Chapter 27

1487 Kata
Chapter 27 Perang Dimulai               Allerick bangun lebih dulu, pria itu tebang mengelilingi istana Amren di pagi  buta. Ia hanya berniat menjenihkan fikirannya sejenak, obolannya dengan Avyanna beberpa hari lalu masih membekas, ia menyalahkan dirinya yang terlahir tanpa perasaan, namun sejujunya ada perasaan aneh yang ia fiki baru ia rasakan di beberapa momen tertentu. Ketika tahu Avyanna hamil, ada perasaan hangat dan bahagia yang melingkupinya, tapi Allerick tidak tau cara menghadapinya, ketika Abraxas lahir Allerick merasa sempurna dan bangga, namun juga takut secara bersamaan karena kondisi Avyanna, ada perasaan dimana ia takut kehilangan Avyanna, dan hari itu saat dia beremua arwah orangtuanya, Allerick merasa di inginkan, fikiran-fikiran buruk soal dirinya pun lenyap, Allerick merasa berarti saat itu, itu semua adalah perasaan baru yang Allerick baru rasakan, dan semua perasaan itu diberikan dan hadir karena Avyanna. “Apa yang kau fikirkan?” Entah sejak kapan Amren duduk di atas atap bersama Allerick. Allerick memandang Amren sekilas, ia hanya diam sebelum memutuskan berujar “Apa menurutmu, makhluk tanpa hati bisa berubah?” Amren mengernyit “Dalam kamusku, bisa saja. Asal ada pemantik.” “Pemantik?” “Ada yang menyulut perasaan baru muncul, makhluk tanpa hati itu akan merasakan perasaan-perasaan baru, itu pertanda bahwa secara tidak langsung ada yang mamantik.” “Bagaimana kau yakin dengan itu?” “Sederhana, aku juga makhluk tanpa hati, tapi tahukah kau belakangan ada yang memantik untukku.” Allerick terkekeh “Kau mencintai seseorang?” Amren mengangguk yakin “Gadis dengan rambut menyala itu, si Hybird.” “Ismene.” Allerick nampak tak yakin, namun Ismene satu-satunya Hybird disini. “Ya, dia galak dan cerewet sekali bukan.” Allerick menggeleng pelan “Akan jadi apa kalian jika disatukan.”             Allerick membayangkannya, Ismene cerewet dan pemarah, sementara Amren tidak bisa diam dan banyak tingkah. “Pasti akan seru.” “Bagaimana kau tahu kau mencintainya?” Tanya Allerick. “Sederhana, kau ingin memilikinya, ingin selalu ada di dekatnya, kau mau dia hanya untukmu tanpa mau membaginya, dan kau akan marah jika dia terluka dan hilang dari pandangannmu. Sesederhana itu, hal-hal aneh dan perasaan aneh tiba-tiba hadir.” “Kau cukup berguna ternyata,” ujar Allerick. Amren mendengus “Bersyukurlah aku mau membantu.” “Ya ya terimakasih.” “Apa! Kau baru saja berterimakasih?” Amrena menatap Allerick ngeri “Apa kau stress karena merawat Abrraxas?” Allerick tertawa pelan, sialan Amren. “Kau yakin dengan perang ini?” “Aku sudah muak dengan perbedaan antar klan, mari kita singkirkan saja mereka yang memang patuh pada Zender dan Falcon.” Amren setuju sejak awal tujuannya dan Allercik sama, ia juga muak dengan mereka semua.             “Ada tanda penyerangan?” Allerick berdiri di hadapan Askav, pria itu sebagai pemimpin pasukan perang bangsa srigala, ia di tugaskan mengamati keadaan perbatasan. “Mereka bergerak Tuan.” Balas Askov, semua prajurit tengah mennggunakan baju jirah mereka, membawa senjata berupa tombak dan pedang, sementara para penyihir telah menaburkan bubuk Hecate karena mereka bertugas menonaktifkan sayap para pure angel dan pure angel dari musuh dengan bubuk Blodeuweed. Sementara itu mereka mulai membuka portal setelah persiapan selesai, Allerick menatap musuh-musuhnya, ketika melihat