belum makan.” Abraxas menodorong Ismene duduk di samping Amren.
Pria itu berdehem “Makanlah.”
“Abraxas kau mau kemana, kau tidak makan?” Ismene menatap Abraxas yang beranjak.
“Tidak, aku kesini untuk bertemu Feyre, dimana Feyre, Amren?”
“Oh, dia di ruang latihan.”
Abraxas meninggalkan keduanya dalam kecanggungan “Makanlah Ismene.” Ujar Amren lembut.
Ismene menatap makanan di meja tanpa selera, Amren yang melihatnya mengambil sepotong kue blueberry untuk Ismene di piringnya “Ini kesukaanmu.”
Ismene menatap Amren dalam “Apa kau?” Amren mengernyit “Yang di maksud arwah Mor,” Ismene menghembuskan nafas pelan “Mor bilang ada seseorang yang mencintaiku di luar sana, apa mungkin itu kau?”
Amren membisu, ia menatap Ismene lamat, pria itu menarik nafas dalam “Aku memang, maafkan aku, aku tidak tau kau dan Mor saling mencintai.”
Ismene tersenyum tipis “Aku juga baru tau dia mencintaiku, kami berdua sama, tidak mau mengungkapkannya, karena kami berbeda. Sudahlah, mungkin ini memang takdirnya.” Ismene berusaha tersenyum.
“Bolehkah aku mengatakannya, hanya ingin, selagi ada kesempatan.” Amren menyentuh tangan Ismene dengan ragu “Aku mencintaimu Ismene.”
Ismene memandang Amren dengan berkaca “Terimakasih Amren.”
Amren tersenyum, ia tau Mor masih ada di hati Ismene, namun bagi Amren mengucapkan sesuatu yang penting seperti itu pada Ismene membuat Amren tenang.
Segel mantra Falcon pada Desponia telah terbuka, sekarang Desponia bisa mencai jalan keluarnya sendiri, ketika keluar dari segel, Desponia dapat melihat peperrangan telah usai, Istana Falcon di runtuhkan, namun semua lahan itu atas nama Allerick, begiitupun dengan kerajaan seelatan, semua itu atas nama Allerick.
Desponia berdiri di depan istana Allerick, wanita tua dengan tudung itu masuk, tak ada yang menghentikannya, mereka tau itu adalah si peramal yang telah lama menghilang.
Mereka malah membukakan pintu dengan sopan untuk Desponia, membawanya duduk di meja makan dan menyajikan kudapan untuk wanita buta yang nampak kelaparan itu.
Allerick, Avyanna dan Abraxas menghampirinya, Desponia menatap mereka dengan penuh kekaguman “Kalian berhasil,”
“Maafkan kami, harusnya kami mencari keberadaanmu.” Sesal Avyanna.
Desponia menggeleng “Tak ada yang bisa membebaskanku selain diriku sendiri, karena Falcon telah binasa, makas segel itu juga terbuka.”
Mereka membawa Desponia duduk di ruang tamu, menyalakan perapian untuknya, Avyanna juga meminta pakaian hangat untuk Desponia pada Layla, membantu wanita itu memakainya, Desponia menatap Abraxas “Kemari.”
Abraxas menghampiri Desponia perlahan, duduk dihadapan wanita itu “Kau hebat, diam-diam memasukan ramuan Khisijoten pada minuman orang-orang yang kau sayangi, sehingga mereka beruntung dalam perang bukan.”
Allerick dan Avyanna yang mendengarnya terkejut, sejak kapan, dan dari mana Abraxas tau tentang ramuan itu.
Sebenarnya, alasan Abraxas menghilang dan terlihat lelah beberapa saat ssebelum perang, karena anak itu banyak membaca tentang ramuan, menghabiskan banyak waktu di perrpustakaan Amren, lalu membuka portal diam-diam ke Querencia, meminta ramuan itu pada hutan Malgof.
“Tapi Mor tidak meminumnya.” Abraxas nampak menyesal.
Desponia menggeleng “Jika kau tidak melakukannya, mungkin akan lebih banyak yang pergi.” Desponia menatap Allerick, pria itu mengerti arti tatapan Desponia, ia meminum ramuan itu dalam minuman yang di sediakan Abraxas, maka ia beruntung.
