Chapter 24
Ivan
Daleka dan Amren bersembunyi di balik pohon oak besar, mereka baru saja dilewati sekumpulan penyihir hitam yang berlatih kekuatan mereka, hampir saja penyihir itu menabrak Amren jika Daleka tidak menyeretnya secepat mungkin bersembunyi bibalik pohon.
Daleka menatap Amren tajam, pria itu hanya mengangkat bahu acuh. Daleka menghembuskan nafas pelan.
Dengan langkah pelan, mereka menuju titik utama, melewati makhluk-makhluk aneh yang berkumpul, dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara dan kecurigaan, sungguh banyak makhluk eneh di sana, Amren bahkan tak dapat mengetahui semua jenisnya, adaa makhluk tinggi besar dengan tangan yang bisa memanjang, tangannya bisa memutar dan setajam silet, memberantasa dalam sekali gerakan, ada juga makhluk dengan kepala besar yang dapat menimbulkan ledakan.
“Ivan, Aillard dan Nerdanel membuat masalah besar,” Seorang makhluk bertanduk dengan kapak menghampiri Ivan.
Daleka menatap tajam pada Ivan, yang benar-benar berhianat pada Allerick dan klan, memalukan, Daleka tentu tau alasan penghianatan Ivan, ia mencurigai pria tua itu sepanjang waktu, tapi memberitahukan kecurigaanya pada Allerick hanya akan membuang waktu, bagi Allerick Ivan seperti penyelamatnya dari seranagan di hutan dan rakyatnya sendiri waktu itu.
Daleka sering melihat Ivan membuka portal entah kemana dari hutan belakang, harusnya Daleka tau tindakan mencurigakan itu dan mencari bukti, tapi beberapa tahun terakhir Ivan melakukannya dengan begitu bersih, Daleka bahkan tak bisa menemukan bukti Ivan membuka portal lagi dan menganggap Ivan telah menghentikan kegiatan mencurigakannya itu.
Mereka mengikuti Ivan yang menuju kesuatu tempat, Daleka terbelalak lebar, bukankah itu adalah Aillard dan Nerdanel? Kawanan pure Angel sekaligus kakak Avyanna yang memihak Allerick, dia dikurung, bahkan anaknya sendiri dibiarkan dalam keadaaan sebagai buronan oleh orangtuanya, jelas kawanan pure angel itu pasti sangat serakah dan takut kehilangan martabat baik yang melekat padanya, diketahui kerajaan Avyanna, kerajaan Selatan tengah di kutuk, kerajaan itu kehilangan semua sumber daya alam termasuk perairan yang mongering, hujan tidak pernah turun beberapa tahun ke tanah kerajaan itu, para rakyatnya meninggal satu persatu dalam kemiskinan, lalu datanglah kerajaan pusat, kerajaan paling makmur dan kaya raya, tambang dan emas melimpah, membantu kerajaan selatan untuk bangkit, dnegan syarat Avyanna menjadi istri Raja Zender.
Aillard tengah diikat dengan mantra bersama Nerdanel dalam satu sel, dijaga oleh dua penyihir hitam.
Aillard menatap tajam pada Ivan yang terkekeh melihatnya “Apa lagi sekarang?” Ketus Ivan, sedikit mengejek sebenarnya.
“Berikan Nerdanel obat, apa yang kalian berikan padanya sialan!”
“Hanya memberinya pelajaran,” Aillard mengertakan giginya marah, semakin ia bergerak, tali yang mengikat akan memberikan sensasi di setrum yang lebih kuat, mengakibatkan pening dan aliran darah berhenti beberapa saat.
Daleka menatap langit, ini pertengahan malam, tapi semakin berisik saja di tempat itu, Daleka menarik tangan Amren, bersembunyi di balik pohon oak itu lagi.
“Apa yang kau lakukan?” Bisik Amren.
“Kita akan menunggu mereka lengah,” Bisik Daleka “Yang di kurung di dalam sel itu adalah pure angel yang memihak Allerick, kita akan menyelamatkannya.