gerombolan musuhnya, Allerick sadar jumlahnya lebih banyak dari yang Allerick duga, mereka membiarkan para pure angel dan fallen angel berada di garda belakang, para kaum srigala berada di garda depan bersama para penyihir dan Alvator, Allerick sudah menduga, Zender dan Falcon tidak akan berani di garda depan. Mereka akan bersembunyi di tengah bawahannya dan melindungi diri, sampai saatnya tiba, disitulah dia muncul. Atau itu hanyalah bagian dari rencana busuk mereka. Ivan memimpin di garda terdepan, tersenyum manis pada Allerick, Abraxas berada di sampingnya, nampak angkuh bersama Allerick dan Amren di garda terdepan. “Halo Allerick!” Ivan berteriak, menatap Allerick tajam. Allerick meliahat di udara, ia tau bubuk Bledeuweed telah tersebar,, Bibi Jess memberinya tanda cahaya putih sebagai selesainya proses menabur bubuk Bledeuweed. “Pasukan penyembur api Abraxas.” Bisik Allerick, Abraxas, dan Ismene saling tatap, kemudian mengangguk mengerti, mereka menabur bubuk Hecate diam-diam pada Ismene dan Abraxas yang berada di belakang Allerick dan Amren. Semburan api yang sangat besar dari dua arah berhasil mengejutkan mereka, garda tengah dimana pasukan terbang musuh tengah dibakar hidup-hidup, Amren menghentakan kakinya di tanah, menelan yang telah terbakar hidup-hidup. Ivan menatapnya dalam diam, entah kenapa di atak merasa terganggu dengan itu, Ivan hanya tersenyum, kemudian berujar “Baiklah, kita mulai ini.” Suara tembakan suar menandakan peperangan itu dimulai, tak ada yang bisa mengelak, seluruh pasukan maju, berusaha menembus garda tengah, dimana tujuan mereka berada, Allerick ingin membunuh Falcon dan Zender dengan tangannya sendiri. Sementara itu Amren membangun pasukan petarung dari tanah, menghancrukan para akvator dan bumper dalam sekali injak, Avyanna terbang bersama Dragon magma, membakar para penyihir itu hidup-hidup dengan semburan api, dalam sekejap kawanan penyihir itu berteriak kesakitan. Satu Mera mengahmpiri Avyanna, makhluk itu harusnya tak terlihat oleh mata telanjang, namun karena mengikuti saran Alleick untuk menggunakan ramuan dari bubuk Nyxton, semua kawanan Allerick pasti bisa melihatnya, Mera adalah makhluk penyedot jiwa, Avyanna mencari cara menghadapinya karena makhluk itu mulai menyedot energy dan jiwanya, Daleka yang melihatnya mengucapkan mantra peneaklukan Mera, hingga makhluk kegelapan itu musnah begitu saja, Avyanna berterima kasih pada Daleka, para ppenyihir putih lain membantu menyingkirkan Mera. Lucius dan Azur menghadapi para Fire Shooter, makhluk dengan dua tangan dan kepala batu itu melemparkan api pada gerombolan Allerick, dalam sekejap Avyanna terbang ke arahnya, menghancurkan makhluk itu dalam satu kibasan, menyelamatkan Azur dan Lucius. Sementara itu Rush dan Mor, yang sudah masuk garda tengah di cegat oleh Moirai, makhluk lembah yang dipenuhi lender, menghisap hidup-hidup dengan air lendirnya, Rush berjenggit jijik, ia tidak tau makhluk semenjijikan ini akan ada di medan perang, mereka segera mungkin menembak mereka dengan panah api, namun tidak mempan, mereka malah makin terrsedot. Cresida yang melihatnya mengubah cairan itu menjadi cairan keemasan, membuat Moirai itu kehilangan kekuatannya. Melione bersama para arwah menghadapi makhluk setengah manusia setengah kerbau yang membawa kapak, memanipulasi dan menjebak mereka dalam jebakan Melione bersama para