Chapter 21
Hutan Merah
Allerick yang pertama keluar, ia melihat ke sekliling, hutan merah masih di segel, ia tau Amren yang melakukannya, Allerick menatap seorang pria seumurannya berdiri menatapnya, ia tak sendiri, ada seorang wanita dengan rambut keemasan dan pakaian baja berwarna emas di sampingnya, Cresida, Demigod lain yang memiliki kuasa merubah apapun menjadi emas, lalu ada Feyre, pria tua yang unggul dalam berburu, kekutaan menembak, panah dan pedang yang luar biasa, ada juga Melione, makhluk berambut putih dengan kulit pucat dan bola mata abu hampir putih itu adalah Goddes of ghost, ia bisa memerintahakan hantu berkeliaran melakukan pemberontakan.
Sekutu lain yang Allerick miliki.
Amren tersenyum menatap mereka semua yang telah melewati portal, pandangannya berhenti pada Abraxas yang nampak sama persis dengan Allerick, namun bola matanya adalah milik Avyanna “Kau pasti si ramalan kedua.” Abraxas mengernyit, dia ramalan kedua?
“Selamat datang kembali, senang melihat kalian lagi.” Allerick menjabat tangan Amren, lalu menganggup pelan pada yang lain.
“Terimakasih telah menjaga hutan merah.” Ujar Allerick, agak enggan mengucap terimakasih sebenarnya.
Amren terkekeh “Hutan ini miliku.”
“Menjadi milikmu kalau kau berhasil membantuku hingga akhir.” Ketus Allerick.
Amren mendengus “Avyanna, kau benar-benar sabar pastinya, menghadapi makhluk ini.” Amren menatap Allerick menilai.
Allerick mendelik “Bisakah kau diam dan fokus pada tujuan.”
Amren mendelik “Baiklah tuan pemarah, kuno sekali hidupmu!”
Amren membawa mereka masuk kedalam portal menuju istananya, istana Demigod, khas dengan warna putih dan biru shapier, patung-patung dewa banyak menghiasi istana Amren, istana itu di huni oleh makhluk-makhluk mitilogi seperti manusia setengah kuda dan rusa, atau makhluk-makhluk legenda.
Amren membawa tamu-tamunya masuk kedalam istana yang luas dengaan ukiran-ukiran dewa di tembok, lukisan cupid atap istana, area ballroom “Duduklah, tak usah sungkan.”
Mereka semua duduk di ruang tamu Amren “Aku sudah melihat apa yang musuhmu persiapkan, mereka merekrut lebih banyak dari yang kau duga, kau tak punya ekspektasi untuk itu sekarang,” Amren melupakan sejenak sifat santainya “Kau pasti tau mereka siapa?”
“Ya,” Allerick melihat sebuah peta yang Amren lingkari dengan warna merah “Semua ini daerah yang mereka kuasai?” Tanya Allerick serius.
Yang lain ikut memperhatikan peta itu “Ya, mereka sudah tau kekuatan anakmu, dan mereka mau semua yang berpihak padamu binasa, mereka terlalu serakah hingga mau kekuatan yang kalian miliki.”
“Kekuatan pemanggil milik Avyanna yang paling berbahaya, mereka waspada ketika Avyanna berhasil memanggil Dragon Magma penunggu Black Gian Wings, makhluk itu harusnya tidak tunduk pada siapapun, namun dengan kekuatan pemanggil, makhluk itu merasa Avyanna adalah tuannya, pemiliknya, naga itu berhasil membantu kalian kabur, mereka waspada nantinya Avyanna akan memanggil lebih banyak makhluk legenda.”
“Berapa banyak makhluk legenda yang bisa kau panggil dan takluk padamu?” Tanya Cresida, memandang Avyanna lekat.
“Sebagian besar, termasuk Hydra.”
Melione terkekeh “Lebih dari cukup.” Ujarnya pasti. Semua setuju, Hydra adalah naga dengan Sembilan kepala, dalam legenda dikatakan memotong kepala Hydra hanya akan menambah jumlah kepala mereka.
“Hydra yang paling sulit di panggil, dia termasuk hewan buas yang tidak mau patuh pada siapapun.” Melione tau, Avyanna menggunakan sedikit mantra kekuasaan pemanggil, untuk membuat yang terpanggil tunduk pada si pemanggil baik sadar atau tidak.
Feyre memutar rantai di tangannya “Anakmu, bisa tunjukan sayapnya, aku sangat ingin emliihatnya.” Ujar Feyre serius, sedari tadi pria berambut panjang dengan potongan tak rapi itu menatap Abraxas yang hanya diam dengan wajah serius.
