Chapter 20

3278 Kata
CHAPTER 20 Para Penyihir Putih             “Ismene!” Abraxas terbang menghampiri Ismene yang celaka karenanya, Ismene tengah membantu Abraxas melatih kibasan api miliknya, namun karena tak mendengarkan Ismene untuk membuat api yang lebih kecil akhirnya Ismene harus terkena imbasnya, lengan kenan Ismene sedikit terbakar. Avyanna yang melihat itu benar-benar marah “Abraxas, Momma tidak suka kau menyombongkan kekuatanmu. Lihat Ismene terluka.” Yang lain sudah membawa Ismene ke tenda, sementara Abraxas menunduk dalam karena merasa bersalah. “Maaf Momma.” “Bukan pada Momma, katakana pada Ismene.” Avyanna menghembuskan nafasnya palan “Dengar sayang, kekuatanmu akan lebih berguna kalau kau menggunakannya dengan baik, mengerti.” Avyanna melembut. Ia tak bisa marah pada Abraxas lebih lama. Abraxas mengangguk “Maukah Momma meminta bunga dan obat luka untuk Ismene pada hutan Malgof?” Avyanna mengelus kepala Abraxas kemudian tersenyum, sepertinya ia lupa memberitahu Abraxas kalau ia juga bisa meminta pada hutan Malgof. “Kau bisa minta sendiri.” “Benarkah?” “Ya, cobalah.” Keduanya terbang menuju tenda, semua orang kecuali Allerick nampaknya sedang merawat Ismene di dalam. “Hutan Malgof, ijinkan aku mendapatkan bunga mawar merah untuk Ismene dan obat luka bakar untuknya.” Abraxas berujar tulus. Hutan Malgof  langsung mengabulkannya, di depannya kini ada satu tangkai bunga mawar dan satu botol ramuan luka yang Abraxas minta. Abraxas berterimakasih pada hutan Malgof kemudian ia berlari kedalam tenda menghampiri Ismene, Daleka memberinya jalan dan tersenyum ketika melihat manisnya perlakuan Abraxas. “Ismene, kata Momma aku harus minta maaf.” Abraxas menyodorkan bunga mawar itu pada Ismene yang mati-matian menahan rasa gemas karena perlakuan anak nakal itu. “Kau pelit sekali, hanya setangkai?” Abraxas memutar bola matanya malas “Dasar rakus, kenapa kau tidak bisa bersyukur, Momma harus mengajarimu caranya bersyukur.” Ketus Abraxas, ia menyerahkan ramuan itu pada Daleka lalu keluar begitu saja. Semua orang dalam ruangan itu tertawa melihat tingkah Abraxas “Dia lucu sekali!” Gemas Ismene. “Dia masih seperti bayi di mataku.” Tambah Daleka. “Avyanna mendidiknya dengan baik,” Ujar Mor salut, memang benar, dulu mereka mengira sifat Abraxas akan seperti Allerick, arogan, suka memerintah, tak tau terimakasih, tak bisa meminta maaf, datar, dingin dan kejam. Tapi berkat Avyanna, Abraxas memiliki sisi manis yang seharusnya anak-anak tunjukan. “Itulah sebabnya Avyanna adalah Mate Allerick, untuk menyempurnakan bukan.” Ismene tersenyum.             Allerick membuka portal surat yang terhubung ke kotak surat Amren, akhirnya Amren membalas suratnya, sejak pertama kali datang ke Querencia, Allerick belum menghubungi Amren sama sekali, ia mengirim surat melalui portal satu minggu lalu. Allerick membuka gulungan surat itu, tertulis disana, kalau Amren siap kapanpun ia butuh. Dan itu sudah cukup bagi Allerick, ia percaya pada Amren sebab pria itu berbeda, di saat semua musuhnya menutup memorinya, Amren dengan santai membiarkan Avyanna masuk begitu saja, Amren juga di ketahui sebagai pemberontak, ia juga mengincar hutan merah, Allerick adalah pemilik hutan merah, Amren bisa saja mengambilnya namun hutan itu hanya tunduk pada Allerick, hutan merah sebarnya menyimpan banyak kekuatan makhluk bawah tanah yang Amren inginkan. Ia kembali di jam makan malam,Allerick duduk di kursi utama mejam makan, ia menatap satu persatu orang yang dengan setia mengikutinya, padahal mereka juga bisa celaka kapan saja. “Kita akan ke negeri Mortal besok, persiapkanlah diri kalian.” Ujar Allerick santai, ia membiarkan yang lain berhenti mengunyah tiba-tiba, jika Allerick sudah berkata demikian pasti sudah banyak hal yang ia fikirkan matang-matang, mereka juga mengakui kemampuan Abraxas mengendalikan kekuatannya berkembang pesat dalam waktu singkat. “Daleka, ku ingin kau member surat kedatangan kita besok.” Daleka mengangguk, mereka menyelesaikan makan malam terakhir di Querencia dengan cepat, Avyanna membantu Abraxas dan Allerick berkemas, satu ransel dengan mantra di perluas menampng barang Avyanna, Allerick dan Abraxas dalam satu tas, Avyanna meletakan tas itu di atas kursi setelah selesai. Abraxas membantu Avyanna membereskan barang-barang sejak tadi, kini anak itu merasa lebih santai ketika selesai, ia membaringkan kepalanya di pangkuan Avyanna. “Momma, apa Momma bahagia?” Dahi Avyanna terangkat mendengar pertanyaan Abraxas. “Ya, tentu. Momma punya anak yang tampan sepertimu,” Ujar Avyanna terkekeh, tangannya mengelus rambut hitam Abraxas. “Tapi Momma, Dadda terlihat tidak mencintai Momma.” Ujar Abraxas pelan. “Hei, tau dari mana, kau lahir itu karena kami saling mencintai.” Avyanna terkekeh dalam rasa pahit. Abraxas duduk di depan Avyanna, anak itu menghembuskan nafas kasar “Dadda tidak pernah bersikap manis pada Momma, dia dingin dan selalu irit bicara pada Momma.” Avyanna terkekeh, Abraxas banyak memperhatikan rupanya “Dia memang begitu, itulah sifatnya. Bagaimanapun dia menyayangi kita.” Abraxas tersenyum “Aku akan menjaga Momma, serahkan saja padaku.” Avyanna tertawa keras. Diluar tenda, Allerick merasa menemukan jawaban ketika mendengar percakapan antara Abraxas dan Avyanna, perempuan itu memang berhati malaikat, Allerick menghinanya karena mencintai dirinya, Allerick hanya memanfaatkan keberadaan Avyanna untuk mush-musuhnya, Allerick menyeret Avyanna ke dalam masalahnya yang pelik tapi perempuan itu tetap menyanjung dan membelanya di depan Abraxas. Allerick juga menemukan alasan kenapa Abraxas seringkali terlihat tidak suka melihatnya dekat dengan Avyanna, anak itu banyak memperhatikan rupanya. Malam itu, Allerick menghabiskan waktu berlatih hingga tengah malam dengan memikirkan banyak hal, seperti perasaannya pada Avyanna mungkin.             “Bagaimana?” Allerick menatap satu persatu penampilan mereka, pakaian para manusia, Allerick menatap Mor dan Rush yang memakai kemeja rapi lengan panjang berwarna hitam dengan celana bahan dan ikatt pinggan berwarna senada,setidaknya mereka seperti anak kembar. Abraxas sendiri memakai baju kaos biasa berwarna putih dengan jeans panjang dan sepatu. Allerick, ia mengenakan kaos yang sama seperti Abraxas, persis, hanya beda ukuran saja. “Aku tidak suka warna ini.” Allerick menghembuskan nafas pelan “Bisa minta warna hitam.” “Allerick, kita sudah tak ada waktu.” Kesal Ismene. Avyanna memilih memakai hoodie berwarna pink dengan jeans dan sepatu kets putih, ia sering mengenakannya dulu, Ismene mengenakan sebuah dress berwarna oranye terang dengan heels yang mencolok, sementara Daleka mengenakan dress panjang berwarna putih yang anggun. Itu adalah ide Avyanna yang meminta pakaian manusia kepada hutan Malgof, mereka tidak mungkin tiba di sana dengan jubah dan gaun kuno kan. “Kau yakin ini pakaian makhluk Mortal itu?” Ismene nampak tak yakin. Avyanna terkekeh “Ya, aku tinggal disana cukup lama. Percayalah padaku.” Avyanna meminta hutan Malgof membuka portal ke negeri manusia, Manhattan, pusat kota New York. Portal terbuka, Avyanna mengenggem tangan Abraxas, keduanya masuk kedalam portal lebih dulu. Ketika Avyanna menjadi Lisa, ia sering menghamburkan uang dan berjalan-jalan keliling dunia, kota Manhattan bukan sesuatu yang baru baginya. “Whoaa suara apa itu!” Bunyi klakson yang bersahut-sahutan membuat