arwah. Sementara Feyre menghadapi para Gorgon, menebas kepalanya dengan sadis tanpa berani menatap makhluk pengutuk itu. Sementara Avyanna terus membakarr kawanan itu bersama Ceberus dan Dragon Magma. Avyanna terbang mencari Abraxas, anak itu tengah membakar para kawanan penyihir hitam yang tersisa, namun ada satu penyihir dengan tangan panjang yang mencekik leher Abraxas, Avyanna panik, sebelum ia sempat kesana, Allerick menahan tangannya “Dia bisa mengatasinya.” Ujar Allerick. Avyanna kembali menatap Abraxas, anak itu terrsenyum sinis memeberikan sepulu duri beracun pada penyihir itu hingga tewas seketika kemudian membakarnya hidup-hidup. Allerick tersenyum bangga “Jagalah dirimu sendiri,” Ujar Allerick lalu pergi kembali melawan musuh, jika dilihat dari atas sini, kawanan musuh setidaknya sudah berkuang sebanyak 15% tapat seperti dugaan Avyanna, ia menatap Ceberus dan Dragon Magma yang kini sudah menghilang, waktu mereka sudah habis. Avyanna mungkin akan memanggil Hydra jika musuh tidak berkurang banyak, Anehnya sebanyak apapun musuh yang berkurang, Falcon dan Zender tidak terlihat dimanapun. Allerick kini berdiri dihadapan Ivan, menatap remeh pria tua itu “Pantas saja ibuku tidak mau padamu, jiwamu keji.” Ketus Allerick. Ivan tertawa “Bukankah itu kau, makhluk hina.” Allerick murka, ia mengibaskan panah beracunnya pada Ivan, kemudian pria itu mati dalam racun Allerick. Allerick memilih terbang melihat keadaan, tidak ada lagi pasukan terbang dari musuh, namun ada yang janggal, dimana Zender dan Falcon, ketika 50% musuh sudah lenyap ditangan Allerick dan pria itu hanya kekurangan 30% miliknya, dari arah kiri dan kanan tiba-tiba berterbangan makhluk lain, kawanan Fallen Angel musuh dan Pure Angel yang lebih banyak, kini terlihat jelas perbandingan jumlah sekutu Allerick, jauh lebih banyak sekutu musuh, seolah sebagian lapangan itu dipenuhi sekutu, dan Allerick hanya mendapat sebagian tempat. Ini gila, bagaimana bisa mereka membuat begitu banyak sekutu. “Ini gila, bagaimana mungkin semakin banyak.” Allerick menatap Daleka dan Amren yang terbang di sampingnya “Ini jebakan, kita telah di tipu, mereka sengaja mengirim mereka yang lemah, untuk menghabiskan tenaga kita, itulah pasukan sesungguhnya.” Amren kini tau seberapa licik mereka. “Dimana Abraxas?” “Bersama Ismene.” Jawab Daleka. “Bagaimana dengan Avyanna?” Tanya Allerick. “Dragon Magma, dan Ceberus kehabisann waktu, mungkin dia berencana memangil yang lain.” Jawab Amren. “Tidak, jangan biarkan, itu memakan waktu.” Allerick segera bergerak mundur mencari Avyanna “Katakan pada yang lain untuk langsung bakar saja semua musuh itu. “Baik.” Daleka bergegas, meminta prajurit darat dari Allerick mundur, ketika hanya tersisa pasukan penerbang, mereka menabur gas, dan membaka yang tersisa hidup-hidup. Allerick menatap teman-temannya yang tersisa “Dimana Rush dan Mor!” Bentaknya marah. “Kami disini.” “Sudah kukatakan untuk kembali dengan selamat.” Allerick mendengus “Aku ingin kalian menjaga Avyanna dalam segel sementara dia akan memanggil Hydra. “Kau Amren, aku percayakan padamu.” “Yang lain, persiapkan penyerangan kedua, kelompok kedua adalah musuh sesungguhnya.” Aillard menatap kawanan musuh yang kembali membentuk pola “Mereka akan melakukan penyerangan kedua, tidak ada cara lain, kita harus bertahan hingga akhir   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN