AFTER WAR 10
Something Wrong
“Kenapa kau tidak datang semalam?” Sera berdecak sebal, ia dan Oprah datang ke Perpustakaan tepat setelah jam makan malam berakhir. Mereka menunggu sampai perpustakaan tutup dan Mr Klein mengusir mereka.
Abraxas melihat sekitar, beberapa orang di atas tangga kelas khusus menatap mereka penasaran, akhirnya Abraxas menarik Sera ke balkon “Profesor Vope, Profesor yang mengajarkan pengontrol jiwa memintaku datang ke ruangannya semalam.
Sera mengernyit “Untuk apa?”
“Dia bilang aku tak perlu ikut kelasnya karena aku bisa mengendalikan jiwaku, aku tau porsiku. Tapi kami menghabiskan waktu cukup lama, dia mengundangku ke jamuan makan malam bersama anak-anak pilihan.”
Sera mendengus “Kenapa kau tidak memberitahu kami, kau tau sampai jam berapa kami menunggu.”
“Tidak bisa, tidak ada ponsel disini, kau paham.” Dengus Abraxas.
Sera terdiam, ternyata lebih canggih dunia manusia dari pada disini “Lalu bagaimana sekarang?” Sera bersedekap “Kau tidak merasa bersalah?” Sindirnya dengan ketus.
“Aku akan mendiskusikan dengan Fleur dimana kita akan berlatih, kau tidak tau dilarang melakukan kegiatan apapun di luar jadwal akademi.”
Sera tau itu, Sera merasa curiga pada aturan yang satu itu, sebenarnya, Sera ingin tau darimana semua masalah ini berasal, semua orang mengatakan tentang tragedy setelah perang, apa mungkin perang yang dimaksud adalah perang yang pernah Abraxas ikuti dulu. Jika ia, Sera benar-benar harus menanyakan semua asal mula semua ini dari Abraxas.
“Aku tunggu, setelah jam makan malam, kau sudah punya solusi.” Sera mengibaskan rambutnya yang diikat tinggi, Sera berlalu meninggalkan Abraxas dengan baju nyentriknya seperti biasa, crop top dengan lengan panjang berwarna hitam, dengan celana merah dan binnie berwarna hitam, bootsnya yang menyentak lantai mengundang perhatian.
Akademi tidak membuat peraturan untuk cara berpakaian, dominan pakaian mereka berupa gaun yang sopan, kuno dan anggun, paling dengan warna lembut atau corak bunga yang cantik. Sera mengenakan pakaian itu karena menghormati Avyanna yang memberikannya, meski sejujurnya ia tak nyaman sama sekali, ia suka sepatu yang menghentak dan pakaian mencolok yang menampilkan jiwanya yang masa bodoh dan berani.
Fleur menatap Sera yang menuruni tangga kelas khusus, gadis itu menjadi pusat perhatian karena cara berapakaiannya, ketika Fleur naik, ia melihat sekumpulan gadis yang berlari dengan malu setelah meletakan kado-kado dan surat di loker Abraxas, menabrak tubuhnya hingga buku-buku yang ia pegang jatuh begitu saja.
“Kau diundang. Jamuan makan malam Profesor Vope?” Abraxas membantu Fleur mengambil buku dilantai. Mengembalikannya pada gadis itu.
Fleur berdiri, ia tersenyum pada Abraxas “Ya, kau juga?”
Abraxas bergumam “Kau ingat soal Sera yang meminta bantuan untuk temannya, Oprah. Kau tau aku tidak jadi membantunya karena dipanggil Profesor Vope semalam?”
Fleur mengangguk “Ya, beliau pasti mengundangmu secara khusus, kau ingat Profesor Vope sangat tertarik padamu.”
Abraxas terkekeh “Memang bagaimana kau diundang?”
“Lewat Bloom.” Bloom adalah makhluk biru transparan yang bisa berubah-ubah warna, namun warna aslinya memang biru, bentuknya seperti asap, tugasnya sebagai pengantar pesan, hanya dimiliki oleh professor dan petinggi akademi, atau murid-murid yang memang diwajibkan memilikinya, conthnya ketua asrama.
“Bantu aku menyembunyikan kegiatan mengajarku untuk sementara.” Abraxas menatap Fleu dalam.
Fleur mengangguk pelan “Katakan saja apa yang kau butuhkan.”
Abraxas mengangguk pelan “Masuklah, sebentar lagi kelas dimulai.”
