Chapter 23
Memanggil Arwah
Amren dan Allerick mengetahui tempat persembunyian musuh-musuhnya, mereka melihat dari atas area dataran tinggi itu penuh dengan makhluk kegelapan, Amren menunggangi kendaraan terbangnya sendiri, seekor pegasus putih dengan sayap keemasan.
Desponia menabur bubuk Hecate agar mereka tak terlihat “Sangat banyak bukan, ini baru sebagian.”
Allerick melihat betapa penuh tempat itu oleh musuhnya, dan Amren baru mengatakan itu sebagain, jadi sebenarnya sebanyak apa sekutu yang ia punya.
“Ini tidak akan berhasil jika kita tiba-tiba menyerang, strategi mereka pasti sudah matang dan bisa mengelabui kita kapan saja, aku juga belum menemukan siapa lagi pelaku yang bersekutu dalam pembantaian keluargaku.” Ujar Allerick serius, pria itu masih setia memperhatikan keadaan di bawah. Semakin malam, semakin padat pula makhluk-makhluk aneh itu, bentuknya sudah campur aduk, bisa dilihat mereka tak hanya mengumpulkan makhluk dataran, mereka juga mengumpulkan monster bawah tanah dan hewan lembah.
“Sial, itu Gorgon.” Allerick mempertajam pandangannya.
Amren mengikuti arah pandangan Allerick “Jangan berharap pada makhluk berkepala ular itu, jelas dia tidak akan berpihak padamu.”
“Salah satu dari kita akan pergi ke markas mereka dengan bubuk Hecate.” Putus Amren.
“Tidak, pergi menggunakan bubuk Hecate beresiko, para penyihir hitam itu akan mendeteksinya.” Meski ilmu penyihir hitam dan putih memiliki energy berbeda, para penyihir akan tetap bisa mendeteksi kekuatan sihir sekecil apapun.
“Oh ya bagaimana kalau ku perkuat dengan ramuan Kishijoten miliku.” Amren tersenyum bangga, ramuan itu adalah ramuan yang proses pembuatannya memakan waktu berbulan-bulan, dengan tiga tanaman langka, tidak boleh ada kesalahan dalam proses pembuatannya jika ramuan itu benar-benar ingin sempurna, fungsinya adalah untuk member keberuntungan, apapun yang akan dilakukan maka akan selalu beruntung dan berhasil, singkatnya Kishijoten adalah ramuan keberuntungan.
“Bagus, kita menyelinap besok malam.”
“Buat waktunya lebih panjang, kau juga harus tau apa yang bangsa Pure Angel lakukan, mereka jauh lebih berbahaya dari dugaanmu.”
Avyanna belum meminta maaf sejak ucapannya yang tak sepantasnya pada Allerick hari itu, Allerick mungkin bersikap biasa saja seoalah tak terganggu, namun Avyanna jelas terganggu dengan ekspresi pria itu.
Jadi ia putuskan untuk meminta maaf dengan Allerick dengan cara yang telah ia siapkan.
“Mor, Allerick bilang datang ke ruang penyimpanan anggur lima belas menit lagi.”
Mor tanpa bertanya mengangguk patuh, Mor terlalu patuh pada Allerick, sehingga kapanpun pria itu butuh Mor akan dengan cepat datang padanya.
Abraxas menatap malas Allerick dan Amren yang baru saja masuk kedalam istana, entah kemana perginya dua orang itu, fikir Abraxas.
“Ada apa?” Amren memasang wajah sewot sejak melihat ekspresi malas Abraxas bahkan sejak awal mereka memunculkan batang hidung di depan pintu.
“Dadda, Momma memintamu datang ke ruang penyimpanan anggur.” Ujar Abraxas mengabaikan pertanyaan Amren.
Amren mendengus “Aku boleh ikut?”
“Apa kau Dad, tidak kan.” Ketusnya.
Allerick terkekeh “Kuatkan dirimu menghadapi anak durhaka itu.”
Amren balas tersenyum mengejek “Aku pasti diberkati, syukurnya dia bukan anakku.”
“Sial,” Desis Allerick tidak bisa mengelak, Abraxas sudah berjalan lebih dulu menuju ruang penyimpanan, karena sudah cukup larut, istana Amren terlihat cukup sepi, hanya ada beberapa orang yang berjaga, menyapanya sesekali.
“Kau ikut?” Tanya Allerick heran.
“Ya Dad.” Balasnya malas.
Ketika Allerick masuk kedalam ruang penyimpanan anggur, Avyanna tidak sendiri, Mor bersamanya, keduanya menoleh ketika Allerick dan Abraxas datang.
“Apa?” Tanya Allerick singkat.
“Kemari,” Avyanna menarik Allerick berdiri di samping Mor, lalu Avyanna memjamkan matanya, Allerick tau Avyanna tengah melakukan mantra pemanggil, namun siapa yang Avyanna panggil, tanpa seijinnya.
