Chapter 22
Big Troll
Mereka memutuskan pergi pagi-pagi sekali ke istana Lucius melalui portal, Allerick membuat ilusi agar mereka tak terlihat, Allerick yakin mereka tengah berjaga dimanapun, Allerick harus tetap waspada.
Amren benar, kerajaan Lucius terlihat lebih hencur daripada penyerangan Allerick malam itu.
Avyanna memfokuskan dirinya, ia membuat segel lingakaran untuknya agar lebih fokus.
Seluruh penduduk tengah menikmati makan malam mereka, Azur di bantu para prajurit Allerick membagikan makan malam itu, klan srigala terlihat memisahkan diri dengan klan Fallen Angel. Mereka nampak tak akur, tapi Lucius dan Azur tidak mempermasalahkannya,
“Ini semua karena Raja sialan itu, tidak bisakah kami hidup damai!” Teriak salah satu pria paruh baya dari klan srigala.
Askav menatap pria itu tajam “Tuan Allerick telah menyelamatkanmu!”
“Bisakah kau diam!” Prajurit lain nampak tidak senang.
“Oh, apa itu!” Anak Fallen Angel itu berteriak takut, ia melihat batu api menyerang tempat mereka, kemudian enam Alvator menghancurkan gedung bagian depan dengan membabi buta.
Segera setelah melihat itu Lucius tau, mereka sudah sadar kerajaanya dilindungi ilusi Allerick, Lucius mendekati Azur dan Askav “Bawa masuk penduduk kedalam dengan hati-hati, Alvator itu tidak bisa di kelabui, aku akan membuka portal ke tempat para Troll untuk mengamankan diri, lakukan secepat mungkin.” Ujar Lucius, Azur dan Askav serta prajurit lain segera mematuhi perintah Lucius.
Mereka meminta para penduduk untuk tenang, dan syukurnya mereka menurut, mungkin mereka masih trauma dengan penyerangan malam itu, berubah menjadi srigala dan melawanpun percuma, kekuatan mereka tak sebanding, mereka hanya srigala biasa, dan Fallen Angel biasa, meski Luicus bisa saja mengeluarkan peledak yang ia simpan si istana untuk di lemparkan ke kawanan musuh, namun ia tau kabur adalah jalan terbaik untuk menyelamatkan banyak nyawa,
Penyerangan masih terus dilakukan, batu-batu itu menimpa gedung dan kadang menimpa penduduk yang tertinggal di belakang.
Lucius telah membuat portal di gudang belakang, ia meminta satu persatu masuk dengan beraturan “Masuklah Askav, segera kendalikan yang di dalam”
“Avy, temui kami di tempat para troll.” Seolah tau Avyanna akan membaca memori itu, Lucius dan Azur masuk kedalam portal setelah mengatakannya.
Avyanna hendak menghnetikan kekuatannya sebelum ia melihat satu orang tidak masuk kedalam portal, pria tua dengan rambut putih itu malah menghampiri kawanan musuh dan anehnya, para musuh menghentikan penyerangan, dan malah menyambutnya dengan senyum.
“Bagaimana Ivan, apa mereka tau dimana Allerick?”
“Tidak, lupakan saja mereka, yang terpenting tetaplah berjaga disini karena aku yakin suatu saat mereka akan kembali.
Avyanna terkesiap, ia langsung teringat sosok Ivan, orang yang pertama kali menjemput Allerick dan Mor ketika pembantaian orang tua Mor berakhir “Ivan adalah penghianat.” Ujar Avyanna pelan.
Allerick dan Mor membeku, saling menatap “Ia berbicara para musuh dan memberikan informasi tentangmu selama ini, ia juga yang meemberi tau kabar kehamilanku pada yang lain.”
Allerick menggertakan giginya marah, jadi satu orang penghianat dari klannya, orang yang paling ia percaya.
“Dimana mereka?” Daleka memcah rasa canggung yang ada.
“Teempat para troll.”
Amren mengangguk”Baiklah tunggu apalagi, ayo kesana.”
“Tidak, jangan buka portal disini,” Avyanna menatap sekitar “Ada yang berjaga disini, membuka portal akan meninggalkan jejak.”
“Kembali ke istanamu Amren,” Putus Allerick,
Allerick dan yang lain kembali ke istana Amren, mereka masuk kedalam istana, dan membuka portal disana, ketika mereka masuk kedalam portal, mereka langsung melihat sebuah lembah dan rawa disana, lembah itu tidak menunjukan tanda kehidupan sama sekali.
“Avyanna, tempat kami di ketahui, kami pergi ke tempat Big Troll. Temui kami disana.” Lembah itu menyampaikan pesan Lucius padanya, rupanya dengan segera persembunyian mereka di temukan, penyerangan itu dilakukan dengan lebih aman, dengan memberikan asap beracun untuk mereka, sebagian penduduk yang menghisap asap itu mati dengan mengenaskan.
