Chapter 8

1827 Kata
“Jadi, ayo kita menikah.” Ruby terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Hampir setiap malam sebelum tidurnya, dia membayangkan akan dilamar dengan manis oleh pria yang akan menikahinya suatu hari nanti. Di tempat yang romantis, disaksikan oleh banyak orang dan juga dengan kata-kata yang menyentuh hati. Seperti… “Aku tidak menginginkan apa pun lagi di dunia ini selain dirimu. Aku berjanji akan membuat kamu bahagia dan tidak akan pernah membuat kamu menangis. Maukah kamu menikah denganku?” Atau… “Aku baru menemukan yang seperti kamu dan aku mau kamu menjadi satu-satunya yang menempati hatiku. Maukah kamu menjadi teman hidupku selamanya?” Bukan sekedar kata, “Jadi, ayo menikah.” Galaksi bahkan mengatakannya seakan dia sudah putus asa dan tidak punya pilihan lagi. Terpaksa. Tanpa cinta. Bagaimana bisa Ruby hidup dengan orang yang tidak mencintainya? “Kenapa diam saja?” Galaksi membuatnya tersadar dari lamunan. “Sebenarnya kita bisa menolak perjodohan ini. Kamu tidak perlu khawatir. Kamu tidak akan menikah dengan wanita seperti aku. Jangan sia-siakan hidup kamu bersama orang yang salah.” Galaksi menatapnya dan Ruby yang tersenyum tipis. “Kita berhak menemukan kebahagiaan kita masing-masing. Untuk apa menjalin sebuah ikatan jika kita bahkan hati kita tidak merasa saling memiliki satu sama lain….” Karena Galaksi tiba-tiba tidak mengatakan apa pun lagi, Ruby akhirnya berkata, “Sudah selesai, kan? Sebaiknya kamu keluar.” Galaksi hanya mendesah lalu beranjak. Ketika pintu itu menutup di balik punggungnya, cukup lama Galaksi diam, memikirkan ucapan-ucapan Ruby tadi. Ruby mungkin ada benarnya, tapi… dia tetap tidak bisa menolak perjodohan itu. *** “Apa? Dia menolak menikah dengan kamu, Gal? Hahahaha,” seru Ares di telepon ketika Galaksi menceritakan apa yang baru saja terjadi beberapa menit yang lalu. Saat ini, Galaksi sedang berada di dalam kamar, tepatnya di depan jendela yang terbuka sehingga dia bisa melihat keindahan langit di malam yang dingin itu. “Jangan tertawa,” ucap Galaksi pada saat mendengar Ares terbahak-bahak di ujung telepon. “Gadis seperti dia menolak? Yang benar saja. Dia benar-benar gadis yang luar biasa!” Galaksi mendengus. “Luar biasa apanya….” “Jadi, apa kamu menyukainya? Hm?” “Tentu saja tidak. Dia bukan tipeku.” “Jangan menyukai seseorang dari fisiknya, tapi lihat hatinya.” “Aku tidak percaya kata-kata itu bisa keluar dari mulut seorang playboy.” Ares tergelak. “Sulit mencari yang benar-benar tulus, Gal. Percayalah, sampai hari ini aku masih terus mencari.” “Yang benar saja. Aku tidak percaya. Malam ini, gadis mana lagi yang datang ke apartemenmu?” “Tidak ada gadis.” “Dia baru saja mendesah. Apa yang sedang kalian lakukan?” Ares tertawa. “Sumpah, aku hanya menonton film. Malam ini tidak ada gadis.” Galaksi balas tertawa. Dia tahu kalau beberapa bulan ini, Ares sedang tidak menjalin hubungan dengan wanita mana pun karena sepertinya temannya itu sedang mencari gadis yang benar-benar tulus mencintainya. Wajahnya cukup tampan dan kekayaan orangtuanya bisa menakhlukkan gadis mana pun. Tapi, selama ini Ares sadar kalau gadis-gadis itu mencintai uangnya, bukan dirinya. Dan yang tulus mencintai, sayangnya sulit untuk ditemukan. “Iya, aku percaya. Kalau begitu, selamat malam.” “Selamat malam, Sayang.” “Menjijikkan.” “Hahaha.” Galaksi tertawa mendengus lalu mengakhiri panggilan. Setelahnya, dia naik ke atas ranjang lalu mencoba untuk tidur. Pada saat dia menutup mata, teringat olehnya ucapan Ruby tadi. “Sebenarnya kita bisa menolak perjodohan ini. Kamu tidak perlu khawatir. Kamu tidak akan menikah dengan wanita seperti aku. Jangan sia-siakan hidup kamu bersama orang yang salah.” Dia tidak bilang iya saat diajak menikah, apa yang harus Galaksi lakukan? Dia tidak menyukai gadis itu sama sekali, tapi kenapa dia harus memperjuangkannya juga? Benar-benar