Abaraxas duduk di kamar asramanya seorang diri, ada dua kasur namun sejak kedatangannya tak ada satupun yang masuk.
Abraxas juga tidak mengharapkan siapapun sebagai teman sekamarnya, ia lebih suka sesuatu yang tenang dan tidak menganggu.
Itulah kenapa ia suka berbagi pendapat dengan Fleur dan berteman dengan gadis itu, dia tenang, lemah lembut dan sedikit mirip dengan sang Momma.
Sebuah Bloom berwarna transparan muncul di hadapan Abraxas yang baru saja selesai berpakaian, Bloom itu memutarinya lalu melepaskan seebuah surat yang muncul dari kepulan asap putih yang dibuat.
Kau ingat Nerdanel dan Pamanmu Aillard, anaknya akan datang dan akan menjadi teman asramamu, dia juga membawa satu teman bersamanya. Bersikap baiklah pada mereka.
Allerick.
Abraxas mendnegus, setelah ia selesai membaca pesan itu, pintu kamarnya terbuka bersamaan dengan masuknya dua anak laki-laki sumurannya. Satu anak lak-laki berambut abu-abu itu mirip dengan Ailllard, dan yang berambut kemerahan pasti temannya.
Abraxas menatap mereka.
“Kau pasti anak paman Allerick.” Pria berambut abu-abu itu terseenyum tipiis
“Horison Jude.”
“Magmus Harvey.”
Abraxas menganguk pelan “Abraxas. Selamat datang.”
“Kau pasti mendapatkan kabar kedatangan kami kan?” Tebak Horison, kedua pria itu duduk dengan nyaman di kasur masing-masing, membiarkan Abraxas tetap di kasur paling ujung dekat jendla, Horison di tengah dan Magmus di paling ujung.
“Yah begitulah.”
“Kau apa alasanmu kesini?” Tanya Magmus.
“Ada yang perlu kuketahui, tentang kekuatanku yang lain.” Jujur Abraxas, ia percaya pada keduanya karena sanga ayah sudah mengatakan untuk bersikap dengan baik, lagippula Hoorison adalah sepupunya juga kan “Kalian?”
“Aku tidak ada masalah, hanya dalam misi.” Horison terseenyum
“Maksudnya, kami berdua.”
Abraxas mengernyit, namun tak bertanya lebih lanjut karena ia ingat ada jamuan makan malam.
Fleur dan Allerick melewati lorong perpustakaan dan menemukan Sera bersama Oprah di depan depan pintu perpustakaan, mereka memberi isyarat menggunakan gerakan tangan kecil untuk saling mengikuti, sekali lagi mereka menuju hutan belakang yang terlarang, tapi Fleur sudah merencanakan semuanya.
Sera menatap hutan belakang yang nampak menyeramkan dengan pohn-phan tua yang menjulang tinggi dan akar yang mencuat keluar.
Fleur meminta mereka menyingkir dan membangun tumbuhan merambat yang menyatu dengan kokoh, sementara Allerick mmebuat apa yang mereka lakukan didalam hutan tak terlihat, trik fatamorgana. Kkuatan baru yang baru Abraxas ketahui diwariskan Allerick padanya.
“Kau sudah membawa apa yang kau perlukan?” Allerick menatap Oprah yang membawa banyak bahan kimia di dalam tasnya, gadis itu mengeluarkannya satu persatu.
Abraxas meminta yang lain mundur dalam radius yang cukup jika terjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan.
“Tidak, jangann membaca bukunya, kau dari klan Poiesis, kau tidak memerlukan buku, pada dasarnya apapun yang akan kau buat akan tetap patuh pada apa yang kau inginkan, ikuti kata hatimu, dan percaya kau memang memiliki darah klanmu.”Tegas Abraxas.
Oprah terdiam untuk sesaat, mencoba mencerna apa yang Abraxxas katakana, Oprah memang memiliki tingkat kepercayaan diri yang kurang, dia tidak pernah percaya pada apa yang bisa dilakukan oleh tangannya sendiri.. Maka kini ia mencoba untuk mengikuti apa yang Abraxas katakana, ia menatap cairann berwarna hijau tua yang ada ditangannya melemparnya pada tumbuhan yang dibangun Fleur dan tumbuhan itu langsung layu dan menyusut seperti mati.
Sera berjingkrak kesenangan begitupun Oprah “Kau tidak akan jadi gelandangan di dunia manusia Oprah.” Ujar Sera.
Abraxas mendengus, ia menatap Fleur “Terimakasih Fleur.”
“Ya, kapanpun.”
“