“Perlihatkan Abraxas.” Ujar Allerick, Abraxas mengangguk, ia berdiri, cahaya putih melingkupinya ketika sayap dengan tiga warna berbeda itu keluar. Amren, Feyre, Cresida dan Melione terperangah melihatnya, sayap dengan tiga kekuatan berbeda tidak seharusnya dimiliki makhluk Imortal, kecuali ia begitu kuat dan juga di berkati dalam waktu bersamaan “Sepertinya Dewa menyukai anakmu.” Kekeh Feyre.
“Tidak sampai kalian tau betapa menyebalkannya ia.” Ujar Allerick pelan.
“Kau nampak sangat percaya pada mereka?” Avyanna berujar pelan, hampir berbisik, Abraxas tengah keluar bersama Ismene dan yang lain, melihat sekelilling.
Allerick berdiri disamping Avyanna menatap keluar jendela, memperlihatkan pemandangan berbagai makhluk yang tinggal di istana “Sejak awal dia berpihak pada kita, Amren, dia tau semua klan itu bersikap palsu padanya, Feyre, Ibunya di cincang di depannya sendiri ketika ia berusia 100 tahun, ayahnya adalah seorang penghanat dari bangsa Fallen Angel, Melione, ia pernah di penjara selama 100 tahun oleh Pure Angel, mereka mau Melione memanggil leluhur setiap tahun untuk diberikan pemberkatan sekaligus usaha membangkitkan kembali, tapi Melione membencinya, ia tak mau menghidupkan makhluk yang sudah mati, Cresida, kekuatannya mengubah apapun menjadi emas, kau tau salah satu kerajaan Pure Angel mengikatnya di ruang bawah tanah dan melecehkannya, ia dipaksa menghasilkan emas batangan setiap tahun agar kerajaraan itu tetap makmur, kau tau pasti kerajaan mana yang memilikinya.”
“Kerajaan Raja Zander.” Ucap Avyanna pelan.
“Mereka memiliki tujuan yang sama dengan kita, menyingkirkan penghianat.”
“Setelah itu? Kau yakin hanya musuhmu yang akan mati? Bagaimana jika orang-orang tak bersalah itu ikut terlibat.”
Allerick terkekeh “Mereka semua sama, apa bedanya, aku hanya mentolerir anak-anak.”
Avyanna menghembuskan nafas lelah “Kau berjanji hanya membunuh dalangnya saja.”
“Mereka bertindak lebih, sudah tak ada jalan damai, mereka mau semua yang aku punya. Aku hanya melindunginya.” Ujar Allerick lamat, menatap Avyanna dalam.
Tangan besarnya menangkup wajah Avyanna “Kalau kau bisa lihat betapa kejamnya mereka, makhluk tanpa hati sepertiku tak pernah memaafkan.” Lirih Allerick, ia mendekatkat wajahnya pada wajah Avyanna, melumat bibir itu seolah kehausan, tangannya bergerilia kemanapun ia mau, sejanak Avyanna merindukan Allerick, ia membiarkan pria itu bertindak sesukanya, meski tanpa cinta, biar saja Avyanna mencintai Allerick sendirian.
“Jadi siapa namamu?” Amren mengambil alih tugas Ismene menjaga Abraxas.
“Abraxas, siapa namamu?” Tanya Abraxas santai.
Amren terkekeh sesaat, menyadari ada sifat angkuh Allerick yang berada dalam diri Abraxas meski tak seharusnya, Amren yakin anak itu dalam pengawasan si Pure Angel.
“Amren, kau tau siapa musuhmu?”
Abraxas menggeleng “Aku tidak tau,” Abraxas berbohong, musuh yang jelas ia tau adalah makhluk bernama Fallen Angel dan Pure Angel.
Amren mengangguk paham “Lalu, ketika kami berada di medan perang nanti, siapkah kau untuk ikut?”
“Aku akan berada di manapun Momma berada.” Tegasnya.
“Anak yang sangat berbakti, ingat saja pesanku, musuhmu jauh lebih banyak dari orang yang akan berpihak pada Ayahmu.”
“Aku tidak perduli, Dadda bisa melindungi dirinya sendiri, aku hanya akan melindungi Momma.” Ketusnya.
Perkataan itu membuat Amren tertawa keras, ternyata anak yang Allerick hasilkan adalah anak yang durhaka padanya “Kasihan sekali Allerick.”