menyebalkan. *** Galaksi terkejut bukan main sewaktu mendengar ada suara orang berteriak di dalam kamar itu bersamaan dengan suara musik. Saat dia membuka mata, tampak Bastian sedang melompat-lompat di depan speaker yang ada di atas meja belajarnya. “Selamat pagi,” sapa Bastian ketika melihatnya kemudian kembali bernyanyi. Ruangan itu seketika seperti tempat konser. Benar-benar berisik. Galaksi akhirnya memutuskan untuk bangkit dan keluar kamar. “Pasti kamu terbangun gara-gara Bastian, ya? Aku akan memberinya pelajaran!” kata Sandra sewaktu Galaksi baru saja keluar kamar. “Jangan. Biarkan saja. Lagipula ini sudah pagi.” “Setiap pagi dia akan bernyanyi seperti orang gila di kamarnya. Maaf kalau itu membuat kamu merasa tidak nyaman,” ucap Sandra lagi tak enak hati. “Itu tidak masalah,” balas Galaksi maklum. “Kalau begitu, ayo kita sarapan!” Galaksi mengangguk dan tersenyum. *** Galaksi duduk di kursi lalu melihat sekeliling. “Di mana Ruby?” “Anak itu belum bangun. Biarkan saja. Kalau dia tidak sarapan, itu lebih bagus biar kalorinya sedikit berkurang,” kata Sandra. “Aku akan membangunkannya.” Kristal yang sudah menyantap sarapannya lebih dulu langsung terbatuk-batuk mendengarnya. “Romantis sekali,” cetusnya. Galaksi tidak mendengarnya karena dia sudah berjalan menuju tangga. “Kak Ruby benar-benar beruntung. Tapi, kak Galaksi mendapat musibah.” “Jangan bilang begitu, bagaimanapun juga dia itu kakakmu, Kristal.” “Bukannya berusaha mencuri perhatian kak Galaksi, tapi dia malah bersikap tidak peduli.” Kristal benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana bisa kakaknya itu bersikap masa bodoh seperti itu. Bukankah seharusnya dia bangun pagi-pagi sekali dan membuatkan sarapan untuk calon suaminya? Atau segera bergabung bersama mereka di meja makan dan melayani Galaksi dengan baik. Tapi, yang ada dia masih enak-enakan tidur di kamarnya. Kalau begitu, yang ada Galaksi malah berubah pikiran. *** Galaksi mengetuk pintu kamar Ruby sebanyak lima kali tapi masih belum dibuka. Tak sabar dengan itu, akhirnya Galaksi membuka pintu itu sendiri. Dia tahu, apa yang dilakukannya sekarang pasti akan membuat Ruby kesal karena dia masuk tanpa izin. Tapi, Galaksi memang sengaja ingin membuatnya kesal. “Sudah siang, ayo bangun,” ucap Galaksi yang sudah berdiri di sisi ranjang. Ruby masih berada di dalam selimut tebalnya dan tidak merasa terusik sama sekali. “Bangun.” Dan masih tidak bergerak. Galaksi mendesah lalu melihat sekelilingnya. Pandangannya terpaku pada buku-buku di atas meja. Galaksi mendekat dan mengambil salah satunya. Romeo dan Juliet…. Bukankah ini buku yang sering dibaca kakeknya dulu? Galaksi memeriksa isinya dan mendesah. Buku ini ternyata benar milik kakeknya karena ada bekas coretan tangan Galaksi di halaman awalnya. Bagaimana buku ini bisa ada pada Ruby? Ketika Galaksi menaruh kembali buku itu ke atas meja, Ruby terbangun dan langsung terduduk. Hampir saja dia menjerit histeris lantaran melihat Galaksi ada di depan matanya. “A-apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu ada di kamarku?” tanya Ruby panik. Galaksi mendengus. “Ayo, bangun dan sarapan.” Ruby balas mendengus. “Kenapa masuk ke kamarku? Tidak sopan namanya masuk ke kamar orang tanpa mengetuk pintu.” “Aku sudah mengetuknya.” “Maksudku, tanpa izin.” “Bangun,” ucap Galaksi, seolah tak peduli dengan kemarahan Ruby. “Kamu adalah orang asing pertama yang masuk ke dalam kamarku,” sinis Ruby. “Apa buku ini dari kakekku?” Galaksi mengambil kembali buku tadi lalu menunjukkan sampul depannya pada Ruby. “Kembalikan! Itu milikku.” “Kenapa kakekku memberikan bukunya padamu? Ini buku favoritnya. Dia hanya akan membagi sesuatu yang berharga darinya untuk orang yang menurutnya istimewa.” Mana Ruby tahu kenapa kakeknya memberikan buku itu padanya. Ruby menganggap itu sebagai hadiah di pertemuan pertama mereka. Ruby bangkit