Chapter 26

2174 Kata
Chapter 26 Mengumpulkan Para Petarung             Allerick beserta yang lain pergi ke tempat para Troll, disana seolah sudah menjadi tempat penampungan untuk mereka, kedatangan Allerick disambut suka cita, mereka cukup berterimakasih atas penyelamatan Allerick dan dedikasi pria itu dalam melindungi mereka. Askav dan prajurit lain menghampiri gerombolan Allerick, membungkuk hormat untuk menyapa. Avyanna tersenyum ketika menatap Layla serta yang lain, kehidupan disana mungkin sudah kacau balau, namun setidaknya mereka masih bisa berlindung dan selamat. “Kumpulkan semua orang Askav.” Perintah Allerick, Askav mengangguk, mulai mengambil tempat dan melaksanakan perintah Allerick. Dalam sekejap, bangsa Werewolf, Fallen Angel, dan bangsa Pure Angel dari kerajaan Barat berkumpul, tak ada protes seperti biasanya ketika melihat Allerick, tak ada juga protes tiga klan yang digabungkan menjadi satu, mungkin mereka telah mengerti, sesuatu yang benar-benar buruk akan terjadi, dan hanya Allerick yang bisa melindungi mereka. “Raja Hemis telah menitipkan kalian padaku, dan dengan ijinnya, aku menerimanya.” Kalimat pertama Allerick terucap, tak ada bantahan, Allerick menatap kawanan pure angel. “Kedatanganku kesini adalah untuk mengajak kalian bereparang!” Suara gaduh mulai terdengar, sudah pasti banyak yang tak setuju “Mundur jika kalian tidak bersedia, dan diam di tempat bagi yang sukarela. Tidak ada paksaan!” Kerumunan mulai berkurang sebagian besar mundur, hanya tersisa kawanan anak muda dan yang masih terlihat bugar yang akan bertarung, Allerick tersenyum tipis “Bagus, aku tidak mau ada orang tua dan anak kecil dalam pertarunganku.” “Layla, kuserahkan mereka padamu. Kami akan segera kembali.” Layla mengagguk hormat “Masuk kedalam portal bagi yang ingin berperang,” “Lucius, bawalah Troll yang bersedia juga.” Sekitar 100 pemuda yang bersedia berperang dari klan yang beragam, di tambah 1.000 prajurit Allerick yang masih tersisa. Ada 5 Troll yang merelakan diri ikut berperang, dan sisanya menjaga wilayah mereka sendiri. Ketika masuk kedalam portal, 100 pemuda bersama 5 Troll itu langsung di giring ke sebuah lapangan, di kerajaan Amren, disana sudah terkumpul 1.000 prajurit Amren yang bersedia, ada si kembar yang dapat membelah diri juga ikut serta, ada juga manusia setengah kuda yang dapat memanah tepat sasaran, kini satu portal terbuka lagi, sepuluh penyihir putih masuk kedalam lapangan, Bibi Jess melambaikan tangan pada Daleka, Melione mulai memanggil para arwah pemberontak, ada si kejam Wilson, arwah pendendam yang bisa menarik raga seseorang. Cresida mulai membangun 1000 patung perak biasa menjadi emas, patung itu juga dibuat dapat bergerak, dan bertarung. Feyre memanggil kawananya 100 kaum pemburu dengan kekuatan bertarung tinggi untuk melawan. Avyanna masih fokus melakukan mantra pemanggil, semburan lahar dari naga hitam mengangetkan mereka semua, sebuah pohon bahkan sudah hangus terbakar, ketika Dragon Magma mendarat, Avyanna membelainya. Lalu Avyanna kembali fokus memanggil Ceberus, anjing berkepala tiga, penguasa bawah tanah yang bisa menyemburkan api, sekali lagi kedatangan Ceberus itu mengangetkan semua orang, mereka tak akan pernah menduga ada kesempatan meliihat makhluk itu secara langsung. Allerick tersenyum puas dengan apa yang ia lihat “Daleka, bagaimana dengan bubuk Blodeuwedd?” Daleka memunculkan kantong-kantong berisi bubuk Blodeuwedd “Siap.” Allerick tersenyum puas. Sekitar 4.000 petarung, di ttambah Dragon Magma, sudah cukup, Allerick tidak perlu terlalu banyak, namun lemah. Ia mau yang terkuat. Ia perkirakan jumlah yang ia lihat