Jamuan makan malam di adakan Amren sebagai tuan rumah, tak tanggung-tanggung, ia tidak hanya menjamu tamunya, ia bahkan membiarkan penduduknya ikut berpesta, Amren mengumpulkan pengikut yang pemikirannya sama dengannya, tidak peruduli klan, mereka berdiri sendiri dan bebas, seperti Amren.
“Jadi apa rencanamu selanjutnya Allerick,” Amren memasukan sepotong daging kalkun ke mulutnya. Lalu menatap Allerick dengan alis terangkat, begitulah Amren, terlalu santai.
“Temui Lucius dan Azur lebih dulu,”
Amren mangut-mangut “Ah, kalian jadi berteman baik rupanya.”
“Dimana mereka?” Tanya Feyre.
“Di istananya, istana Fallen Angel.”
Cresida mengernyit “Bukankah mereka melakukan penyerangan bersama Alvator kesana, mereka mmembakar tempat itu, mereka tau kondisi buruk setelah perang itu adalah ilusi.”
Avyanna menghentikan gerakan tangannya, ia khawatir kini “Bagaimana kondisi disana sekarang?”
“Jauh lebih parah, mereka membakar habis semua tempat dan menghancurkannya, mungkin Lucius dan Azur berhasil kabur.” Jawab Melione.
“Kemana mereka kira-kira?” Rush pun ikut merasa tidak tenang akan kabar itu.
Avyanna menghembuskan nafas pelan, mungkin ini yang di maksud Desponia soal di luar sedang tidak baik-baik saja “Aku bisa membaca memori tempat itu untuk mencari kemana mereka melarikan diri.”
“Bagus.” Feyre tersenyum puas.
“Bagaimana dengan Abraxas, apa dia akan ikut dalam perang?” Tanya Amren.
“Dia akan ikut,”
“Tidak.”
Jawaban Allerick dan Avyanna yang bertentangan membuat keadaan agak canggung.
“Aku akan ikut,” Ujar Abraxas “Aku sudah besar Momma, aku juga akan menjaga Momma.” Ujar Abraxas lembut. Sejenak Amren tertegun, sepertinya bocah it memiliki dua kepribadian, ia terlihat bak anak malaikat di depan Avyanna. Lihatlah tampang polos itu.
“Ini tidak sesederhana yang kau bayangkan Abraxas.” Jawab Avyanna tegas.
Abraxas mengangguk “Aku tau, aku bisa menghadapinya, ada Dadda yang siap mati kapan saja.”
“Jaga ucapanmu bocah, aku ini ayahmu!” Ketus Allerick, sejenak mereka semua ingin menyemburkan tawa begitu saja.
Abraxas memutar matanya malas “Momma, percaya padaku.”
Avyanna menghembuskan nafas pelan “Berjanjilah kau tak akan jauh-jauh dari Momma.”
Abraxas mengangguk lucu, sejenak melupakan sifat menyebalkannya barusan.
“Apa maksudmu mengijinkannya ikut dalam perang?” Avyanna nampak marah kini.
Allerick mengernyit “Kukira kita sudah selesaikan masalah ini.”
Avyanna mengusap wajahnya lelah “Aku tidak bisa menolak keinginannya.”
“Itulah kau, terlalu memanjakannya, aku tak ingin dia menjadi anak lembek dan tak dapat menjaga dirinya sendiri, dia ditakditkan untuk menjadi kuat.”
Avyanna mendesah berat “Dia hanya anak kecil.”
“Bukan anak kecil biasa, dia adalah keturunanku, kau harus ingat itu.”
“Apa yang kau harapkan jika ia ikut, kau berharap ia bisa membasmi musuh-musuhmu hah!” Ujar Avyanna marah, terlihat jelas dari raut wajahnya.
Allerick terkekeh “Dia si penghancur, dia yang akan membawa musuhku ke bawah kakiku.”
“Yakin sekali kau!” Avyanna menatap Allerick tajam “Kau bahkan tidak menyanyanginya, bagimu dia hanyalah anak yang harus menurut padamu, membantumu membunuh musuh-musuhmu, kau tak perlu memberikan perasaanmu padaku, hanya pada Abraxas..”
“Diam!” Allerick berteriak marah “Berani sekali kau, dia adalah anaku, aku menyanyanginya dengan caraku!”
Avyanna tertawa pelan “Kau makhluk tanpa hati, kau lupa.”
Allerick terdiam lama, merasa tertohok, pria itu menatap Avyanna sekali lagi sebelum dengan cepat ia berjalan ke arah balkon dan pergi dengan sayapnya, meninggalkan Avyanna yang merasa bersalah karena ucapannya. Ia tidak pernah melihat ekspresi terganggu Allerick atas ucapan seseorang, tapi tadi.