Rush berteriak heboh, bunyi itu cukup memekikan telinganya. Mereka baru saja menembus portal yang dibuat hutan Malgof,  gedung jam raksasa di pusat kota, waktu menujukan pukul 09.00 malam, Avyanna menatap yang lain “Usahakan berekspresi senormal mungkin.” Ujar Avyanna. Rush berdehem kemudian mengangguk patuh. “Momma, apa itu mobil?” Abraxas menunjuk sebuah mobil lalu lalang di jalanan, memang cukup padat saat malam hari, lampu-lampu jalan juga menyala terang meski malam, pasti mereka asing dengan suara dan lampu terang seperti itu. “Ya, sayang bisakah tahan rasa penasaranmu sebentar oke, kita sedang dalam misi sekarang,” Avyanna berujar lembut, yang lain masih tetap terlihat asing di negeri manusia, Rush yang menatap kesana kemari dengan mulut menganga, Mor yang menatap semua orang lalu lalang dan menatapnya tajam, Allerick yang nampak angkuh dan arogan, Ismene bahkan berjinjit dengan aneh, Daleka sudah mengangkat gaunnya hingga paha karena takut tertinggal dan Abraxas yang berteriak heboh menunjuk sana sini, mereka benar-benar terlihat aneh sekarang. “Daleka, apa mereka membermu sebuah alamat?” Daleka yang tampak kebingungan terdiam, lalu setelah berfikir lama ia ingat Bibinya sekaligus penyihir tertua yang tersisa memberinya sebuah alamat. “Bibi Jess bilang sesuatu seperti club Mi Amor di pusat kota.” Avyanna mengerjap pelan “Club?” Daleka mengangguk mantap. Avyanna akan membiarkan Abraxas yang masih kecil masuk karena anaknya pasti tidak tau apa itu club, jadi Avyanna menyetop taxi di pinggir jalan “Avy! Benda itu berhenti!” Jerit Rush ketika taxi itu berhenti didepan mereka. Avyanna mengabaian Rush “Beri kami tumpangan ke Club Mi Amor.” Supir Taxi gendut berkumis itu menatap mereka bergantian “Kalian semua?” Avyanna mengangguk, ia mengeluarkan segepok uang yang ia minta ke hutan Malgof dalam jumlah banyak, memperlihatkannya pada si supir taxi, Avyanna tau betul makhluk Mortal begitu memuja kertas itu, lihatlah si supir taxi yang langsung mengangguk patuh. Tak keberatan sama sekali mobilnya dimasuki tujuh orang. Avyanna membukakan pintu mobil untuk yang lain, Daleka dan Ismene duduk di kursi paling belakang, Mor Rush dan Allerick duduk di kursi tengah, nampak berdempetan disana, sementara Avyanna duduk disamping supir itu bersama Abraxas di pangkuannya. Avyanna mengabaikan saja tatapan aneh supir Taxi itu pada mereka yang clingak clinguk tidak jelas memandang sekitar.             Club Mi Amor, adalah Club terbesar di New York yang di datangi oleh kalangan atas, klub yang menmutar roda judi 24 jam, penyedia hiburan malam, Club itu mendapat predikat A sebagai club paling laris dan menguntungkan sepanjang tahun, Avyanna tau kenapa, ada mantra sihir di pasang disana. Mereka berhenti di dapan Club super besar dan mewah itu, mobil-mobil Limosin silih berganti berdatangan, Avyanna berjalan di atas karpet merah penyambutan, ia mengeluarkan tasnya, mencari sebuah koper besar di dalamnya. Dua bodyguard itu menatap Avyanna remeh, Avyanna membuka kopernya memperlihatkan uang jutaan dollar di dalamnya, dua bodyguard itu langsung mempersilahkan mereka semua masuk dengan hormat. “Momma boleh aku minta kertas itu, sangat keren, mereka langsung patuh waktu melihatnya.” Avyanna terkekeh mendengar ucapan Abraxas. “Kemari, jangan jauh-jauh.” Avyanna menutup mata Abraxas ketika melihat banyak gadis-gadis berpakaian mini menari dan berjalan kesana kemari dengan p******a yang hampir keluar. Rush dan Mor memandangnya dengan tampang takjub, sepertinya tempat ini menyenangkan fikir mereka. Allerick sendiri cukup terkejut melihatnya, apa di perbolehkan berpakaian seperti itu di negeri Mortal, agaknya makhluk mortal lebih