“Sekarang,” Avyanna mengangguk, mengikuti Allerick mengatupkan sayapnya, menembus kaca besar di kamar Raja Hemis, merekal langsun pergi ke kerajaan Barat setelah mendengar kabar penyerangan.
Sontak apa yang mereka lakukan membuat Raja Hemis bersiaga, dua pedang panjang sudah tersedia di tangannya, ia lalu menatap terkejut pada sosok yang ditakuti dan dihindari itu, kini bahkan keduanya berada di kamarnya “Aku tidak berniat terlibat!” Raja Hemis menurunkann pedangnya, ia pasti sudah bisa menebak kedatangan Allerick dan Avyanna secara tiba-tiba ke kerajaannya.
“Anda akan terlibat mau tak mau,” Avyanna berujar pelan “Mereka merencanakan penyerangan malam ini, karena anda menolak menyerang.” Jelas Avyanna, Allerick keluar ketika mendengar suara kepakan sayap seirama dari kejauhan.
“Avy, tidak banyak waktu tinggalkan saja dia jika memang enggan.”
Avyanna memohon “Cepatlah, masih banyak waktu, mereka masih dalam perjalanan, kami akan membantu kalian mengungsi.”
Raja Hemis menatap Allerick, ia juga mendengar suara kepakan sayap dan senjata itu “Lakukan dengan cepat.”
Raja Hemis terbang ke menara, memukul lonceng kuat-kuat, loncengg yang hanya dibunyikan pada keadaan mendesak, suara lonceng berhasil membangunkan seluruh orang dan rakyatnya dalam keadaan panik, dalam sekejap seluruh rakyat dan penduduk istana berlarian masuk, dengan berisik berkumpul di kerajaan.
“Allerick buka portal ke tempat para troll.”
Allerick bergegas membuka portal besar, mengabaikan protes dan keterkejutan mengapa si makhluk hina ada di tanah suci mereka “Ada apa ini?”
“Oh astaga bukankah itu Mereka,”
“Berani sekali dia disini.”
Raja Hemis turun dari atas menara dengan cepat, ia melihat Allerick sudah membuka portal “Semuanya masuk, sekarang!”
Titah Raja mereka membuat mereka terkejut dan kebingungan namun tetap menurut, kepakan sayap itu makin mendekat “Akan ku urus ini, anda bisa masuk ke portal ini.” Avyanna mmebuat portal ke kerajaan Amren “Terimakasih,” Raja Hemis tersenyum tipis.
“Cepatlah,” Sentak Allerickk, mereka semua menrut, ketika sudah sadar akan ada bahaya.
Allerick membangun ilusi, mereka tak akan melihat portal yang gterbuka dan rakyat Pure Angel.
“Kemari,” Avyanna membantu seorang nenek tua masuk kedalam portal “Dia yang terakhir.
Allerick mengangguk, ia mengambil satu kantong bubuk Hecate, menaburkannya pada tubuhnya dan Avyanna, sebelum benar-benar pergi, Allerick menghapus ilusinya.
Daleka membuka tas kecil yang tergantung dalam pinggangnya “Bubuk Hecate.”
Daleka berjalan pelan ke dekat sel Aillard dan Nerdanel, keadaan sudah tidak terlalu bahaya, sebagian sudah tertidur, tapi ada banyak makhluk yang tidak membutuhkan waktu tidur bergantian berjaga.
Daleka menatap sekeliling, ia mengeluarkan kantong hitam berisi bubuk Hecate, lalu melemparnya dari jarak dekat, berhasil, kantong itu masuk kedalam sel, Aillard yang menyadari seseorang telah melemparnya, menatap ke samping, tak ada orang, menahan sakit karena sensasi setruman itu Aillard meraih kantong itu dengan susah payah, ketika kembali duduk, kepalanya tersa pusing sekali, nafasnya terengah, namun ia berusaha terlihat senormal mungkin, mengatur nafasnya pelan, Aillard, membuka kantong itu, mengendusnya pelan, aroma bubuk Hecate.
Kembali bersusah payah Aillard berhasil menaburkan bubuk Hecate ke seluruh badannya dan Nerdanel, kini ia tak bisa terlihat, Aillard menatap kesekliling, ia melihat Daleka tersenyum padanya, Aillard menghembuskan nafas pelan, ia tau kedatangan Daleka untuk apa.
“Kemana mereka!” Dua makhluk bertanduk penjaga sel itu berteriak, kebingungan karena tak menemukan Aillard serta Nerdanel di sel, padahal mereka tak bergerak satu incipun dan tak ada tanda-tanda penyusup.
Mereke berlari mengitari Area hutan sementara Daleka meledakan pintu sel, Amren datang setelah memastikan keadaan aman, ia lalu membantu melepaskan ikatan menyengat itu dari tubuh Aillard dan Nerdanel, dengan cepat Aillard membuka portal menuju istananya. Mereka berhasil menyelamatkan keduanya tanpa jejak.
Keempat orang itu tersungkur di tengah ruangan pertemuan.
“Nerdanel,” Raja Hemis berlari menghampiri Nerdanel yang nampak mengenaskan, lengannya nampak memerah dan terluka begitupun dengan Aillard yang nampak lemas.
“Aillard,” Avyanna menghampiri Aillard, menemukan Aillard dan Nerdanel dalam rencana malam ini tidak ada dalam daftar.
Yang lain membantu membawa Nerdanel dan Aillard berbaring di sofa.
“Bagaimana kalian menemukan mereka?” Tanya Melione, Ismene segera mengambil obat-obatannya untuk mengobati Aillard dan Nerdanel.
Daleka menghempaskan tubuhnya di samping Cresida “Mereka di kurung didalam sel, di dataran tinggi tempat perkumpulan musuh.”
“Kalian tak akan percaya sebanyak apa musuh kalian.” Amren menghembuskan nafas pelan.
“Siapa kau?” Amren menatap Raja Hemis dengan sebelah alis terangkat.
“Raja Hemis, dari klan Pure angel, kerajaan Barat.” Jelas Avyanna “Sekaligus ayah Nerdanel.”
“Terimakasih telah menyelamatkan kerajaanku,” Raja Hemis menunduk dalam, sebagai tanda penghormatan.
“Siapa yang menyerang?” Feyre nampak penasaran.
“Kerajaan Pure angel lain menyerang kerajaan yang tak ingin bergabung dalam pertempuran, kini kalian mengerti mengapa mereka bisa mendapatkan banyak sekutu, mereka mengikat denga perjanjian darah dan menyerang jika ada yang menolak.” Jelas Allerick.
“Keji sekali.” Gumam Cresida.
“Kami melihat Ivan disana.” Ujar Daleka serius. Menelisik ekspresi Allerick dan Mor yang =nampak tak berarti, mendengar nama Ivan mungkin membuat mereka merasa marah dan lugu, lugu karena bisa-bisanya mereka member makan dan menampung penghanat, dan marah pada diri mereka yang terlalu percaya pada Ivan.
“Menurut kalian, kenapa Ivan berhianat?” Gumam Ismene.
Daleka menghembuskan nafas pelan “Dia mencintai ratu Cassandra, dia begitu marah pada Raja Cassian yang bukan dari kalangan kerajaan, namun Ratu malah mmemilihnya, Ivan adalah seorang Jendral yang di hormati, namun Cassandra yang memilih orang yang lebih rendah membuatnya marah, melihat wajah Allerck, sebenarnya sama saja seperti mengingatkannya pada kehancurannya.” Daleka menunduk dalam “Itu adalah kisah yang diceritakan neneku.”
“Aku ingin member tau kalian, tapi kalian terlalu percaya pada Ivan.” Daleka menekuk wajahnya, merasa menyesal.
“Tidak perlu merasa bersalah, yang penting kita sudah tau dia akan menjadi orang yang pantas mati.” Ketus Allerick.