Ruangan yang tadinya hangat itu kini terasa dingin, aingin bertiup pelan, anehnya ruangan itu tak memiliki banyak kaca, namun angin seolah meniup seluruh kulit mereka.
Cahaya putih lembut melesat di depan Mor dan Allerick, perlahan membentuk sebuah wajah yang Allerick hanya temui di lukisan, Mor juga melihat dua sosok yang begitu ia rindukan, keduanya mematung, menatap wajah-wajah dalam bentuk cahaya putih lembut itu dalam, tangan Mor bergerak menyentuh pipi sang Ibu, Maia, namun ia hanya menyentuh ruang hampa.
Kini mereka tau Avyanna baru saja memanggil arwah orangtua Allerick dan orangtua Mor. Allerick ingat ia pernah meminta Avyanna untuk memanggilkan arwah orangtuannya.
Allerick terdiam kaku, jadi seperti ini wajah orangtuanya, ia tatap wajah arwah Cassandra yang tegas dan cantik, melambangkan wanita kuat dan seorang pejuang, lalu Allerick menatap arwah Cassian yang tersenyum tipis padanya, wajah itu persip seperti wajah Allerick “Jadi, seperti ini wajah kalian.” Gumam Allerick.
“Kau hebat Allerick.” Cassian menatap Allerick bangga.
“Kami menyanyangimu,” Cassandra tersenyum hangat.
Sejanak, hati Allerick yang tak pernah tersentuh merasakan sesuatu yang aneh, sesuatu seperti oh ternyata ia masih di sayangi, dan ternyata ia juga punya orangtua. Dan hal itu menyadarkannya jika ia diinginkan.
“Kelahiranmu adalah anugrah, jangan pernah berfikir kelahiranmu adalah alasan kami pergi.” Ujar Cassandra, seolah tau isi fikiran Allerick, kadang pria itu menyalahkan dirinya atas kematian orangtuanya, ia fikir seandainya ia tak lahir semuanya akan baik-baik saja.
“Itu istri dan anakmu?” Cassian menatap Avyanna dan Abraxas hangat, Avyanna tersenyum, menunduk hormat.
“Kakek dan nenekmu Abraxas,” Abraxas mengerti ia melembaikan tangannya kemudian tersenyum.
“Kau beruntung memiliki mereka, jagalah.” Ujar arwah Cassanra.
“Ingat, kami menyanyangimu, ada teman-temanmu, dan keluarga kecilmu.” Cassian dan Cassandra hilang dalam sapuan cahaya lembut diikuti arwah Maia dan Jacson “Jagalah Mor Allerick.” Ujar Paman Jacson sebelum benar-benar pergi.
Baik Mor dan Allerick masih membeku, Avyanna meninggalkan mereka berdua, mungkin mereka ingin waktu sendirian.
“Mor, terimakasih karena selalu ada, terimakasih.” Untuk pertama kalinya Mor mendnegar ucapan itu dari Allerick, Mor tersenyum.
“Sudah tugasku tuan.”
“Tidak, jangan panggil aku tuan lagi, aku mau kau panggil aku Allerick, kita adalah teman.”
Seharusnya itu yang Allerick lakukan sejak dulu, ia sadar bahwa Mor adalah satu-satunya keluarga yang ia punya.
Pertemuannya dengan orangtuanya mungkin membawa sedikit hatinya yang tersisa.
“Ini cukup untuk kalian.” Daleka menyerahkan tiga kantong bubuk Hecate pada Allerick, semua orang sudah tau soal rencana penyelinapan itu, Allerick memutuskan pergi bersama Avyanna, keputusan yang tepat karena Avyann bisa membaca memori. Mereka sebanarnya membagi tugas, Amren dan Daleka akan menyelinap ke dataran tinggi tempat perkumpulan musuh, sementara Allerick dan Avyanna menyelinap masuk ke tempat pure angel.
“Jaga Abraxas,” Avyanna menatap Ismene dalam, penuh permohonan.
Ismene mengangguk pasti, Abraxas paling dekat dengannya meski mereka banyak menghabiskan waktu bertengkar,tapi sudah pasti Ismene akan menjaganya.
Allerick memutuskan untuk tidak masuk melalui portal, Allerick tidak mau mengambil resiko membuka portal di tempat yang salah, maka mereka pergi dengan menabur bubuk Hecate, dan meminum ramuan keberuntungan yang Amren berikan, mereka terbang menembus portal hutan merah, lalu melewata hutan perbatasan, menuju istana Pure Angel.
Harusnya Avyanna senang untuk kembali, namun ada sedikit hatinya yang masih kecewa mengingat memorinya yang telah terhapus, Avyanna juga belum tau pasti alasan mereka menyerang Allerick, apa orangtuanya yang melakukannya, atau kerajaan Pure Angel lain. Yang jelas, Avyanna menduga itu adalah hal buruk.
Mereka berhenti sejenak, ketika istana Pure Angel ada di depan mereka, Allerick menatap Avyanna yang menatap lurus ke rumahnya “Kau siap?”
Avyanna menoleh, menatap Allerick, mengangguk pelan ia mengiyakan, siap tidak siap, lebih cepat lebih baik.
Allerick dan Avyanna dilingkupi asap hitam dan putih ketika memilih turun di depan istana, Allerick melihat kesekeliling, kegiatan di istana ini mungkin nampak seperti kegiatan biasa, ada yang berpatroli, berlatih pedang dan senjata, namun jika mereka diijinkan masuk lebih dalam, mereka tak akan tau apa yang di rencanakan oleh pimpinan mereka.
“Dia Raja Zander,” Avyanna tak menyangka akan menemukan Raja Zander akan berkunjung ke kerajaanya larut malam begini, Raja Zander tak sendiri, ia diikuti oleh Raja lainnya, Avyanna tak tau sama sekali dua Raja yang lain.
“Ah, mantan calon suamimu?”
Avyanna mendelik “Allerick.”
“Kau jelas tau siapa yang lebih tampan,” Allerick menyombongkan diri, menyindir Avyanna yang datang padanya ketika hutan merah menyala.
Avyanna mengabaikan Allerick, pria itu sedang dalam mode menyebalkannya, ia memilih menarik tangan Allerick, Ketingga Raja itu di sambut dan diarahkan ke suatu ruangan, Ayah Avyanna dan Sang Ibu terlihat di depan pintu menyambut mereka, masing-masing berjabat tangan, kemudian Sang Ayah mempersilahkan mereka masuk ke sebuah ruagan bawah tanah, Avyanna ingat jelas ruangan itu adalah ruangan pertuemuan tertinggi,jadi inilah tempat pertemuan yang ia lihat, ia juga melihat salah satu Raja yang sudah sangat tua dengan tongkat.
Avyanna menunjuk orang dengan tongkat “Dia salah satunya,” Ujar Avyanna tanpa suara.
Allerick mengamatinya, orang itu adalah ayah Raja Zender, kini kedudukannya digantikan anaknya Zender, itu artinya salah satu kerajaan tidak ingin ikut bergabung dalam penyerangan.
“Bagaimana dengan Kerajaan Barat, Raja Hemis masih tak ingin bergabung?”
Raja Zender menggeleng “Dia tetap tak ingin bergabung,”
“Lakukan penyerangan untuk menggertak mala mini jika ia tetap tak ingin bergabung.” Putus ayah Raja Zender, Falton.
Allerick kini mengerti, mereka mungkin saja memaksa dengan melakukan penyerangan tiba-tiba pada orang-orang yang tak ingin bergabung, hingga di titik terakhir dengan terpaksa mereka memutuskan hal yang sebenarnya tak mereka inginkan.
“Ramalan itu hanya sampah, bocah menjijikan itu tetap akan musnah.” Nampaknya Raja Falton yang paling berambisi, jelas sekali Raja Xavier dari kerajaan Utara terpaksa bergabung dengan mereka.
“Ini semua salah kalian, sudah kukatakan untuk membunuh anak perempuan kalian sejak awal, kini dia menjadi penghianat klan.” Ketus Falton, meski umurnya sudah tak dapat dihitung lagi, ia tetap terlihat bugar, dan tegas, hanya saja ia berdiri di bantu tongkat karena mendapat luka cukup besar hingga kaki kananya hampir putus.
“Aku hampir berhasil membantai bocah itu malam itu, tapi ia berhasil kabur dengan mudahnya setelah orangtuanya mati.” Ketus Falton.
Avyanna menatap Allerick yang nampak menggertakan giginya menahan amarah, Avyanna menggenggam tangan Allerick menggelengkan kepala pelan, pertanda Allerick tidak boleh emosi untuk saat ini.
“Setidaknya setelah mengetahui anak itu masih hidup dan matenya adalah Avyanna, kami ikut mencarinya dan melakukan penyerangan.” Jaawab Ayah Avyanna.
Avyanna yang mendengarnya kini mengerti, mungkin ayahnya tidak ikut dalam penyerangan pertama, Faltonlah yang mengambil peran besar, namun ketika mendengar kabar Allerick masih hidup dan Avyanna adalah matenya, sang ayah ikut memburu Allerick.
“Kini mereka memiliki tiga sayap legendaris klan, terlebih anak itu pasti memiliki kekuatan sayap yang jauh lebih kuat.” Ujar Raja Zander.
“Bagaimanapun, sayap Avyanna akan diwariskan pada kerajaanku, lalu aku akan tetap membantu kerajaanmu untuk makmur.” Falton tersenyum puas.
“Bunuh saja anak itu, kami sudah tidak perduli.” Ujar sang Ibu tenang.
Avyanna mengatupkan bibir rapat, kini Allerick yang menggenggam tangannya lebih kuat.
Ya, kini Avyanna sadar, Allerick benar, sudah tak ada jalan untuk kembali pada kedamaian.