lalu mengambil buku itu dari tangan Galaksi. Rambutnya yang semerawut langsung menjadi perhatian Galaksi. “Dengar ya, kamu mungkin sering masuk ke kamar gadis-gadis di luar sana. Tapi, tolong, jangan samakan aku dengan mereka. Aku punya peraturan sendiri di rumahku dan juga kamarku.” Galaksi mendengus. “Terserah saja.” Dan Galaksi pun beranjak dari kamarnya. “Dia masuk seenaknya ke kamarku. Bagaimana kalau tadi aku sedang tidak pakai apa-apa? Apa dia tidak punya sopan-santun? Kenapa harus masuk ke kamar seorang gadis yang baru dikenalnya? Yang benar saja.” Ruby mengomel sambil merapikan tempat tidurnya. *** “Kenapa Ibu membiarkan Galaksi masuk ke kamarku? Bagaimana kalau dia macam-macam denganku?” Sandra tergelak. “Galaksi sepertinya bukan pria yang seperti itu. Dia sangat baik dan sopan.” “Sopan apanya? Dia baru masuk ke kamarku tanpa izinku. Aku ini kan seorang gadis, seharusnya dia tidak masuk ke kamarku seenak jidatnya.” “Jaga bicaramu. Dia pasti sudah mengetuk kamarmu, tapi karena kamu tidak membukanya, dia masuk saja.” “Ibu lebih berpihak padanya?” “Jangan banyak bicara. Sebaiknya pergi ke ruang makan dan layani dia dengan baik.” “Aku tidak mau.” “Cepat lakukan!” “Dia juga tidak bilang maaf tadi.” “Sudah sana pergi.” Nada suara Sandra yang mulai meninggi, membuat Ruby akhirnya mau tidak mau beranjak. Ruby menghampiri meja makan yang mana di sana sudah ada Galaksi. Mereka bersitatap sesaat sebelum akhirnya Ruby menarik kursi dan duduk. “Kakak ini, sudah ada kak Galaksi di sini, masih juga bangun kesiangan,” cetus Kristal. Ruby meliriknya dengan tatapan tajam kemudian mendelik malas. “Aku tadi malam bergadang, jadi masih mengantuk.” “Apa Kakak tahu? Kak Ruby adalah seorang penulis novel dewasa.” Pfff! Air yang baru saja masuk ke dalam mulut Ruby, kembali keluar dan menyembur wajah Kristal yang duduk tepat di seberangnya. “Iiih, menjijikkan!” Kristal mengambil tisu lalu mengelap seluruh wajahnya yang terkena semburan Ruby. Ruby memelotot, memberi isyarat agar Kristal tidak mengatakan apa pun tentangnya pada Galaksi. “Novel dewasa? Seperti apa?” Kristal tersenyum. “Ya seperti itu. Novel-novel yang tidak memberikan manfaat sama sekali.” “Itu salah satu bentuk seni. Di luar sana ada banyak penikmat novel. Jangan samakan sudut pandangmu dengan sudut pandang mereka.” Ruby berkata dengan nada sinis. Meski demikian, Kristal seolah tak ambil pusing. “Dia tidak menerima kritikan tajam. Dasar penulis payah.” “Bedakan mengkritik dan mengejek.” Galaksi berdeham kemudian meneguk minumannya sebelum bicara. “Ruby, apa hari ini kamu sibuk? Aku mau melihat-lihat kota ini. Bisa kita pergi?” Ruby menatap Kristal yang terlihat sumringah mendengar ajakan itu. "Bisa, tapi.... ” “Apa?” “Biarkan Kristal ikut bersama kita.” Kristal menggosok-gosok tangannya penuh harap sambil melihat ke arah Galaksi. “Ikutlah bersama kami. Kita akan bersenang-senang hari ini.” “Aku akan siap-siap!” Kristal lantas beranjak masuk ke dalam kamarnya dengan semangat. “Kamu tidak mau siap-siap?” “Orang jelek sepertiku tidak perlu banyak gaya. Mau diapa-apakan juga tetap begini,” jawab Ruby dan mulai menyantap sarapannya. “Kamu cantik.” Ruby tersedak dan rasanya hampir mau mati. Apa baru saja Galaksi memujinya? Ruby lalu menatap mata Galaksi yang juga menatapnya lekat-lekat. “Yang benar saja,” cibir Ruby kemudian, tidak mau terbawa perasaan. Galaksi pasti sedang mempermainkannya. Untung saja saat itu ibunya datang, jadi pembicaraan itu pun berakhir. Segera Ruby berlari ke kamarnya dan menutup pintu. Di balik pintu kayu itu dia memegangi jantungnya yang berdebar kencang. Bagaimana bisa, tatapan mata Galaksi tadi mempengaruhinya? Tidak. Ruby tidak boleh menaruh rasa karena dia merasa Galaksi sepertinya sedang menyimpan sesuatu di balik sikap manisnya terhadap Ruby. Entah itu apa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN