Chapter 28
Perang Terakhir
Kini Zender baru telihat bersama Falcon, dimata mereka Allerick nampak menyedihkan, lihatlah tenaga mereka yang sudah pasti terkuras habis, Falcon dan Zender menatap Allerick dan kawanannya yang nampak berkurang banyak.
“Kuakui kehebatanmu, setengah dari pasukanku kau bakar hidup-hidup.” Ejek Zender.
“Kami harusnya berhasil membunuhmu malam itu bersama orangtuamu yang tak tau malu.” Ketus Falcon.
Allerick mengepalkan tangannya marah “Oh, bagaimana ini, anggotamu berkurang banyak.” Zender terkekeh “Serahkan Avyanna jika kau ingin peperangan ini berhenti.”
“Bunuh aku dulu,” Ketus Allerick.
“Baiklah.” Suar kedua dibunyikan, panah api kembali di tembakan dari atas, kawanan pasukan terbang Allerick bersama penyihir putih yang tersisa 6 orang itu menyerang di udara, saling membasmi satu sama lain.
Amren melihat situasi ini tidak menguntungkan, jumlah mereka sedikit dan tenaga merreka sudah terkuras, dengan keputusan terakhir, Amren membuat hutan merah menyara, hutan yang sebenranya sudah menjadi miliknya atas ijin Allerick “Keluarlah makhluk-makhluk dari hutan merahku, bantulah tuanmu, bunuh semua musuh ini untuku!”
Getaran tanah dih hutan merah menghentikan kegiatan mereka sesaat, 1 makhluk tanah yang tingginya lebih tinggi dari gunung itu berdii kokoh dengan mata menyala, makhluk tersembunyi yang hanya dimiliki hutan merah, makhluk inilah alasan Allerick begitu berat menyerahkannya pada Amren awalnya, namun Amren lebih bisa di andalkan dari yang Allerick duga.
“Injak mereka tanpa ampun!” Teriak Amren, makhuluk itu mengangguk, bergerrak dengan getaran tanah yang besar, menginjak kawanan musuh dalam sekejap, membasmi banyak musuh, Amren menatapnya puas, ia menatap Avyanna yang sedang melakukan mantra pemanggil, terlindungi dalam segelnya.
“Kekuatan hipnotis Nerdanel telah dicueri Zender.” Ismene berseru panik, membantu Nedanel yang nampak terluka duduk di dekat Amren.
“Bagaimana bisa?”
“Itu kekuatannya, jangan tatap matanya ketika ia meminta.” Ujar Ismene.
“Bibi Jess meninggal,” Melione mengangkat jenasah bibi Jess ke belakang.
Amren menghembuskan nafas pelan.
Allerick mengibaskan 10 racun sekaligus dan berhasil membunuh 10 pertahanan yang menjaga Zender dan Falcon, ketika Allerick ingin melemparkan duri beracunnya, duri itu memental, dalam sekali tebasan sayap Falcon.
Falcon menatapnya remeh “Akulah yang membunuh Ibumu.”
Allerick mencekik leher Falcon sekuat tenaga, namun tangannya terasa melepuh, Allerick melepaskannya, dia menatap Falcon aneh, tidak mungkin seorang pure angel memiliki kekutan seperti itu kecuali.
“Lucifer!” Allerick tau Lucifer telah memanipulasinya, yang ada didepannya adalah jiwa Lucifer “Kau telah bersekutu dengan Lucifer.” Allerick tau itu terlarang, Falcon pastinya mengambil kekuatan Luicfer untuknya, betapa licik pria tua itu.
“Mencoba membunuhku?” Falkon menatap tajam Allerick, tiba-tiba mulut Falcon menganga semakin lebar, mengeluarkan lidah panjang yang menjijikan.
Semburan api yang mengenai lidah Falcon membuat Allerick menoleh keatas, ada Abraxas yang menatapnya dalam “Tetap hidup Dadda.”
Allerick tersenyum, Abraxas pergi membantu yang lain.
Allerick akhirnya mengeluarkan mata kutukannya, menahan panas di tangannya Allerick memaksa Falcon menatapnya, meski pria tua itu masih kepanasan karena semburan Abraxas.
“Bunuhlah dirimu sendiri, sayat kulitmu, dan makan dagingmu sendiri.”
Falcon mengikutinya, pria itu mencari pedang dari salah satu prajurit yang mati, menatap Allerick dengan tatapan kosong, kemudian menusuk dadanya berkali-kali sambil menyayat seluruh tubuhnya, dan dengan kesadaran yang tersisa Falcon memakan dagingnya sendiri di depan Allerick “Aku sudah membunuh mereka untuk kal—akhh!” Allerick menatap pedang panjang yang menembus perutnya. Darah mengalir di perut Allerick, ia menatap Zender yang melakukannya. Menatap Allerick murka.
“Berani sekali kau!” Teriak Zender, ia menarik pedangnya dari perut Allerick, menatap Allerick senang, pria itu tumbang dalam satu dorongan kaki dari Zender, pria itu menatap ayahnya sekali lagi, kemudian menggangkat pedangnya tinggi.
“Allerick!” Avyanna mengibas sayap sekuat tenaga, melempar tubuh Zender sejauh mungkin lalu berusaha membawa Allerick terbang bersama Rush yang membantunya.
“Apa yang terajadi!” Amren menatap Allerick yang nampak kepayahan dibaringkan di rumput, tempat para kawanan yang terluka berada .
“Zender menusuknya.” Jawab Rush.
Avyanna mencoba tenang “Allerick!”
“Dadda!” Abraxas mendarat di dekat Allerick, melihat Allerick yang sekarat membuatnya menangis untuk pertama kalinya.
Avyanna menghembuskan nafas pelan, ia menyentuh luka Allerick, dalam proses yang lama, cahaya putih melingkupi gerakan tangan Avyanna, luka itu tertutup perlahan, apa yang telah rusak dikembalikan, kekuatan mate. Avyanna kini bisa membantu Allerick dengan kekuatan itu untuk pertama kalinya.
“Apa itu tadi?” Aillard tidak tau Avyanna bisa menyembuhkan.
“Kekuatan sang mate.” Jawab Avyanna rilih, ia masih mengenggam tangan Allerick, pria itu membuka matanya, menatap Avyanna dan Abraxas yang menangisinya, perasaan aneh melingkupi Allerick lagi, ia kembali merasakan kehangatan itu lagi.
Allerick mencoba duduk, Abraxas langsung memeluk Allerick dan menangis kencang seperti anak kecil pada umumnya sementara Avyanna terduduk lemas. Tubuhnya masih gemetaran.
“Kau lemah sekali!” Abraxas memukul Allerick.
“Maafkan Dad.”
“Jangan terluka lagi,” Ketus Abraxas.
Allerick tersenyum, mengangguk pelan.
“Terimakasih Avy.”
Yang lain menghembuskan nafas pelan, Amren melihat para penyihir hitam itu mulai melahap makhluk dari tanah hutan merah itu dengan air, membuat makhluk itu terkikis dan hancur.
“Sial, kembali begerak!” Titah Amren.
“Siapa musuh yang tersisa?” Tanya Melione.
“Hanya Zender.” Jawab Allerick.
“Dimana orang tua Avyanna?” Tanya Nerdanel.
“Garda paling belakang, berhadapan dengan Feyre.”
Feyre memutar rantai di tangannya “Jadi kalian orangtua Avyanna.”
Sang Raja menatap datar Feyre “Dia bukan anakku.”
Feyre terkekeh “Benar kalian para iblis, tidak pantas menjadi orang tua Avyanna, bukan?” Ejeknya.
Feyre memutar rantai itu, dalam sekejap mengikat ayah Avyanna, rantai itu bergerak, memakan dagingnya dan membuatnya tercekiki.
“Feyre!” Melione bertreiak nyaring, terlambat, ibu Avyanna telah menusukan sebuah belati ke d**a Feyre, tubuh pria itu melemas, bukan hanya sekali namun berkali-kali ia di tusuk. Avyanna yang melihatnya mengibaskan sayapnya, membuat sang ibu terpental “Melione, obati Feyre secepatnya.
Melione mengangguk, Avyanna menatap ayahnya yang sudah terluka dan sang ibu yang nampak murka memandangnya “Suatu kesalahan besar aku melahirkanmu!”
Avyanna meneguk ludah pelan “Kembalilah, aku tak ingin menyakiti kalian.” Lirih Avyanna.
“Apa kalian tidak menyesal dengan perbuatan kalian?” Tanya Avyanna lagi.
“Satu-satunya penyesalan kami adalah melahirkan penghianat sepertimu.” Ketus sang ayah.
“Ayah,” Avyanna berujar lirih.
“Sudah tak ada jalan kembali, kau tak ingin membunuh mereka biar aku.” Ujar Cresida.
Cresida menatap kasian pada Avyanna yang terbang menjauh.
“Baik, akan kuapakan kalian.”
Allerick menatap Zender yang beusaha melukai Mor, pria itu menusuk d**a Mor dengan kuat, Allerick tersentak “Mor!” Tubuh Mor jatuh dalam dekapannya, mulutnya mengeluarkan darah, Allerick membaringkannya di tanah dalam keadaan damai.
Mata kutukan itu kembali, namun Zender tidak mempan terhadap kutukan, karrena ia telah mencuri kekuatan Nerdanel, Allerick mengibaskan duri beracunnya dengan cepat tanpa Zender bisa mengelak, dalam kemarahannya yang besar, untuk pertama kalinya Allerick berubah menjadi srigala, srigala yang lebih besar dari ukuran normal srigala, dalam mata merahnya yang penuh kemarahan, ia mencabik-cabik tubuh Zender hingga tak tersisa.
Allerick kembali ke bentuk Fallen Angelnya, menatap Mor dengan perasaan terluka, ia mendekap mor mencabut pedang di d**a Mor. Allerck membawa Mor ke tempat prajuritnya yang terluka, Ismene menatap kedatangan mereka dengan tangis “Mor!”
“Semua sudah selesai,” Amren dan yang lain datang, seluruh kawanan musuh telah binasa, yang tersisa dibakar hidup-hidup dan dimusnahkan tanpa sisa.
Perang malam itu berakhir.
Ismene memeluk kepala Mor dipahanya, dengan tangan gemetar mencoba merasakan hembusan nafas Mor, namun tak ada hembusan nafas itu.
“Mor!” Ismene makin tergugu “Kumohon, Mor bangun!”
Ismene melukai tangannya sendiri, membuka mulut Mor untuk meminum darahnya.
Namun tak ada yang terjadi, darah Hybird bisa menyembuhkan luka apapun, namun tidak bisa menghidupkan orang mati.
Mor gugur dalam perang, dan Allerick kehilangan sahabat yang paling berarti malam itu, mereka kehilangan sosok Mor yang hangat, dan Ismene kehilangan cintanya, cintanya pada Mor, yang tak pernah terungkap.