kemarin sebanyak 5.000 milik musuh, belum termasuk yang disembunyikan, Allerick ingat mereka lebih licik dari yang terlihat, maka Allerick perkirakaan musuhnya hanya akan memiliki kawanan lebih banyak dengan selisih 2000 dari miliknya dengan adanya Ceberus dan Daragon Magma, Allerick bisa membasmi jumlah yang tersisa dengan cepat. “Mulai hari ini, kalian akan berlatih, kerahkan segala kemampuan kalian!” Amrena mengambil alih. Alasan Allerick berperang kini bukan hanya soal membalaskan kematian orangtuanya, atau membunuh mereka yang ingin memburu dan mengambil kekutan Avyanna atau Abraxas, alasan yang lebih penting yang membuat Allerick muak adalah, ia ingin kesepadanan, klan lain memandang sama klan lain, karena bagi Allerick sejak kecil ia melihat klan atas akan menghina klan yang di anggap lebih rendah, dengan peperangan ini, Allerick mau mengakhiri kehidupan sumber pemilik fikiran kasta klan, di bawah kekuasaan Allerick semua akan setara. Avyanna menatap Abraxas yang lebih pendiam beberapa hari ini, anaknya itu juga kelihatan lebih lelah “Apa kau menyembunyikan sesuatu dari Momma?” Abraxas menggeleng “Ismene melatihku terlau keras.” Avyanna terkekeh “Kau perlu itu.” “Baik Momma.”             Suasana tidak lagi sedamai kemarin, lebih banyak makhluk di istana Amren, mereka berlatih begitu banyak, Amren memberikan apa yang mereka butuhkan, Allerick dan yang lain tengah berada di ruang pertemuan bawah tanah milik Amren. “Sudah buat strategi?” Tanya Lucius yang baru datang bersama Azur, keduanya menarik kursi untuk duduk. “Kapan kira-kira waktu terbaik untuk menyerang?” Allerick bersedekap. “Strategi baru mereka pasti sudah siap, aku mengira mereka akan menyerang tiba-tiba, tapi mereka tidak mungkin kemari, Istana Amren adalah istana bangsa Demigod, suatu larangan menyerang kemari.” Balas Melione. “Jadi, kufikir mereka akan menyerang di dekat hutan merah.” Jawab Feyre, pria itu masih sibuk memutar cincin penghancurnya yang bisa mengeluarkan duri. “Perbatasan kerajaanmu dan Avyanna.” Balas Nerdanel. Allerick mengangguk mengerti, itu juga yang ia fikirkan “Aku memperkirakan jumlah mereka paling banyak sekitar 7000 orang.” “Berarti selisih 3000 orang dengan kita.” Aillard mengernyit. “Sebagian lemah, kita punya Dragon Magma yang bisa menginjak mereka sekaligus.” “Apa kau tau kelemahan Dragon Magma? Dia hanya kuat di daerah gunung aktif, semburannya tidak akan sehebat ketika dia disana.” Jelas Avyanna. “Dragon Magma adalah hewan langka yang sudah menua, kita hanya bisa menggunakannya sebentar.” Lanjut Avyanna. “Bagaimana dengan Ceberus?” Tanya Rush. “Ceberus kuat, tapi dia punya waktu sedikit meninggalkan tempatnya, aku hanya meminjamnya.” Avyanna menghembuskan nafas pelan “Jika dugaanku benar, mereka tau soal itu mereka akan mengincarku, aku titiknya, pemanggil mereka, jika aku tetap aman, aku bisa memanggiil Hydra dan mungkin mereka akan langsung kehilangan 70% anggota.” “Tapi memanggil Hydra butuh waktu lama, dia lebih susah di ajak kerjasama.” “Kita bisa menggunakan rencana itu sebagai rencana kedua, pertama  gunakan Dragon Magma dan Ceberus,  karena mereka punya waktu maka kita akan menggunakan mereka untuk memusnahkan 15% anggota dalam beberapa menit.” Usul Mor. “Tidak ingin menyiapkan cara licik?” Daleka menumpu tangan di atas meja “Gunakan bubuk Blodeuweed, bubuk itu berfungsi menonaktifkan sayap Pure angel dan Fallen Angel dalam waktu 1 jam, dalam kurun waktu itu musnahkan kelompok penerbang lebih dulu, lalu musnahkan makhluk darat.” “Itu akan menghemat tenaga, pertama para penyihir putih akan menggunakan bubuk Hecate agar tak terlihat, diam-diam menaburkan bubuk Blodeuweed pada kelompok penerbang musuh, lalu aku akan menelan mereka dalam tanah, sementara Abraxas dan Ismene akan membakarnya hidup-hidup, kita hanya perlu menemukan kelemahaan dari makhluk-makhluk itu.” Jawab Allerick. Semuanya mengangguk setuju “Alvator lemah terhadap air, penglihatan mereka tidak jelas jika terkena air.” Cresida kini menatap balik Allerick. “Pasukan penerbang akan mengurusnya,” Jawab Allerick “Sekaligus Bumper, jika berada di perairan, kekuatan peledak mereka tak akan aktif.” “Jumlah penyihir hitam terlalu banyak, mereka akan merepotkan karena kekuatann mereka berbeda-beda.” “Bakar mereka hidup-hidup,” Putus Allerick. “Bagimana dengan para petinggi, Zender dan Falcon, orang tua Avyanna dan Raja Xavier?” Raja Hemis menatap serius. “Mereka tidak akan berada di garda terdepan, mereka akan bersembunyi dan menyimpan tenaga, keluar di waktu yang tepat.” Balas Allerick, ia yakin orang-orang licik itu tau yang mereka lakukan, yang mereka inginkan adalah menghancurkan pengikut Allerick secepat mungkin dan menjebak Allerick dengan cara yang belum di keahui Allerick. “Daleka aku mau buat ramuan Nyxton, ramuan itu berfungsi untuk membuat kita melihat apa yang tak terlihat, entah ini perasaanku atau tidak, tapi mereka akan menggunakan sesuatu seperti cara itu.” “Baik Allerick.” Jawab Daleka patuh. “Semua sudah jelas, kabarkan strategi ini pada yang lain, dan lakukan dengan baik, aku ingin kalian semua tetap utuh.” “Bahasamu itu.” Ketus Amren. Allerick hanya terkekeh, lebih dari itu Allerick sebenarnya berterimakasih kepada orang-orang yang berada di sisinya saat ini.             Daleka membagikan bubuk Blodeuweed pada kesepuluh penyihir, mereka sudah mengerti apa yang akan mereka lakukan “Pastikan ini cukup bibi Jess, aku benar-benar berterimkasih pada kalian.” Daleka tersenyum tipis. Bibi Jess menggeleng “Allerick punya niat yang akan menguntungkan kita semua.” Daleka mengangguk mengerti.             Avyanna menatap Daleka dan Allerick yang tengah berbincang di bawah pohon oak. Entah apa yang mereka bicarakan, Avyanna menghembuskan nafas pelan, ini lebih sulit dari yang ia duga, Avyanna sudah berjanji untuk melupakan perasaannya pada Allerick namun itu lebih sulit dari apapun, mereka bahkan sudah tidak pernah bicara lagi dan semua memburuk, Avyanna tidak bisa melupakan perasaanya pada Allerick, setiap mmelihat Abraxas hanya akan mengingatkannya bahwa Abraxas adalah anaknya dengan Allerick. Melihat pria itu yang lebih tergantung pada Daleka membuatnya sadar, Daleka lebih berguna daripada Avyanna, dan Allerick pasti lebih membutuhkannya. Avyanna memilih terbang mengelilingi istana Amren, Aillard yang melihatnya dari bawah menghampiri sang adik, mereka juga belum punya waktu untuk berbicara berdua. Avyanna yang melihat kedatangan Aillard tersenyum tipis, meski senyuman itu nampak palsu di mata Aillard. “Allerick bilang kau sudah ingat semua,” Aillard bergumam pelan. Avyanna mengangguk “Terimakasih sudah menjadi kakak yang baik.” Aillard mengernyit “Kau pasti tak ingat ucapan terkahirku padamu di peti.” “Aku ingat, namun mari kita lupakan itu dan tetap menjadi adik kakak, hanya kau yang aku punya Aillard.” Avyanna menatap Aillard dengan pandangan berkaca, Aillard mengerti, ia pun mengangguk, ia juga tak mau kehilangan satu-satunya keluarga yang masih berada disisinya hanya karena perasaan yang tak jelas “Kau adalah saudariku Avy, maafkan aku.” Aillard membawa Avyanna kedalam pelukannya, menangis disana, merasa hangat karena Aillard yang selalu ada untuknya sejak kecil, semua masa kecilnya yang buruk teringat jelas, menyiksa Avyanna. Allerick menatap kedua orang yang tengah berpelukan itu dengan rahang mengatup tegas, ia mengalihkan pandangannya, kembali masuk ke dalam kerumunan yang tengah berlatih.             “Nerdanel,” Avyanna melihat Nerdanel pergi setelah melihatnya berpelukan dengan Aillard tadi, maka dengan cepat Avyanna berlari menghampiri Nerdanel di sebuah lorong. “Katakan apa yang menganggu fikiranmu sekarang?” Avyanna menggenggam tanagan Nerdanel. Nerdanel menghembuskan nafas pelan, menatap Avyanna dengan sedih “Apa kau sudah ingat semuanya?” Avyanna mengangguk “’Termasuk Aillard yang mencintaimu?” Tanya Nerdanel. Avyanna tersenyum tipis “Aku ingat semua, tapi itu sudah lama, Aillard sudah meminta maaf soal itu, kami berjanji akan menjadi kakak adik yang akur, hanya dia satu-satunya keluarga yang melindungiku sejak hari itu Nerdanel.” Lirih Avyanna. Nerdanel membalas genggaman tangan Avyanna “Maafkan aku, Aillard hanya terlalu berharga bagiku, dan aku sangat mencintainya.” Avyanna tersenyum, sekali lagi merasa iri “Kalian yang di cintai dan saling mencintai begitu beruntung.” Nerdanel mengernyit “Hei, apa maksudmu, bukankah Allerick juga mencintaimu, Allerick adalah mate mu.” “Dia makhluk tanpa perasaan Nerdanel.” Nerdanel terkesiap, melupakan fakta itu “Ku fikir, adanya Abraxas—“ Nerdanel tak mampu melanjutkan perkataanya. “Dia tak akan pernah mencintaiku, hanya aku, sendirian yang mencintainya.” Nerdanel menghembuskan nafas pelan “Apa tak ada kesempatan?” Avyanna mengangkat bahu pelan “Sepertinya tidak ada.”             “Apa yang kalian bicarakan sampai membuatmu memeluk Aillard di tempat umum seperti itu?” Allerick menutup pintu kamar Avyanna pelan, menatap perempuan yang siap tidur itu dalam. Abraxas sudah tidak tidur dengan Avyanna atau Allerick lagi, ia meminta kamar sendiri pada Amren. “Kami hanya membahas soal ingatanku.” Balas Avyanna jujur. Allerick menghembuskan nafas pelan, ia mulai bergerak mendekati Avyanna, menatap wanita yang telah melahirkan keturunan untuknya “Jangan berpelukan seperti itu di tempat umum.” Avyanna mendelik “Aillard kakakku.” “Dia mencintaimu.” “Tidak Allerick, dia tidak lagi.” Balas Avyanna pelan “Setidaknya aku tidak tidur dengan oang lain,” Allerick terkekeh “Kau membahas ini lagi.” Avyanna menatap Alleick marah “Aku masih punya hati.” “Dan aku tidak, maafkan aku soal itu!” Balas Allerick geram “Aku tidak ingin terlahir tanpa bisa merasakan apa itu kasih sayang atau mencintai seseoang, tapi beginilah aku.” Allerick benar, Avyanna  menunduk dalam, mungkin Avyanna yang terlalu berlebihan “Bagaimana dengan Daleka?” “Dia hanya teman.” “Teman tidurmu.” Allerick menatap Avyanna aneh “Kenapa kau sangat berlebihan.” “Allerick setidaknya jika kau tidak punya peasaaan, kau harus tetap jaga perasaanku.” Avyanna menatap Allerick sedih “Maafkan aku karena masih mencintaimu, aku mencoba menghentikannya tapi tak bisa.” Avyanna menangis “Melihatmu bersama Daleka, kau bahkan masih tidur dengannya bukan?” “Apa! Aku tidak!” Allerick nampak marah. “Kau ke kamarnya malam itu!” Allerick mendengus “Hentikan ini, aku hanya membicarakan soal bubuk Blodeuweed dengannya. Kini kau menuduhku.” “Aku berjanji tidak akan tidur lagi dengannya, kau puas.” Avyanna menghembuskan nafas pelan “Maafkan aku, mungkin aku berharap banyak.” Allerick menggeleng pelan “Percayalah, jika aku ingin mencintai seseorang itu pasti kau. Kau orangnya, kau memberiku keluarga kecil, kau mengajarkanku menjadi lebih berperasaan, hanya saja untuk mencintai, aku bahkan tak mengerti apa itu.” “Maafkan aku,” Alleick membawa Avyanna ke dalam pelukannya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN