Chapter 9
Ruby berdiri di depan cermin sambil memandangi pantulan dirinya. Dia sama sekali tidak punya baju bagus untuk dipakai hari ini. Jadi, dia memutuskan untuk memakai kaus polos dan outer jaket bomber berwarna cokelat dan juga celana jeans berukuran jumbo. Kadang-kadang, Ruby merasa menyesal dengan kebiasaannya yang tidak bisa menahan selera makannya. Coba saja kalau dia bisa menahan diri, pasti dia akan jadi secantik Kristal. Berwajah cantik dan bertubuh ramping. Apa pun yang dikenakannya akan terlihat pantas.
Ruby mendesah lalu mengambil tas dan beranjak. Harapannya sederhana, semoga saja hari ini menyenangkan.
Setibanya di bawah, Ruby menjadi insecure melihat penampilan Galaksi yang kelihatan tampan dan keren dengan apa yang dikenakannya. Ditambah lagi dengan outfit Kristal yang seimbang dengan Galaksi. Mereka justru terlihat seperti pasangan yang serasi. Kenapa tidak mereka saja yang pergi? Ruby tidak masalah kalau tidak ikut. Dia bisa tidur seharian di kamar seperti biasanya.
“Kenapa kamu ikut dengan mereka?” bisik Sandra pada Kristal.
“Kak Galaksi yang mengajakku.”
“Seharusnya kamu menolaknya. Mereka itu mau berkencan,” geram Sandra.
“Biarkan saja dia ikut, Bu. Kami pergi dulu! Daaah!” Tiba-tiba saja Ruby menarik Kristal dan membawanya keluar dari rumah.
“Aku akan duduk di depan!” Kristal membuka pintu depan kemudian duduk di samping kemudi.
“Terserahmu saja.” Ketika Ruby akan membuka pintu, Galaksi sudah lebih dulu membukanya.
“Masuk.”
Ruby merasakan pipinya panas dengan tindakan sederhana tersebut. Dengan pelan-pelan, dia masuk ke dalam mobil dan duduk manis.
“Jadi, kita akan pergi ke mana?” tanya Galaksi setelah duduk di kursi kemudi.
“Bagaimana kalau kita ke pantai? Setelah itu ke bioskop, ke Singapore Flyer, museum, Bugis street, Marina Bay Sands. Ada banyak tempat bagus bisa kita kunjungi di sini, Kak!” seri Kristal dengan semangat.
“Ya sudah, kita akan mengunjunginya satu per satu,” kata Galaksi dan tersenyum. Dia lalu menyalakan mesin mobil.
Tiba-tiba saja, saat mobil itu baru melaju, sosok Bastian muncul tepat di depannya sehingga membuat mereka semua terkejut karena Galaksi menginjak rem secara mendadak.
“Apa kamu mau mati, hah?!” seru Kristal setelah menurunkan jendela mobil.
“Aku mau ikut.”
“Ayo, kita bersenang-senang hari ini,” kata Galaksi kemudian.
Ruby memukul kepala Bastian dengan tasnya sambil mengomel, “Merepotkan saja!”
Bastian hanya tertawa lalu berseru, “Ayo, kita berangkat!”
Ruby mendelik malas. Dua tukang rusuh ini ikut bersamanya, semoga saja mereka tidak membuatnya dalam kesulitan.
***
“Duduk yang benar!”
Bastian tertawa lalu berkata. “Apa mobil ini tidak terasa berat sebelah, Kak? Kita kan sedang membawa gajah di sini.”
Kristal ikut tertawa, sedangkan Galaksi tampak sedang berusaha menahan tawanya. Ruby mendecih. Dia sudah biasa di-bully oleh kedua adiknya yang kurang ajar itu, tapi bisa tidak mereka jangan melakukannya di depan Galaksi?
“Kak Ruby hari ini sangat cantik. Setelah ribuan tahun, akhirnya dia mau menyisir rambutnya,” tambah Kristal yang membuat Bastian mengangguk setuju.
“Iya, benar. Biasanya dia tidak pernah menyisirnya. Aku tidak tahu ada binatang apa saja di kepalanya.”