gila dari fikiran Allerick/ Daleka menatap ke sekeliling, ia menemukan sesorang penyihir putih yang berjaga di bawah tangga, tersenyum kepadanya “Kemari.” Ujar Daleka, menemui penyihir putih yang sepertinya di tugaskan bibinya untuk menanti kedangannya. “Madam Jess sudah menanti anda nona Daleka.Tolong ikuti saya,” Penyihir putih dengan kekutan ramuan itu menaiki tangga berjalan, menuju lantai teratas, dilantai teratas suara music sudah tak terdengar “Momma bisa berhenti menutup mataku?” Avyanna terkejut, ia melepaskan tangannya dari mata Abraxas segera. “Silahkan masuk,” Pintu dibuka, ruangan mewah dengan banyak lukisan wanita telanjang dan uang mengisi penuh dinding, karpet merah mewah dengan kursi kebesaran yang terbuat dari emas menyambut mereka sementara itu seorang wanita yang terlihat sudah cukup tua berbalik menatap ramah pada mereka. “Duduklah,” Tiba-tiba saja 7 kuris muncul dihapadan mereka. “Daleka?” Panggil Bibi Jess, wanita itu terseenyum, membawa Daleka dalam pelukannya “Bagaimana, apa tempat ini keren.” Daleka terkekeh “Sangat keren, bibi pasti senang tinggal disini.” Bibi Jess mengibaskan tangannya lentik “Banyak orang gila disini, ngomong-ngomong apa benar yang kau katakana di surat?” Daleka mengangguk “Dia adalah Allerick.” Bibi Jess membungkuk sopan “Jadi Tuan, apa yang anda tawarkan untuk kesepakatan kita.” Allerick tau penyihir itu akan meminta imbalan “Amabilah salah satu tanah kekuasaanku untuk kelompokmu,”Putus Allerick. Bibi Jess tersenyum sumringah “Penawaran yang bagus, baiklah aku setuju, tempat ini juga mulai membosankan. Serahkan saja padaku, aku yang akan mengurus sisanya, kalian menginaplah disini, besok baru kembali.” “Baiklah bibi, terimakasih banyak,” “Sama-sama sayang.” Bibi Jess megecup pipi Daleka, Bibinya terlihat lebih santai dari yang terakhiir ia lihat, sepertinya tempat ini membuatnya begitu.             Mereka di berikan kamar masing-masing seementara Avyanna, Allerick dan Abraxas tidur di satu ranjang “Dad, aku ingin di tengah.” Allerick mengabaikannya, ia tetap tidur di tengah, memeluk Avyanna, Abraxas memukul bahu Allerick, namun seolah takk berarti apa-apa bagi pria itu. Akhirnya Abraxas menatap Avyanna dengan memasang wajah malaikatnya, Avyanna terkekeh “Kemari, Momma akan di tengah.” Abraxas menginjak kaki Allerick dengan sengaja lalu berbaring tanpa rasa bersalah di samping Avyanna “Momma, bisa ajak aku jalan-jalan sebentar besok, kumohon.” Abraxas benar-benar penasaran dengan tempat baru yang pertama kali ia lihat, ia baru keluar dari Querencia dan hanya tau orang yang sama, ia tentu penasaran dengan tempat baru yang ia lihat. Dan Avyanna mengerti soal itu. “Tanya pada Dad, boleh apa tidak?” Abraxas menghembuskan nafas pelan, ia berbalik menatap Allerick yang sengaja memejamkan mata, pura-pura tidak mendengar apa yang mereka bicarakan “Dad, aku tau kau tidak tidur.” Nada biacara anak itu berubah pada Allerick “Dad!” Abraxas naik ke tubuh Allerick, menggoyangkan tubuh itu kuat-kuat “Dad!” Allerick menghembuskan nafas pelan “Baik, kau bisa pergi.” Abraxas menggeleng “Bukan hanya aku, kita semua.” “Terserah kau.” Ketus Allerick, Abraxas mendengus, kembali tidur di samping Avyanna dengan memeluk sang Momma.                         