AFTER WAR 9
Cahaya Bulan Paling Terang
Sera memperhatikan kelas Khusus yang nampak sangat sombng dan angkuh, maksudnya kecuali Abraxas dan Asteria yang dilahirkan dengan ekspresi dingin itu kan, ada satu orang juga yang menarik perhatian Sera, gadis bersurai kecoklatan dengan wajah cantik diluar nalar itu.Wajahnya justru sangat ramah dan hangat, gadis itu duduk disamping Abraxas dan Asteria, yang membuat Sera keheranan, bagaimana bisa gadis itu nampak cukup diseambut oleh kedua bersaudara itu.
Sera dan Oprah segera mencari tempat duduk setelah mendapat makan malam mereka, kantin akademi menyediakan banyak menu dari daging, sayur dan pudding sebagai makanan penururp, dari sini Sera sadar, akademi ini sedikit mirip dengan sekolah manusia, bedanya inni negeri immortal dan mereka mempelajari kekuatan-kekuatan aneh.
Sera dan Oprah menghabiskan makan malamnya dengan cepat, mereka ingat tentang janji temu dengan Profesor Resida setelah makan malam selesai.Oprah membawa sebuah panah di punggungnya, sedang Sera tidak membawa apapun, namun ketika ia berdiri ditengah lapangan luas akademi, bulan bersinar begitu terang, Sera tanpa sadar memusatkan perhatiannya pada cahaya bulan itu memejamkan matanya, entah ini perasaannya atau apa, cahaya bulan itu seperti menyambutnya, dalam keadaan matanya yang tertutup Sera tidak sadar tubuhnya sudah dilingkupi cahaya bulan paling terang.
“Selamar datang kembali Putri Moonbow.”Suara itu mengalun lembut, bersamaan dengan cahaya bulan yang makin terang melingkupi tubuhnya, lalu mengucapkan terimakasih dalam hati, darahnya berdesir kuat, ia merasa begitu kuat dan seolah kembali ke tempat asalnya, Sera perlahan membuka matanya, menatap semua penghuni asrama yang kini menatapnya, Termasuk Profeesor Resida dan beberapa professor lain yang menatapnya penuh arti.
Sera menatap Oprah yang menatapnya dengan mulut terbuka.
Profesor Resida berdehem “Profesor Flegan, mohon urus yang lain. Aku perlu bicara dengan Putri Moonbow.”
Profesor Resida membawanya ke ruangannya, menutup pintu dengan pelan, wanita paruh baya dengan jepitan rambut berbentuk bunga yang heboh itu memintanya duduk di kusi, sementara ia duduk didepann Sera.
“Apa kau pernah melakukannya sebelumnya?” Sera menggeleng pelan.
Profesor Resida menatap Sera lamat “Kau akan mengikuti kelas malam, bersama Profesor Welyngton. Pelajaranmu disiang hati akan dikurangi. Mengeti?”
“Baik Profesor.”
Profesor Resida tersenyum, ia menatap Sera dalam “Senang kau kembali, Klanmu membutuhkanmu.”
Abraxas berdiri di lorong menuju ruangan Profesor Resida, ia melihat apa yang terjadi dilapangan, ia baru pertama kali melihat alam yang begitu memuja klan immortal, cahaya tadi sangat terang hingga menembus cahaya asrama, Abraxas bisa mendengar mereka berbicara tentang Sera setelah itu.
Sera menatap Abraxas dari kejauhan, gadis itu menghampiri pria itu “Kau melihatnya?”
“Ya, apa kau sengaja menciptakan kehebohan, apa kau mau pamer.” Ujar Abraxas dengan sinis.
Sera berdecak “Aku tidak tau akan seterang itu, tiba-tiba saja terjadi.”
“Apa kata Profesor Resida?”
“Dia bilang aku akan ikut kelas malam dan kelas siangku akan dikurangi.”
“Kau pernah berfikir,” Sera berhenti melangkah menatap ABraxas dengan kening terangkat “Kau lemah jika tidak ada sinar bulan.”
Sera terdiam, dia selalu memikirkan itu “Aku tau.”
“Temukan cara memanggil bulan.”
“Memanggil bulan.”
“Ya, kau pemanggil, kau lupa.”
Sera mengangguk “Sampai kapan kita akan disini?”
“Kita bahkan belum melakukan apapun.” Ketus Abraxas.
Oprah duduk di kasurnya dengan kaki bersila, gadis itu baru saja selesai mandi setelah selesai berlatih tadi “Jadi kau akan ikut kelas malam?”
Sera begumam “Ngomong-ngomong tadi itu keren sekali. Cahaya bulan seolah menyambutmu.”
“Kau pernahh melakukkanya sebelumnya?” Tanya Oprah, terdengar penasaran.
Sera menggeleng “tu aneh tapi tadi yang pertama.”
Oprah mengangguk paham “Jadi, kau benar-benar diasingkan ke negeri mortal?”
“Dai mana kau tau?”
Oprah tertawa “Hei, gossip menyebar, sejak aku datang dengan si tampan Abraxas dan adiknya yang dingin itu, gossip bertebaran dimana-mana.”
“Ternyata sama saja.”
“Apanya?”
“Di negeri mortal juga mereka suka bergosip begitu.”
“Jadi benar, kau diasingkan disana.”
“Singkatnya begini, Ibuku kabur ke negeri mortal, menikah dengan ayahku yang seorang manusia, dan aku tidak tau apapun soal klanku.”
Oprah membelalak terkejut “Lalu bagaimana kau tau?”
“Abraxas teman sekampusku, ada kejadian dimana pamannya menabrakku, lalu aku dibawa ke kediaman mereka, mereka menceritakan segalanya apadaku, awalnya aku berusaha menyangkal, itu terlalu aneh dan tiba-tiba.”
Oprah mengangguk mengeti “Kau tau kabar soal klanmu?”
“Kekuatan mereka tengah diburu untuk kepentingan klan lain.”
Oprah mengangguk prihatin “Aku sangat prihatin soal itu, meereka tidak boleh tau keberadaanmu, atau merreka akan mencarimu kemanapun. Kau paham.”
“Lalu, apa disini aman?”
“Seharusnya aman, Akademi ini didirikan oleh banyak klan, jika mereka menganggu akademi, itu artinya mereka berurusan dengan klan-klan pendiri.”
“Bagaimana dengamu Oprah?”
Oprah terkekeh “Aku, tidak bisa mengeluarkan kekuatanku, atau memang aku yag tidak memiliki kekuatan.” Oprah terdengar sedih diakhir kalimatnya.
Sejenak Sera teringat apa yang dikatakan Abraxas, orang yang tidak mempunyai kekuatan apapun akan dibuang ke negeri mortal.
“Oprah..” Sera berujar tak enak.
“Aku akan membawamu ke Abraxas untuk kelas tambahan.”
Oprah mengernyit heran “Apa! Kau tidak serius kan?”
“Aku serius.”’ Sera menatap Oprah yakin “Si menyebalkan itu meski begitu, dia sangat jenius. Dia akan membantumu dengan ceepat.”
“Akan kubujuk dia nanti.”
Oprah tertawa senang, lalu mengucapkan terimakasih pada Sera. Ia sering mendengar di buang ke negeri manusia, berarti siap tidak memiliki apapun, mereka tidak akan mengingat apapun, terlahir sebagai oorang asing, tidak punya apapun. Dan Oprah tidak ingi disana.
Sera berdiri di depan kelas khusu, mengabaikan tatapan orang-orang padanya, lama berdirri, Sera melihat Abraxas keluarbersama gadis bersurai hazel itu lagi.
Abraxass menatap Sera aneh “Aku ada permintaan.” Tegas Sera.
“Apa?”
“Tolong ajarkan Oprah menemukan kekuatannya.” Tidak ada keraguan sama sekali dari suara gadis itu, Abraxas menghembuskan nafas pelan “Tidak.”
Sera berdecak, tapi dia ingat dia sedang membutuhkan Abraxas “Tolonglah, dia temanku satu-satunya disini, aku sudah sangat nyaman padanya.”Sera memelankan suaranya, menjadi lebih lembut dan sarat akan permohonan.
“Abraxas mendengus “Kenapa aku harus menolongnya, apa untungnya bagiku?”
Sera mengepalkan tngganya berusahasabar “Apa yang kau inginka, akan aku kabulkan.”
Sejenak Sera menatap curiga senyum miring dibir laki-laki itu “Aku ingin kau mematuhi segal perintahku selama satu bulan.”
Sudah Sera duga “Deal, tapi itu berlaku setelah kau berhasil membantu Oprah.”
“Oke, bilang padanya untuk datang ke perpustakaan mala mini, setela jam makan malam.”
“Kau juga ikut.” Tegas Abraxas.
“Baiklah,”
Abraxas kemudian berlalu bersama Fleur di belakangnya.
Oprah menyambut Sera di depan pintu “Apa katanya?”
“Tentu saja dia mau, dia bilang temui dia nanti malam setelah makan malam di perpustakaan.”
“Sendiri? Aku akan berduaan dengannya!” Pekik Oprah.
Sera menepuk kepala belakang Oprah dengan kesal “Fokuslah!”
Oprah hanya cengengesan.