Avyanna menghembuskan nafas pelan “Ke tempat Big Troll, tempat ini telah diserang dengan asap beracun, sebagian pendudukmu mati karena itu.”
Amren kembali membuka portal ke tempat big troll, kini mereka beridiri di sebuah hutan dengan pepohonan tinggi dan air terjun yang dalam di depan mereka, Avyanna melihat kebut asap melingkupi sisi yang lain, Avyanna rasa mereka ada disana “Kurasa kita harus kesana.” Putus Avyanna.
Merekapun setuju, Amren dengan kekuatannya membuat jembatan dari bebatuann menuju sisi sebrang, mereka menyebrang dengan aman kemudian jembatan itu hancur setelah mereka menyebrang.
“Kemari.” Avyanna menarik Abraxas lebih dekat dengannya ketika memasuki hutan berkabut, tempat para Troll tinggal.
“Dengar,” Mor menghentikan langkahnya, ia baru saja mendengar langkah kaki para Troll didepan sana, tak jauh dari posisi mereka,
“Kabut ini menghalangi,” Decak Ismene.
“Biar kusingkirkan,” Melione menyerap asap itu hingga menghilang, kini mereka melihat jelas pemandangan di depan mereka, puluhan Trol tengah melakukan pekerjaan mereka, membuat tumpukan batu untuk berteduh, Avyanna bisa melihat klan srigala dan Fallen Angel berbaur, ia tersenyum puas, kini ia menemukan mereka.
“Tuan,” Askov menghampiri mereka dengan senyuman.
“Askav!” Rush dan Mor memeluk Askav erat.
“Nona!” Avyanna tersenyum ketika melihat Layla menghampirinya, Avyanna dengan senang hati memeluknya.
Melihat kedangan Allerick dan yang lain mereka semua berkumpul, Lucius dan Azur membelah jalan, mereka tersenyum ketika melihat Allerick dan yang lain “Senang melihatmu Lucius.”
“Terimakasih Allerick.”
Para Troll itu menyambut mereka dengan baik, mereka makhluk yang cukup ramah meski mereka cukup menyeramkan dengan hentakan kaki yang menggema ketika melangkah.
“Para Troll ini pernah membantuku ketika aku tersesat, aku berteman baik dengan mereka.” Ujar Lucius.
“Mama.” Seorang anak perempuan berumur 5 tahunan menghampiri mereka dengan wajah sayu khas bangun tidur, di tangannya ada boneka trol.
Azur tersenyum “Kemari, ini teman-teman Mama dan Papa.”
“Halo, namaku Xylia.”Gadis kecil itu tersenyum dengan menggemaskan, membuat pipi tembamnya tertarik lucu.
“Dia lucu sekali!” Jerit Ismene nyaring. Ismene memang tak bisa melihat sesuatu yang lucu.
“Abraxas sapalah.”
Yang lain menanti Abraxas menyapa Xylia, namun anak itu hanya acuh tak acuh “Abraxas,” Tegur Avyanna “Aku Abraxas,” Ujarnya malas-malasan.
“Dia mirip Allerick.” Kekeh Lucius, melihat sifat Abraxas tadi.
“Tidak, aku mirip Momma.” Protesnya kesal.
“Kau laki-laki tentu kau mirip ayahmu.” Ejek Amren.
“Diam,” Ketus Abraxas kesal.
Allerick memutar bola matanya malas, kenapa Abraxas seperti musuh bebuyutannya.
“Para Troll raksasa siap membantu, aku sudah membuat kesepakatan.” Lucius berujar serius, malam makin larut, para penduduk sudah tertidur lelap, para Troll raksasa juga sudah menggulung diri untuk tidur.
Mereka tengah duduk melingkari api unggun, cukup dingin di tempat para Troll “Imbalannya?” Tanya Mor.
Lucius menggeleng “Mereka tidak ingin imbalan,”
Sejenak, mereka tertegun “Itu diluar dugaan.” Lirih Allerick.
“Lalu, apa kita siap sekarang?” Feyre mengangkat sebelah alisnya.
“Amren, sudah temukan siapa yang mau kau bunuh?” Tanya Allerick santai.
Amren terkekeh “Tentu.”
Daerah perbukitan dan area hutan itu dipenuhi berbagai makhluk kegelapan, penyihir hitam memanjat pohon dan berterbangan dengan cekikikan, Bumper dibiarkan berada di dekat pegunungan agar tak membakar hutan, para Alvator berada di dekat bebatuan, banyak kaum Fallen Angel dan bangsa srigala yang berhianat masuk ke kawanan musuh, vampir, ular raksasa, iblis dengan tanduk setengah kerbau, dan raksasa lembah, kawanan itu masih sebagian, masih ada banyak lagi yang belum dikeluarkan “Mereka terdeteksi berada di kerajaan Lucius.” Penyihir hitam itu menyerahkan alat deteksi.
“Sekarang mereka pasti berada di tempat para Troll.”
“Perlu serang sekarang?”
“Tidak, ini belum waktunya.”