“Bagaimana dengan Mor? Kenapa dia tidak meminumnya?”
Desponia menghembuskan nafas pelan “Dia tau kau menaruh ramuan itu di semua minuman hari itu, tapi dia tidak berniat meminumnya, dia merencanakannya, kini keinginanya terkabul, dia bersama kedua orang tuanya di surge. Dia bahagia.”
“Dia sengaja?”
Desponia mengangguk “Mor adalah pahlawan, kau pun begitu. Aku akan memberimu hadiah.” Tukas Desponia.
Abraxas mengernyit, Desponia membisikan sesuatu yang membuat Abraxas langsung menatap Avyanna gembira “Benarkah?”
Desponia mengangguk, Allerick dan Avyanna yang tak mengerti sama-sama melirik. Namun tak menemukan jawaban apapun.
Allerick menarik Avyanna kedalam pelukannya setelah mereka bergumul dalam peluh malam itu, Avyanna mendongak menatap paras menawan Allerick, masih sama seperti petama kali mereka bertemu, aura pria itu masih begitu memikat dan kuat, parrasnya masih setampan saat pertama kali Avyanna terpaku melihatnya.
“Abraxas memberitahu apa yang dibisikan Desponia?” Allerick menatap Avyanna yang nampak nyaman dalam pelukannya.
‘Tidak sama sekali, dia hanya mengatakan ini sebuah rahasia dan kita akan segera tau.” Kekeh Avyanna.
Allerick mendengus “Anak itu.”
Avyanna kembali terkekeh pelan “Apa kau menyayangi Abraxas?”
Allerick terdiam “Aku tidak tau perasaan seperti apa menyayangi itu, tapi aku sangat ingin menjaganya dengan kedua tanganku, memberikan yang terbaik untuknya, dan ketika aku melihatnya yang begitu mirip denganku, hal itu membuatku senang. Meski sifat nakalnya itu sedikit menyebalkan.”
Avyanna tertawa “Apa Abraxas akan menjadi anak terakhir?”
Allerick menatap Avyanna lamat “Setelah kufikir-fikir, memiliki keturunan tidak seburuk bayanganku, jadi bagaimana kalau kita memproduksi satu lagi?”
“Memang di bayanganmu seperti apa?”
Allerick menerawang “Aku berfikir meereka akan merepotkan ,merengek sepanjang waktu, makhluk kecil menjijikan yang hanya bisa di urus orang dewasa, lemah dan mudah menangis, setelah Abraxas lahir, kukira tidak seburuk itu, dia bayi yang tenang dan kuat, dia bahkan tidak pernah sakit sejak bayi bukan.”
Allerick benar, Abraxas sungguh ajaib “Jadi menurutmu?”
“Mungkin kita akan memproduksi satu lagi, aku mau perempuan kali ini.”
Avyanna memukul d**a Allerick kuat “Apa-apaan bahasamu, anak tidak di produksi, kau fikir mereka apa.”
Allerick terkekeh pelan “Baiklah, kita akan bekerja keras memproduksi satu malam ini.”
Avyanna tengah berdiri di depan patung orangtuanya, Cresida tidak membunuh mereka, dia hanya mengubah mereka menjadi patung emas, Pernikahan Aillard dan Nerdanel sudah berlalu, mereka hidup bahagia kini, Avyanna sangat senang Raja Hemes menerima Aillard dengan baik, bahkan rela menobatkan Aillard menjadi penggantinya, kini kedudukan Aillard adalah sebagai Raja di kerajaan pure angel barat.
Ismene juga sudah mulai memperbaiki perasaanya, Avyanna tau Amren menccintai Ismene, Rush menjadi orang yang lebih dekat dengan Allerick, mereka pergi kemanapun dan mengurus beberapa hal bersama, Rush adalah pengganti Mor, menjadi tangan kanan Allerick, baiknya Allerick tidak mau Rush menganggapnya Tuannya, ia mau Rush menganggapnya sahabat, sama seperti Mor menganggap Allerick sahabatnya.
Avyanna menatap patung kedua orangtuanya yang di simpan di rumah kaca “Aku memaafkan kalian, terimakasih sudah melahirkanku.”
Avyanna mengelus perut ratanya, ia tau perasaan ini, perutnya seperti terisi kehidupan didalamnya, kini ia tau apa yang menjadi rahasia Abraxas dan Desponia.
Kehamilan keduanya.
Rasanya lebih tenang dari kehamilan pertamanya, tidak ada perubahan mood yang terlalu berlebihan seperti sebelumnya, Avyanna rasa keinginan Allerick untuk memiliki anak perempuan akan terkabul.
Daleka masuk kedalam gubuk di hutan belakang kerajaan, Allerick yang memberinya gubuk itu agar Daleka fokus dengan segala latihannya, semua penyihir putih kembali ke negeri manusia setelah perang, Bibi Jess yang meninggal membuat mereka berduka, namun mereka juga mengikhlaskannya, Daleka diminta mewarisi Club Mi Amor di New York namun Daleka tidak bisa meninggalkan istana Allerick, ia berjanji akan setia mengabdi pada Allerick.
Daleka mencintai Allerick itu benar, setiap Allerick membutuhkannya Daleka akan menyelesaikan permintaan Allerick dengan baik, oleh karena itu Allerick harus member imbalan kepada Daleka, mereka akan menghabiskan malam bersama, namun sejak adanya Avyanna terakhir kali mereka melakukan itu sudah bertahun-tahun lalu. Daleka mengerti karena Avyanna marah sejak mengetahui perbuatan Allerick di belakangnya. Tapi menurut Daleka, harusnya Avyanna tau jika Allerick adalah makhluk tanpa perasaan, sesuatu seperti mencintai adalah hal yang mustahil bagi Allerick.
Kini perang sudah terjadi, kemungkinan Allerick membutuhkannya sangat sedikit, maka dari itu Daleka memutuskan kembali ke tanah kelahirannya, tempat para penyihir putih sembari berkelana mencari kelompoknya.
Sebelum itu ia ingin Allerick memberinya sebuah perpisahaan, maka Daleka mengirim sinyal pertemuan dari perapian pada Allerick, pria itu menemuinya di dalam gubug "Mari bicara di luar." Ujar Allerick, membuka pintu gubug Daleka, mereka duduk di teras.
Dulu ketika Allerick mengijinkannya tinggal di istananya, Daleka fikir presepsi semua orang tentang Allerick yang begitu kejam dan tak berperasaan adalah salah, meski dengan cara yang angkuh dan terlihat enggan, pria itu tetap menolongnya.
“Aku berfikir untuk kembali ke tanah kelahiranku, sambil berkelana mencari kelompok penyihir putih yang masih tersisa.” Ujar Daleka pelan.
Allerick mengangguk mengerti “Terimakasih atas semua pertolonganmu selama ini, itu sangat berarti.”
Daleka terkekeh mendengarnya “Kau terdengar asing, seorang Allerick berterimakasih.”
Keduanya tertawa pelan “Banyak yang berubah,”
Daleka mengangguk “Benar, Allerick aku akan pergi besok, aku tau ini terdengar sangat kurang ajar, tapi aku ingin mengungkapkannya selagi ada waktu, kau tak perlu membalasnya.”
Daleka terdengar menarik nafas panjang “Aku mencintaimu Allerick, maafkan aku.” Ujar Daleka penuh sesal “Aku tau sudah ada Avyanna, maka itu tetaplah bersamanya, dia sempurna untukmu.”
Allerick tersenyum tipis “Terimkasih sudah memahami itu, dan selamat tinggal Daleka, senang mengenalmu.”
Daleka meremat tangannya gugup “Bolehkah aku menciumu untuk terakhir kali, kumohon.”
Allerick berfikir lamat “Untuk terakhir kali,”
Daleka tersenyum senang, lalu ciuman lembut itu terjadi begitu saja, hanya ciuman seringan bulu, sebagai tanda perpisahaan.
Ciuman keduanya berhasil di lihat oleh Avyanna, dirinya mencari keberadaan Allerick untuk memberitahu keadaan kehamilannya, namun melihat hal didepannya membuat Avyanna menganggap fakta bahwa Allerick akan selalu tanpa hati menghancurkannya sekali lagi, malam itu, difikiran Avyanna adalah satu hal.
Mungkin ia harus meninggalkan Allerick, selagi dirinya sudah tak diperlukan lagi.