Ruby memukul kepala Bastian dan Kristal secara bergantian. “Enak saja, kalian pikir kepalaku ini kebun binatang?!”
Bukannya meminta maaf atau apa, Bastian dan Kristal justru terbahak-bahak menanggapinya.
“Awas saja kalian!” umpat Ruby kesal. Melalui kaca spion di atas kepala Galaksi, dia bisa melihat Galaksi juga sedang menatapnya. Lagi-lagi tatapan itu membuat jantung Ruby bergetar hebat. Lekas-lekas Ruby memalingkan wajahnya sebelum Galaksi sadar kalau dia sudah tersipu karenanya.
“Sudah, hentikan. Jangan membuat kakak kalian marah.”
“Kalau kak Ruby sudah marah, dia terlihat seperti iblis yang datang dari neraka,” kata Bastian lagi. Terang saja ucapannya itu membuat Ruby kesal dan langsung memukul lagi kepalanya dengan tas.
“Diam! Kepalaku tiba-tiba pusing.” Ruby memijat pelipisnya. “Rasanya aku mau muntah. Hoeeek!”
Galaksi mendadak menginjak rem lalu menoleh ke belakang.
“Ada apa?” tanyanya sambil melihat ke arah Ruby. Karena Ruby tidak menjawab, Galaksi pun menatap Bastian yang mendadak mematung. Pandangan Galaksi lalu turun ke celana Bastian yang kini terkena muntahan Ruby.
“Aaaaaa!” Bastian langsung berlari keluar dan melepas celananya di pinggir jalan. “Menjijikkan!” makinya kesal bukan main. Tak lagi dia pedulikan tatapan para gadis yang kebetulan sedang berdiri di trotoar. Mereka tertawa dan bahkan tak sedikit yang berlari karena mengira Bastian seorang penjahat kelamin.
Kristal tertawa terbahak-bahak sewaktu melihat Bastian melepas celananya. Sementara Galaksi hanya tersenyum geli melihatnya.
“Ayo, masuk, apa kamu tidak tahu malu? Semua orang melihatmu sekarang!” kata Kristal di sisa-sisa tawanya.
Bastian menoleh ke sekeliling kemudian mendengus malas. Dia kembali masuk ke mobil dan langsung menatap tajam kakaknya yang justru memasang ekpresi tak merasa bersalah sama sekali. Benar-benar keterlaluan!
“Aku tidak mungkin pergi tanpa celana.”
“Kalau begitu pulang saja. Benar-benar merepotkan,” cetus Ruby ringan.
“Ini semua gara-gara Kakak. Kenapa muntah di depanku?”
“Diam atau kupukul kepalamu!” semprot Ruby sehingga membuat nyali Bastian menciut. Meski sering membully, bukan berarti Bastian tidak pernah merasa takut dengan kakaknya itu. Ruby lebih kejam dari ibunya. Dia bahkan pernah menggigit tangan Bastian sampai berdarah dan harus dibawa ke klinik.
“Kita akan membeli celana baru,” kata Galaksi lalu kembali melajukan mobilnya.
“Serius?” tanya Bastian dengan semangat.
Galaksi mengangguk. “Ya.”
Ruby mendelik. Sepertinya perjalanan ini akan menjadi sangat lama.
***
Setelah mampir sebentar ke toko pakaian, mereka melanjutkan perjalanan menuju pantai Selioso yang direkomendasikan Bastian. Seperti yang dia bilang, saat mereka tiba di sana, terdengar suara musik yang berasal dari acara live di sana. Bastian segera berlari ke sana disusul oleh Kristal. Mereka terlihat sangat bersemangat, tidak seperti Ruby yang sejak tadi merengut dan tidak banyak bicara.
“Ada apa? Apa kamu tidak suka pantai?” tanya Galaksi ketika mereka menyusuri bibir pantai.
Sebenarnya, Ruby menyukai pantai. Tapi, saat ini ada sesuatu yang sedang dia pikirkan.
“Aku cuma tidak terbiasa melihat dunia luar,” jawab Ruby sekenanya.
Galaksi tertawa mendengus. “Yang benar saja. Memangnya selama ini kamu melihat dunia apa?”
Ruby mendelik. “Kamu tidak akan mengerti.”
“Dasar aneh.”
“Apa?”
“Dasar manusia aneh.”
“Siapa?”
“Ya, kamulah.” Galaksi mengangkat satu alisnya. Meski menyebalkan, dia terlihat tampan dengan ekspresinya itu. “Siapa lagi?”
Ruby mendecih. “Setelah hari ini, tolong pergi dari rumah.”
“Kenapa?”
“Kamu itu… benar-benar menyebalkan.” Ruby menatap Galaksi lalu mendesah. “Aku mungkin bukan gadis yang cantik atau bertubuh langsing, tapi aku tetap ingin menikah dengan seorang pria yang benar-benar tulus mencintaiku. Aku tahu aku tidak pantas untuk itu, tapi apa salahnya kalau aku berharap menemukan seseorang yang seperti itu.”
Galaksi tidak berkata-kata selama beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum. “Aku mungkin bukan pria yang seperti itu, tapi mungkin aku bisa mencobanya.”
Ruby mendongak. “A-apa?”
“Kak, ayo, ikut!” Kristal tiba-tiba datang dan menarik Ruby menuju tempat di mana acara live musik sedang berlangsung.
Galaksi melambaikan tangan padanya dan tersenyum manis. Entah kenapa, hal sederhana itu lagi-lagi membuat jantung Ruby berdegup kencang. Ucapan Galaksi tadi juga membuatnya bertanya-tanya. Apa Galaksi sungguh-sungguh? Tapi, kenapa Ruby tidak menemukan kesungguhan itu di dalam matanya? Mungkinkah dia hanya berpura-pura bersikap manis?
Ruby menutup telinganya pada saat mendengar suara musik yang berdentam-dentam. Suara itu terlalu keras untuknya sehingga dia tidak bisa menikmatinya. Tapi, tak jauh di depannya, terlihat Bastian sedang berjoget-joget mengikuti irama musik. Kristal yang tadi mengajaknya ke sini justru sudah menghilang. Ruby akhirnya kembali ke pinggir pantai dan duduk di bawah salah satu pohon rindang. Sambil menikmati pemandangan laut lepas, Ruby memakan satu bungkus cokelat yang sudah dia siapkan sebelumnya. Seperti biasa, cokelat-lah yang bisa membuatnya merasa nyaman di mana pun dia berada.
Satu jam berlalu dan Ruby baru melihat Galaksi lagi. Pria itu datang bersama kedua adiknya. Dalam sekejap saja, mereka sudah menjadi sangat dekat.
“Dasar penjilat,” cibir Ruby untuk Kristal dan Bastian. Tentu saja dia mengatakan itu sebelum mereka sampai di hadapannya.
“Ayo, kita tempat lain lagi!” ajak Kristal.
Ruby mengangguk dan bergegas. Pada saat dia melangkah, sepatunya tiba-tiba menabrak batu sehingga dia kehilangan keseimbangan. Galaksi bermaksud untuk menahan tubuhnya, tapi yang terjadi Ruby justru menimpanya dan akhirnya mereka jatuh bersama di atas pasir.
“Ayo, tolong kak Galaksi sebelum dia mati!” teriak Bastian pada Kristal. Mereka berdua lalu membantu Ruby untuk berdiri dengan susah payah. Sementara itu, Galaksi masih terkapar di atas pasir, menatap langit biru yang menyilaukan.
“Apa kamu baik-baik saja, Kak?” tanya Bastian seraya mengulurkan tangannya pada Galaksi.
Galaksi menyambut tangan Bastian dan berdiri lalu membersihkan pakaiannya yang kotor karena pasir.
"Apa rasanya sakit, Kak?"
Ruby mendelik malas. Sebenarnya siapa kakak kandung mereka di sini?
"Rasanya seperti gempa bumi," jawab Galaksi sambil tersenyum menatap Ruby.
Sudah jelas-jelas Galaksi mengejeknya, kenapa Ruby malah merasa senyuman itu sangat manis? Tidak. Dia tidak boleh terjebak dengan pesona Galaksi yang sepertinya sengaja membuatnya merasa seperti itu. Dia tahu, Galaksi sedang merencanakan sesuatu di balik sikap manisnya itu. Tapi, entah apa....
***