Bibi Jess menjamu mereka dengan sarapan pagi, pancake dengan siraman sirup maple dan segelas s**u hangat yang mengenyangkan, Abraxas terlihat menyukainya, Avyanna sudah lama tak merasakan pancake buatan tangan manusia, seperti berjalan-jalan adalah ide yang cukup baik bagi mereka. Terlalu serius belakangan membuat mereka lupa, Abraxas sedang dalam masa pertumbuhan dan harus berbaur dengan banyak orang. Bibi Jess memberikan mereka baju santai masing-masingg untuk berpergian, Avyanna mengenakan ranselnya, mereka keluar dari Club, jika pagi hari Club itu tidak terlalu ramai, Avyanna dan yang lain berdiri di depan mobil Limosin panjang berwarna hitam berkilauan, Bibi Jess memberikannya kepada mereka untuk berjalan-jalan, Avyanna meminta mereka memilih tempat yang mereka inginkan, Avyanna mengusulkan untuk pergi bersantai di area taman, masih terlalu pagi untuk bepergian terlalu jauh, sekarang sedang musim gugur, daun-daun berwarna cerah bergugran, cuacanya sangat bagus, Avyanna memberikan masing-masing segepok uang untuk bersenang-senang, Rush langsung pergi ke penjual gulali, ia penasaran bagamana bisa anak-anak it memakan sebuah awan berwarna, Daleka dan Ismene pergi menghampiri musisi jalanan yang tengah memperlihatkan sebuah pertunjukan, Mor sendiri nampak ragu untuk pergi. “Kau masih diam Mor?” Tanya Avyanna heran. “Aku harus menjaga kalian.” “Bersantailah sedikit Mor.” Allerick menarik tangan Avyanna setelah mengatakan itu. “Momma!” Abraxas mendengus melihat dirinya di tinggalkan, ia melepaskan tangan Allerick yang memegang tangan sang Momma kuat-kuat lalu bergantian memegang tangan Avyanna. Allerick mendengus, mengikuti keduanya dari belakang, Abraxas nampak menujuk sebuah pedagang ice cream dan Avyanna membelikannya untuk Abrxas, wanita itu menghampiri Allerick, ia memberikan ice cream rasa coklat pada pria itu, Allerick hanya menatapnya aneh “Ini enak,” Avyanna memaksa Allerick memgang ice cream itu di tangannya, Allerick melihat Abrxas yang melahap makanan aneh itu dengan lahap, lalu Avyanna juga nampak menikmatinya, Allerick pelan memasukan sedikit kedalam mulutnya, kemudian terkejut dengan tekstur dan rasanya. “Tidak buruk.” Ujarnya ketuss. Avyanna terkekeh, ia tau Allerick menyukainya, Avyanna duduk di bangku taman bersama Allerick dan Abraxas, memperhatikan keadaan yang damai. “Disini terlalu damai, apa tak ada yang berperang disini? Allerick melihat situasi di negeri manusia yang nampak sangat damai, mereka berbicara tanpa memikirkan dari klan mana mereka, sibuk dan tertawa dengan urusan masing-masing. “Tidak seindah ini, mereka menjatuhkan dengan cara masing-masing, percayalah kadang makhluk-makhluk ini bisa lebih mengerikan.” Ujar Avvyanna pelan. “Kau mau kemana? Tidak pernah mendengar tentang tempat makhluk mortal?” “Aku ingin ke tempat dengan banyak air dengan pasir yang terasa asin.” Avyanna tertawa pelan, “Pantai, baik kita akan kesana sore nanti, dan akan kembali ke tempat Lucius malam hari, bagaimana?” “Kau pernah kesana?” Avyanna mengangguk “Tidak ada pantai di negeri Imortal?” “Mungkin ada, sangat jauh.” Avyanna mengangguk mengerti, Allerick tidak pernah bisa meninggalkan kerajaanya, hidupnya berputar pada hal yang sama dan itu-itu saja. Avyanna menatap langit yang semakin terik, mungkin sudah siang dan waktunya untuk makan siang, Avyanna akan mengajak mereka ke tempat makan favoritnya, meski itu tidak terlalu sehat.             Avyanna menatap yang lain lalu terkekeh “Rush apa yang ada di kepalamu?” “Topi, bukankah ini lucu?” Ujarnya senang. Ismene mendnegus “Ingat umurmu,” Ismene menggelengkan kepalanya pelan, topi yang Rush beli adalah topi karekter kelinci yang lucu. “Kalian bersenang-senang setidaknya.” Ujar Avyanna “Ayo masuk, kita akan makan siang di sini.” Avyanna dan yang lain masuk kedalam kedai pizza paling terkenal, semua orang suka pizza. Waitters menghampiri mereka, menyerahkan buku menu pada Avyanna “Satu pizza keju dengan potongan sosis dan paprika. Satu lagi pizza dengan toping daging, tomat dan jamur, dan minuman cola.” “Baik, tolong tunggu sebentar.” “Kau pasti sudah lama tinggal disini.” Daleka menatap kagum Avyanna yang nampak biasa saja di dunia Mortal. “Cukup lama,” Avyanna tersenyum tipis, Abraxas memeluk Avyanna pelan, bocah itu terlihat lapar “Tunggu sebentar oke,” Abraxas hanya mengangguk, mereka melihat keadaan sekitar, cukup ramai, tidak ada yang memperhatikan orang lain disini, semua nampak sibuk dengan urusan masing-masing. Mereka menunggu cukup lama untuk dua potong pizza yang mereka pesan baru pelayan itu datang dan meletakan pizza yang masih hangat di meja dengan minuman cola dan gelas yang diantar bergantian “Maaf membuat menunggu, selamat menikmati.” “Disini terlihat menyenangkan,” Ismene menatap pizza di meja dengan takjub, aromanya sangat lezat dengan lelehan keju dan pastinya masih hangat. “Makanlah,” Avyanna mengambilkan satu slize pizza rasa keju pada Abraxas, anak itu langsung memakannya dengan lahap, matanya berbinar senang dan tak lama ia mengambil sendiri potongan keduanya. “Ini enak.” Daleka mengunyah dengan nikmat, begitupun yang lain. Avyanna tersenyum, sudah pasti enak, junk food memang tak pernah mengecewakan, Avyanna melirik Allerick yang belum mencicipi pizza itu, Avyanna lalu menyerahkan satu slize ke piring Allerick. “Cobalah,” Allerick menatapnya lamat, ia memotong pizza itu dengan rapi kemudian memasukannya ke dalam mulut “Tidak buruk.” Avyanna terkekeh, ia tau Allerick menyukainya, astaga pria itu benar-benar punya gengsi yang besar. Avyanna mengajak mereka mencoba hamburger dan hot dog, mereka semua terlihat sangat menyukainya dan Avyanna merasa senang. Mereka pergi ke pantai ketika sore menjelang, Bibi Jess sudah tau mereka akan kembali ke bangsa Imortal ketika gelap menyapa, namun kini mereka ingin menghabiskan waktu sedikit untuk menyenangkan diri. Mereka duduk di pinggir pantai menikmati senja “Indah?” Avyanna melirik Allerick dan yang lain yang jelas terkagum-kagum, keputusan bagus membawa mereka ke pantai. “Wow, sangat cantik.” Perlahan cahaya jingga menyapa, terasa menenangkan dengan suara deburan ombak dan angin pelan yang menyapu wajah. Avyanna menatap langit yang sebentar lagi akan gelap total, ia mengeluarkan koper di dalam tasnya, masih banyak uang tersisa disana “Aku akan memberikannya kepada yang lebih butuh,” Avyanna berdiri dari duduknya, mengitari area pantai yang mulai gelap “Tunggu sebentar, Abraxas ikutlah.” Abraxas menurut, mengikuti sang Momma, Avyanna melihat banyak pengemis dan lansia yang mulai mencari tempat tidur, ada seorang kakek-kakek dengan pakaian compang-camping, badannya begitu kurus dan kotor, ia menenteng sebuah kardus dan koran sebagai alas, Avyanna segera menghampirinya. “Ini untuk anda.” Avyanna menyerahkan dua gepok uang pada si pengemis yang nampak langsung terkejut menatapanya. “Apa? Untuk saya?” Nadanya tergugu, jelas tak percaya. Avyanna tersenyum “Ya, ambillah, anda pasti lebih butuh.” Pengemis itu menangis dengan haru, mengucap terimakasih berkali-kali, lalu menatap kepergian Avyanna dengan doa memberkati. “Momma, kenapa memberikan kertas ajaib itu padanya?” Avyanna mengelus rambut Abraxas sayan “Dia lebih butuh, kita tidak akan membutuhkannya lagi.” Avyanna dan Abraxas membagikan uang-uang yang tersisa pada mereka yang membutuhkan, Abraxas akan belajar banyak hal dari Avyanna, Allerick menatapnya dari kejauhan, ia tau apa yang Avyanna lakukan.             Tak ada pengunjung pantai tersisa, sepi sekali, Allerick dan yang lain kini berdiri di ujung pantai yang sepi, Allerick membuka portal langsung ke negeri Imortal, ke tempat Amren berada, hutan merah. Mereka masuk ke dalam portal, Setelah ini mereka akan benar-benar menghadapi peperangan yang sesungguhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN